• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marah dan Dendam

Dalam dokumen Penyakit - Penyakit Hati (Halaman 70-75)

agama, dan taat kepada Allah Swt. Orang yang tingkatan marahnya berlebihan biasanya kehilangan pengertian mengenai yang benar dan yang batil.

3. I’tidal, yaitu golongan orang yang tingkatan marahnya sedang atau normal. Dengan kata lain, golongan ini dapat mengontrol kapan saatnya marah dan kapan tidak. Itu pun, saat marah, murni karena kebenaran (agama), bukan dorongan hawa nafsu. Menurut Imam al-Ghazali, Rasulullah tidak marah kecuali di atas kebenaran. Kemarahan beliau tercermin dalam tindakannya, seperti keras dan tegas kepada orang-orang kafir untuk menegakkan agama Allah.

Dengan demikian, pertanyaannya adalah termasuk golongan manakah kita? Kalau selama ini kemarahan yang kita lampiaskan menyebabkan hati keras, mudah benci, dan rentan dendam, berarti kita termasuk golongan ifrath yang sangat tercela. Marah jenis inilah yang harus kita waspadai karena dapat mengundang datangnya penyakit-penyakit berbahaya lainnya ke dalam hati.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa pada suatu hari datang seorang laki-laki kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan memaki-makinya. Namun, beberapa saat Abu Bakar hanya diam saja. Tatkala Abu Bakar berniat hendak membalas makian tersebut, Rasulullah Saw segera bangun berdiri. Lalu, Abu Bakar berkata kepada Nabi Saw,

“Ya Rasulullah, pada saat laki-laku itu memakiku, engkau diam, tetapi ketika aku akan membalas makiannya, engkau bangun berdiri. Mengapa?” Nabi Saw menjawab, “Ketika

engkau diam, malaikat senang kepadamu, tetapi ketika engkau bangun untuk membalasnya, maka malaikat pergi (kecewa) dan datanglah setan. Maka aku tidak mau duduk pada suatu majelis yang di dalamnya ada setan.”71

Dengan demikian, menahan marah (dalam arti memaafkan) adalah bagian dari sifat yang terpuji. Jika kita menuruti nafsu dengan menumpahkan rasa marah sehingga menyebabkan dendam dan kebencian, maka akan berakibat buruk pada hati kita.

Maka dari itu, dalam kitab-kitab tasawuf sangat banyak uraian mengenai sifat marah dan bahayanya bagi batin seseorang. Imam al-Ghazali banyak sekali mengurai tentang hakikat marah. Menurut ulama bergelar hujjatul Islam itu, pada diri setiap orang bersarang kecenderungan untuk menolak kebinasaan dan ingin tetap eksis. Oleh karena itu, Allah Swt melengkapi dengan sifat marah. Marah merupakan kemampuan membela eksistensi diri yang muncul dari dalam batin. Allah Swt menciptakan marah dari api dan menyimpannya dalam batin manusia. Jika ia menginginkan, maka api marah itu akan menimbulkan nyala yang karenanya darah di jantung akan bergolak, lalu menyebar melalui urat, kemudian naik ke bagian atas tubuh.

Sama seperti menguapnya asap atau air yang sedang mendidih. Jika menjalar sampai ke kulit, maka permukaan kulit tampak memerah.72

71 Imam al-Ghazali, Ihya’..., Buku Ketujuh, hlm. 43.

72 Imam al-Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin, terj. Mukhtashar Ihya Ulumuddin (Jakarta: Akarmedia, 2009), hlm. 282.

