• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meyakini Perkara-Perkara Ghaib

Dalam dokumen AKIDAH ULAMASYAFI IYAH (Halaman 32-0)

BAB II : IMAN

H. Kehendak Manusia Bergantung kepada Kehendak Allah

2.8 Meyakini Perkara-Perkara Ghaib

“Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.” (Al-Insan: 29)

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

ُﱠﻟﻠﻪا َءﺎَﺸَﻳ ْنَأ ﱠﻻِإ َنوُءﺎَﺸَﺗ ﺎَﻣَو﴿

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah”(Q.S.

Al-Insan: 30)

Ibnu Katsir menafsirkan: “Maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk kepada dirinya sendiri dan tidak juga masuk ke dalam iman serta tidak mampu mengambil manfaat untuk dirinya sendiri.”

ًﻤﻴِﻜَﺣ ﺎًﻤﻴِﻠَﻋ َنﺎَﻛ َﱠﻟﻠﻪا ﱠنِإ ُﱠﻟﻠﻪا َءﺎَﺸَﻳ ْنَأ ﱠﻻِإ﴿

“Kecuali bila dikehendaki Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Insan: 30)68

Allah ta’ala berfirman:

﴾ ُﱠﻟﻠﻪا َءﺎَﺸَﻳ ْنَأ ﱠﻻِإ َنوُءﺎَﺸَﺗ ﺎَﻣَو ﴿

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (Q.S.

Al-insan: 30)

Abu Al-Mudzaffar As-Sam’ani menafsirkan: “Kehendak mereka dikembalikan kepada kehendak Allah. Maksudnya adalah keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali apabila Allah menginginkannya. Dan hal ini sesuai dengan keyakinan ahlus sunnah.”69

2.8 Meyakini Perkara-Perkara Ghaib A. Makna Perkara-Perkara Ghaib

Allah ta’ala berfirman:

68. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (8/301).

69. Tafsir Al-Quran, As-Sam’ani, (6/124).

“Alif laam miim, (1). Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2) (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (3).” (Q.S. Al-Baqarah: 1-3)

Abu Muhammad Al-Baghawi mengutip tafsir dari Ibnu Abbas: “Bahwa Maksud ghaib di sini adalah semua yang diperintahkan untuk diimani berupa sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh matamu seperti malaikat, kebangkitan, surga, neraka, shirath, dan timbangan.”70

B. Hanya Allah yang Mengetahui Perkara-Perkara Ghaib Allah ta’ala berfirman:

ِﰲ ْﻦَﻣ ُﻢَﻠْﻌَـﻳ َﻻ ْﻞُﻗ ﴿ ﴾َنﻮُﺜَﻌْـﺒُـﻳ َنﱠ�َأ َنوُﺮُﻌْﺸَﻳ ﺎَﻣَو ُﱠﻟﻠﻪا ﱠﻻِإ َﺐْﻴَﻐْﻟا ِضْرَْﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﱠﺴﻟا

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (Q.S. An-Naml: 65)

Ibnu Katsir menafsirkan: "Allah ta’ala berfirman memerintahkan Rasulnya shallallahu

‘alaihi wasallam untuk mengucapkan sesuatu sebagai pengajaran kepada seluruh makhluk bahwa tidak ada seorangpun dari penghuni langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah."71

C. Nabi tidak Mengetahui Perkara-Perkara Ghaib Allah ta’ala berfirman:

ُﻊِﺒﱠﺗَأ ْنِإ ٌﻚَﻠَﻣ ِّﱐِإ ْﻢُﻜَﻟ ُلﻮُﻗَأ َﻻَو َﺐْﻴَﻐْﻟا ُﻢَﻠْﻋَأ َﻻَو ِﱠﻟﻠﻪا ُﻦِﺋاَﺰَﺧ يِﺪْﻨِﻋ ْﻢُﻜَﻟ ُلﻮُﻗَأ َﻻ ْﻞُﻗ﴿

ﱠﻻِإ

ﱠَﱄِإ ﻰَﺣﻮُﻳ ﺎَﻣ

“Katakanlah (Muhammad) aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (Q.S. Al-An’am: 50)

Abu Al-Mudzaffar As-Sam’ani menafsirkan: “Aku (Nabi Muhammad shallallahu

‘alaihi wasallam) tidak mengetahui perkara ghaib, kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepadaku.”72

