BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.3 Manfaat Untuk Universitas
Adapun manfaat dari penelitian ini untuk universitas, yaitu :
1. Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan yang dapat diletakkan di Perpustakaan dan membantu dalam pembahasan mata kuliah.
2. Penelitian ini dapat diuji dan dikembangkan lebih baik dengan inovasi yang berbeda apakah dapat digunakan dalam kebutuhan dunia industri saat ini.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DASAR TEORI
2.1.1 Pengertian Komposit
Komposit berasal dari kata kerja “to compose“ yang berarti menyusun atau menggabungkan. Oleh karena itu secara sederhana komposit adalah satu kesatuan dari gabungan dua atau lebih material yang dikombinasikan menjadi satu dalam ukuran mikroskopis (Kaw, 1997). Komposit adalah suatu material yang tebentuk dari kombinasi dua atau lebih material pembentuknya melalui campuran yang tidak homogen, dimana sifat mekaniknya dari masing-masing material pembentuknya berbeda (Matthew dkk, 1993). Pada umumnya penggabungan material ada 2 jenis material berbeda dimana satu material sebagai pengisi yaitu matrik yang berguna untuk mengikat serat dan satunya sebagai penguat yaitu reinforcement. Serat yang digunakan pada komposit bisa berasal dari gelas (fiber), alam, dan karbon. Komposit biasanya tersusun dari dua bahan dasar yaitu matrik dan serat. Komposit memilik sifat mekanik yang lebih bagus dari logam, kekakuan jenis (modulus young/density) dan kekuatan jenisnya lebih tinggi dari logam.
Secara garis besar ada 3 macam jenis komposit berdasarkan penguat yang digunakan, yaitu:
1. Fibrous Composite ( Komposit Serat)
Merupakan komposit yang penyusunnya adalah serat. Serat dalam komposit ini berfungsi untuk menopang kekuatan dari komposit, sehingga tinggi dan rendahnya kekuatan komposit bergantung dari serat yang digunakan. Fiber yang digunakan bisa berupa glass fibers, carbon fibers, aramid fibers (polyaramide), dan sebagainya. Fiber ini bisa disusun secara acak maupun lurus.
5 2. Particulate Composite
Merupakan komposit yang diisi oleh penguat yaitu reinforcement berbentuk partikel atau serbuk. Komposit jenis ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya dapat meningkatkan kekuatan dan meningkatkan kekerasan material. Particulate composite dapat dilihat pada gambar 2.1
Gambar 2. 1 Particulate Composite
3. Structural Composite
Merupakan komposit struktural yang dibentuk oleh reinforce-reinforce.
Berdasarkan struktur, komposit jenis ini dapat dibagi menjadi dua yaitu laminate structural dan sandwich structural. Kedua struktur komposit tersebut dapat dilihat pada gambar 2.2 (laminate structural) dan gambar 2.3 (sandwich structural).
Gambar 2. 2 Laminate Structural
6
Gambar 2. 3 Sandwich Structural
2.2 Komponen Utama Komposit 2.2.1 Reinforcement
Salah satu unsur utama penyusun benda komposit adalah penguat (Reinforcement) yaitu serat. Serat inilah yang akan menentukan karakteristik dari bahan komposit seperti kekakuan, kekuatan, dan sifat mekanis lainnya. Serat dalam bahan komposit berperan sebagai bahan utama yang menahan beban serta besar kecilnya kekuatan bahan komposit sangat tergantung dengan kekuatan bahan pembentuknya. Bahan reinforcement sendiri dibedakan menjadi dua jenis yaitu (Bismarck 2002)
1. Continously reinforced
Bahan penguat ini memiliki bentuk serat yang memanjang dan berasal dari bahan alami dan sintetis. Contoh bahan dari serat alam yaitu seperti tebu, serabut kelapa, dan enceng gondok sedangkan untuk bahan yang sintetis dapat berupa seperti fiberglass, karbon, nylon.
2. Discontinously reinforced
Untuk jenis serat ini yaitu memiliki bentuk tidak memanjang. Berbeda dengan bahan penguat continously bahan ini bisa dibilang berbentuk serat pendek.
