BAB I PENDAHULUAN
1.2 Tinjauan Pustaka
1.2.3 Marga/Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau adalah Matrilineal, masyarakat Minangkabau menganut sistem Matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem Patrilineal. Dengan kata lain seorang anak di Minangkabau akan mengikuti suku ibunya.
Segala sesuatunya diatur menurut garis keturunan ibu. Tidak ada sanksi hukum yang jelas mengenai keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada sanksi hukum yang mengikat bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun demikian, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan diatasnya, pada
hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri.
Menurut Amir (1997:22), sistem kekerabatan Matrilineal terdapat 3 unsur yang paling dominan yaitu, Garis keturunan menurut garis ibu, Perkawinan harus dengan kelompok lain, di luar kelompok sendiri yang sekarang dikenal dengan istilah Eksogami matrilineal, Ibu memegang peranan yang sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan dan kesejahteraan keluarga.
a. Sistem Matrilineal
Menurut ahli antropologi tua pada abad ke-19, seperti J. Lublock, G.A. Wilken dan sebagainya, manusia pada mulanya hidup berkelompok, kumpul kebo dan melahirkan keturunan tanpa ikatan. Kelompok keluarga batin (nuclear family12) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak seperti sekarang belum ada. Lambat laun manusia menyadari akan hubungan antara ibu dan anak-anaknya sebagai satu kelompok keluarga. Oleh karena itu anak-anak hanya mengenal ibunya dan tidak tahu ayahnya. Dalam kelompok keluarga batin ibu dan anak-anaknya seperti ini, si ibulah yang menjadi kepala keluarga. Dalam kelompok ini mulai berlaku aturan bahwa persanggamaan (persetubuhan) antara ibu dan anak laki-lakinya dihindari dan di pantangkan (tabu)13. Inilah asal mula perkawinan di luar batas kelompok sendiri yang sekarang disebut dengan adat eksogami. Artinya, perkawinan hanya boleh dilakukan dengan pihak luar, sedangkan perkawinan dalam kelompok serumpun tidak diperkenangkan sepanjang adat.
12 nuclear family istilah keluarga inti/batih dikembangkan oleh dunia barat untuk membedakan kelompok keluarga yang terdiri dari orangtua dan anak-anaknya yang di kenal keluarga besar.
13 Tabu adalah pantangan atau larangan suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat.
Kelompok keluarga itu tadi makin lama makin bertambah banyak anggotanya.
Karena garis keturunan selalu diperhitungkan menurut “garis ibu”, dengan demikian terbentuklah suatu masyarakat yang boleh para sarjana seperti Wilken disebut masyarakat Matriakat. Istilah matriakat yang berarti “ibu yang berkuasa”
sudah ditinggalkan, para ahli sudah tahu bahwa sistem ibu yang berkuasa merupakan kelompok keluarga yang menganut prinsip silsilah keturunan yang diperhitungkan melaui garis ibu atau dalam bahasa asing disebut garis Matrilineal.
b. Norma Kehidupan
Apa yang bakal terjadi bila manusia hidup atas dasar hukum rimba? Yang terkuat akan memakan yang lemah, yang besar akan menindas yang kecil, yang pintar akan manipu yang bodoh, kehidupan mungkin akan segera menjadi neraka manusia mungkin akan musnah. Nenek orang Minang nampaknya sejak beribu tahun yang lalu telah memahami bahaya ini bagi hidup dan kehidupannya apalagi bagi kelangsungan anak cucuknya. Oleh karena itu mereka menciptakan norma-norma kehidupan bagi mereka semua. Norma-norma-norma itu antara lain berupa aturan-aturan yang sangat esensial bagi kehidupan yang tertib, aman, dan damai. Aturan-aturan itu antara lain mengatur hubungan antara wanita dan pria. Norma-norma tentang tata krama pergaulan dan sistem kekerabatan. Kalau dipelajari dengan seksama, ketentuan adat Minang mengenai hal-hal diatas, agaknya tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak kagum dan bangga dengan aturan-aturan itu.
Kepribadian adat Minangkabau mempunyai dasar-dasar juga yang bertujuan agar seseorang itu dapat menjalankan prinsip adat yaitu dari bersama, dengan bersama dan untuk bersama.