D. Meyakini Adanya Dajjal

Abu Abdillah Al-Halimi mengatakan: “Dajjal adalah seorang dari anak keturunan Nabi Adam, dia buta sebelah, dan salah satu matanya seperti buah anggur yang keluar. Nabi telah menjelaskan ciri-ciri Dajjal serta memperingatkan umatnya akan bahayanya, namun Nabi tidak menjelaskan kapan waktu keluarnya Dajjal.”73

70. Ma’alimut tanzil, (1/62).

71. Tafsir Al-Quran al-adzim, Ibnu Katsir, (6/187).

72. Tafsir Al-Quran, As-Sam’ani, (2/106).

73. Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman, (1/ 422).

Abu al-Husain al-‘Imroniy mengatakan: “Menurut Ahli Hadits Keluarnya Dajjal merupakan benar adanya.”74

E. Meyakini Adanya Imam Mahdi

Ibnu Hajar al-Asqolaniy mengatakan: “Al-Mahdi keluar pada akhir zaman, datang dengan nama dan nama ayah yang menyerupai nama Nabi dan nama ayahnya.”75

F. Meyakini Turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam

Ibnu Katsir mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah Rhadhiyallahu ‘anhu. Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﱠﺼﻟا َﺮِﺴْﻜَﻴَـﻓ ، ًﻻْﺪَﻋ ﺎًﻤَﻜَﺣ ََﱘْﺮَﻣ ُﻦْﺑا ْﻢُﻜﻴِﻓ َلِﺰْﻨَـﻳ ْنَأ ﱠﻦَﻜِﺷﻮُﻴَﻟ ،ِﻩِﺪَﻴِﺑ ﻲِﺴْﻔَـﻧ يِﺬﱠﻟاَو )) ،َﺐﻴِﻠ

ُةَﺪْﺠﱠﺴﻟا َنﻮُﻜَﺗ ﱠﱴَﺣ ،ٌﺪَﺣَأ ُﻪَﻠَـﺒْﻘَـﻳ َﻻ ﱠﱴَﺣ ُلﺎَﳌا َﺾﻴِﻔَﻳَو ،َﺔَﻳْﺰِﳉا َﻊَﻀَﻳَو ،َﺮﻳِﺰْﻨِﳋا َﻞُﺘْﻘَـﻳَو ﺎَﻬﻴِﻓ ﺎَﻣَو ﺎَﻴْـﻧﱡﺪﻟا َﻦِﻣ اًْﲑَﺧ ُةَﺪِﺣاَﻮﻟا ((

“Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh telah dekat turunnya Ibnu Maryam yaitu Isa ‘alaihissalam kepada kalian sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah dan harta benda akan melimpah ruah, sehingga tidak ada satupun yang mau menerimanya dan sehingga satu kali sujud lebih baik baginya dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari) 76. 77

G. Meyakini Adanya Adzab Kubur dan Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir

Abu al-Husain al-‘Imroniy mengatakan: "Menurut ahli hadits, azab kubur dan pertanyaan Munkar dan Nakir di dalamnya merupakan benar adanya."78

H. Meyakini Adanya Kiamat Allah ta’ala berfirman:

ٌﺔَﻴِﺗ َﻵ َﺔَﻋﺎﱠﺴﻟا ﱠنِإ﴿

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan dating.” (Q.S. Ghafir: 59) Ibnu Katsir menafsirkan: “(Kiamat) pasti terjadi dan akan tiba.”79

74. Al-Intishor Fi Roddi ‘Ala Al-Mu’tazilah Al-Qodariyah Al-Asyror, (3/806).

75. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, (7/98).

76. Shahih Al-Bukhari, Muhammad bin Ibrahim Al-Bukhari, kitab ahadits al-anbiya, bab nuzul Isa bin Maryam

‘alaihimas salam, [dar thuq an-najah], cet. 1, 1422 H, (4/168, no: 3448).

77. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (2/404).