7 2.2.2 Matrix
Matriks adalah komponen yang memiliki sifat lunak, elastis, tahan lama.
Matriks berguna sebagai bahan pengikat serat (bahan reinforcement). Bahan matriks yaitu bahan yang paling berpengaruh dalam pembentukan komposit.
Sifat-sifat matrik (Ellyawan, 2008) 1. Sifat mekanis yang baik 2. Kekuatan ikatan yang baik 3. Ketangguhan yang baik 4. Tahan terhadap temperatur
Matrik secara umum berfungsi sebagai bahan pengikat serat menjadi satu struktur komposit. Fungsi matrik antara lain yaitu:
1. Mentransfer tegangan serat secara merata 2. Melindungi serat dari tegangan mekanik
3. Memegang dan mempertahankan serat pada posisinya 4. Melindungi dari lingkungan yang merugikan
5. Tetap stabil dengan proses manufaktur
Menurut Gibson (1994) mengatakan bahwa struktur komposit ada 3 macam yang bisa berasal dari bahan polimer, keramik dan logam. Berikut adalah jenis matrik menurut penyusunnya dapat dibedakan menjadi:
1. Komposit Matriks Polimer ( Polymer Matrix Composites – PMC )
PMC ini adalah bahan yang paling sering digunakan, bahan yang menggunakan polimer dengan resin sebagai matriknya dan bahan sebagai penguatnya seperti kaca, karbon dan kevlar. Sifat komposit dari bahan ini memiliki ketangguhan yang baik, lebih ringan, dapat menyesuaikan bentuk, dan biaya lebih murah.
2. Komposit Matriks Keramik ( Ceramics Matrix Composites – CMC ) Bahan ini merupakan bahan yang menggunakan keramik sebagai matriknya dan penguat yang digunakan seperti serat pendek dan serabut-serabut yang terbuat dari silikon karbida. Contoh matrik yang sering
8
digunakan pada CMC adalah gelas anorganic, keramik gelas, alumina, silikon nitrida.
3. Komposit Matriks Logam ( Metal Matriks Composites – MMC )
Bahan yang digunakan sebagai matriknya yaitu logam alumunium dan untuk penguat yang dipakai adalah silikon karbida. Keunggulan dari bahan ini yaitu ketahanan terhadap aus, transfer tegangan dan regangan yang baik, ketahanan terhadap temperatur yang tinggi. Kekurangan bahan MMC yaitu biaya yang mahal dan standarisasi material dan proses yang sedikit.
2.2.3 Polimer
Polimer adalah suatu molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari susunan ulang molekul kecil yang terikat melalui ikatan kimia disebut polimer.
Polimer berasal dari bahasa yunani yaitu poly yang berarti banyak dan mer yang berarti bagian, maka polimer berati banyak bagian sedangkan satuan struktur polimer disebut manomer. Jenis-jenis polimer menurut (Surdia, 1985):
1. Thermoplastic
Merupakan bahan yang berjenis plastik yang mampu dilunakan berulang kali jika bahan tersebut dipanaskan dan juga mampu mengeras jika bahan tersebut didinginkan. Thermoplastic merupakan bahan yang tahan terhadap korosi karena memiliki ketahanan suhu yang tinggi yaitu mencapai 260 derajat celcius. Contoh dari bahan ini adalah resin polyethylene, polystyrene, polypropyrene, polyamide (nylon), pvc, resin polysulfones.
2. Thermoset
Merupakan jenis plastik yang digunakan untuk membuat komposit menggunakan penguat serat. Bahan thermoset berbeda dari thermoplastic karena bahan ini tidak berubah mengikuti suhu sehingga menyebabkan bahan bersifat permanen. Contoh bahan thermosplastic seperti epoxy, polyster, polyurethane, fenol. Dalam penelitian ini menggunakan resin epoxy yaitu resin yang memiliki keunggulan karakteristik sangat kuat dan
9
penyusutannya relatif kecil setelah proses curing namun epoxy harganya relatif mahal. Resin jenis ini banyak dipakai pada komposit polimer berpenguat serat karbon.
