• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ayubi (1991: 63-64) menyebutkan tentang kesatuan antara agama, dunia, dan Negara. Realisasi sebuah masyarakat islam dibayangkan dalam penciptaan sebuah Negara islam yakni sebuah Negara ideologis yang didasarkan kepada ajaran-ajaran islam yang lengkap. Ide-ide membangun Negara itu harus dalam pandanganya lahir dari tradisi agama. Dalam konteks ini, islam hadir sebagai sebuah ideologi yang membebaskan dan secara subtantif melakukan revolusi yang signifikan dalam sejarah peradaban di irak.

Kekuatan peradaban islam dan ideologi sebagai kekuatan yang mampu menjadi pusat peradaban di Irak. Sebagai ideologi besar, islam memberikan alternatif solusi-solusi secara ideologis yang berpihak kepada kaum yang lemah dan tertindas di irak. Ideologi harus dinilai dari kemanjuranya bukan dari benar atau salah sebuah gagasan. Sistem nilai dan moral yang kemudian menjadi teladan bagi perilaku umatnya, telah membentuk kepribadian, perilaku, dan persoalan-persoalan kemanusiaan melalui Daulah Islamiah. Dengan kekuatan itu, islam menjadi satu kekuatan ideologi yang manjur menciptakan suatu tatanan sosial yang lebih maju, beradab, dan manusiawi. (Kurniawan, 2012: 78).

Seruan jihad memerangi kaum kafir selalu menjadi selogan kelompok jihadis ISIS. Abu Muhammad al-Adnani sebagai juru bicara ISIS berkata dalam situs resminya (www.aladnany.net

diakses pada tanggal 20 Agustus 2015 pukul 21.35) bahwa sesungguhnya pasukan-pasukan thaghut dari para pemerintah negeri kaum muslimin adalah pasukan-pasukan murtad dan kafir. Lebih lanjut lagi mengungkapkan wajib memerangi para pemerintah yang membela para kaum salibis (kafir). Doktrin dan praktek ISIS sudah mencapai tahap wajib bagi para mujahid. Secara kepribadian mujahid itu sudah tertanam pemaknaan jihad sebagai peperangan melawan kaum kafir dan murtad, yang kemudian disebar luaskan melalui sebuah gagasan mendirikan negara islam.

Isu politik keagamaan yang mempertemukan sebagian besar gerakan jihad. Gerakan jihad mulai memandang adanya sebuah pandangan baru tentang memperjuangakan nilai islam dengan jalan jihad melawan siapa saja yang menghalangi ditegakanya syariat islam (Said, 2014 : 47-49). Berikut diantara beberapa ide-ide yang dikembangkan oleh ISIS:

1) Seluruh aktivitas jihad ISIS meyakini seluruh rezim yang berkuasa di negeri muslim telah murtad karena membuat peraturan tidak berlandaskan pada Syariat Islam.

2) Menyatakan perang terhadap rezim- rezim kafir.

3) Setiap ulama yang membela rezim kafir dan encap semua gerakan jihad sebagai gerakan khawarij dianggap ulama munafik.

4) Sistem demokrasi merupakan sistem kafir yang bertentangan syariat islam. 5) Kelompok‎syiah‎adalah‎kelompok‎sesat‎atau‎ahlu‎bid‘ah.

6) Sekulerisme, nasionalisme, dan kebangsaan adalah produk kafir yang wajib dihindari. 7) Menolak kompromi dengan Israil dalam kasus palestina.

8) Amerika Serikat adalah musuh besar karena dianggap sebagai simbul kekuatan Nasrani dan Yahudi.

Pendeklarasian, ISIS menyimpan beberapa perkara yang memainkan peran penting sesuai situasi dan kondisi yang menyertai. Kondisi penuh kesukaran memaksa pembentukan Daulah Islamiah ini harus menyusun target, dan strategi dalam mengupayakanya. Rintisan Daulah Islamiah ini terjadi bukan sekejap ataupun dari warisan. Namun melalui perjuangan para jihadis yang bangkit dari ketidak puasan dari sistem barat.

Sesunguhnya proyek Daulah Islamiah ini jauh lebih berani dalam melawan AS. ISI mengutamakan penyerangan terhadap kaum kafir AS dan murtadin di wilayah terdekat yang terjangkau serta menguntungkan. Target awal yang harus segera terealisasi yakni menyerang AS (Mahmud dkk, 2014: 74), berikut strategi yang diterapkan dan direncanakan :

1) sejak awal secara politis mengasingkan Amerika dengan menekan aktor internasional dalam meniadakan dukungan mereka terhadap Amerika dalam melakukan invasi yang tidak diizinkan oleh PBB (Persatuan Bangsa-bangsa). Oleh karena itu, berulangkali ISI menargetkan pasukan sekutu Amerika dan pasukan Amerika untuk membuat mereka berfikir dua kali dalam berperang di tanah asing.