78. Al-Intishor Fi Roddi ‘Ala Al-Mu’tazilah Al-Qodariyah Al-Asyror, (3/ 708).

79. Tafsir Al-Quran al-adzim, Ibnu Katsir, (7/138).

I. Hanya Allah yang Tahu Terjadinya Kiamat Allah ta’ala berfirman:

ﺎَﻬِﺘْﻗَﻮِﻟ ﺎَﻬﻴِّﻠَُﳚ َﻻ ِّﰊَر َﺪْﻨِﻋ ﺎَﻬُﻤْﻠِﻋ ﺎَﱠﳕِإ ْﻞُﻗ ﺎَﻫﺎَﺳْﺮُﻣ َنﱠ�َأ ِﺔَﻋﺎﱠﺴﻟا ِﻦَﻋ َﻚَﻧﻮُﻟَﺄْﺴَﻳ﴿

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah:

‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.’” (Q.S. Al-A’raf:

187)

Abu Muhammad al-Baghawi menafsirkan: “Allah menyimpan pengetahuan tentang kiamat dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.”.80

J. Semua Makhluk Tidak Mengetahui Terjadinya Kiamat

Abu Bakr al-Baihaqi mengatakan: “Sungguh al-Quran telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat, dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang mengetahuinya.”81

K. Meyakini Adanya Kebangkitan

Imam Syafi’i mengatakan: “Kebangkitan itu benar adanya.”82

Abu Bakr al-Baihaqi mengatakan: “Iman pada kebangkitan adalah mengimani bahwa Allah ta’ala akan mengembalikan potongan-potongan badan mayat serta menyatukan potongan-potongan badan yang terpisah baik itu di laut maupun di dalam perut binatang buas dan selainnya, sehingga kembali pada bentuknya semula, kemudian disatukan menjadi hidup, semua manusia baik itu kecil maupun besar hidup dalam keadaan berdiri karena perintah Allah ta’ala, sampai anak yang gugur sekalipun yang sudah sempurna penciptaannya dan telah ditiupkan ruh. Adapun yang belum sempurna penciptaannya dan belum ditiupkankan ruh, maka keadaannya sama seperti mayat.”83

Abu Utsman Ash-Shabuni mengatakan: “Orang-orang Ahli Agama dan Ahlus Sunnah mengimani kebangkitan setelah terjadinya kematian pada hari kiamat dan mengimani semua yang Allah ta’ala kabarkan tentang berbagai keadaan yang terjadi pada hari tersebut, serta berbagai keadaan hamba dan makhluk-Nya ketika melihat dan menerima hasil perbuatannya. Pada hari yang sangat mencekam, diantara mereka ada yang mengambil buku catatan amal dengan tangan kanannya dan ada juga yang mengambil dengan tangan kirinya.

Mereka menjawab berbagai pertanyaan, mengalami guncangan dan kekacauan yang hal tersebut sudah dijanjikan akan terjadi. Pada hari yang agung tersebut dibentangkan sirath, timbangan, dan catatan amal meskipun hanya sebutir dzarrah kebaikan ataupun keburukan dan lain sebagainya.”84

80. Ma’alimut tanzil, (3/309).

81. Al-jami’ lisyuabil iman, (1/408).

82. Manaqib Asy-Syafi’i, Al-Baihaqi, (1/415).

83. Al-jami’ li syuabil iman, (1/410-411).

84. Aqidah Salaf Wa Ashabul Hadits, Abu Utsman Ismail bin Ibrahim Ash-Shabuni, [Dar al-Minhaj], cet. 1, 1423 H, (hal. 72)

Kemudian beliau mengatakan: “Dan mereka mengimani adanya haudh dan telaga al- kautsar, serta masuknya sebagian orang-orang bertauhid ke Surga tanpa dihisab, dan sebagian yang lain dihisab dengan hisab yang ringan, kemudian mereka dimasukkan ke Surga tanpa diazab terlebih dahulu.

Dan sebagian para pelaku dosa dimasukkan ke dalam Neraka kemudian dibebaskan atau dikeluarkan dari Neraka, kemudian dikumpulkan bersama saudara-saudara mereka yang lebih dahulu memasuki Surga, dan mereka orang-orang bertauhid yang merupakan pelaku dosa tidak akan kekal di dalam Neraka dan tidak akan dibiarkan berada di dalam Neraka selamanya. Sedangkan orang kafir akan kekal di dalam Nereka dan tidak dikeluarkan selamanya.”85

L. Meyakini Bahwa Kebaikan dan Keburukan Akan Ditimbang

Abu al-Husain al-‘Imroniy mengatakan: “Menurut Ahli Hadits kebaikan dan keburukan orang Islam akan ditimbang dengan timbangan yang ada pada hari kiamat, serta meyakini bahwa shirath dan telaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam benar adanya.”86 M. Meyakini Adanya Surga dan Neraka

