Apakah Arti Kewaspadaan?
4. Manis Tersenyum
•Mengarahkan perhatian pikiran ke obyek meditasi dan tetap bersama obyek itu selama mungkin
5. Mengembalikan
•Mengulangi langkah-langkah di atas bila perhatian pikiran teralihkan
6. Mengulang
penarikan dimulai. Dengan pengamatan tanpa prasangka yang cermat, meditator akan dapat mengamati sensasi halus.
Recognizing/mengenali pergerakan awal ini sangatlah penting/vital
terhadap keberhasilan meditasi. Anda kemudian melanjutkan ke:
RELEASE/MELEPASKAN: Ketika suatu perasaan atau pemikiran muncul, Anda melepaskannya, biarkanlah ia ada di sana tanpa diberikan perhatian lebih lanjut. Isi dari gangguan tidaklah penting sama sekali, tetapi mekanisme bagaimana hal itu muncullah yang penting! Lepaskanlah setiap keketatan di sekelilingnya; biarkanlah itu berada disana tanpa memberikan perhatian kepadanya. Tanpa perhatian, keketatan akan berlalu. Kewaspadaan kemudian mengingatkan Anda untuk;
RELAX/MERILEKSKAN: Setelah melepaskan perasaan atau
sensasi, membiarkannya berada disana tanpa berusaha mengontrolnya, akan terdapat ketegangan halus yang hampir tak dapat dikenali dalam pikiran/badan. Inilah sebabnya mengapa langkah relax/merilekskan [langkah “tranquilization/ketenangan” ini disebutkan dalam sutta-sutta] ditunjukkan oleh Sang Buddha dalam instruksi meditasinya. Harap jangan melompati langkah ini! Tidak melakukan langkah rileks ini seperti tidak mengisi bahan bakar mobil agar mobil bisa melaju. Kata dalam bahasa Pali yang penting disini adalah ‘passambhaya’. Kata ini secara khusus mengandung makna ’untuk menenangkan’ dan digunakan dalam bentuk ‘kata kerja: suatu tindakan untuk dilakukan’ sebagaimana dijabarkan dalam sutta-sutta; dan bukanlah ‘relaksasi pada umumnya’ yang termasuk dalam langkah-langkah yang terdapat dalam jenis meditasi lainnya. Hal ini kadang disalah-mengerti dalam penerjemahan yang kemudian mengubah hasil akhirnya!
57
Tanpa menjalankan langkah rileks ini setiap kali dalam siklus, meditator tidak akan mengalami pandangan yang mendekati dan jelas terhadap berhentinya ketegangan yang disebabkan oleh kemelekatan atau perasaan lega setelah keketatan dirilekskan. Mohon dicatat bahwa pertama-tama kemelekatan selalu termanifestasi sebagai suatu ketegangan atau keketatan baik dalam pikiran dan badan seseorang. Anda akan memiliki kesempatan sesaat untuk melihat dan mengalami sifat alami dan kelegaan atau terhentinya keketatan dan penderitaan ketika menjalankan langkah release/melepaskan dan relax/merilekskan. Kewaspadaan berlanjut terus dengan mengingat untuk:
RE-SMILE/MANIS TERSENYUM KEMBALI: Jika Anda telah
mendengarkan ceramah Dhamma di www.dhammasukha.org, Anda mungkin ingat betapa pentingnya tersenyum dalam bermeditasi. Belajar untuk tersenyum dalam pikiran dan sedikit menaikkan ujung bibir akan membantu pikiran menjadi lebih dapat mengamati dengan cermat, awas, waspada. Menjadi serius, merasakan ketegangan memuncak atau mengerutkan dahi menyebabkan pikiran menjadi berat dan kewaspadaan Anda menjadi tumpul dan lamban sehingga sulit melihat pengertian yang mendalam, dan memperlambat pemahaman Dhamma. Coba bayangkan, Sang Boddhisatta saat masih seorang bocah kecil beristirahat di bawah pohon jambu. Beliau tidak serius dan tegang ketika Beliau mencapai kondisi menyenangkan (jhāna) dan mengalami pengertian mendalam dengan pikiran ringan. Ingin melihat secara jelas? Sangat mudah! Ringankanlah pikiran Anda, selidiki dengan riang dan tersenyum! Tersenyum akan menuntun kita ke latihan yang lebih menarik dan bahagia. Jika
meditator lupa untuk release and relax (melepaskan dan merilekskan), daripada menghukum atau mengkritik diri, lebih baik Anda berbaik hati kepada diri sendiri, tersenyum kembali dan ulangi dari awal. Milikilah selera humor, rasa sukacita dalam menyelidiki dan mengulangi terus menerus adalah penting. Setelah tersenyum kembali, kewaspadaan akan mengingat langkah selanjutnya.
