Oleh Jodhi Yudono
redaksi Kompas.com. Waktu itu pagi-pagi benar Anda datang ke kantor kami untuk silaturahmi berkait de-ngan pencalonan Anda menjadi Gubernur DKI. Saya tanya, kelak kalau sudah jadi gubernur mau dipang-gil “mas” atau “bang”, seperti para gubernur sebelum-sebelumnya. “Terserah saja,” begitu jawab Anda.
Baiklah, lantaran sampean orang Jawa, selisih umur kita juga cuma dua tahun, maka saya panggil Mas saja kepada Anda, Mas Joko Widodo. Tapi bener-an, saya janji, ini kali terakhir saya menyapa Anda dengan sebutan “mas”. Selain khawatir dipelototi para pengawal Anda, rasanya enggak enak juga, ya, memanggil Presiden dengan panggilan “mas”. Mas Presiden! Patutnya memang Pak, Bapak Presiden, itu jika Anda terpilih jadi presiden.
Pada pertemuan tersebut, saya merasakan be-tul betapa Anda tak memasang jarak. Kita leluasa ngobrol ke sana kemari dengan santai. Sempat juga saya tanyakan, apakah Anda juga akan menyisihkan gaji Anda sebagai gubernur untuk kegiatan sosial seperti ketika menjadi Wali Kota Surakarta. Anda cuma senyum, sebuah senyum yang cukup sulit di-terjemahkan.
Sebagai manusia, tentu saja Anda juga tak luput dari kekurangan. Salah seorang anggota tim sukses Anda bilang kepada saya bahwa Anda adalah
unor-ganized, susah diatur oleh protokoler. Anda
berge-rak ke mana hati Anda berkata. Begitulah yang saya dengar saat Anda tak memenuhi kesepakatan yang pernah kita bikin untuk membuka pameran bersa-ma para pelukis Gelanggang Rebersa-maja Jakarta Selatan (Garajas).
Sungguh, Mas, waktu itu saya sakit hati terhadap Anda. Sampai saya bilang ke anggota tim sukses Anda kala itu, “Mau ditaruh di mana muka saya di depan kawan-kawan pelukis yang mengharapkan kehadiran Anda.”
Cukup lama juga saya “dendam” terhadap Anda. Sampai akhirnya saya bisa berdamai dengan diri saya dan bisa memaklumi kenapa Anda tak jadi da-tang untuk membuka pameran lukisan itu. Tahu enggak, Mas, salah satu alasan kenapa kemudian saya “memaafkan” sampean? Itu karena saya lihat Anda bekerja secara bersungguh-sungguh untuk membenahi Kota Jakarta. Saya lihat Anda blusukan ke got-got yang mampat, ke sungai yang dipenuhi sampah, ke warga-warga miskin.
Ya, akhirnya saya bisa memaklumi Anda, dengan asumsi bahwa kala itu pasti Anda sibuk sekali men-datangi konstituen yang tersebar di beberapa tem-pat di Jakarta yang macet. Maka seperti Anda juga, saya pun bilang ke diri saya, “Aku ra popo”.
Selanjutnya saya pun menyaksikan Anda dari ke-jauhan, melalui televisi maupun berita di koran,
on-line, serta radio. Termasuk saat Anda terpilih menjadi
gubernur. Sempat kita satu pesawat menuju Yogya-karta pada pertengahan Juni 2013. Seperti yang dice-ritakan beberapa orang, memang benar Anda duduk di kelas ekonomi di belakang bangku saya.
Seperti yang saya saksikan langsung. Anda datang sendiri tanpa pengawal dari arah depan menuju kursi belakang. Sontak kedatangan Anda membuat “kegaduhan” para penumpang demi melihat Anda sepesawat dengan mereka.
