• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 KANKER SERVIKS .1 Definisi .1 Definisi

2.2.6 Manifestasi Klinis

Walaupun telah terjadi invasi sel tumor ke dalam stroma, kanker serviks masih mungkin tidak menimbulkan gejala. Tanda dini kanker serviks tidak spesifik seperti adanya sekret vagina yang agak banyak dan kadang-kadang dengan bercak perdarahan. Umumnya tanda yang sangat minimal ini sering diabaikan oleh penderita (Prawirohardjo, 2010).

Menurut Diananda (2009) kanker serviks pada awalnya ditandai dengan tumbuhnya sel-sel pada mulut rahim yang tidak lazim (abnormal). Sebelum menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang di alami oleh sel-sel tersebut selama bertahun-tahun. Pada stadium awal, kanker ini cenderung tidak terdeteksi. Menurut hasil studi Nasional Institute of Allergy and Infectious Disease, hampir separuh wanita yang terinfeksi dengan HPV tidak memiliki gejala-gejala yang jelas. Orang yang terinfeksi juga tidak tahu bahwa mereka bisa menularkan HPV ke orang sehat lainnya.

Gejala-gejala dan tanda-tanda klinis terjadinya kanker leher rahim adalah sebagai berikut:

1. Keputihan, yang makin lama makin berbau busuk.

2. Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual, yang lama-kelamaan dapat terjadi perdarahan spontan walaupun tidak melakukan hubungan seksual.

3. Berat badan yang terus menurun.

4. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.

5. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.

6. Anemia (kurang darah) karena perdarahan yang sering timbul.

7. Rasa nyeri di sekitar genitalia.

8. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah kemungkinan terjadi hidronefrosis, selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.

9. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan proses usus besar bagian bawah (rektum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

15

2.2.7 Klasifikasi

Klasifikasi Histopatologi

Klasifikasi histopatologi menurut WHO (2014) dapat dilihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2 Klasifikasi tipe histopatologi menurut WHO 2014 (PNPK, 2015).

2.2.8 Pencegahan

Terdapat 3 tahap dalam pencegahan kanker serviks, yaitu:

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah mencegah masuknya karsinogen ke dalam tubuh atau sel tubuh. Pencegahan primer kanker serviks adalah mencegah terjadinya infeksi HPV onkogenik karena infeksi HPV onkogenik berpotensi menjadi infeksi HPV persisten yang merupakan salah satu terjadinya karsinogenesis kanker serviks. Pencegahan primer meliputi pendidikan kehidupan yang higienis, asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya imun, pola kehidupan seksual yang normal, menghindari faktor-faktor yang meningkatkan risiko infeksi HPV onkogenik, pemilihan kontrasepsi yang meningkatkan daya proteksi serviks terhadap infeksi HPV onkogenik ataupun meningkatkan regresi spontan infeksi HPV. Upaya yang sangat efektif dan efisien sebagai pencegahan primer kanker serviks adalah vaksinasi, dan vaksinasi ini juga merupakan bagian dari pencegahan primer semua kanker yang disebabkan karena infeksi HPV (Andrijono, 2012).

Vaksinasi HPV

Vaksin HPV adalah vaksin untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus HPV. Virus tersebut dapat menginfeksi manusia pada sel epitel di kulit dan membran mukosa (salah satunya adalah daerah kelamin), dan dapat menyebabkan keganasan atau kanker (IDAI, 2017).

Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalen yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe virus HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim, sedangkan tetravalen mengandung 4 tipe virus HPV (6,11,16,dan 18) yang dapat mencegah sekaligus kanker leher rahim dan juga kutil kelamin atau genital ward (IDAI, 2017).

Saat ini, pemberian vaksin HPV di Indonesia disarankan pada remaja perempuan mulai dari usia 10 tahun ke atas sedangkan di luar negeri vaksinasi HPV juga disarankan untuk remaja laki-laki. Pada remaja, biasanya penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular di deltoid yaitu otot bahu yang terbesar.

17

Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian vaksin pada bulan 0, lalu 1 atau 2 bulan setelah penyuntikan pertama tergantung jenis vaksin (bivalen atau tetravalen), dan terakhir 6 bulan setelah penyuntikan pertama. Apabila ada jadwal pemberian vaksin yang terlewat karena sakit atau hal lain maka pemberian vaksin tidak harus diulang dari awal, cukup dengan melengkapi dosis yang tertinggal tersebut (IDAI, 2017).

Selama ini beberapa kaum masyarakat beranggapan bahwa vaksinasi HPV pada anak-anak tidak perlu diberikan karena pada usia tersebut hubungan seksual belum dilakukan. Namun, sebenarnya vaksin HPV justru harus diberikan sebelum seseorang berhubungan seksual. Akan terlambat jika vaksin HPV baru diberikan saat seseorang sudah melakukan hubungan seksual, karena bisa saja orang tersebut sudah terinfeksi HPV (IDAI, 2017).

