• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.7. Penetapan Tarif PDAM

2.7.1. Marginal Cost Pricing

Alokasi penggunaan yang efisien menganjurkan bahwa suatu komoditi seharusnya diproduksi dan dialokasikan pada suatu titik tempat keuntungan marjinal sama dengan biaya marjinal. Efisiensi ekonomi tercapai pada saat harga air ditetapkan sama dengan biaya marginalnya dengan tujuan untuk memaksimumkan keuntungan bersih sosial.

Perry et.al (1997) menyatakan bahwa air adalah barang ekonomi yang dapat dinilai oleh penggunanya. Sama halnya dengan barang lainnya, pengguna akan menggunakan air sepanjang manfaat dari penggunaan setiap tambahan meter kubik air melebihi biaya pengadaannya.

22

Hall (1996) dalam Syaukat (2000), marginal cost pricing memiliki dua tujuan. Pertama, untuk memberikan tanda kepada konsumen mengenai biaya yang digunakan dalam menghasilkan tambahan air, dengan menggunakan informasi ini konsumen dapat memilih mengkonsumsi sejumlah tambahan air yang dapat memberi tambahan manfaat yang setidaknya sama besar dengan biaya marjinal untuk memproduksi air. Kedua, bagi pengelola air tujuannya adalah untuk menandakan jumlah yang ingin dibayar konsumen pada tingkat harga tersebut.

Berdasarkan harga yang direspon oleh konsumen, pengelola air dapat melihat mampu tidaknya konsumen membayar biaya marjnal dalam penyediaan air.

Kusuma (2006) menyatakan beberapa ahli ekonomi menyatakan marginal cost pricing dapat mengakibatkan kegunaan mengalami defisit. Hal ini tergantung pada hubungan antara marginal cost dan average cost dalam produksi air.

Masalah defisit tersebut timbul jika marginal cost lebih tinggi dari average cost pada jumlah keluaran dengan harga tersebut. Ketika kegunaan mengalami penurunan average cost, maka harga marginal cost akan mengakibatkan kerugian.

Kondisi tersebut dijelaskan pada Gambar 3.

Gambar 3(a) menggambarkan sebuah solusi pada selang average cost yang mengalami kenaikan dengan dd’ adalah kurva permintaan agregat. Biaya rata-rata dan biaya marginal penawaran air ditunjukan oleh kurva AC dan MC. Biaya marginal (MC) seharusnya lebih kecil dari biaya rata-rata (AC) ketika AC naik.

Jika sebuah harga tunggal untuk air dibebankan untuk menutupi biaya, maka harga hanya sama dengan OT dan air yang diproduksi sebesar OA. Dalam hal ini harga sama dengan biaya satuan dan kegunaan (utility) tidak mendapat keuntungan (keuntungan sama dengan nol atau normal profit). Bagaimanapun

23

juga, ini bukan merupakan solusi yang tepat dalam penggunaan sumberdaya yang terbaik. Pengggunaan sumberdaya yang terbaik adalah memproduksi air pada tingkat dimana marginal cost untuk tambahan penawaran air sama dengan harga air yang ingin dibayar konsumen. Pada solusi tersebut, jumlah keluaran yang tepat adalah sejumlah OB dengan harga marginal sebesar BS. Harga BS lebih besar daripada average cost, sehingga ada keuntungan bagi perusahaan.

(a) Rising Average Cost (b) Falling Average Cost

d’

d

U

T

Price Price

Gambar 3. Marginal Cost dan Average Cost Pricing pada Average Cost Naik (Rising) dan Menurun (Falling)

Sumber : Syaukat (2000)

Permasalahan pada penetapan harga berdasarkan biaya marjinal adalah ketika marginal benefit (dd’) berpotongan dengan kurva average cost dalam selang AC yang menurun seperti tersajikan pada gambar 5 bagian (b). Keluaran pada average cost dan harga masing-masing sebesar OA dan AR, sementara itu keluaran marginal sebesar OB dan harganya sebesar BS. Pada kondisi ini,

U

perusahaan tersebut akan sama dengan perbedaan antara average cost dan harga yaitu sebesar SVTU.