Oh, ya, saya ingin memberi kesaksian untuk men-jawab tuduhan mereka yang nyinyir bahwa Anda memang sengaja berjalan dari bagian depan pesa-wat menuju kursi Anda di bagian belakang supaya dilihat para penumpang lain, ya sekadar pencitraan begitu. Padahal, yang saya tahu, pintu bagian bela-kang pesawat memang tidak terbuka sehingga se-mua penumpang harus melalui pintu bagian depan. Waktu terus bergulir. Kabar mengenai Anda pun saya hikmati. Anda bersama Wagub Ahok dini-lai sukses membenahi Waduk Ria Rio, membenahi pedagang di Tanah Abang, di Pasar Minggu, terus Anda masuk ke dalam daftar 50 pemimpin hebat dunia versi majalah Fortune edisi 7 April 2014. Anda
menempati urutan ke-37. Sampai akhirnya Anda mendeklarasikan menjadi calon Presiden republik ini di Rumah Si Pitung di Marunda. Maka, sejak itu-lah panji-panji sebagai calon presiden dikibarkan.
Hilanglah keraguan dari pihak lawan maupun pendukung. Bagi pihak lawan, kian jelas, Anda-lah musuh bersama mereka. Bagi pendukung, kian so-lidlah mereka yang selama ini memang telah memu-ja Anda. Ketika akhirnya kandidat capres hanya ada dua, diri Anda dan Prabowo Subianto, maka bangsa ini pun langsung terbelah menjadi dua, yakni mere-ka yang mendukung Anda dan bagian lainnya yang mendukung Prabowo.
Hari-hari berat pun mulai Anda lalui. Kampanye hitam yang mematikan datang bertubi-tubi. Anda dituduh sebagai keturunan Islam gadungan, ber-aliran PKI, melakukan tindak korupsi, dan tuduh-an keji lainnya. Atas semua tuduhtuduh-an itu, sampetuduh-an cuma bilang, “Aku ra popo.”
He-he-he, tapi kalimat “Aku ra popo” yang sebe-tulnya berkonotasi ikhlas itu masih juga dijadikan bahan untuk menyerang Anda. Mereka yang berse-berangan menuduh Anda sebetulnya tak bisa apa-apa, alias bodoh, karena bisanya cuma bilang “Aku
Jika saya menjadi Anda, pasti saya akan salah tingkah dan salah gaya. Mau ngapain aja serbasa-lah. Namun, untunglah Anda kuat hatinya dan juga kuat badannya. Walhasil, Anda tetap fokus menuju istana sebagai calon presiden. Bahkan kalau boleh jujur, di akhir-akhir debat presiden, Anda semakin kukuh dan yakin bakal memenangi Pilpres 2014.
Mas Jokowi yang baik hati. Besok tanggal 22 Juli KPU mengumumkan hasil pilpres. Para pendukung Anda—seperti juga pendukung Prabowo—yakin Anda akan memenangi pemilihan tersebut. Jika esok benar Anda terpilih menjadi presiden, itu kian mem-pertegas kebesaran Tuhan bahwa tiada makhluk yang bisa mengubah dan mengatur takdir. Seberapa pun biaya dikeluarkan, apa pun cara dipakai untuk mengadang Anda, jika Tuhan telah menetapkan Anda jadi presiden, maka jadilah Anda sebagai presiden.
Barangkali, telah tertulis di loh mahfuz bahwa pada usia ke-53, pada tanggal 22 Juli, sebulan sete-lah berulang tahun, Anda terpilih sebagai presiden. Jika ini benar terjadi, maka gugurlah segenap teo-ri tentang bibit-bebet-bobot, tentang dedeg piadeg Anda yang kerempeng dan ndeso dan tidak pantes jadi presiden.
Ya, ya ... Anda hanyalah lelaki sederhana yang la-hir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi
No-tomihardjo serta merupakan anak sulung dan put-ra satu-satunya dari empat bersaudaput-ra. Ayah Anda berasal dari Karanganyar, sementara kakek dan nenek berasal dari sebuah desa di Boyolali. Anda mengawali pendidikan dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.
