Marla Marlett: Textiles
BATIK Jawa Timur yang paling khas adalah batik Tuban. Proses pembatikan di Tuban vertikal dan merupakan satu kesatuan (integrated), dalam artian bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik.
Batik ini kemudian disebut batik gedog.
Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot dikatakan, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19.
Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.
Warna tipikal: cenderung nila, agak kegelap-gelapan Bahan pewarna: Mengkudu (Morinda citrifolia), indigo (indigofera) dan kayu tegeran (Cundria Javanese)
Kecamatan Kerek, Tuban, batik gedog sebenarnya hampir punah. Ini disebabkan orang sudah tidak suka lagi memintal benang. Namun sekarang batik gedog sudah mulai menggeliat. Itu karena pembatik Tuban mulai menyadari bahwa batiknya unik dan cocok dengan selera masyarakat kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara.
Batik Tuban merupakan produk komunitas pesisiran. Penghasil utama batik Tuban adalah di desa Gaji, Kedungrejo, Margorejo, Karanglo dan Temayang di Kecamatan Kerek.Di Tuban terdapat sekitar 1.500 pembatik yang tersebar di lima desa yakni Margorejo, Karangloh, Jurorejo, Kedungrejo dan Gaji. Khusus batik gedog pusatnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.
Pembatik umumnya mendapat ilmu membatik dari ibu mereka. Membatik bukan pekerjaan utama melainkan sebagai pekerjaan sambilan kaum perempuan di desa batik. Saat musim tanam dan panen, tidak ada seorang pun mengerjakan batik karena semua memilih turun ke sawah.
membuat pembatik memilih untuk menjual batik kepada pengepul. Jika perajin kuat terutama dalam modal, segala rayuan pengepul bisa ditepis. Salah satu langkah menghadang kehadiran pengepul di desa itu adalah dengan terus memberdayakan pembatik di desa dan memperkuat pemasaran. Menurut pengakuan Uswatun sebagai juragan batik Desa Karangrejo, hasil karya perajin di desa tersebut dibeli dengan harga tinggi, dilego ke pasar bebas tanpa perantara dengan harga antara Rp 12.500 hingga Rp 450.000 per lembar sedangkan kaus Rp 28.000 - Rp 37.000. Keuntungan besar tidak menjadi prioritas utama, yang terpenting perajin konsisten dan tidak meninggalkan profesi sebagai pembatik.
Tata Warna Batik Tuban (potret intisari/eiko.htm)
1. putihan (latar putih corak biru atau hitam), 2. bang-rod (latar putih corak merah),
3. pipitan (latar putih dengan corak merah dan biru), dan 4. irengan (latar biru tua atau hitam, corak putih);
Ragam hias pada batik sarat perlambangan, dan dapat dikaitkan dengan lam kultur masyarakat Jawa yang bersifat Kejawen. Masyarakat Jawa melihat bahwa keselarasan di alam telah tercipta. Keselarasan ini menempatkan jagad gedhe dan jagad cilik pada posisi masing-masing. Gangguan terhadap jagad cilik akan mengganggu keselarasan kosmos secara keseluruhan. Fenomena ini menyebabkan penjagaan keselarasan menjadi penting. Salah satu sikap yang dinilai mengganggu keselarasan adalah pengubahan terhadap pakem. Pakem merupakan warisan nenek moyang yang harus
zat Allah. Kriteria etis atau estetis selalu berakhir pada kedekatannya dengan zat Allah.
Konsep-konsep tentang dunia yang bersumber dari agama Hindu/Budha mengalami penyesuaian dengan konsep-konsep dalam Islam. Kelahiran dunia pada masa prasejarah diyakini sebagai perpaduan antara dunia atas dan dunia bawah. Benda-benda bekal kubur yang ditemukan, khususnya di Jawa Timur memperlihatkan ragam hias yang mengindikasikan simbol-simbol tentang dunia atas. Dunia atas merupakan alam para dewa dan roh. Simbol-simbol yang muncul pada masing-maing tingkat dunia pada karya kerajinan divisualisasikan melalui ragam hias. Wujud-wujud di alam digunakan sebagai ungkapan simbolisnya.
Pada ragam hias kawasan pesisiran didominasi bentuk flora. Pada konteks ini jenis tumbuhannya tidak terlalu dipentingkan mengingat yang diutamakan pada ragam hias pesisiran adalah stilasi bentuk-bentuk alamiah, menjadi pola-pola yang cenderung geometris. Bentuk-bentuk ragam hias fauna telah mengalami stilasi sehingga mengaburkan bentuk realisnya. Jenis fauna yang terdapat pada ragam hias batik antara lain merak dan burung Srigunting.