2.7.2. Full Cost Recovery Pricing 2.7.2.1. Ramsey Pricing

Ramsey (1927) dalam Syaukat (2000) menyatakan harga Ramsey menunjukan sekumpulan harga yang sama yang memaksimumkan keuntungan sosial bersih yaitu surplus produsen dan surplus konsumen dalam permasalahan penggunaan air yang sama. Ramsey melakukan modifikasi pada analisis efisiensi ekonomi konvensional dengan menambahkan batasan eksplisit yang tidak hanya memaksimumkan keuntungan sosial bersih tetapi juga mencapai kondisi break even. Kondisi batasan pada break even berusaha mencegah kesalahan posisi dari penetapan marginal cost yang optimal, first best price3. Hal yang mendasari metode ini adalah untuk mempertahankan tingkat efisiensi sebanyak mungkin, setiap orang ingin menghindari sesedikit mungkin dari pola konsumsi yang muncul bersamaan dengan marginal cost pricing sementara masih menetapkan harga yang dapat menjamin kecukupan penggunaan namun bukan merupakan penerimaan yang berlebih. Harga Ramsey melakukan hal ini dengan membebankan harga yang berbeda kepada berbagai pasar perusahaan yang diatur untuk berbagai pasar regulasi perusahaan dengan tujuan menjaga kelangsungan sejumlah kontribusi pasar yang memanipulasi harga melebihi MC, sehingga mengganggu tingkat konsumsi lebih sedikit dari apa yang akan diberikan oleh harga MC penuh (full marginal cost pricing).

3 Harga termasuk pengganda langgrange dijadikan sebagai pembatas dalam full cost recovery sebagai tambahan dari marginal cost

25

Hall dan Hanemann (1996) dalam Syaukat (2000) menyatakan harga Ramsey adalah sebuah contoh dari strategi harga terbaik kedua dengan sebuah instrumen kebijakan tunggal untuk menyatukan dua tujuan yaitu efisiensi dan keuntungan pasar monopoli sama dengan nol (keuntungan normal). Solusinya adalah membentuk harga sama dengan MC untuk konsumen (pelanggan) dengan permintaan elastis dan menyatakan hambatan penerimaan melalui penyesuaian beban harga kepada konsumen yang memiliki permintaan inelastis.

2.7.2.2. Coase’s Two Part Tariff

Pendekatan alternatif dalam permasalahan marginal cost pricing diperkenalkan oleh Coase (1946) dalam Syaukat (2000) yang mengajukan dua tarif untuk mempertemukan kondisi total dengan total manfaat harus lebih besar dari total biaya. Prinsip penetapan dua tarif tersebut adalah biaya setiap unit konsumsi diatur pada biaya marjinal dari tingkat keluaran yang diperkirakan dari penjumlahan kekurangan disusun dari pengenaan bea lump sum kepada tiap pelanggan. Sistem dua tarif adalah jenis sederhana dari non-uniform price schedule4

2.7.2.3. Decreasing and Increasing Block Rate

Kusuma (2006) menyatakan inti dari sistem decreasing block tariff adalah keberhasilan penjualan air dalam jumlah rendah dengan harga yang rendah.

biasanya tarif meliputi juga biaya tetap dan biaya minimum berhubungan dengan kriteria ukuran seperti ukuran pipa suplai. Adanya decreasing block tariff akan

4 Banyak negara menetapkan harga air berdasar bentuk non-uniform price schedule. Brown dan Sibley (1986) dalam Syaukat (2000) mengartikannya sebagai sebuah tarif bagi satu atau lebih barang dimana total surplus konsumen tidak naik secara proposional dengan banyaknya pembeli.

26

kurang memberikan dorongan bagi konsumen untuk melakukan penghematan.

Sistem ini banyak digunakan oleh negara maju seperti di Amerika dan Kanada.

Masih menurut Kusuma (2006) pemberlakuan sistem increasing block tariff dapat menyebabkan terjadinya pemerataan pendapatan. Sistem ini banyak dipergunakan di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Konsumen lebih kaya menggunakan air yang lebih banyak, sehingga biaya yang dikeluarkan juga lebih banyak. Dalam sistem ini diberlakukan tarif progresif yang pada intinya semua keluarga pengguna baik golongan kaya maupun miskin mempunyai hak dalam penggunaan air dalam jumlah yang sama. Dengan demikian penggunaan air dalam jumlah yang besar akan mengakibatkan pembayaran yang lebih besar.