Sebagaimana galibnya wong cilik, Anda per-nah juga mengalami kesulitan hidup. Terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, Anda memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi ke-ahlian bertukang kayu dari ayahanda, sampean mu-lai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun. Penggu-suran yang Anda alami sebanyak tiga kali pada masa kecil memengaruhi cara berpikir dan kepemimpinan Anda kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.
Oh, ya, Mas. Ada juga lo yang menyamakan perja-lanan Anda menuju RI 1 sebagai lakon “Petruk Jadi Ratu”. Itu artinya, karena Anda itu lebih pantas jadi kawulo dan tidak pantas jadi ratu, maka kelak keti-ka menjadi presiden pun enggak aketi-kan lama. Sebab, kedudukan Anda pantasnya memang sebagai ka-wulo, sebagai rakyat.
Saran saya, biarin saja, Mas. Tetaplah Anda ber-pegang pada jargon “Aku ra popo”. Sebab saya yakin, para pendukung Anda pasti akan berpikir sebaliknya. Kendati Anda bertampang sebagai kawulo, sebagai Petruk, tapi Anda memiliki kemuliaan hati sebagai se-orang kesatria, sebagai Abimanyu. Tidak pernah seka-li pun Anda mengolok-olok lawan Anda, sebagaimana lawan-lawan Anda mengolok-olok sampean.
Para pendukung Anda tentulah meyakini benar bahwa Anda adalah kesatria terpilih yang akan me-mimpin para kawula, rakyat negeri ini. Para pen-dukung Anda pasti akan legawa memangku Anda sebagai “raja”. Tugas kawula hanyalah memangku raja, agar ia dapat menduduki takhtanya.
Sebab, pendukung Anda yang tulus itu, yang ber-jumlah 1.289 kelompok relawan Jokowi-JK di seluruh Indonesia, adalah rakyat yang telah memiliki kesa-daran sebagai rakyat yang dapat membantu pengu-asa untuk menuliskan sejarahnya. Mengapa mereka memilih Anda? Sebab, dari jejak rekam Anda, mere-ka tahu bahwa Anda itu jenis penguasa yang meng-hargai kawula, yang berkorban demi kawula, tidak malah menjadi benalu bagi rakyatnya. Mereka juga tahu, bahwa Anda mau berkorban demi mereka. Itu-lah sebabnya, mereka ikhlas menyiapkan kursi bagi Anda untuk menjadi seorang raja, seorang presiden.
Semoga Anda mengerti ini semua bahwa kuasa itu hanyalah sarana buat berkorban. Jika tak memiliki kesadaran ini, Anda tidak akan dianggap oleh rakyat. Raja akan tamat riwayatnya sebagai raja jika sudah ditinggal rakyatnya. Raja yang tidak dipangku rak-yat adalah raja yang koncatan (ditinggalkan) wahyu.
Ah, saya mendadak teringat ucapan Petruk dalam cerita pewayangan, “Rakyat itu ada sepanjang zaman. Sementara raja itu tidaklah abadi. Ia bertakhta hanya dalam masa tertentu. Ketika masa itu lewat, ia harus turun atau binasa. Sementara rakyat terus ada. Buk-tinya, saya ini ada di sepanjang zaman. Menjadi pu-nakawan, hamba yang menemani penguasa dari masa ke masa, sampai hari ini. Kawula iku ana tanpa wates,
ratu kuwi anane mung winates [rakyat itu ada tanpa
batas, sedangkan raja ada secara terbatas].”
Mas Joko Widodo yang suka blusukan, demiki-an surat dari saya. Tetaplah menjadi Petruk, tetapi berkepribadian sebagai Abimanyu. Tetaplah bersa-ma kawula dan jangan sekali-sekali membuat jarak dengan rakyat.
Wis yo, Mas, sing ati-ati, di jalan banyak angin