Abu Utsman Ash-Shabuni mengatakan: “Ahlussunnah bersaksi Surga dan Neraka adalah makhluk, keduanya kekal dan tidak akan musnah selamanya. Penghuni Surga tidak akan keluar darinya selamanya. Begitu juga penghuni Neraka (dari golongan kafir) yang memang pantas memasukinya dan diciptakan untuk memasukinya, mereka tidak akan keluar darinya selamanya. Kemudian kematian didatangkan dan disembelih di batas antara Surga dan Neraka. Pada hari itu penyeru menyerukan: ‘Wahai penghuni surga kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian, dan wahai penghuni neraka kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian.’ Demikian yang terdapat dalam hadits shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”87

85. Aqidah Salaf Wa Ashabul Hadits, (hal. 75).

86. Al-Intishor Fi Roddi ‘Ala Al-Mu’tazilah Al-Qodariyah Al-Asyror, (3/ 720).

87. Aqidah Salaf Wa Ashabul Hadits, (hal. 77).

BAB III RUBUBIYAH

Abu Al-Ma’aliy As-Suwaidi88 mengatakan: “Semua kelompok kafir dan syirik kecuali Tsanawiyyah (kelompok yang mengatakan adanya dua tuhan, yaitu tuhan kebaikan dan tuhan keburukan) dan sebagian Majusi (kelompok penyembah api) sepakat bahwa pencipta alam semesta, yang memberikan mereka rezeki, yang mengatur urusan mereka, yang memberikan mereka manfaat, yang memberikan mereka bahaya, dan yang melindungi mereka hanyalah satu. Tidak ada Tuhan, pencipta, pemberi rezeki, yang mengatur, yang memberikan manfaat, yang memberikan bahaya, dan yang menolong kecuali Allah ta’ala.”89

Allah ta’ala berfirman:

﴾ٍﻊﻴِﻔَﺷ َﻻَو ٍِّﱄَو ْﻦِﻣ ِﻪِﻧوُد ْﻦِﻣ ْﻢُﻜَﻟ ﺎَﻣ﴿

“Bagimu tidak ada seseorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia.” (Q.S.

As-Sajadah: 4)

Ibnu Katsir menafsirkan: “Bahkan Dia pemilik berbagai urusan, Maha Pencipta segala sesuatu, Maha Mengatur segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka tidak ada pelindung makhluk-Nya selain Dia dan tidak ada yang mampu memberikan syafaat kecuali setelah mendapat izin dari-Nya.”90

3.1 Allah Pemilik Alam Semesta Allah ta’ala berfirman:

﴾ َﲔِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ِّبَر ِﱠِﻟﻠﻪ ُﺪْﻤَْﳊا ﴿

“Segala puji bagi Allah rabb semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)

Abu Muhammad al-Baghawi menafsirkan: “Allah pemilik alam semesta dan yang memeliharanya.”91

88. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Abu Al-Ma’aliy Ali bin Muhammad Sa’id bin Abdullah As-Suwaidi, (wafat tahun 1237 H), diantara karya beliau adalah Al-‘Aqdu Ats-Tsamin Fi Bayani Masaili Ad-Din dan Syarhu Maqosid Al-Imam An-Nawawi. Lihat Al-A’lam (5/17) dan Hilyah Al-Basyar Fi Tarikh Al-Qorn Ats-Tsalits ‘Asyar, Abdurrazaq bin Hasan, [Beirut: Dar shadir], cet. 3, 1413 H, (hal. 1076-1077).

89. Al-‘Aqdu Ats-Tsamin Fi Bayani Masaili Ad-Din, Abu Al-Ma’aliy As-Suwaidi, [Beirut: Dar ibnu hazm], cet.

1,1432 H, (hal. 187).

90. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (6/320).