RETURN/MENGARAHKAN KEMBALI: Dengan lembut arahkan kembali perhatian pikiran pada obyek meditasi (yaitu napas dan rileks, atau Mettā/cinta kasih dan rileks) diteruskan dengan pikiran menyatu yang lembut dan menggunakan objeknya sebagai “markas”. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin Anda teralihkan dari tugas yang sedang dikerjakan, itulah saatnya Anda kembalikan perhatian pikiran Anda kepada melepaskan, merilekskan, dan tersenyum kembali pada tugas yang sedang dikerjakan.
Ada orang berkata bahwa siklus latihan ini lebih mudah dari yang disangka! Menurut sejarah, hal-hal sederhana dapat berubah menjadi hal misteri melalui perubahan dan pengurangan kecil!
Melakukan latihan ini akan mengembangkan fokus yang lebih baik dalam tugas sehari-hari dengan berkurangnya ketegangan dan keketatan. Pikiran secara alami akan menjadi lebih seimbang dan bahagia. Anda menjadi lebih efisien dalam apapun juga yang dilakukan dalam hidup, dan sesungguhnya, Anda akan lebih bergembira melakukan segala hal yang sebelumnya dilakukan dengan gerutuan. Kewaspadaan akhirnya mengingat pada yang terakhir untuk:
59 REPEAT/MENGULANG: Ulangi meditasi Anda pada obyek
Anda dan pertahankanlah selama mungkin, dan kemudian ulangi siklus ini sesering yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang Sang Buddha bilang dapat dicapai dalam hidup ini!
Mengulangi siklus 6R/6M berulang-ulang akhirnya akan mengganti penderitaan akibat tendensi kebiasaan lama karena kita melihat sendiri apakah penderitaan itu; menyadari penyebabnya dan bagaimana kita terlibat dengan ketegangan dan keketatan itu; mengalami bagaimana mencapai berhentinya penderitaan dengan melepaskan dan merilekskan; dan menemukan bagaimana kita dapat berlatih jalan langsung ke berhentinya penderitaan itu. Kita mencapai penghentian ini setiap saat kita melepaskan suatu perasaan, merilekskan, dan tersenyum kembali. Sadari rasa leganya itu!
Singkatnya, kewaspadaan (sāti) sangat berkaitan dengan meditasi Buddhis dan kehidupan sehari-hari. Pertajam kemampuan kewaspadaan Anda adalah kunci menuju meditasi yang sederhana dan mudah. Proses mengingat kewaspadaan membuat enam langkah latihan terus berlangsung. Berlatih meditasi ini sedekat mungkin sesuai instruksinya (ditemukan dalam sutta-sutta) akan menerangi pengalaman hidup seseorang. Ini diajarkan sebagai Usaha Benar. Dalam 6R/6M, kita menambahkan beberapa langkah untuk membuatnya lebih mudah dipahami.
Hasil-hasil mengagumkan dari melakukan meditasi cara ini adalah langsung efektif untuk siapapun yang secara tekun dan penuh semangat mengikuti instruksi ini. Saat kemelekatan muncul, latihan ini lama kelamaan akan meleburkan rintangan,
namun dibutuhkan kegigihan dalam penggunaan 6R/6M untuk membuatnya terjadi.
