BAB II LANDASAN TEORI
C. Perdagangan Elektronik
2. Marketplace
Berdasarkan definisi marketplace merupakan sebuah wadah jual beli yang melakukan kegiatan menjual suatu barang ataupun jasa kepada para pembeli. Biasanya marketplace berbentuk pasar elektronik atau online. Di Indonesia, PT Tokopedia Indonesia adalah salah satu contoh model bisnis marketplace. Dengan menggunakan website tokopedia.com. Namun, konsep marketplace berbeda dengan konsep toko online. toko online dapat diilustrasikan sebagai sebuah toko retail yang menjual produknya secara virtual. Salah satu contoh dari toko online adalah Bhineka.com. toko online tersebut merupakan situs e-commerce yang menjadi pelopor toko online di Indonesia, bahkan, bhineka.com menjadi salah satu situs toko online terbesar di Indonesia sejak dibuat pada tahun 1997. Sedangkan marketplace dapat diilustrasikan sebagai sebuah pasar tradisional yang mempunyai banyak orang berkumpul di dalam satu tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan jual beli secara online. Biasanya pihak marketplace berperan sebagai perantara penjual dan pembeli dalam bentuk website yang bertujuan untuk mewadahi pertemuan dan melakukan transaksi secara legal antara pihak penjual dengan pembeli.21
Boris Wertz dan Angela Tran Kingyens (2013), Marketplace di definisikan sebagai berikut :
―Sebuah online marketplace (pasar online) adalah jenis dari situs e-commerce yang menghubungkan bagi mereka para penyedia produk atau jasa (penjual) dengan mereka yang mencari untuk membeli produk atau layanan (pembeli). Pembeli dan penjual ini mungkin memiliki kesulitan menemukan satu sama lain sebelumnya, dan
21 Bala Putra Dewa dan Djoko Budiyanto Setyohadi, ―Analisis Dampak Faktor Costumer Relationship Management dalam Melihat Tingkat Kepuasan dan Loyalitas pada Pelanggan Marketplace di Indonesia‖, Telematika, Vol. 14, No.01, (April, 2017), h. 35.
dengan demikian online marketplace (pasar online) menciptakan efisiensi di pasar lainnya (offline) yang dianggap tidak efisien.‖ 22 b. Penyelesaian Sengketa Elektronik
Setiap perikatan dalam ranah hukum perdata harus dibuatkan klausul penyelesaian sengketa dalam setiap perjanjian, gunanya adalah untuk mengantisipasi apabila dari salah satu pihak melakukan cedera janji atau wanprestasi kepada pihak yang lainnya. Dalam transaksi e-commerce, Alternaltive Dispute Resolution (ADR) merupakan solusi yang cukup cepat dan tepat untuk menyelesaian sengketa elektronik.
Berikut adalah penjelasan mengenai ADR dan macam-macam mekanisme penyelesaian sengketa alternaltif:
1) ADR Solusi dalam Sengketa Elektronic Commerce
Kompleksitas transaksi perdagangan dengan mempergunakan internet disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: tidak bertemunya pihak penjual dan pembeli secara fisik, tempat kediaman para pihak berjauhan, sistem hukum yang berbeda antara para pihak. Kondisi ini tentunya berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan yang membutuhkan penyelesaian secara tepat. Oleh karena itu, masalah penyelesaian sengketa yang efektif dan efisien dalam transaksi e-commerce merupakan hal yang sangat penting untuk dicapai dalam upaya menciptakan iklim perdagangan yang kondusif.
Secara umum, ada beberapa bentuk mekanisme yang dikenal dalam sistem penyelesaian sengketa, yaitu: melalui proses ajudikasi (adjudicative prosess), yang meliputi peradilan dan arbitrasi serta proses konsensus (consensus prosess), seperti negosiasi, mediasi, konsiliasi.
22 Fadhlir Rahman, ―Strategi UMKM dalam Membangun Brand Toko Online di Marketplace (Studi pada Komunitas Tokopedia di Kota Bekasi)‖, Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 53, No. 1 (Desember 2017), h. 42.