91. Ma’alimut Tanzil, (1/52).

3.2 Mencipta Hanyalah Hak Allah Allah ta’ala berfirman:

﴾ ُﻖْﻠَْﳋا ُﻪَﻟ َﻻَأ ﴿

“Ingatlah! Segala penciptaan hanyalah hak Allah).” (Q.S.Al-A’raf: 54) Muhammad As-Syirazi menafsirkan: “Tidak ada pencipta kecuali Allah.”92

Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i bahwa beliau menceritakan: “Aku berjumpa dengan tujuh belas orang zindiq di jalan menuju Ghaza, mereka berkata: Apa bukti adanya pencipta? Aku berkata kepada mereka: Jika aku menyampaikan bukti yang memuaskan kalian, apakah kalian akan beriman? Mereka menjawab: Ya, aku berkata: Daun pohon murbei yang rasa, warna dan baunya sama yang dimakan oleh ulat sutera, ternyata yang keluar dari mulutnya adalah benang sutra. Namun ketika yang memakannya lebah, maka yang keluar darinya adalah madu. Dan ketika yang memakannya kambing, maka yang keluar adalah kotorannya. Oleh karena itu, yang keluar harusnya satu jenis, karena yang dimakan merupakan satu jenis. Karena hakikat sesuatu tidak mengharuskan kecuali sesuatu yang satu pula.”93

Allah Menciptakan Makhluk dan Tidak Butuh pada Mereka

Abu Ibrahim al-Muzani mengatakan: “Allah menciptakan makhluk berdasarkan kehendak-Nya, bukan karena butuh kepada mereka.”94

3.3 Allah yang Mengatur Alam Semesta Allah ta’ala berfirman:

﴾َﺮْﻣَْﻷا ُﺮِّﺑَﺪُﻳ ْﻦَﻣَو﴿

“Dan siapakah yang mengatur segala urusan?” (Q.S.Yunus: 31)

Muhammad As-Syirazi menafsirkan: “Yaitu (siapakah) yang mengurus pengaturan perkara alam semesta?”

﴾ُﱠﻟﻠﻪا َنﻮُﻟﻮُﻘَـﻴَﺴَﻓ﴿

“Maka mereka (orang-orang musyrik) akan menjawab “Allah” (Q.S. Yunus: 31) 95

92. Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran, (1/622).

93. Mufidul ‘Ulum Wa Mubidul Humum, Abu Bakr Al-Khuwarizmiy, [Beirut: Al-maktabah al-‘unshuriyyah], 1448 H, (hal. 25) dan Manhaj Imam Asy-Syafi’I Fi Itsbatil ‘Aqidah, (hal. 325).

94. Syarhu As-Sunnah, Al-Muzani, (hal. 76).

95. Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran, (2/ 132).

BAB IV ULUHIYAH 4.1 Makna Ibadah

Abu Al-Ma’aliy As-Suwaidi mengatakan: “Ibadah secara bahasa adalah merendahkan diri dan ketundukan. Sedangkan secara istilah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan, atau perbuatan yang dzahir maupun bathin.”96

A. Makhluk Diciptakan untuk Beribadah kepada Allah Allah ta’ala berfirman:

) ِنوُﺪُﺒْﻌَـﻴِﻟ ﱠﻻِإ َﺲْﻧِْﻹاَو ﱠﻦِْﳉا ُﺖْﻘَﻠَﺧ ﺎَﻣَو ﴿ ﺎَﻣَو ٍقْزِر ْﻦِﻣ ْﻢُﻬْـﻨِﻣ ُﺪﻳِرُأ ﺎَﻣ ( ٥٦

﴾ ِنﻮُﻤِﻌْﻄُﻳ ْنَأ ُﺪﻳِرُأ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Q.S.Adz-Dzariyat: 56-57)

Imam An-Nawawi97 mengatakan: “Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua hamba Allah diciptakan untuk beribadah dan melakukan amal akhirat, dan berpaling dari kesenangan dunia dengan bersikap zuhud.”98

B. Hanya Allah yang Berhak Disembah Allah ta’ala berfirman:

﴾ ﱡﻖَْﳊا َﻮُﻫ َﱠﻟﻠﻪا ﱠنَِﺑﺄ َﻚِﻟَذ ﴿

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq.” (Q.S.Al-hajj: 62)

Ibnu Katsir menafsirkan: “Yaitu Tuhan yang hak, yang tidak sepantasnya ibadah ditujukan kepada selainnya.”