Perkataan marga di Mandailing atau Mandahiling bias berarti Clan; kata Clan asalnya dari bahasa sansekerta, varga yaitu warga atau warna, ditambahi imbuhan ma atau mar, menjadi mavarga atau marvarga, artinya berwarga, dan disingkat menjadi marga. Marga itu sendiri bermakna kelompok atau puak orang yang berasal dari satu keturunan atau satu dusun. Marga bisa juga berasal dari singakatan “Nama Keluarga”.
Garis keturunan masing-masing marga biasanya ditulis secara khusus dalam buku Tarombo14. Tarombo, mengatur kejelasan silsilah (geneologies) seseorang dalam marganya. Marga (clan) kelompok orang-orang yang berasal dari satu nenek moyang yang sama (saompu parsadaan). Tarombo mungkin sumber penting sejarah Mandailing di masa lalu. Silsilah keluarga dicatat berdasarkan garis keturunan orang yang dianggap paling legendaris dalam clan mereka.
Karena itu, tarombo orang bisa mengetahui garis keturunan mereka hingga ratusan tahun yang lalu.
Dalam struktur hukum adat Mandailing dikenal sistem kekerabatan yang disebut Dalihan Na Tolu; artinya secara langsung Tiga tungku tempat untuk menjerangkan periuk ke atas api pada waktu memasak, dan untuk membangun kehidupan itu perlu tiga kelompok satu sama lain topang menopang yaitu Kahanggi15, Anak boru16, dan Mora17 (Nalobi,1995:79)
14 Tarombo adalah silsislah garis keturunan secara Patrilineal dalam suku batak yang berdomisili mula-mula di Sumatera Utara.
15 Kahanggi, adalah barisan orang yang semarga atau sepewarisan, unsur dari kahanggi ini termasuk juga saama, saina, marangka maranggi, saama saompu, sabonasaha turunan.
16 Anak Boru (anak perempuan) kelompok kerabat yang mengambil istri dari mora atau orang yang bermarga lain.
17 Mora kelompok yang borunya diambil oleh pihak anak boru atau kelompok orang-orang tempat kita mengambil istri.
1.3 Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah perantauan orang Minangkabau yang berada di Kota Padangsidimpuan, maka rumusan masalah yang dapat diangkat oleh penilis, Bagaimana perantau Minangkabau melakukan penyesuaian dengan kebudayaan lokal di kampung Jawa Kota Padangsidimpuan?
1. Penyesuaian dalam adat pernikahan.
2. Penyesuaian dalam system kekerabatan.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menjawab rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui penyesuaian adat budaya suku bangsa Minangkabau dengan adat budaya suku bangsa Mandailing di Kota Padangsidimpuan.
2. Untuk mengetahui bagaimana suku bangsa Minangkabau menerapkan system kekerabatan setelah melakukan pernikahan di Mandailing Kota Padangsidimpuan.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data-data penelitian. Penelitian kualitatif, seperti yang diungkapkan oleh Amri Marzali adalah:
“Ciri-ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi bersifat holistic-integratif, thick description, dan analisa kualitatif dalam rangka mendapatkan native’s point of view. Teknik pengumpulan data yang utama adalah obeservasi-partisipasi, dan juga wawancara terbuka dan mendalam yang dilakukan dalam jangka waktu relatif, bahkan kunjungan singkat dengan pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survey.”
Dalam penelitian ini ada dua macam data yang akan dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari field research sehingga data yang diharapkan bisa tercapai secara objektif dan faktual. Data sekunder dari dokumen. Adapun cara mendapatkan data primer ialah :
a. Observasi Partisipasi
Observasi adalah metode yang mewajibkan seorang peneliti berada di lokasi penelitian, dan berarti pula bahwa peneliti melakukan tatap-muka dengan informannya. Keharusan tersebut tercermin dari metode pengamatan itu sendiri, dimana mata, telinga serta perasaan ikut, atau disadari oleh peneliti, dalam pengumpulan data. Observasi partisipasi tidak hanya menempatkan peneliti sebagai bagian dari subjek penelitian tersebut, tetapi juga bagaimana caranya seseorang peneliti dapat menghadirkan pandangan dunia subjek penelitian tersebut sebagai bagian dari karakteristik penelitiannya. Instrument terpenting
dalam teknik ini adalah peneliti itu sendiri, dimana seorang peneliti harus mampu membangun atau menempatkan diri sebagai orang “dalam” sekaligus sebagai orang “luar” dari masyarakat tersebut untuk mencapai tujuan tersebut, maka seorang peneliti dituntut untuk menguasai bahasa informannya.