Munculnya wujud burung dalam ragam hias, baik di pedalaman maupun di pesisiran mengindikasikan kedekatan masyarakat Jawa terhadap simbolisme yang berhubungan dengan fauna tersebut. Burung dalam simbolisme prasejarah menjadi simbol pelepasan roh. Pada mitologi Hindu simbol burung dikaitkan dengan dengan wujud burung garuda. Kepercayaan terhadap burung sebagai kendaraan menuju alam arwah atau alam roh tetap bertahan hingga masa Islam, walaupun menggunakan simbol-simbol dalam agama Islam.
Makna simbolis pada ragam hias yang berkaitan dengan konsep-konsep Kejawen lebih dominan pada ragam hias kawasan pedalaman dibanding dengan kawasan pesisiran, walaupun sebagian besar simbol-simbol tersebut telah mengalami penyesuaian dengan kondisi setempat. Jika penjabaran prinsip keselarasan pada ragam hias batik pedalaman diwujudkan melalui perpaduan antara pola geometris dan non
Timur)
Beberapa jenis motif:
1. Panjiori
2. kenongo uleren 3. panji krentil
Batik motif panji krentil berwarna nila justru dinyakini bisa menyembuhkan penyakit (Uswatun, batik Indonesia info)
6. karang lo
7. ganggeng
10. bongkol
12. iris
14.
Sumber: batik Indonesia info.htm, Welcome to Tuban Art.htm
Benang lusi kain tenun biasanya dikanji untuk menambah kekuatan agar permukaan benang licin dan tahan gesekan dan tarikan. Pemilihan jenis kanji yang dipakai
ditentukan oleh jenis serat. Setelah benang menjadi kain, kanji dihilangkan supaya tidak mengganggu proses berikutnya.
Pada serat kapas untuk batik gedokan Kerek, digunakan kanji dari beras (nasi). Jenis kanji ini mudah dilepaskan, yakni dengan direndam dalam air selama satu malam (12 jam) atau dimasak.
Beras termasuk dalam golongan kanji pati. Yang termasuk dalam golongan ini, selain beras, adalah tapioca, kanji, jagung, sagu, kanji terigu, kanji kentang, dan modifikasi kanji (dekstrin). Biasanya digunakan untuk kapas dan rayon staple. Selama pemakaian perlu pengontrolan kelembapan. Efisiensi pertenunan tinggi tetapi sukar dihilangkan.
Ditambahkan gom alam seperti tragakan, akasia, gom arab, dll untuk pembakaran pada pati. Menambah daya lekat pati. Lentur dan menarik air
Untuk filament rayon, asetat, nylon, polyester menggunakan resin (poliakrilat, polivinil alcohol, stirena maleat,dll). mudah hilang dalam pemasakan
Penghilangan kanji dengan perendaman, asam, alkali, enzim, dan zat pengoksidasi.
Untuk pati, menggunakan asam kuat yang dapat menghidrolisasi pati menjadi glukosa sehingga larut dalam air. . dibilas bersih dan dinetralkand engan alkali lemah encer, untuk mencegah kerusakan serat oleh sisa asam yang tertinggal
Resep HCl pekat atau H2SO4 5-10 ml/l. direndam dalam air bersuhu 30 C selama 1 ½-2 jam
Bahan dicuci , kemudian diteteskan larutan iod dalam kalium iodide.
Biru Æ masih ada pati
Ungu Æ pati telah berubah menjadi dekstrin dan gula mout Cokelat Æ pati telah menjadi glukosa
Proses selesai Æ ungu atau coklat Pemasakan kapas
Kandungan
1. lemak, minyak, malam 0,5-1 %
2. protein, zat yang mengandung nitrogen 1-2,8 g 3. pektina, pektosa 0,4-1%
4. pigmen alam, mineral, resin 3-5 g 5. air 6-9 %
zat no 1-3 hilang, beserta sebagian no 4 pemasakan menurunkan berat 7 %, dengan caustic soda 38* Be 10 cc/l
waktu 1-2 jam, 90 * C (meniddih) dicuci dengan air panas
atau dengan
natrium karbinat 2-3 g/l deterjen 2-4 g/l
waktu 1 jam suhu 80-95
perbandingan larutan 1:20 –1: 30
dicuci dengan air panas lantas air dingin
serat sintetik umumnya telah dimurnikan pada saat pembuatan. Keberadaan lemak atau zat lain yang menempel biasanya ditambahkan, sehingga pemasakan sekadar
menghilanggkan zat tambahan
kebanyakan tidak tahan alkali kuat, sehingga cukup dengan alkali lemah (natrium karbonat) 1-2 g/l dan detergen 1-2 cc/l pada suhu 90-95 C dalam waktu 30-90 mwnit
pencelupan selulosa dengan zat warna reaktif termasuk golongan zat warna yang larut dalam air sifat tahan cuci
kilau yang baik
mengadakan reaksi kimia dengan selulosa dalam suasana alkali
larut dalam air karena ada asam yang ditimbulkan, jika terlalu lama dibiarkan akan terhidrolisa sehingga menurunkan kereaktifannya, dipercepat dengan adanya alkali.