Sekalipun bentuk mekanisme penyelesaian sengketa (ADR) banyak macamnya, tetapi diupayakan agar mekanisme penyelesaian yang dipilih adalah sistem penyelesaian yang efektif, adil, tidak menyita waktu serta biaya yang murah. Sebagaimana dinyatakan dalam Guidelines for Consumer Protection in the Context og Electronic Commerce, yang dikeluarkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD):
“Businesses consume representative and goverments should work together to continue to provide consumers with the option of alternaltive dispute resolution mechanism that provide effective resolution of the dispute in a fair and timely manner and without undue cost or burden to the consumer.”
Dimungkinkan mekanisme penyelesaian sengketa alternaltif dipergunakan dalam sengketa e-commerce, mengingat proses penyelesaian melibatkan para ahli di bidangnya sehingga dapat mempercepat tercapainya suatu penyelesaian yang adil. Di samping itu, mekanisme penyelesaian sengketa alternaltif pun menyediakan penyelesaian yang murah, rahasia, serta dapat dipercaya.
Beberapa ahli yang berkecimpung dalam industri teknologi informasi berpendapat bahwa e-commerce tidak akan berkembang dengan baik kecuali bila pihak-pihak yang terlibat di dalamnya (stakeholders) dapat menjamin penyelesaian dan pelaksanaan transaksi secara fair. Hal ini menunjukkan bahwa maju/mundurnya perkembangan transaksi e-commerce sangat dipengaruhi oleh tersedianya mekanisme penyelesaian sengketa yang baik.23
23Dikdik M. Arif Mansur dan Elisatris Gultom, CYBER LAW Aspek Hukum Teknologi Informasi, (Bandung, PT Refika Aditama, 2005), h. 171-172.
2) Macam-macam mekanisme penyelesaian sengketa alternaltif Terdapat beberapa macam mekanisme penyelesaian asengketa, yaitu:
a) Arbitrase
Istilah arbitrase berasal dari kata “arbitrare” (bahasa lain), yang berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan (Umar dan Kanrdono, 1995:2). Apabila memperhatikan pengertian di atas nampak jelas bahwa lembaga arbitrase memang dimaksudkan menjadi suatu lembaga yang berfungsi untuk menyelesaikan suatu perkara atau sengketa tetapi tidak mempergunakan suatu metode penyelesaian yang klasik. Dalam hal ini lembaga peradilan.
Pasal 1 angka 1 dari Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternaltif Penyelesaian Sengketa, memberikan definisi arbitrasi sebagai cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Pemilihan lembaga arbitrase untuk menyelesaikan sengketa yang timbul di antara para pihak dilandasi oleh banyaknya keuntungan yang diperoleh, antara lain:
(1) keuntungan dari satu peradilan arbitrase sebagaimana tersebut diatas ialah menang waktu, karena dapat dikontrol oleh para pihak sehingga kelambatan dalam proses peradilan pada umunya dapat dihindari.
(2) di samping keuntungan tersebut, kerahasiaan proses penyelesaian sengketa merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam dunia usaha dapat dikatakan lebih terjamin.
(3) Macam-macam bukti dalam penyelesaian perselisihan yang tidak terletak dalam bidang yuridis pun dapat digunakan, sehingga tidak perlu terlambat karena ketentuan undang-undang mengenai pembuktian yang bersangkutan.
(4) Suatu putusan arbitrase pada umumnya terjamin, tidak memihak, mantap, dan jitu karena diputuskan oleh (orang) ahli yang pada umunya menjaga nama dan martabatnya oleh karena berprofesi dalam bidang tersebut.
(5) Terakhir, peradilan arbitrase berpotensi untuk menciptakan profesi yang lain, yaitu sebagai arbiter yang merupakan faktor pendorong untuk para ahli untuk lebih menekuni bidangnya untuk mencapai tingkat paling atas secara nasional.
b) Negosiasi
Kata negosiasi pada umumnya dipakai untuk suatu perbicaraan atau perundingan dengan tujuan mencapai suatu kesepakatan antara para peserta tentang hal yang dirundingkan.
Hal yang sama dikemukakan oleh C. Chatterjee yang menyatakan, To negotiate means to “hold communication or conference for the purpose of arranging some matter by mutual agreement, to discuss a metter with a view to some settlement or compromise.”
Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa negosiasi merupakan suatu proses pembicaraan atau perundingan mengenai suatu hal tertentu untuk mencapai suatu kompromi atau kesepakatan diantara para pihak yang melakukan negosiasi.
