BAB IV : ANALISIS DATA
KAJIAN PUSTAKA
A. Shalat Berjamaah
4. Manfaat Shalat Berjamaah
Menurut Al-Qathan (2006:559-562), “Didalam shalat berjama’ah terkandung faedah yang sangat banyak dan berbagai kemaslhahatan yang luar biasa, serta manfaat yang bermacam-macam. Karena itulah, shalat jam a’ah itu disyar’iatkan. Diantara manfaatnya shalat jama’ah antara lain”:
a. Menanamkan rasa saling mencintai
Dengan berjama’ah manusia satu dengan yang lain akan bertemu dan akan melahirkan cinta dan kasih sayang.
b. Ta’aruf (saling mengenal)
Jika seseorang mengerjakan ibadah shalat dengan sebagian yang lainnya akan terwujud ta’aruf. Darinya akan diketahui tempat tinggal atau asal orang tersebut. Jadi akan terjalin hubungan yang lebih erat sebatas kekerabatan.
c. Memperlihatakn syiar terbesar
Seandainya umat islam ini secara keseluruhan shalat dirumah masing-masing, niscaya tidak akan diketahui bahwa disana terdapat ibadah shalat.
d. Memberikan motivasi kepada orang yang tidak ikut shalat jama’ah.
e. Membiasakan ummat islam untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah.
f. Membiasakan seseorang untuk biasa menahan diri.
g. Menumbuhkan perasaan sama dan sederajat serta menghilangkan perbedaan sosial.
Menurut Haryanto (2002:116), “shalat beijama’ah
mempunyai dimensi psikologis tersendiri, antara lain”:
1) Aspek Demokratis yang terlihat dari aktivitas yang melingkupi
shalat beijama’ah itu sendiri, antara lain:
a) Memukul bedug atau kentongan.
Tradisi ini di ciptakan oleh Sunan Kali Jogo yang
dimana bedug atau kentongan ini sebagai simbol, yang
diartikan melalui bunyinya. Menurut orang jawa bunyi
kentongan adalah ’’thong...thong...tong....” artinya
masjid kothong (kosong), kemudian masuk dengan bunyi
bedug yaitu ’’bleng... bleng...bleng.
mengisyaratkan mlebu bleng (masuk bleng)”.
b) Mengumandangkan adzan.
Adzan merupakan tanda waktu shalat yang harus dikumandangkan oleh ’’tukang adzan” (bang atau muadzin). Adzan merupakan syiar Islam, sehingga muadzin diharapkan orang yang mengerti dan mempunyai suara yang bagus (lafal, ucapan yang baik dan benar) dan mempunyai nafas yang panjang sehingga saat adzan tidak terputus di tengah jalan.
c) Melantunkan Iqomat.
Iqomat adalah sebagai tanda bahwa shalat bejama’ah akan segera dimulai, ibaratnya dalam militer, maka iqomat ini adalah aba-aba pasukan yang diberangkatkan. Iqomat sebaiknya dilakukan tidak terlalu lama dari adzan, hal ini menggambarkan kedisiplinan dan penghargaan dalam waktu.
2) Aspek diperhatikan dan berarti.
Pada shalat beijama’ah ada unsur-unsur rasa diperhatikan dan rasa berarti bagi diri seseorang. Beberapa
aspek pada dimensi ini antara lain:
a) Memilih dan menempati shaf.
Dalam shalat siapa yang lebih dahulu datang maka
ia berhak menempati paling depan. Hal ini tentunya sangat
berarti bagi seseorang yang dilingkungannya tidak
memperoleh peran, ia selalu diremehkan, tidak pemah dapat menjadi sebab dari suatu akibat.
b) Setelah duduk maka para jamaah mempunyai kebiasaan untuk bersalaman dengan jam a’ah lainnya hal ini menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan yang sama dan berhak untuk menyapa lingkungannya, sedangkan itu mungkin.
c) Pada saat mengisi shaf dan meluruskan shaf, apabila shalat akan dimulai maka imam akan memeriksa barisan kemudian memerintahkan pada makmum untuk mengisi shaf yang kosong dan merapatkan barisan.
3) Perasaan kebersamaan
Shalat dilakukan secara beijama’ah, disamping mempunyai pahala yang lebih banyak dari pda shalatnya sendirian juga mempunyai nilai sosial atau kebersamaan. Menurut Djamaludin Ancok dalam Haryanto (2003:132).