Pencegahan dengan penambahan alkali pada pencelupan, ½ jam sebelum pencelupan berakhir
2 golongan
Zat warna reaktif panas Zat warna reaktif dingin
Nama: Procion (ICI), Cibracon (Ciba Geigy), Drimaren (SAndoz), Levafi Pencapan langsung serat poliamida dengan zat warna disperse-reaktif
Molekul zat warna disperse reaktif mengandung gugus reaktif tetapi tidak mengandung gugus pelarut, sehingga dapat bereaksi dengan gugus amida (-NH-) yang terdapat dis epanjang rantai molekul nylon maupun gugus amino (NH2) yang terdapat pada ujung-ujung rantai molekul sehingga menghasilkan tahan luntur warna terhadap pencucian yang tinggi.
Resep
10-60 g zat warna disperse reaktif didispersikan dalam 300-250 g air
20 g perminal KB
Pembilasan 20 Pencuci bentuk
lebar
penyabunan 5-10 50 Pencuci bentuk
lebar
2 g/l Lissapol ND
Pencelupan poliamida dengan zat warna dispers
Dapat diselup dengan zat warna disperse dan yang biasa untuk pencelupan kapas.
Biasanya dengan zat dispers, asam, kompleks logam, mordan, reaktif
Peranan pH larutan sangat menentukan, biasanya 4-7 (tergantung jenis zat warna) dan harus dijaga tetap konstan
Resep
Zat warna x %
Zat pendispersi 0,3-0,5 g/l Zat anti busa 0,1-0,5 ml/l Suhu 100 C
Waktu 1 jam
Zat warna dibuat pasta dengan air dingin, bila perlu ditambah zat penispersi. Dilarutkan dalam air hangat hingga terdispersi sempurna
Dicelup (zat pendispersid an anti busa) 40-60 C 10menit Larutan zat warna dilasukkan, 10 menit
Suhu dianikkan hingga mendidih, 30 menit Bahan dicuci, disabun, dinbilas
10 menit zat warna, datar
Naik 100 C 35 menit, datar hingga 60 menit turun
Pencelupan Poliamida dengan zat warna reaktif Resep
Zat warna reaktif dingin x % Garam glauber 20-30 g/l Soda abu 0,5-2 g/l Suhu 60 % C Waktu 1 jam Prosedur
Pasta dengan air dingin, dilarutkan dengan air hangat hingga larut sempurna
Zat warna dimasukkan pada larutan celum (mengandung garam glauber ) suhu kamar Bahan yang telah dimasak, celu 10 menit
Suhu dianikkan hingga 60 C, tambahkan soda abu, 60 menit Dicuci, disabun, dibilas
Skema
Zat warna reaktif, garam glauber 30 c Selma 10 menit,
Naik hingga 60 c hingga 25 mneit, tambahkan natrium karbonat Pasif
85 menit turun
Nama : Waridah Muthi’ah Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat dan Tanggal Lahir : Bekasi, 24 Desember 1985
Agama : Islam
Alamat : Kp. Buaran no. 14 RT. 002/02 Lambangsari Tambun—Bekasi 17514
No. Telepon : +6285 6243 88706
Riwayat Pendidikan
1. RA El Nur El Kaysyaf, Tambun, Bekasi, tahun 1990—1991 2. SDN Bumi Bekasi Baru I, Bekasi Timur, tahun 1991—1997 3. SLTPN 1 Tambun, Bekasi, tahun 1997—2000
4. SMUN 3 Bandung, tahun 2000—2003
5. terdaftar sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Kria Tekstil, tahun 2003—2008