ُﻞِﻃﺎَﺒْﻟا َﻮُﻫ ِﻪِﻧوُد ْﻦِﻣ َنﻮُﻋْﺪَﻳ ﺎَﻣ ﱠنَأَو ﴿

"Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru kepada selain Allah maka itu adalah bathil.” (Q.S.Al-hajj: 62)

Beliau menafsirkan: “Yaitu berhala-berhala, sekutu-sekutu, patung-patung, dan apa saja yang mereka sembah selain Allah adalah bathil.”99

96. Al-‘Aqdu Ats-Tsamin Fi Bayani Masaili Ad-Din, (hal. 192).

97. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Abu Zakaria Yahya bin Syarof bin Muriy bin Hasan (631-676 H), diantara karya beliau adalah Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyidil Mursalin. Lihat Al-A’lam, (8/149) dan Thabaqat Asy-Syafiiyah Al-Kubra (8/395-400).

98. Al-majmu’ Syarh Al-Muhadzzab, Yahya bin Syarof An-Nawawi, [Dar al-fikr], (1/2) dan Juhud Aimmah Asy-Syafi’iyah Fi Taqrir Tauhid Al-‘Ibadah, Abdullah bin Abdul Aziz, [Risalah dukturoh, jami’ah ummul quro], 1420 H, (1/118).

99. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (5/393).

Salim al-Hadhramiy100 menjelaskan makna kalimat -

ﱠﻟﻠﻪا ﱠﻻِإ َﻪَﻟِإ َﻻ

- beliau mengatakan:

“Maknanya adalah tidak ada tuhan yang ada, yang berhak disembah kecuali Allah.”101 Allah ta’ala berfirman:

﴾ َﻮُﻫ ﱠﻻِإ َﻪَﻟِإ َﻻ ُﱠﻟﻠﻪا ﴿

“Allah, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia.” (Q.S.Al-Baqarah: 255) Jalaluddin As-Suyuthi102 menafsirkan: “Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.”103

C. Dua Syarat Diterimanya Ibadah Allah ta’ala berfirman:

﴾ِﻪِّﺑَر َءﺎَﻘِﻟ ﻮُﺟْﺮَـﻳ َنﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻓ﴿

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan tuhannya.” (Q.S. Al-Kahfi: 110) Ibnu katsir menafsirkan: “Yaitu (menginginkan) pahala dan balasannya yang baik.”

﴾ﺎًِﳊﺎَﺻ ًﻼَﻤَﻋ ْﻞَﻤْﻌَـﻴْﻠَـﻓ﴿

“Maka hendaklah dia mengerjakan amal yang sholih.”(Q.S. Al-Kahfi:110) Beliau menafsirkan: “Yaitu amalan yang sesuai dengan syariat Allah.”

﴾اًﺪَﺣَأ ِﻪِّﺑَر ِةَدﺎَﺒِﻌِﺑ ْكِﺮْﺸُﻳ َﻻَو﴿

“Dan janganlah dia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

(Q,S, Al-Kahfi: 110)

100. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Salim bin Abdullah bin Sa’d bin Abdullah bin Sumair Al-Hadramiy, (wafat tahun 1271 H), diantara karya beliau adalah Safinah An-Najah Fi Ma Yajibu ‘Alal ‘Abdi Li Maulah dan Al-Fawaid Al-Jaliyyah Fiz-Zajri ‘An Ta’athi Al-Hiyali Ar-Ribawiyyah. Lihat Kasyifatus Saja Syarh Safinah An-Naja, (hal. 5-6).

101. Matnu Safinah An-Najah Fi Ma Yajibu ‘Alal ‘Abdi Li Maulah, Salim Al-Hadhramiy, [Beirut: Dar al-Minhaj], cet. 1, 1430 H), (hal. 16).

102. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Abdurrahman bin Abu Bakr bin Muhammad As-Suyuthi,( 849-911 H), diantara karya beliau adalah Tadribur Rawi dan Al-alfiah Fin Nahwi. Lihat Al-A’lam, (3/301) dan Adh-Dhau Al-Lami’ Li Ahli Al-Qorn At-Tasi’, Abu Al-Khair Muhammad bin Abdurrahman, [Beirut: Mansyurat dar maktabah al-hayat], (4/65-70)

103. Tafsir Jalalain, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr, [Kairo: dar al-hadits, cet. 1), (hal. 56).

Beliau mengatakan: “Itu merupakan perbuatan yang dimaksudkan untuk mencari ridha Allah semata yang tidak ada sekutu baginya, dan kedua hal ini merupakan rukun agar amalan dapat diterima, yaitu ikhlas beribadah kepada Allah dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”104