2) mencegah para mujahid Irak dan warga sipilnya untuk mendukung pasukan Amerika dan sekutunya.

3) para mujahid menghambat proses rekonstruksi Irak dengan menargetkan kontraktor sipil, bantuan kemanusiaan, dan orang asing lainnya yang berada di Irak yang memiliki tujuan membantu negara yang sedang dilanda perang.

4) menetapkan populasi Syiah di Irak sebagai target untuk dihancurkan dengan memprovokasikan perang Sunni-Syiah di Irak. Dengan berjalannya provokasi ini, ISI berniat untuk menjebak Amerika dan sekutunya didalam konflik sektarian yang

sangat parah sampai bermotifkan agama, sehingga asing, Amerika dan sekutunya tidak memiliki pilihan lagi selain meninggalkan Irak.

ISI dalam pergerakannya banyak menggunakan media sosial dalam menyatukan pemikiran dan kegiatan para mujahidin di seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dari (Syamina XIV, 2014: 23) :

1) Memiliki divisi media untuk menyebarkan ajaran salafi Jihadi melalui CD, kaset, video, dan sebagainya.

2) Pelatihan militer seperti bagaimana cara merakit roket dan misil yang diadakan di berbagai situs web tentang jihad, seperti forum Al-Hesbah, Al-Ekhlaas, dan Al-Boraq. 3) Memiliki cabang media yang terpisah di tiap-tiap wilayah di Irak. Hal ini dibuktikan

dengan koordinasi para mujahidin yang hanya memakan waktu tiga jam melalui media dapat melakukan kegiatan pengeboman sebanyak 55 bom mobil di Baghdad untuk pembalasan terhadap kematian Abu Mus'ab Az Zarqawi.

c) Merapikan keorganisasian ISI

ISI yang memiliki tujuan menggulingkan pemerintahan Irak dan menggantinya dengan negara Islam murni, menempatkan fokus yang lebih besar kepada masa depan perang, kelompok, dan Irak. Pasca pembentukan majelis Syura mujahidin, dan penetapan khalifah pertama Abu Umar mulai berusaha menyatukan unsur masyarakat lainya di Irak bersama dengan kelompok yang beraliansi dengan mereka ditambah dengan Harokah Fursan Ul-Tauhid dan Jundu Millah Ibrohim serta berbagai kabilah dan suku di Irak, seperti Al-Dulaim, Al-Jabbur, Al-Ubaid, Zuubaa, Qays, Azza, Al-Tay, Al-Janabiyiin, Al-Halaliyiin, Al-Mushohada, Al-Dayniya, Bani Zayd, Al-Mujamaa‟, Bani Shommar, Inaza, Al-Suwaidah, Al-NuÕaim, Khazraj, Bani Al-Hiim, Al-Buhayrat, Bani Hamdan, Al-SaÕadun, Al-Ghonim, Al-SaÕadiya, Al-Ma‟awid, Al-Karabla,

Al-Salman dan Al-Qubaysat. Dengan wilayah yang meliputi Baghdad, Al-Anbar, Diyala, Kirkuk, Sholahuddien, Ninawah, Babil dan Al-Wassat (Said Ali, 2014 :135). Sehingga pada tahun 2006 susunan pemerintahan ISI adalah sebagai berikut :

1) Amirul Mukminin : Abu Umar Al-Bagdadi,

2) Pembantu Amir Utama : Syaikh Abu Abdur Rahman Al Falahi, 3) Menteri Jihad : Abu Hamzah Al Muhajir,

4) Menteri Dewan Syariat : Syaikh Prof. Abu Ustman At Tamimi, 5) Menteri Perhubungan Umum : Prof. Abu Bakar Al juburi, 6) Menteri Keamanan Umum : Prof. Abu Abdil Jabbar Al Janabi, 7) Menteri Penerangan : Syaikh Abu Muhammad Al Masyahadani,

8) Menteri Urusan Syuhada dan Tawanan : Prof. Abu Abdil Qodir Al Isyawi, 9) Menteri Perminyakan : Ir. Abu Ahmad Al Janabi,

10) Menteri‎Pertanian‎dan‎Perikanan‎:‎Prof.‎Musthafa‎Al‎A‘roji, 11) Menteri kesehatan : dr. Abu Abdillah Az Zaidi

3. Pada masa Abu Bakar al-Baghdadi

Dokumen terkait