b. Wawancara
Data etnografi juga diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam (indepent interview) dalam bentuk wawancara tidak terstruktur. Wawancara ini menghasilkan respon verbal dari informan, selain itu data personal dari informan dan riwayat hidupnya menjadi data pendukung dalam melakukan analisa etnografi. Peneliti akan menyusun dan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Pedoman wawancara disusun oleh peneliti sebelum melakukan wawancara terhadap informan. Selain menggunakan pedoman wawancara, peneliti juga menggunakan alat perekam (recorder) untuk mengantisipasi kelupaan akan informasi yang telah diperoleh, dan menggunakan kamera sebagai bukti dan penganut data-data lapangan pada saat penelitian.
1.6 Pengalaman Penelitian
Penelitian ini berlokasi di suatu daerah di Kota Padangsidimpuan, alasan saya memilih lokasi tersebut dikarenakan di daerah tersebut cukup banyak perantau Minangkabau yang tinggal di Kota Padangsidimpuan. Saya juga memilih lokasi ini karena saya bertempat tinggal di kota ini, dan lokasi penelitian saya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pengalaman jugalah yang menghantarkan seseorang pada pola fikir kedewasaan, karena itu saya merasa perlu berbagi sedikit pengalaman selama melakukan penelitian demi mengungkapkan
sembari mempelajari makna kehidupan bersama informan-informan yang luar biasa. Semoga dengan uraian pengalaman penulis sampaikan ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua orang.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2019 di suatu desa Kampung Jawa yang berada di Kota Padangsidimpuan Sumatera Utara. Karena di wilayah tersebut banyak perantau Minangkabau yang menetap di lokasi ini, masyarakat setempat mayoritas adalah etnis Minangkabau, namun dalam kesehariannya kebudayaan Mandailing lebih mendominasi kehidupan mereka. Rancangan proposal penelitian pun sudah diseminarkan, berbekal surat penelitian lapangan dari kampus, penulis melangkah dengan pasti melakukan perjalanan ke Kota Padangsidimpuan.
Bersama dengan Ibu saya, saya melakukan wawancara secara berskala dan mengambil data untuk penelitian ini. Informan saya saat ini berjumlah lima belas orang, dimana mereka adalah sampel dari penelitian saya yang berjudul adaptasi perantau Minangkabau terhadap budaya Mandailing di Kota Padangsidimpuan.
Selasa, 16 April 2019 jam 09.00 WIB kami berangkat dari rumah saya menuju desa kampung jawa tempat lokasi penelitian, saya dan ibu saya menaiki sepeda motor menuju lokasi. Kami langsung mengunjungi Kantor Kelurahan Wek IV desa Kampung Jawa untuk meminta izin penelitian di desa tersebut dan meminta propil desa serta sejarah berdirinya desa itu. Pada saat kami sampai ke kantor kelurahan itu, saya langsung memberi surat penelitian lapangan saya kepada staf yang ada di kantor itu. Staf itu langsung membuat surat balasan penelitian saya, dan saya meminta propil desa itu kepada sekretaris lurah desa kampung jawa. Tetapi sangat mengecewakan karena mereka mengatakan tidak
pernah membuat propil tentang desa itu, mereka tidak mempunyai data-data yang lengkap yang menyangkut sejarah berdirinya lokasi ini. Disitu saya sudah tidak tahu melakukan apa, tetapi saya tidak mau diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Saya langsung mewanwancarai staf yang ada di kantor itu dan saya menanyakkan apa saja yang data yang saya butuhkan sehingga saya menyusun sendiri data-data desa tersebut.