D. Syarat Pertama adalah Ikhlas

Imam An-Nawawi mengutip perkataan Al-Ustadz Abu Al-Qosim Al-Qusyairiy105 yang mengatakan: “Ikhlas adalah keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan amal ketaatanmu tanpa mengharap sesuatupun dari makhluk berupa pujian, sanjungan, disukai dan lain sebagainya.”106

Abu Muhammad al-Baghawi mengutip perkataan Fudhail bin ‘Iyadh107 yang mengatakan: “Amalan tidak akan diterima kecuali jika telah ikhlas”, dan beliau mengatakan:

“Ikhlas adalah beramal untuk Allah.” 108

E. Syarat Kedua adalah Beribadah Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu

‘Alaihi Wasallam

Abu Muhammad al-Baghawi mengutip perkataan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:

“Amalan tidak akan diterima kecuali jika telah benar”, dan beliau mengatakan: “Benar adalah ibadah yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”109 F. Larangan Tidak Mencontoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Beribadah

Abu Al-Ma’aliy As-Suwaidi mengatakan: “Bid’ah secara bahasa adalah perkara baru secara umum, sedangkan secara istilah apabila ditinjau dari sunnah maka maksudnya adalah perkara baru dalam agama, baik dengan ditambah ataupun dengan dikurangi, dan ini adalah perkara buruk yang tidak ada dasar yang jelas dari Al-Quran dan Hadits, atau pegangan yang benar yang bersumber dari istinbath para ulama umat.”110

Ibnu Hajar al-Asqolaniy mengatakan: “Bid’ah dikenal dalam istilah syariat adalah perkara yang tercela, berbeda halnya dengan bid’ah secara bahasa, secara bahasa segala perkara yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya maka dinamakan bid’ah, baik terpuji maupun tercela.”111

104. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (hal. 5/183).

105. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Abu Al-Qosim Abdul Karim bin Hawazin, (376-465 H), diantara karya beliau adalah At-Taisir Fit-Tafsir dan Lathaif Al-Isyarat. Lihat Al-A’lam, (4/57) dan Thabaqat Asy-Syafi’iyyin, (hal. 451-452).

106. At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Quran, An-Nawawi Yahya bin Syarof, [Beirut: Dar ibnu hazm lit tiba’ah wat tauzi’], cet. 2, 1414 H, (hal. 32).

107. Beliau adalah seorang tabi’in yang bernama Al-Fudhail bin ‘Iyadh bin mas’ud At-Tamimi, (105-187 H). Lihat Al-A’lam, (5/153) dan Siyar A’lam An-Nubala’ (8/421-442).

108. Ma’alimut Tanzil, (8/176).

109. Ma’alimut Tanzil, ( 8/176).

110. Al-‘Aqdu Ats-Tsamin Fi Bayani Masaili Ad-Din, (hal. 506).

111. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, (13/253).

Imam Syafi’i mengatakan: “Jika suatu amalan sesuai dengan tuntunan Rasul, maka itu adalah amalan yang terpuji, namun jika menyelisihi tuntunan Rasul maka itu adalah amalan yang tercela.”112

Imam Syafi’i juga mengatakan: “Perkara yang muhdats (yang baru) ada dua macam, yaitu perkara yang dibuat-buat dan menyelisihi al-Quran, atsar (sahabat), dan ijma’ maka ini adalah bid’ah yang sesat. Sedangkan perkara yang masih dalam kebaikan yang tidak menyelisihi dali-dalil tersebut maka ini bukanlah perkara baru (bid’ah) yang tercela.”113

Ibnu Atsir al-Jazariy114 mengatakan: “Bid’ah ada dua macam, yaitu bid’ah yang berdasarkan petunjuk dan bid’ah yang sesat. Jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu perkara yang tercela dan dikecam, namun jika perkaranya termasuk yang Allah atau Rasul-Nya sunnahkan dan anjurkan maka itu perkara yang terpuji.”115

Ibnu Hajar al-Asqolaniy mengatakan: “Apabila bid’ah disebutkan dalam perkara yang terpuji maka maksudnya adalah penggunaan istilah bid’ah secara bahasa.”116

4.2 Larangan Berbuat Syirik A. Makna Syirik

Allah ta’ala berfirman:

﴾َﺔﱠﻨَْﳉا ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا َمﱠﺮَﺣ ْﺪَﻘَـﻓ ِﱠﻟﻠﻪِﺑﺎ ْكِﺮْﺸُﻳ ْﻦَﻣ ُﻪﱠﻧِإ﴿