Selain belum aktif berhubungan seksual, pemberian vaksin HPV saat anak-anak memiliki manfaat lain yaitu pemberian vaksin hanya membutuhkan 2 dosis untuk usia 10-13 tahun, sedangkan untuk usia 16-18 tahun atau remaja akhir pemberian vaksin membutuhkan 3 dosis. Berdasarkan penelitian, pemberian vaksin HPV 2 dosis pada usia 10-13 tahun terbukti membentuk kadar antibodi yang tidak lebih rendah dibandingkan dengan pemberian 3 dosis pada usia 16-18 tahun. Perlu diketahui harga vaksin HPV masih cukup mahal sehingga pemberian 2 dosis merupakan suatu solusi yang efisien (IDAI, 2017).

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah menemukan kelainan sel dalam tahap infeksi HPV ataupun lesi prakanker. Penemuan infeksi HPV merupakan salah satu pencegahan sekunder yang penting, karena infeksi HPV persisten merupakan faktor infeksi yang dapat berkembang menjadi lesi prakanker. Upaya pengamatan yang terencana dan terlaksana dengan baik akan mengidentifikasi infeksi HPV yang berpotensi menjadi infeksi HPV persisten serta selanjutnya berpotensi berkembang menjadi lesi prakanker. Penemuan lesi prakanker merupakan pencegahan sekunder yang sudah dikenal dengan baik. Penemuan lesi prakanker harus dilanjutkan dengan tatalaksana yang tepat dan baik sehingga lesi prakanker tidak berkembang menjadi kanker serviks. Pap smear merupakan bagian dari pencegahan sekunder (Andrijono, 2012).

Pap Smear

Pap smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap smear merupakan tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim (Diananda, 2009).

American Cancer Society (2012) merekomendasikan semua wanita sebaiknya memulai skrining 3 tahun setelah pertama kali aktif secara seksual. Pap smear dilakukan setiap tahun. Wanita yang berusia 30 tahun atau lebih dengan hasil tes pap smear normal sebanyak tiga kali, melakukan tes kembali setiap 2-3 tahun, kecuali wanita dengan risiko tinggi harus melakukan tes setiap tahun. Selain itu wanita yang telah mendapat histerektomi total tidak dianjurkan melakukan tes pap smear lagi. Namun pada wanita yang telah menjalani histerektomi tanpa pengangkatan serviks tetap perlu melakukan tes pap atau skrining lainnya sesuai rekomendasi di atas.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG, 2012) merekomendasikan setiap wanita menjalani pap smear setelah usia 18 tahun atau setelah aktif secara seksual. Bila tiga hasil pap smear dan satu pemeriksaan fisik pelvik normal, interval skrining dapat diperpanjang, kecuali pada wanita yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu. Pap smear tidak dilakukan pada saat menstruasi. Waktu yang paling tepat melakukan pap smear adalah 10-20 hari setelah hari pertama haid terakhir. Pada pasien yang menderita peradangan berat pemeriksaan ditunda sampai pengobatan tuntas. Dua hari sebelum dilakukan tes, pasien dilarang mencuci atau menggunakan pengobatan melalui vagina. Hal ini dikarenakan obat tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Wanita tersebut juga dilarang melakukan hubungan seksual selama 1-2 hari sebelum pemeriksaan pap smear.

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah bagian pencegahan yang bertujuan untuk mencegah agar penyakit tidak berkembang menjadi penyakit pada tingkat atau stadium yang lanjut. Down staging merupakan bagian dari pencegahan tersier, dengan down staging akan menemukan penyakit pada stadium dini yang sifatnya masih menjangkau terapi kuratif (Andrijono, 2012).

19

2.2.9 Stadium

Stadium kanker serviks menurut FIGO dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Stadium kanker serviks menurut FIGO (Radiology Notes).

Rekomendasi terbaru untuk stadium kanker serviks adalah menurut The International Federation of Ginaecology and Obstetrics (FIGO) dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Stadium kanker serviks menurut FIGO.

Stadium Keterangan

0 Lesi belum menembus membran basalis I Lesi tumor masih terbatas di serviks

IA1 Lesi telah menembus membran basalis (invasi stroma) ≤ 3 mm dengan diameter permukaan tumor ≤ 7 mm.

IA2 Lesi telah menembus membrane basalis 3 mm – 5 mm dengan diameter permukaan tumor ≤ 7 mm.

IB1 Lesi terbatas di serviks dengan ukuran lesi primer ≤ 4 cm IB2 Lesi terbatas di serviks dengan ukuran lesi primer > 4 cm

II Lesi terlah keluar dari serviks (meluas ke parametrium dan

1/3 proksimal vagina

IIA Lesi telah meluas ke 1/3 vagina proksimal IIA1 Ukuran lesi primer ≤ 4 cm

IIA2 Ukuran lesi primer > 4 cm

IIB Lesi telah meluas ke parametrium tetapi tidak mencapai dinding panggul

III Lesi telah keluar dari serviks (menyebar ke parametrium dan atau 1/3 vagina distal)

IIIA Lesi menyebar ke 1/3 vagina distal

IIIB Lesi menyebar ke parametrium sampai dinding panggul IV Lesi menyebar keluar dari organ genitalia

IVA Lesi meluas ke luar rongga rongga panggul, dan menyebar ke mukosa vesika urinaria

IVB Lesi meluas ke mukosa rektum, dan atau meluas ke organ jauh

2.2.10 Tatalaksana

Dokumen terkait