Menurut Howard Raiffia, sebagaimana dikutip oleh Suyud Margono, ada beberapa tahapan negosiasi, yaitu:
(1) Tahapan persiapan
Dalam mempersiapkan perundingan, hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah apa yang kita butuhkan/inginkan. Dengan kata lain, kenali dulu kepentingan kita sebelum mengenali kepentingan orang lain. Tahap ini sering diistilahkan know yourself. Dalam tahap persiapan kita juga perlu menelusuri berbagai alternaltif lainnya apabila alternaltif terbaik atau maksimal tidak tercapai atau disebut BATNA (best alternaltive to a negotiated agreement).
(2) Tahap tawaran awal (Opening Gambit)
Pada tahap ini, biasanya perunding mempersiapkan strategi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan siapakah yang harus terlebih dahulu menyampaikan tawaran. Apabila kita menyampaikan tawaran awal dan perunding lawan tidak siap (ill prepared), terdapat kemungkinan tawaran pembuka kita mempengaruhi persepsi tentang reservation price dari perunding lawan.
(3) Tahap pemberian konsesi (The Negotiated Dance) Konsesi yang harus dikemukakan tergantung pada konteks negosiasi dan koneksi yang diberikan oleh perunding lawan. Dalam tahapan ini, seseorang perunding harus dengan tepat melakukan kalkulasi tentang agresifitas serta harus bersikap manipulatif.
(4) Tahap akhir (End Play)
Tahap akhir permainan adalah pembuatan komitmen atau membatalkan komitmen yang telah dinyatakan sebelumnya.
Lebih lanjut Howard Raiffia menyatakan agar suatu negosiasi dapat berlangsung secara efektif dan mencapai kesepakatan yang bersifat stabil, terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhinya, yaitu:
(1) Pihak-pihak bersedia bernegosiasi secara sukarela berdasarkan kesadaran penuh (willingness).
(2) Pihak-pihak siap melakukan negosiasi (preparedness).
(3) Mempunyai wewenang mengambil keputusan (authoritative).
(4) Memiliki kekuatan yang relatif seimbang sehingga dapat menciptakan saling ketergantungan (relative equal bargaining power).
(5) Mempunyai kemauan menyelesaikan masalah.
c) Mediasi
Mediasi adalah proses pemecahan masalah dimana pihak luar yang tidak memihak (impartial)
Dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan perjanjian dengan memuaskan. Berbeda dengan hakim atau arbiter, mediator tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan sengketa antara para pihak, namun dalam hal ini para pihak menguasakan kepada mediator untuk membantu mereka menyelesaikan persoalan-persoalan di antara mereka.
Menurut Kovact, sebagaimana dikutip oleh Suyud Margono mediasi yaitu falicitated negociated, it process by which a neutral third party, the mediator, assist disputing parties in reaching a mutually satisfaction solution.
Dari rumusan di atas dapat ditarik beberapa hal penting yaitu:
(1) Mediasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa berdasarkan perundingan.
(2) Mediator terlibat da diterima oleh para pihak yang bersengketa di dalam perundingan.
(3) Medoator bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari penyelesaian.
(4) Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan selama perundingan berlangsung.
(5) Tujuan mediasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima pihak-pihak yang bersengketaguna mengakhiri sengketa.
d) Konsiliasi
Seperti halnya mediasi, konsiliasi (conciliation) juga merupakan suatu proses penyelesaian sengketa diantara para pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang netral dan tidak memihak. Biasaanya konsiliasi mengacu pada suatu proses yang mana pihak ketiga bertindak sebagai pihak yang mengirimkan suatu penawaran penyelesaian antara para pihak tetapi perannya lebih sedikit dalam proses negosiasi dibandingkan seorang mediator.
Seperti juga mediator, tugas dari konsiliator hanyalah sebagai fasilitator untuk melakukan komunikasi di antara para pihak sehingga dapat ditemukan solusi oleh para pihak itu sendiri. Dengan demikian konsiliator hanya melakukan tindakan-tindakan seperti mengatur waktu dan tempat pertemuan para pihak, mengarahkan subyek pembicaraan, membawa pesan dari satu pihak kepada pihak lain jika pesan tersebut tidak mungkin disampaikan langsung atau tidak mau bertemu muka langsung, dan lain-lain. 24
24 Dikdik M. Arif Mansur dan Elisatris Gultom, CYBER LAW Aspek Hukum Teknologi Informasi, (Bandung, PT Refika Aditama, 2005), h. 177-181.