3. Elastomer
Polimer elastis yang bentuknya dapat diregangkan, namun dapat kembali ke bentuk semula. Elastisitas ini disebabkan karena struktur elastomer yang terdiri dari rantai-rantai yang saling tumpang tindih dengan adanya ikatan silang yang akan menarik kembali rantai-rantai tersebut kembali ke susunan tumpang tindihnya. Contoh elastomer adalah karet alam dan karet sintetis.
2.2.4 Resin Epoxy
Dalam bidang polimer yang diperkuat serat (plastik), epoxy digunakan sebagai matriks resin untuk menahan serat di tempatnya. Ini sesuai dengan semua serat penguat umum termasuk fiberglass, serat karbon, aramid, dan basal. Jika dibandingkan dengan termoset tradisional atau resin termoplastik lainnya, resin epoxy memiliki kelebihan yang berbeda, termasuk, penyusutan rendah selama curing, tahan kelembaban yang luar biasa, resistensi kimia yang sangat baik, sifat listrik yang baik, meningkatkan kekuatan mekanik, tahan benturan, tidak ada VOC (Volatile Organic Compunds) yang dapat mencemari udara baik saat proses produksi, aplikasi sampai dengan barang jadi, dan umur simpan yang panjang (Wirani, 2020). Resin epoxy membutuhkan penambahan zat pengawet yang biasa disebut hardener (Pramono, 2019). Hardener pada umumnya adalah senyawa poliamid yang terdiri dari dua atau lebih grup amina. Tidak seperti resin poliester atau ester vinil dimana resin dikatalisis dengan tambahan katalis kecil (1-3%), resin epoxy biasanya membutuhkan penambahan bahan pengawet pada rasio resin dan pengeras yang jauh lebih tinggi, seringkali 1: 1 atau 2: 1 (Wirani, 2020).
Epoxy memiliki ketahanan korosi yang lebih baik dari pada poliester pada keadaan basah, namun tidak tahan terhadap asam. Epoxy memiliki sifat mekanik, listrik, kestabilan dimensi dan penahan panas yang baik (Shabiri, 2014; Pramono, 2019). Istilah resin epoxy telah banyak diadaptasi untuk kegunaan di luar komposit polimer yang diperkuat serat. Berbagai kegunaan epoxy terus
10
berkembang, dan beragam serta terus dikembangkan agar sesuai dengan industri dan peruntukan. Berikut beberapa pemanfaatan dari epoxy resin (Wirani, 2020):
1. Perekat serba guna
2. Pengikat semen dan mortar 3. Busa kaku (rigid foams)
4. Anti licin/slip (non-skid coating)
5. Memadatkan permukaan berpasir dalam pengeboran minyak 6. Pelapis lantai industri
7. Plastik yang diperkuat serat 2.2.5 Serat Tebu
Serat ampas tebu (baggase) adalah campuran dari serat yang kuat, dengan jaringan Parenchyma yang lembut dan mempunyai tingkat higroskopis yang tinggi. Serat ampas tebu merupakan salah satu material natural fibre alternatif dalam pembuatan komposit secara ilmiah pemanfaatannya masih dikembangkan.
Serat ampas tebu tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar mengandung senyawa lignoselulosa. Senyawa lignoselulosa terdiri atas tiga komponen utama yaitu selulosa, hemiselulosa da lignin. Berikut dapat dilihat pada Tabel 2.1 kandungan kimia serat tebu.
Tabel 2. 1 Kandungan Kimia Serat Tebu (Mariatti, 2008) Kandungan Kimia Prosentase
Selulosa 35-40%
Natural Rubber 20-30%
Lignin 15-20%
Sukrosa 10-15%
11 2.2.6 Tipe Komposit Serat
Berikut berdasarkan pada penempatannya ada beberapa macam tipe-tipe komposit serat yaitu:
1. Continuous Fiber Composite
Jenis tipe komposit yang paling sering digunakan karena bentuknya seratnya yang memanjang dan lurus membentuk lamina diantara matriknya.