Setalah itu saya dan ibu saya mencari tahu tokoh adat perantau Minangkabau yang sudah lama menetap di lokasi tersebut. Ibu saya juga mengenal tokoh adat tersebut sehingga mempermudah saya untuk melakukan wawancara mendalam tentang kebudayaan Mandailing yang sudah di adopsi oleh suku Minangkabau. Informan ini bernama bapak Syamsul Sikumbang, bapak ini sudah sekitar 50tahunan menetap di Kota Padangsidimpuan. Ibu saya memilih informan ini karena dia cukup banyak tahu tentang bagaimana adaptasi perantau Minangkabau yang ada di Kota Padangsidimpuan. Saya merekam semua apa yang saya bicarakan dengan informan guna mempermudah saya untuk mengetahui apa saja yang di ceritakan oleh informan saya ini. Dan informan ini cukup membantu saya atas jawaban yang diberikan pada saat saya menanyakan beberapa pertanyaan.
Saya juga melakukan penelitian pada malam hari, karena informan yang saya datangi ini hanya memiliki waktu yang renggang pada malam hari. Saya tetap di temani ibu saya pada saat saya melakukan penelitian maupun wawancara, informan yang kedua ini sedikit mengecewakan saya karena informasi yang diberikan oleh informan tersebut terlalu jauh melenceng dengan pertanyaan yang
saya ajukan. Tetapi saya tidak merasa tidak suka, bagaimana pun bapak ini sudah memnyambut saya dengan baik dan ramah.
Informan ketiga saya juga tokoh adat Minangkabau dan sebagai tokoh adat Mandailing yang dimana asal informan ini dari suku Minangkabau tetapi sudah menyandang adat kebudayaan Mandailing mengetahui adat Mandailing secara mendalam. Saya juga sangat tertarik pada setiap jawaban yang diberikan informan ini karena setiap pertanyaan saya sudah sepenuhnya dijawab oleh informan ini.
Informan ini juga sangat ramah dan baik selalu memberikan senyuman kepada setiap orang. Penduduk yang ramah dan memperlakukan penulis layaknya bukan orang asing. Beruntung rasanya dapat berkomunikasi dengan mereka sehingga bisa belajar makna kebudayaan.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1 Sejarah Berdirinya Kota Padangsidimpuan
Kota Padangsidimpuan adalah sebuah kota di Provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Kota Padangsidimpuan merupakan kota terbesar di wilayah Tapanuli.
Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Salak karena di kota inilah para petani salak yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan (yang mengelilingi wilayah kota ini), terutama pada kawasan di kaki Gunung Lubuk Raya, menjual hasil panen mereka.
Kota Padangsidimpuan sesungguhnya adalah kota tua. Secara teknis (planologi) Kota Padangsidimpuan dibentuk pada tahun 1840. Itu berarti Kota Padangsidimpuan sudah berumur 177 tahun. Pada tahun 1870 Kota Padangsidimpuan ditingkatkan menjadi ibu kota residentie (setingkat provinsi) hanya dalam tempo 30 tahun. Kota Padangsidimpuan lalu berkembang secara pesat dan tampak begitu besar (lihat Peta Kota Padangsidimpuan 1880). Saat itu Kota Padangsidimpuan sudah menjadi kota besar, sementara Medan sendiri masih sebuah kampung. Hebatnya lagi, pada saat itu bahkan Kota Padangsidimpuan bersanding dengan Kota Padang. Jika Kota Padang sebagai kota terbesar, maka Kota Padangsidimpuan adalah kota terbesar kedua di Sumatera. Ini mengindikasikan bahwa Kota Padangsidimpuan begitu pesat perkembangannya saat itu, hanya dalam tempo 30 tahun dari sebuah kampung Padangsidimpuan telah menjadi kota besar.
Gambar 1 Dua Kota Terbesar di Sumatra Tempo Doeloe (1875-1880) Sumber: Gambar Google (Online, 2019)
Lantas kini, selama 30 tahun terakhir ini (1983-2017) sejak saya meninggalkan kota ini, yang secara spasial (geografis), luasnya tidak berbeda dengan tahun 1880, namun secara sosial (ekonomi) tidak mengalami perubahan yang berarti (signifikan) bahkan dalam beberapa aspek terindikasi telah terjadi kemunduran. Sebagai misal, kini, para orangtua relatif tidak semudah dulu lagi untuk menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Para orangtua terindikasi mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah anak-anak mereka. Ini satu fakta yang cukup jelas dan nyata untuk menunjukkan bahwa warga Kota Padangsidimpuan sudah sangat mundur tingkat pencapaiannya.