Aspek kebersamaan pada shalat berjamaah mempunyai nilai
terapeutik, dapat dihindarkan seseorang dari rasa terisolir,
terpencil, tidak dapat bergabung dalam kelompok, tidak terima
atau dilupakan. Didalamnya terkandung nilai-nilai
kebersamaan yang sangat kuat dan mengajarkan kepada kita
agar dalam hidup ini jangan sekali-kali membuat orang merasa
f
264) Tidak adanya jarak personal.
Salah satu kesempurnaan shalat beijama’ah adalah lurus dan rapatnya barisan para jama’ah. Ini berarta tidak ada jarak personal antara satu dengan yang lainnya. Dalam shalat beijama’ah jarak personal boleh dikatakan tidak ada, karena pada saat para jama’ah mendirikan shalat mereka harus rapat dan meluruskan barisan demi keutamaan shalat. Mereka masing-masing berusaha untuk mengurangi jarak personal, bahkan kepada mereka yang tidak kenal, namun merasa ada satu ikatan aqidah atau keyakinan (Haryanto, 2003:133-134).
Rapatnya barisan dan lurusannya barisan akan
mendukung terciptanya jarak pribadi yang sangat minim dan
dapat dikaji lebih jauh sebagi berikut:
a) Nabi mendatang para jam a’ah untuk memeriksa shaf. Hal
ini disaratkan sebagai komandan memeriksa barisan.
b) Maju dan mundurnya shaf yang berarti bentuk lahiriyah
atau tingkah laku yang dikaitkan dengan seseorang yang
berubah hatinya.
c) Jama’ah yang ada di kanan, kiri dan belakang dikatakan
Nabi sebagai saudara, hal ini menyatakan bahwa Islam
mengenal ada dua macam saudara yaitu satu nasab dan
satu aqidah.
d) Shaf yang kosong dikatakan Nabi sebagai ’’lapangan setan” dan apabila seseorang membiarkan shaf di samping kosong maka membiarkan setan di sampingnya yang akan menggodanya.
5) Terapi lingkungan
Salah satu kesempurnaan shalat adalah dilakukan beijama’ah atau lebih utama dilakukan di masjid. Masjid menurut Islam mempunyai perasaan yang cukup besar, masjid bukan sebagai pusat beraktivitas beragama dalam arti sempit namun sebagai pusat aktivitas kegiatan umat. Sehingga shalat di masjid ini mengandung unsur terapi lingkungan (Haryanto,
2003: 139).
6) Melatih saling ketergantungan {independency)
Shalat beijama’ah yang paling utama dilakukan di masjid
atau di musholla dan hal ini mangajarkan nilai-nilai yang ada
yaitu, saling membutuhkan dan ketergantungan satu jam a’ah
dan jam a’ah lainnya hal ini terlihat dari aspek:
a) Yang dimaksud dengan jama’ah minimal 2 orang atau
dengan kata lain baru 2 orang dapat dikatakan shalat
jam a’ah. Sehingga kalau ingin beijama’ah maka ia hams
orang bahkan ada yang meng khususkan untuk shalat jum ’at beijumlah 40 orang.
b) Pahala akan diberikan siapa saja yang shalat berjamaah akan dilipat gandakan 27 kali lipat dari pada shalat sendirian. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang
mampu ’’saling membutuhkan satu dengan yang lain ’’akan
memperoleh” bonus, hadiah (reward) dikalikan 27.
c) Menyusun shaf, meluruskan dan merapatkan barisan.
Ternyata lurus dan rapatnya barisan juga merupakan
kesempurnaan shalat, hal ini menunjukkan bahwa antara
satu dengan yang lain saling membutuhkan (Haryanto,
2003: 141).
7) Pemecahan masalah (Problem Solving)
Penecahan masalah yang dikaitkan dengan shalat, baik
itu shalat sendirian dan secara khusus shalat beijama’ah adalah
sebagai berikut:
a) Shalat dapat berarti sebagai do’a atau permohonan,
sehingga ketiga hal tersebut dapat disimpulkan dari aspek
ini yaitu sebagai salah satu sarana pemecah permasalahan
dalam kehidupan misalnya shalat dhuha untuk ingin rizqi
bertambah.
b) Shalat beijama’ah lebih diutamakan di masjid, dan
kultum (kuliah tujuh menit) setiap selesai shalat, biasanya yang dibahas adalah seputar permasalahan kehidupan manusia sehingga hal ini membantu dalam pemecahan masalah.
c) Di masjid kita akan bertemu dengan tetangga, teman baik yang sudah di kenal atau belum atau anggota jam a’ah lainnya. Hal ini memberikan efek psikologis yang besar.
Karena dengan bertemunya jama’ah tersebut dalam
menyambung tali silaturrakhim (Haryanto, 2003:145-147).