Ketika Anda berlatih dengan cara ini, karena ternyata sangat relevan dengan hidup sehari-hari, hal itu akan mengubah perspektif Anda dan menuntun Anda kepada pengalaman hidup yang lebih sukses, bahagia dan damai. Sejalan dengan perkembangan kewaspadaan, pengetahuan dan kebijaksanaan akan tumbuh secara alami sebagaimana Anda melihat hal-hal terjadi dengan menyaksikan proses impersonal (tanpa diri) dari Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan.
Hal ini akan menuntun kepada suatu bentuk kebahagiaan yang disebut oleh Sang Buddha sebagai ’rasa puas’. Kepuasan ini merupakan efek samping dari menjalani cara hidup Buddhis. Meditasi ini menuntun kepada keseimbangan, kondisi batin yang tak tergoyahkan, dan meleburnya ketakutan dan ketidak-nyamanan. Dengan berkurangnya ketakutan dan kecemasan, Anda akan menemukan rasa percaya diri baru. Kemudian Cinta Kasih, Welas Asih, Sukacita dan Ketenang-seimbangan berkembang dalam hidup kita.
Kadar sukses Anda berbanding lurus dengan seberapa baik Anda memahami kewaspadaan, mengikuti instruksi secara tepat, selalu gunakan 6R/6M baik saat berlatih meditasi maupun dalam hidup sehari-hari. Ini adalah jalan menuju berhentinya/berakhirnya penderitaan dan bergembiralah saat berlatih cara ini dan sudah pasti hal itu akan membantu Anda tersenyum sembari Anda mengubah dunia sekeliling Anda dengan cara yang positif.
Ketika Anda berlatih “Meditasi Ketenang-bijaksanaan Pandangan Terang (Tranquil Wisdom Insight Meditation/TWIM)”, Anda tidak menekan apapun juga.
61
Menekan berarti kita menolak atau menghalau atau tidak mengizinkan suatu gangguan untuk muncul. Sebaliknya, ketika suatu gangguan muncul, anda harus bekerja membuka pikiran anda dengan melihat dengan jernis bagaimana anicca (ketidak-kekalan, tadinya tidak ada dan sekarang ada), dukkha (penderitaan atau ketidak-puasan, anda melhat bahwa ketika gangguan-gangguan muncul, mereka menyakitkan), dan anattā (tidak mengganggapnya sesuatu yang pribadi, melihat gangguan sebagaimana hakiki mereka sebagai proses impersonal (tanpa diri pribadi) yang tidak dapat Anda kontrol dan Anda tidak mengambil gangguan-gangguan itu sebagai ”aku adalah gangguan itu”.
Anda kemudian melepaskan gangguan ini, merilekskan keketatan dalam kepala, menenangkan pikiran, lalu akhirnya mengarahkan kembali perhatian yang bebas kemelekatan ke latihan ‘Pernapasan penuh Kewaspadaan’.
Alhasil, Anda mulai melihat secara jelas bagaimana pikiran bekerja dan hal ini akan menuntun kepada berkembangnya kebijaksanaan. Daripada mengidentifikasi diri dengan gangguan itu, ketika biarkan ia di sana dan rilekskan, rintangan-rintangan tersebut akan menghilang secara alami. Pikiran menjadi lebih jernih dan terang. Setiap saat Anda melepaskan kemelekatan ego dari “aku adalah itu”, pikiran dengan sendirinya menjadi meluas, awas dan waspada.
Oleh karenanya, salah satu alasan diterbitkannya buku ini adalah untuk memperlihatkan bahwa pada saat Anda menekan gangguan-gangguan itu agar tidak muncul, maka saat itu Anda tidak memurnikan pikiran atau mengalami hal-hal sebagaimana apa adanya. Pada saat Anda menekannya, itu berarti Anda
menyingkirkannya dan tidak membiarkannya menjadi bagian dari pengalaman Anda. Oleh karena itu, pikiran menjadi mengerut dan mengetatkan tekanan bahkan lebih ketat, dan bukannya menjadi meluas dan terbuka. Alhasil, hal ini tidak memurnikan pikiran dari kebodohan batin dan kemelekatan. Anda sesungguhnya menghentikan pemurnian pikiran!