Kota Padangsidimpuan sudah saatnya bangkit untuk mengejar ketertinggalan jika dibandingkan dengan kota-kota lain. Namun itu tidak mudah, akan tetapi masih dapat dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Kesesuaian program-program pembangunan inilah yang saat ini memang benar-benar dibutuhkan Kota Padangsidimpuan. Satu hal, terimplementasikannya program-program yang tepat, secara empiris sangat ditentukan oleh siapa yang memimpin, yang dalam hal ini siapa yang menjadi Wali Kota.
Kota Padangsidimpuan pernah menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan, sebagai pusat Pemerintahan yang berstatus Kota Administratif di bawah tanggungjawab Bupati Tapanuli Selatan. Kota Padangsidimpuan terkenal dengan berbagai sebutan; kota pelajar, kota adat, dan kota salak karena banyaknya kebun salak yang dimiliki daerah ini (Nasution,2010:15).
Nama kota ini berasal dari "Padang na dimpu" (padang=hamparan luas, na=yang, dan dimpu=tinggi) yang berarti "hamparan rumput yang luas yang berada di tempat yang tinggi." Pada zaman dahulu daerah ini merupakan tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, pedagang ikan dan garam dari Sibolga-Padangsidimpuan-Panyabungan,PadangBolak (Paluta)-Padangsidimpuan-Sibolga.
Seiring perkembangan zaman, tempat persinggahan ini semakin ramai dan kemudian menjadi kota. Kota ini dibangun pertama kali sebagai benteng pada tahun 1821 oleh pasukan Padri18 yang dipimpin oleh Tuanku Lelo. Benteng ini membentang dari Batang Ayumi sampai Aek Sibontar. Sisa-sisa benteng peninggalan Perang Padri saat ini masih ditemukan, walau sudah tidak terawat dengan baik. Salah satu pengaruh pasukan Padri ini pada kota bentukan mereka ialah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk kota ini, yaitu agama Islam.
Pada zaman penjajahan Belanda, kota Padangsidimpuan dijadikan pusat pemerintahan oleh penjajah Belanda di daerah Tapanuli. Peninggalan bangunan Belanda disana masih dapat dijumpai berupa kantor pos polisi di pusat kota.
Sehingga tidak heran, kalau ingin melihat sejarah kota Padangsidimpuan,
tersimpan foto-foto zaman dahulu kota Padangsidimpuan di sebuah museum di kota Leiden, Belanda. Kota Padangsidimpuan terletak pada koordinat:
1.3786110LU 99.272222’BT. Luas daerahnya 114,65 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 2001.000 jiwa pada tahun 2010. Pemerintahan Kota Padangsidimpuan terdiri dari 6 Kecamatan 37 Kelurahan, dan 42 Desa.
Motto pemerintahannya adalah “Salumpat Saindege” (Selangkah Seirama, Seia Sekata). Penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa: Batak, Minang, Jawa, Melayu, dan Tionghoa. Penduduknya menganut berbagai agama: Agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan penganut Muslim sebagai penganut agama yang mayoritas. Penghasilan masyarakat Padangsidimpuan sebagian besar bertani, meliputi persawahan dan perkebunan.
Produksi perkebunan yang utama adalah salak, karet, kopi, kakao, cengkeh, kemiri dan kulit manis. Penduduk Kota Padangsidimpuan terkenal berpegang teguh pada adat-istiadat dan agama yang membuatnya dapat disebut mengkombinasikan ke’arifan lokal dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun tanpa bisa diingkar bahwa masyarakat kota ini, sebagaimana juga kota-kota lain tengah mengalami transisi dari sudut nilai-nilai yang dianutnya, akibat transformasi sosial yang demikian cepat dialaminya (Nasution,2010:16-18).
2.2 Peta dan Letak Geografis Kota Padangsidimpuan
Gambar 2 Peta Kota Padangsidimpuan Sumber : Gambar Google (Online,2019)
Topografi wilayah Padangsidimpuan berupa lembah yang dikelilingi oleh Bukit Barisan, sehingga kalau dilihat dari jauh, wilayah kota Padang Sidempuan tak ubahnya seperti cekungan yang meyerupai danau. Puncak tertinggi dari bukit dan gunung yang mengelilingi kota ini adalah Gunung Lubuk Raya dan Bukit (Tor) Sanggarudang yang terletak berdampingan di sebelah utara kota. Salah satu puncak bukit yang terkenal di kota Padangsidimpuan yaitu Bukit (Tor) Simarsayang. Juga terdapat banyak sungai yang melintasi kota ini, antara lain sungai Batang Ayumi, Aek Sangkumpal Bonang (yang sekarang menjadi nama pusat perbelanjaan di tengah kota ini), Aek Rukkare yang bergabung dengan Aek Sibontar, dan Aek Batang Bahal.