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surge.” (Q.S. Al-Maidah: 72)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud syirik menyekutukan Allah adalah beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain-Nya.”117

B. Dilarang Berbuat Syirik Allah ta’ala berfirman:

ِﱠﻟﻠﻪا ِنوُد ْﻦِﻣ َنﻮُﻋْﺪَﺗ َﻦﻳِﺬﱠﻟا َﺪُﺒْﻋَأ ْنَأ ُﺖﻴُِ� ِّﱐِإ ْﻞُﻗ ﴿

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah Tuhan-Tuhan yang kamu sembah selain Allah." (Q.S.Al-An’am: 56)

112. Hilyatul Awliiya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, (9/113).

113. Manaqib Asy-Syafi’I, Baihaqi, [Kairo: Dar At-Turots], cet. 1, 1390 H, (1/468-469).

114. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama Ibnu Al-Atsir Al-Mubarok bin Muhammad, (544- 606 H), diantara karya beliau adalah Al-Mukhtar Fi Manaqib Al-Akhyar dan Jami’ Al-Ushul Fi Ahadits Ar-Rasul.

Lihat Al-a’lam, (5/272) dan Thabaqat Asy-Syafiiyah Al-Kubra (8/366-367).

115. An-Nihayah Fi Gharibil Hadits Wal Atsar, Ibnu Atsir Mubarok bin Muhammad Jazariy, [Beirut: Al-maktabah al-‘ilmiyah, 1399 H, (1/106).

116. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, (13/278).

117. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Ibnu Katsir, (3/142).

Abu Al-Mudzaffar As-Sam’ani mengatakan: "Maksud ayat ini adalah larangan dalam berbuat syirik."118

Allah ta’ala berfirman:

ْكِﺮْﺸُﻳ ْﻦَﻣ ُﻪﱠﻧِإ﴿

﴾َﺔﱠﻨَْﳉا ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا َمﱠﺮَﺣ ْﺪَﻘَـﻓ ِﱠﻟﻠﻪِﺑﺎ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surge.” (Q.S.Al-Maidah: 72)

Ibnu Katsir menafsirkan: “(Orang yang berbuat syirik) diwajibkan baginya masuk neraka dan diharamkan atasnya masuk surga.”119

C. Syirik Terbagi Menjadi Dua Bagian

Muhammad bin Nashr Al-Marwazi120 mengatakan: “Syirik terbagi menjadi dua, yaitu syirik di dalam tauhid yang mengeluarkan seseorang dari islam dan syirik di dalam amalan yang tidak mengeluarkan seseorang dari islam yaitu (diantaranya) riya’.”121

D. Syirik Tidak Diampuni (Jika Tidak Bertaubat Sebelum Mati) Allah ta’ala berfirman:

﴾ِﻪِﺑ َكَﺮْﺸُﻳ ْنَأ ُﺮِﻔْﻐَـﻳ َﻻ َﱠﻟﻠﻪا ﱠنِإ﴿

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (Q,S, An-Nisa: 48)

Ibnu Katsir menafsirkan: “Allah tidak mengampuni hamba yang menjumpai-Nya (mati) dalam keadaan musyrik.”

َﻚِﻟَذ َنوُد ﺎَﻣ ُﺮِﻔْﻐَـﻳَو﴿

“Dan mengampuni selain syirik.” (Q,S, An-Nisa: 48)

Beliau menafsirkan: "Yaitu (mengampuni) dosa-dosa selain syirik."

﴾ُءﺎَﺸَﻳ ْﻦَﻤِﻟ﴿

"Bagi siapa yang dikehendakinya.” (Q,S, An-Nisa: 48)

Beliau menafsirkan: "Yaitu dari kalangan hamba-hambanya."122

118. Tafsir al-Quran, As-Sam’ani, 2/109.

119. Tafsir Al-Quran Al-Adzim, ibnu katsir, 3/142.

120. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama abu abdillah muhammad bin Nashr Al-Marwazi, (202-294 H),

120. Beliau adalah ulama syafi’iyah yang bernama abu abdillah muhammad bin Nashr Al-Marwazi, (202-294 H),

Dalam dokumen AKIDAH ULAMASYAFI IYAH (Halaman 32-0)