Tidaklah mungkin untuk mengalami keadaan tak berkondisi dari
Nibbāna non-duniawi jika seseorang tidak melepaskan apapun
juga yang muncul, dimana melepaskan itu berarti memurnikan pikiran dari keyakinan ego dari “Aku adalah itu”.
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk menekan pengalaman apapun dan Beliau tidak pernah mengajarkan meditasi yang menyebabkan pikiran terarah pada sesuatu atau menjadi terserap/terpaku dalam obyek meditasi. Ingatlah, beliau menolak bahwa segala jenis meditasi konsentrasi adalah hal yang tepat. Sesungguhnya segala jenis rasa sakit, emosi karena kesal, tidak nyaman di badan jasmani dan bahkan kematian seharusnya dapat diterima dengan ketenang-seimbangan, kewaspadaan penuh, atau perhatian kuat tanpa mengidentifikasikannya dengan keadaan tersebut atau menganggap rasa sakit itu sebagai miliknya.
Perubahan kepribadian yang nyata terjadi ketika Anda membuka dan memperluas pikiran Anda dan melepaskan segala macam rintangan, kesakitan, penderitaan dan ketegangan dalam hidup Anda sehari-hari. Hal ini berarti Anda membuka dan memperluas kewaspadaan Anda sehingga Anda dapat mengamati semuanya dengan pikiran hening, bebas dari keketatan dan semua kemelekatan ego. Anda secara perlahan-lahan menuju hidup yang bahagia dan tenang tanpa keruwetan pikiran, terutama dalam kegiatan hidup Anda sehari-hari.
63
Ketika Anda berlatih ’meditasi konsentrasi’, Anda merasa sangat nyaman dan bahagia ketika berada dalam meditasi yang dalam; tapi setelah Anda keluar dari tahapan ini, kepribadian Anda tidak berubah. Amarah, ketakutan atau kecemasan lama masih tetap ada. Ini berarti ketika rintangan datang menyerang, Anda tidak mengenalinya dan tidak membuka pikiran Anda dan Anda tidak membiarkan rintangan berada di sana tanpa menganggapnya pribadi. Karenanya, Anda mengerutkan pikiran dan menjadi sangat melekat padanya! Anda bahkan dapat menjadi sangat sombong dan kritis! Hal ini disebabkan ketika rintangan muncul saat bermeditasi, Anda melepaskannya dan segera kembali ke obyek meditasi. Anda melakukannya tanpa menenangkan dan merilekskan keketatan yang timbul karena gangguan itu. Ketika bermeditasi, pikiran Anda cenderung menjadi tertutup atau mengerut dan mengetat di sekeliling pengalaman tersebut hingga pikiran menjadi ‘terkonsentrasi’ jauh lebih dalam.
Sebagai hasilnya, walaupun hal ini dapat menekan rintangan, Anda tidak sepenuhnya melepaskan kemelekatan ego terhadap gangguan itu. Pikiran Anda juga menjadi ketat dan tegang karena Anda tidak melihat secara jelas. Anda tidak membuka dan mengizinkannya ada di sana; malah sebaliknya, Anda menutup dan melawan gangguan itu.
Hal ini menjelaskan mengapa akhir-akhir ini, beberapa meditator mengeluhkan ketegangan yang besar di kepala mereka. Sesungguhnya, jika Anda benar-benar telah melepaskan semua gangguan, maka seharusnya tidak pernah akan ada ketegangan dalam kepala. Ketegangan ini adalah hasil penekanan dimana tidak terjadi pemurnian pikiran yang sesungguhnya, dan oleh karenanya, tidak terjadi perubahan kepribadian.