51
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu strategi inquiry yang menekankan pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, maupun deskripsi tentang suatu fenomena; fokus dan multi metode, bersifat alami dan holistik; mengutamakan kualitas, menggunakan beberapa cara, serta disajikan dengan naratif. Dari sisi lain dan secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menemukan jawaban terhadap suatu fenomena atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah secara sistematis dengan menggunakan pendekatan kualitatif.1
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori–teori hukum yang menjadi objek penelitian. Demikian juga hukum dalam pelaksanaannya di dalam masyarakat yang berkenaan dengan objek penelitian.2Penelitian kualitatif berusaha memahami kompleksitas fenomena yang diteliti. Peneliti berusaha menginterpretasikan dan kemudian melaporkan suatu fenomena. Peneliti juga berusaha memahami suatu fenomena dari sudut pandang sang pelaku di dalamnya. Pemahaman sang peneliti sendiri dan para pelaku dihaarapkan akan saling melengkapi dan mampu menjelaskan kompleksitas fenomena yang diamati3
1 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 329.
2 H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 175.
3 Samiaji Sarosa, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar (Jakarta: PT. Indeks, 2012), h. 9.
2. Pendekatan Penelitian
Penelitian hukum yang penulis kaji adalah tipe pendekatan penelitian yuridis empiris. Secara definisi, penelitian hukum empiris adalah sebuah metode penelitian hukum yang berupaya untuk melihat hukum dalam artian yang nyata atau dapat dkatakan melihat, meneliti bagaimana bekerjanya hukum di masyarakat.4
Berdasarkan sifat penelitian ini yang menggunakan metode penelitian bersifat deskriptif analitis, analisis data yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif terhadap data primer dan data sekunder.
Deskriptif tersebut, meliputi isi dan struktur hukum positif, yatu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian.5
Penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat dirumuskan objek dari penelitian hukum empiris ini adalah penelitian terhadap peristiwa, kejadian, dan perbuatan nyata yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain meneliti bagaimana fenomena hukum di masyarakat. Fenomena ini apabila diidentifikasi merupakan fenomena sosial yang ada kaitannya dengan hukum.6
4 Jonaedi Efendi, Metode Penelitian Hukum: Normatif dan Empiris (Depok: Prenadamedia Group, 2018), h. 150.
5 H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 107.
6 Ibid. h. 151.
B. Sumber dan Jenis Data Penelitian 1. Data Sekunder
Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari fatwa Dewan Syariah Nasional–MUI, buku-buku cetak, berbagai jurnal serta beberapa temuan pendukung yang didapat langsung dari temuan lapangan.
a. Bahan Hukum Primer :
1) KUHPerdata Buku Ketiga Bab V tentang Jual Beli
2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
3) Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam.
b. Bahan Hukum Sekunder :
bersumber dari analisis kepustakaan seperti buku cetak, jurnal hukum, e-commerce, dan ekonomi yang berkaitan dengan objek penelitian.
c. Bahan Hukum Tersier :
merupakan bahan-bahan temuan pendukung yang didapatkan dari penggunaan aplikasi sebagai pembeli dan pelaku usaha dalam aplikasi tokopedia.
2. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung melalui survei pada objek penelitian yang penulis lihat dan amati kemudian disimpulkan dari apa yang penulis amati itu. Data yang peneliti himpun berupa penerapan mekanisme transaksi jual beli barang yang dilakukan di aplikasi tokopedia serta mekanisme penyelesaian masalah di pusat resolusi tokopedia.
C. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dan informasi penelitian yang lengkap dan utuh, penulis melakukan langkah-langkah metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Penelitian Kepustakaan
Merupakan metode pengumpulan data yang penulis lakukan untuk menghimpun berbagai informasi yang dapat dijadikan acuan kajian teoritis yang relevan dengan objek masalah penelitian yang diteliti.
Dengan cara menelaah berbagai macam literatur berupa buku-buku, jurnal, diktat, artikel, dan penelitian terdahulu.