Tipe ini mempunyai kelemahan pada pemisah antar lapisannya. Ini disebabkan karena pada kekuatan antar lapisannya dipengaruhi oleh matriknya. Dapat dilihat pada gambar 2.4
Gambar 2. 4 Continuous Fiber Composit (Gibson, 1994)
2. Woven Fiber Composite
Jenis komposit tipe ini susunan serat memanjangnya tidak begitu lurus dan mengakibatkan kekuatan serta kekakuan nya tidak seperti Continuous Fiber Composite. Susunan komposit ini tidak mudah dipengaruhi pemisah antar lapisan karena pada susunan seratnya mengikat serat antar lapisan. Dapat dilihat pada gambar 2.5
12
Gambar 2. 5 Woven Fiber Composite (Gibson, 1994)
3. Discontinous Fiber Composite
Jenis komposit dengan serat bertipe pendek. Tipe ini dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Aligned discontinuous fiber
Penyusunan serat yang dilakukan secara searah.
b. Off-axis aligned discontinuous fiber
Penyusunan serat yang dilakukan secara menyilang.
c. Randomly oriented discontinuous fiber Penyusunan serat yang dilakukan secara acak.
Gambar 2. 6 Discontinous Fiber Composite (Gibson, 1994)
4. Hybrid Fiber Composite
Jenis tipe serat ini yaitu gabungan antara serat lurus dan serat acak. Tipe ini digunakan supaya dapat mengganti kekurangan sifat dari kedua tipe serat dan dapat menggabungkan kelebihannya. Dapat dilihat pada gambar 2.7
13
Gambar 2. 7 Hybrid Fiber Composite (Gibson, 1994)
2.3 Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Sifat dari Komposit
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sifat dari komposit yaitu sebagai berikut (Siregar, 2011) :
1. Letak Serat
Dalam proses pembuatan komposit ada tata letak dan arah serat dalam matriks yang akan menentukan kekuataan dari komposit. Karena tata letak dan arah serat dapat mempengaruhi kinerja dari komposit. Dan menurut tata letak dan arah serat dapat diklarifikasikan menjadi 3 yaitu sebagai berikut:
a. One dimensional reinforcement, mempunyai kekuatan dan modulus maximum pada arah axis serat.
b. Two dimensional reinforcement, mempunyai kekuatan pada dua arah.
c. Three dimensonal reinforcement, mempunyai kekuatan lebih tinggi dari pada dua tipe sebelumnya.
Pencampuran pada arah serat memiliki keunggulan, jika orientasi seratnya semakin acak atau random maka sifat mekanik pada 1 arah nya akan melemah dan jika arah tiap seratnya menyebar ke segala arah maka kekuatannya akan meningkat.
14 2. Bentuk Serat
Untuk bentuk serat pada pembuatan komposit tidak begitu mempengaruhi, yang mempengaruhi adalah diameter pada seratnya. Karena jika semakin kecil diameter seratnya maka akan semakin menghasilkan kekuatan komposit yang lebih tinggi. Selain bentuknya, kandungan pada serat juga mempengaruhi.
3. Panjang Serat
Semakin panjang serat dalam pembuatan komposit pada matriks maka kekuatannya semakin tinggi. Ada dua tipe macam penggunaan serat dalam campuran komposit yaitu serat panjang dan pendek. Serat panjang lebih kuat dari serat pendek oleh karena itu serat panjang lebih mudah penanganannya dibandingkan serat pendek.
4. Faktor Matrik
Dalam komposit matrik berperan sebagai bahan pengikat serat menjadi sebuah unit struktur, melindungi dari perusakan eksternal, meneruskan atau memindahkan beban eksternal pada bidang geser antara serat dan matrik, sehingga serat dan matrik saling berhubungan. Pembuatan komposit serat membutuhkan ikatan permukaan yang kuat antara serat dan matrik. Selain itu matrik juga harus mempunyai kecocokan secara kimia agar reaksi yang tidak diinginkan tidak terjadi pada permukaan kontak antara keduannya. Untuk memilih matrik harus diperhatikan sifat-sifatnya, antara lain seperti tahan terhadap panas, tahan cuaca yang buruk, dan tahan terhadap goncangan yang biasanya menjadi pertimbangan dalam pemilihan material matrik.