Posisi Kota Padangsidimpuan yang berada pada lintas tengah Sumatera antara 9 (sembilan) Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Pasaman Timur, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Padanglawas, Kabupaten Padanglawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
Secara geografis, kota Padangidimpuan secara keseluruhan dikelilingi oleh Kabupaten Tapanuli Selatan yang dulunya merupakan kabupaten induknya. Kota ini merupakan persimpangan jalur darat menuju kota Medan, Sibolga, dan Padang (Sumatra Barat) di jalur lintas barat Sumatra.
Tabel 1
Letak dan Batas Wilayah Kota Padangsidimpuan 2017
Sumber: BPS Kota Padangsidimpuan 1. Letak
Padangsidimpuan : 01018"07""-01028"19""Lintang Utara : 99018"53"" - 99020"35""Bujur Timur 2. Luas Wilayah
: 146,85 km2
3. Letak diatas Permukaan Laut/
: 260 – 1 100 m
4. Batas-batas Wilayah
a.Sebelah Utara: Kabupaten Tapanuli Selatan (Kecamatan Angkola Barat).
b. Sebelah Selatan: Kabupaten Tapanuli Selatan (Kecamatan Batang Angkola)
c. Sebelah Barat: Kabupaten Tapanuli Selatan (Kecamatan Angkola Selatan)
d. Sebelah Timur: Kabupaten Tapanuli Selatan (Kecamatan Angkola Timur)
2.3 Gambaran Lokasi Penelitian
Gambar 3 Peta Wek IV Kampung Jawa Sumber : Gambar Google (Online,2019)
Kota Padangsidimpuan adalah sebuah kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini terbagi atas enam wek yakni Wek I (Kampung Marancar), Wek II (Pasar Julu), Wek III (Kampung Teleng), Wek IV (Kampung Jawa) sebagai lokasi penelitian, Wek V (Pasar Siborang dan Sitamiang), dan Wek VI (Kampung Darek).
Sejarah Kampung Jawa menurut Informan peneliti yaitu Bapak Syamsul Sikumbang, pada dasarnya keturunan minangkabau pertama kali datang ke kampung jawa adalah pelarian dari sumatera barat pengikut tuanku Imam Bonjol yang tidak patuh sama belanda, yang pertama kali datang di kampung jawa yang yaitu bernama “Datuk Sinaro Piliang” pada tahun 1880, asal usul nama kampung yang ada disana adalah kampung Jawa (kampuang nan jauwah) kebanyakan orang minang berada di lokasi ini. Batas-batas wilayah Wek IV Utara dengan kelurahan
Wek II dan Wek III Timur dengan kelurahan Kantin Selatan dengan kelurahan Kantin/ Kelurahan Ujung Padang Luas wilayah Kampung Jawa sekitar 20Ha, pendiri pertama tempat ini adalah perantau Minangkabau.
2.4 Data Penduduk dan Pemerintahan Kota Padangsidimpuan
Penduduk Kota Padangsidimpuan Tahun 2017 berjumlah 209.796 jiwa, terdiri dari102.184 jiwa laki-laki dan perempuan berjumlah 107.612 jiwa atau dengan sex ratio sebesar 97,55 yang berarti setiap 100 jiwa perempuan terdapat 98 jiwa laki-laki. Kepadatan penduduk per kecamatan dapat terlihat pada tabel
Penduduk Kota Padangsidimpuan Tahun 2017 berjumlah 209.796 jiwa, terdiri dari102.184 jiwa laki-laki dan perempuan berjumlah 107.612 jiwa atau dengan sex ratio sebesar 97,55 yang berarti setiap 100 jiwa perempuan terdapat 98 jiwa laki-laki. Kepadatan penduduk per kecamatan dapat terlihat pada tabel