2. Studi dokumentasi
Merupakan catatan temuan dari hasil observasi yang sesuai dengan fokus masalah penelitian tentang peristiwa sebagai sumber informasi yang relevan dan akurat. Dokumen itu dapat berupa tulisan, foto, tangkapan layar, dan segala riwayat aktifitas pengguna di dalam aplikasi yang berkaitan dengan penelitian.
3. Pengamatan (Observasi)
Teknik yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah observasi non-partisipan dengan pengamatan yang tidak dilakukan di dalam kantor atau dengan menjadi pegawai, akan tetapi dengan menjadi bagian dari pengguna aplikasi dan juga mengamati pengguna lain. Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan langsung terhadap praktik transaksi jual beli yang dilakukan di tokopedia. Selain itu penulis juga mengamati perilaku para buyer terhadap review yang diberikan terhadap suatu barang dan mengamati perilaku seller dalam kejujuran dan keterbukaan informasi yang diberikan kepada calon pembeli serta penyelesaian sengketa pada pusat resolusi di dalam aplikasi (after seles).
D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif empiris. Yaitu dengan menganalisis ketentuan dalam fatwa serta temuan dilapangan yang berkaitan secara komprehensif.
Pendekatan kualitatif sebenarnya merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan, dan perilaku nyata. Yang diteliti dan dipelajari adalah objek penelitian yang utuh. Dengan demikian, maka dengan mempergunakan metode kualitatif, seorang peneliti terutama bertujuan untuk mengerti atau memahami gejala yang ditelitinya7
Dalam penelitian ini penulis berusaha menguraikan pengujian terhadap efektifitas hukum pada faktor yang dapat mempengaruhi hukum itu berfungsi di dalam masyarakat. Dalam hal ini penulis mengungkapkan kaidah hukum yang berlaku sebagai pedoman hidup masyarakat muslim di Indonesia yang dibentuk oleh lembaga DSN-MUI melalui fatwa-fatwanya untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis tanpa rasa keraguan.
Langkah-langkah yang berkitan dengan pengolahan terhadap bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan untuk menjawab isu hukum yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah.8
7 Soerjono Soekanto, Pengantar penelitian hukum (Jakarta: UI-Press, 1986), h. 32.
8 Jonaedi Efendi, Metode Penelitian Hukum: Normatif dan Empiris (Depok: Prenadamedia Group, 2018), h. 173.
E. Gambaran Umum Tokopedia 1. Sekilas Tentang Tokopedia
Tokopedia adalah perusahaan teknologi Indonesia dengan misi mencapai pemerataan ekonomi secara digital. Sejak didirikan di 2009, tokopedia telah menjadi pelopor dalam transformasi digital di dalam negeri.
Tokopedia memiliki visi untuk membangun sebuah ekosistem di mana siapapun bisa memulai dan menemukan apa pun. Di platform tokopedia, senantiasa memberdayakan jutaan penjual dan pengguna melalui bisnis marketplace, logistik, payment, fintech dan new retail.
Berpusat di Jakarta, tokopedia sedang membangun sebuah perusahaan teknologi kelas dunia yang akan terus menciptakan peluang, meningkatkan inklusi keuangan, serta membantu semua masyarakat Indonesia untuk mendapatkan lebih.9
Saat ini tokopedia telah meluncurkan situs baru khusus bagi pengguna yang ingin bertransaksi dengan nuansa islami dengan berbagai macam produk yang sesuai dengan syariah. Produk tersebut diberi nama dengan tokopedia salam dengan beberapa fitur diantaranya: fashion muslim, reksadana syariah, zakat, dan donasi.
Tokopedia salam sudah dapat diakses mulai dari tanggal 2 September 2019 oleh seluruh pengguna tokopedia melalui halaman https://www.tokopedia.com/salam. Namun, seluruh layanan di tokopedia salam juga dapat didapatkan melalui halaman www.tokopedia.com karena tokopedia salam bukan sebagai pemisah namun hanya sebagai pengelompokkan dari produk yang bernuansa islami dan sesuai dengan kaidah syariah dengan memberikan keuntungan berupa kemudahan bagi pengguna untuk menceri berbagai pilihan produk dan layanan bernuansa islami di tokopedia. Maka dari itu, tidak ada perbedaan mekanisme untuk berbelanja di tokopedia salam dan tidak ada perbedaan signifikan pada mekanisme pembayaran di tokopedia salam. Perbedaannya tokopedia
9 Linkedin.com https://www.linkedin.com/company/pt--tokopedia/ 2019/9/4.
salam mengutamakan metode pembayaran melalui bank nasional berbasis syariah.