5. Faktor Ikatan Fiber-Matrik
Komposit serat yang baik harus mampu menyerap matrik yang memudahkan terjadi antara dua fase (Schwartz, 1984:1.12). Komposit serat juga harus mempunyai kemampuan untuk menahan tegangan yang tinggi, karena serat dan matrik berinteraksi dan pada akhirnya terjadi pendistribusian tegangan. Kemampuan ini harus dimiliki serat dan matrik. Hal yang
15
mempengaruhi ikatan dan serat dan matrik adalah void, yaitu adalah celah pada serat atau bentuk serat yang kurang sempurna yang dapat menyebabkan matrik tidak akan mampu mengisi ruang kosong pada cetakan. Bila komposit tersebut menerima beban, maka daerah tegangan akan berpindah ke daerah void sehingga akan mengurangi kekuatan komposit tersebut. Pada pengujian tarik komposit akan berakibat lolosnya serat dari matrik. Hal ini disebabkan karena kekuatan antara matrik dan serat yang kurang besar (Schwartz,1984:
1.13).
2.4 Metode Pembuatan Komposit
Dalam proses pembuaatan komposit ada dua metode yang digunakan yaitu:
1. Proses cetakan terbuka (Open-mold process) a. Contact Molding/Hand Lay Up
Metode hand lay up adalah metode sederhana yang prosesnya dengan metode terbuka dari fabrikasi komposit. Proses pembuatan dengan metode ini yaitu dengan cara menuangkan resin kedalam serat yang berbentuk anyaman, rajutan atau kain yang kemudian diberi tekanan dengan cara menggunakan kuas. Proses ini dilakukan berkali- kali supaya cepat merata sehingga ketebalan yang diinginkan cepat tercapai. Pada proses ini resin langsung berkontak dengan udara sehingga proses ini biasannya dilakukan dengan temperatur kamar. Pada metode hand lay up biasanya paling banyak digunakan pada resin epoxy dan poliester. Berikut adalah metode hand lay up yang dapat dilihat pada gambar 2.8
Gambar 2. 8 Hand Lay Up (Gibson,1994)
16 b. Vacuum Bag
Proses ini merupakan proses dari penyempurnaan hand lay up. Proses vacuum bag adalah proses yang berguna untuk menghilangkan udara yang masuk dan terperangkap kedalam resin. Cara kerja dari vacuum bag yaitu dengan menggunakan pompa vacuum yang kemudian digunakan untuk menghisap udara yang ada pada tempat wadah/cetakan resin. Dengan divacum kan udara ke dalam wadah tempat cetakan maka udara yang ada diluar penutup plastik akan menekan ke dalam sehingga meminimalkan udara yang terperangkap dalam komposit. Berikut proses vacuum bag dapat dilihat pada gambar 2.9
Gambar 2. 9 Vacuum Bag (Gibson,1994)
2. Proses cetakan tertutup (Close-mold process) a. Proses Cetakan Tekan (Compression Molding)
Proses ini menggunakan hidrolic sebagai penekannya. Fiber yang telah dicampur resin dimasukkan ke dalam rongga cetakan yang kemudian dilakukan penekanan dan pemanasan. Resin thermoset khas yang digunakan dalam proses cetakan tekan ini adalah epoxy, poliester, vinil ester dan vinolat.