Di antara sebab-sebab kemarahan adalah takabur, angkuh, sombong dan merasa lebih mulia. Suatu ketika Nabi Isa As ditanya, “Apa yang sangat membuat engkau takut?” Nabi Isa menjawab, “Kemarahan Allah.” Nabi Yahya As bertanya kepadanya, “Apa yang mendekatkan kita dengan kemarahan Allah?” Jawab Nabi Isa, “Jika engkau marah.” Nabi Yahya bertanya lagi, “Apa yang menyebabkan dan meningkatkan kemarahan?” Nabi Isa menjawab,

“Takabur, angkuh, sombong, dan merasa lebih mulia.”73 Imam al-Ghazali juga mengisahkan bahwa sebagian wali Allah telah bertanya kepada Iblis, “Tunjukkanlah kepadaku, bagaimanakah engkau mengalahkan anak cucu Adam?” Iblis menjawab, “Aku memegang (mengendalikan) mereka ketika mereka sedang marah, dan ketika datang nafsu mereka yang tak terkendali.”

Selain itu, diceritakan pula bahwasanya iblis menjelaskan kepada seorang rahib dari Bani Israil, kemudian rahib itu bertanya kepadanya, “Manakah budi pekerti anak Adam yang paling banyak menolongmu?” Jawab iblis, “Sifat cepat marah. Karena sesungguhnya apabila manusia bersifat cepat marahnya, niscaya aku bolak-balikkan ia sebagaimana anak kecil yang tengah membolak-balikkan sebuah bola.”74

Demikianlah sifat marah, yang apabila kita pupuk dan terus dipelihara, maka akan menjelma perilaku-perilaku yang mencelakakan. Dari marah inilah muncul sifat dendam. Menurut Imam al-Ghazali, dendam merupakan

73 Imam al-Ghazali, Ihya’..., Buku Ketujuh, hlm. 27.

74 Imam al-Ghazali, Ihya’..., 4, hlm. 107.

dampak kemarahan, di mana dampaknya terdiri dari delapan perkara, yaitu iri hati (dengki), kesenangan di atas penderitaan orang lain, tidak mau bekerja sama, suka menghina, senang memfitnah, mencaci, menyerang, dan tidak mau memberi pinjaman. “Apabila seseorang bebas dari rasa dendam atau rasa benci, maka ia akan bebas pula dari kedelapan perbuatan tidak terpuji tersebut,” kata Imam al-Ghazali.75

Karena marah dapat menyebabkan dendam dan kebencian, maka penting bagi kita untuk belajar mengenali tentang karakter diri kita sendiri: apakah selama ini kita sering marah dan menumpahkannya hingga menyebabkan dendam kesumat yang berlarut-larut. Dalam konteks ini, Imamal-Ghazali menjelaskan tentang empat macam manusia berkenaan dengan kemarahan.

1. Lekas marah dan lekas padam.

2. Lambat marah dan lambat padam.

3. Lambat marah dan lekas padam, inilah yang terpuji.

4. Lekas marah dan lekas padam, inilah yang tercela.

Rasulullah Saw bersabda, “Seorang mukmin itu lekas marah dan lekas reda (memaafkan).”76

Dalam al-Qur’an Allah Swt juga berfirman:

ِۗساَّنلا ِنَع َف ْي�ِفاَعْلاَو َظْيَغْلا َف ْي�ِمِظٰكْلاَو ِءاَّۤ َّف�لاَو ِءاَّۤ َّسلا ِف� َنْوُقِفْنُي َف ْي� ِذَّلا

َۚف ْي�ِن ِس ْحُ ْلا ُّب ُِي� ُ ّٰللاَو

75 Imam al-Ghazali, Ihya’..., Buku Ketujuh, hlm. 44.

76 Ibid., hlm. 43.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran [3], 134).

Setelah kita memahami penjelasan mengenai marah dan dendam, maka kewajiban kita saat ini ialah bagaimana mengakui dengan jujur kelemahan diri kita sendiri, mengakui dengan tulus bahwa diri ini masih berselimutkan marah yang berlarut-larut sehingga melahirkan dendam yang berlebihan. Kesadaran semacam inilah yang menjadi pintu bagi kita untuk memperbaiki diri, sehingga kita tergolong sebagai orang-orang yang senantiasa mengevaluasi diri sendiri serta mengambil pelajaran dari sesuatu yang telah berlalu.

Dalam dokumen Penyakit - Penyakit Hati (Halaman 70-75)

Dokumen terkait