2. Produk dan Layanan Tokopedia
Tokopedia saat ini adalah sebuah platform yang lebih dari sekedar marketplace. Tokopedia menyediakan teknologi sebagai solusi untuk memberdayakan jutaan penjual dan konsumen agar dapat berpartisipasi membangun masa depan perdagangan, diantaranya:
a. Marketplace
Marketplace tokopedia menyediakan pilihan produk paling beragam di Indonesia. Tokopedia telah bekerjasama dengan lebih dari 6,4 juta penjual, berbagai toko resmi dan mitra logistik serta pembayaran untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggannya.
Di marketplace tokopedia, perekonomian Indonesia bergerak di level tinggi yaitu >1% (di atas satu persen) dari total perekonomian Indonesia terjadi di marketplace tokopedia yang terdiri dari lebih dari 6,4 juta penjual dan lebih dari 200 juta produk di dalamnya.10
Kategori produk berbelanja di tokopedia diantaranya:
1) Buku 11) Ibu & Bayi 21) Olahraga
2) Dapur 12) Kamera 22) Otomotif
3) Elektronik 13) Kecantian 23) Perawatan Hewan 4) Fashion Anak 14) Kesehatan 24) Perawatan Tubuh 5) Fashion Muslim 15) Komputer & Aksesoris 25) Pertukangan 6) Fashion Pria 16) Laptop & Aksesoris 26) Rumah Tangga 7) Fashion Wanita 17) Mainan & Hobi 27) Logam Mulia 8) Film & Musik 18) Makanan & Minuman 28) Wedding
9) Gaming 19) Office & Stationery 29) Produk Lainnya 10) Handphone &
Tablet
20) Perlengkapan Pesta &
Craft
10 Data persentase berdasarkan situs https://www.tokopedia.com/about/our-business/
b. Teknologi Finansial dan Pembayaran
Penjual ataupun pengguna, layanan teknologi finansial tokopedia akan memberi pengguna akses pemodalan, solusi investasi terjangkau, dan berbagai opsi pembayaran. Dengan membuat layanan keuangan yang lebih mudah diakses oleh semua orang. Tokopedia memungkinkan adanya inklusi keuangan di Indonesia.
Aplikasi produk keuangan di tokopedia diantaranya:
1) Reksadana 4) Emas
2) Pinjaman Online 5) Pinjaman Modal
3) Kartu Kredit 6) Asuransi
c. Mitra Tokopedia
Aplikasi Mitra tokopedia menjembatani kesenjangan antara online dan offline. Mitra tokopedia menambah nilai ke toko fisik tradisional melalui perluasan jangkauan pelanggan online dan mengekspos penjual ke lebih banyak pilihan pemasok dengan harga cerdas. Anggap mitra sebagai mitra digital, sambil menjalankan toko yang sama.
d. Logistik dan Fulfillment
pengiriman menjadi mudah dengan sistem logistik dan fulfillment yang terintegrasi. Pelanggan dapat memilih waktu kedatangan paket yang akan diakomodasikan oleh mitra tokopedia sementara penjual dapat menyimpan produk mereka di gudang pintar tokopedia yang berlokasi di seluruh Indoneia.
59
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Mekanisme Bai Salam dalam Jual Beli Online Tokopedia 1. Alur Pendaftaran Akun Tokopedia
Pendaftaran akun tokopedia dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya sebagai berikut:
a. Berikut cara melakukan pendaftaran akun tokopedia melalui google:
1) Klik ―Daftar‖ di pojok kanan atas homepage tokopedia.
2) Pilih ―Daftar dengan Google‖.
3) Anda akan terhubung dengan akun google. Klik ―Allow”.
4) Masukkan kata sandi baru dan nomor ponsel anda yang aktif.
Kata sandi ini akan anda gunakan untuk login dan penarikan tunai di tokopedia.
Kata sandi ini akan anda gunakan untuk login dan penarikan tunai di tokopedia.