Proses cetakan tekan dapt dilihat pada gambar 2.10
17
Gambar 2. 10 Compression Molding
(https://fuziontrading.co.za/compression-moulding-process/) b. Injection Molding
Metode ini dikenal dengan proses reaksi pencetakan cairan atau pelapisan tekanan tinggi. Fiber dan resin dimasukkan kedalam rongga cetakan bagian atas, kondisi temperatur dijaga supaya dapat tetap mencairkan resin sehingga resin cair beserta fiber akan mengalir ke bawah. Kemudian injeksi dilakukan oleh mandrel ke arah nozel menuju cetakan. Metode ini dapat dilihat pada gambar 2.11
Gambar 2. 11 Injection Molding
(https://www.researchgate.net/figure/Parts-of-extruder-3_fig1_324706354)
18 c. Continuous Pultrusion
Fiber jenis roving dilewatkan melalui wadah berisi resin, kemudian secara kontinu dilewatkan ke cetakan pra cetak dan diawetkan, kemudian dilakukan pengerolan sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Bisa juga disebut dengan penarikan serat dari suatu jaring melalui bak resin. Kemudian dilewatkan pada cetakan yang sudah dipanaskan. Fungsi dari cetakan adalah untuk mengontrol kandungan dari resin, melengkapi pengisian serat dan mengeraskan bahan menjadi bentuk akhir setelah melalui cetakan. Continuous pultrusion dapat dilihat pada gambar 2.12
Gambar 2. 12 Continuous Pultrusion
(https://www.researchgate.net/figure/FRP-composite-manufacturing-process-of-pultrusion-2_fig1_335601265)
2.5 Kekuatan Tarik Komposit
Spesimen komposit setelah dilakukan uji tarik akan mengalami kelakuan tarikan pada bahan tersebut yang diantaranya adalah lunak dan lemah, keras dan getas, lunak dan ulet, keras dan ulet. Untuk memperoleh besarnya tegangan tarik pada suatu material dapat dihitung menggunakan persamaan (Surdia dan Saito 1999):
Keterangan :
σ = Tegangan (N/mm²)
19 P = Beban yang diberikan ( N)
Ao = Luas Penampang awal benda uji (mm²)
Untuk mencari rumus regangan tarik dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini, dimana regangan dinyatakan dalam mm/mm bilangan tak berdimensi atau sering dinyatakan kedalam persen.
Keterangan:
ℇ = Besar Regangan (%)
ΔL = Penambahan panjang total (mm) Lo = Panjang awal benda uji (mm)
Besarnya modulus elastisitas dapat dihitung dengan rumus persamaan dibawah ini (Surdia dan Saito):
Keterangan:
E = Besar modulus elastisitas (N/mm²) σe = Tegangan elastis (N/mm²)
εe = regangan elastis
2.6 Kekuatan Impak Komposit
Selain melakukan pengujian tarik, spesimen komposit juga dilakukan pengujian impak guna untuk mengetahui penyerapan energi dan harga impak dari beban pendulum yang berayun pada ketinggian tertentu dan mematahkan atau menumbuk benda uji sehingga benda uji mengalami patahan. Pengujian impak ini dapat di lakukan dengan Metode charpy. Pada cara ini batang uji diletakkan mendatar oleh penahan yang berjarak 40mm, kemudian bandul akan memukul
20
benda uji dari arah yang bertakik. Benda uji charpy mempunyai luas penampang lintang bujur sangkar ( 10 x 10 mm) dan mengandung takik V -45º, dengan jari-jari datar 0,25 mm dan kedalaman 2 mm, kecepatan impak sekitar 16 ft/detik.
Benda uji akan melenkung dan patah pada laju regangan yang tinggi, kirakira 103 detik (Huda, 2018).
Rumus untuk menghitung besarnya energi yang terserap pada komposit setelah diuji impak adalah sebagai berikut:
Keterangan:
E = Energi impak yang diserap (J) m = Berat bandul (kg)
g = Gaya gravitasi (m/s) r = Panjang lengan bandul (m) α = Sudut awal (º)
β = Sudut akhir (º)
Rumus untuk menghitung besarnya harga impak dapat dinyatakan dengan rumus berikut ini:
Keterangan:
Is = Kekuatan impak (J/mm²) E = Energi impak yang diserap (J) A = Luas permukaan (mm²)
21
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alur Penelitian
Skema penelitian ditunjukkan pada Gambar 3.1
Gagal
Berhasil
Gambar 3. 1 Diagram Alur Penelitian Mulai
Pembelian alat dan Bahan
Pembuatan spesimen material komposit dengan prosentase berat serat 10%, 15%,
dan 20%
Serat Tebu 1. Resin Epoxy Bishepenol A
2. Katalis Hardener B
Pengujian Tarik dan Pengujian Impak
Analisis data
Kesimpulan
Selesai Cetakan Kaca
Hasil penelitian
22 3.1.1 Alat
Adapun peralatan yang digunakan untuk proses pembuatan sampai penelitian yaitu :
1. Cetakan spesimen
Cetakan ini terbuat dari kaca berukuran 30cm x 30cm, untuk spesimen uji tarik memiliki ketebalan 3mm dengan pembatas cetakan menggunakan kaca sedangkan untuk spesimen uji impak memiliki ketebalan 4mm dengan pembatas menggunakan kaca. Ada 3 bagian pembatas dalam proses cetakan yaitu, bagian tepi, bagian alas, bagian atas. Cetakan spesimen ditunjukkan pada gambar 3.2
Gambar 3. 2 Cetakan Spesimen 2. Timbangan digital
Sebelum dicetak kedalam cetakan timbangan ini berguna untuk mencari beban berat serat tebu sebelum dicampur dengan matriks. Timbangan ditunjukkan pada gambar 3.3
23
Gambar 3. 3 Timbangan Digital 3. Gelas ukur
Gelas ukur ini digunakan untuk mengukur perbandingan campuran resin epoxy dan katalis hardener guna hasil cetakan bisa maksimal. Gelas ukur ditunjukkan pada gambar 3.4
Gambar 3. 4 Gelas Ukur 4. Jangka sorong
Jangka sorong (caliper) digunakan untuk mengukur panjang, lebar, ketebalan pada spesimen agar sesuai dengan standar ASTM. Jangka sorong ditunjukkan pada gambar 3.5
24
Gambar 3. 5 Jangka Sorong 5. Mesin uji tarik
Merupakan pengujian dimana sebuah material akan diukur kekuatannya dengan cara memberikan gaya yang sesumbu. Metode pengujian yang dilakukan dengan standar ASTM D3039. Mesin uji tarik ditunjukkan pada gambar 3.6
Gambar 3. 6 Mesin Uji Tarik GOTECH KT-7010A2 TAIWAN,R.O.C
25 6. Mesin uji impak
Merupakan alat uji tes kekerasan material yang dimana spesimen mendapatkan beban kejut secara tiba-tiba dari suatu pandulum yang akan menunjukkan hasil dari kekerasan spesimen tersebut. Pengujian yang dilakukan sesuai dengan standar ASTM 6110. Mesin uji impak ditunjukkan pada gambar 3.7
Gambar 3. 7 Mesin Uji Impak GOTECH GT-7045 TAIWAN, R.O.C 3.1.2 Bahan
Bahan yang diperlukan untuk penelitian ini yaitu : 1. Serat Ampas Tebu
Serat tebu yang berfungsi sebagai penguat material komposit. Serat Ampas Tebu ditunjukkan pada Gambar 3.8
Gambar 3. 8 Serat Tebu
26 2. Matriks Resin Epoxy
Berfungsi sebagai pengikat dari material komposit dan matriks yang digunakan dalam proses penelitian adalah resin epoxy, Matriks Resin Epoxy ditunjukkan pada Gambar 3.9
Gambar 3. 9 Matriks Resin Epoxy 3. Hardener
Berfungsi sebagai katalis yang berguna untuk mempercepat proses pengeringan pada matriks sehingga cetakan bisa mengeras. Hardener ditunjukkan Gambar 3.10
Gambar 3. 10 Hardener
27 4. Mirror Glaze
Sebagai pelapis yang berguna untuk memudahkan melepas komposit yang sudah kering dari cetakan sehingga kaca tempat cetakan tidak pecah. Mirror glaze ditunjukkan pada Gambar 3.11
Gambar 3. 11 Mirror Glaze 3.2 Langkah-Langkah Penelitian
3.2.1 Perhitungan Komposisi Matriks dan Serat 1. Komposisi dari matriks
Untuk perhitungan komposisi dari matrik Resin epoxy Bishepenol A dengan berat serat 10%, 15%, 20% dan tanpa menggunakan serat dapat dicari dengan perhitungan komposisi resin epoxy dan hardener dengan perbandingan resin
Untuk perhitungan komposisi dari matrik Resin epoxy Bishepenol A dengan berat serat 10%, 15%, 20% dan tanpa menggunakan serat dapat dicari dengan perhitungan komposisi resin epoxy dan hardener dengan perbandingan resin