Peletak Dasar Sosiologi Pedesaan Indonesia
A. Masa Kecil yang Selalu Berpindah Te Sajogyo terlahir dengan nama Sri Kus
di Karanganyar, Kebumen, 21 Mei 1926. Poerwoatmodjo, adalah seorang guru yang mengajar sekolah tingkat dasar. Sedangkan dah, seorang ibu rumah tangga, adalah gu saudara-saudaranya. Kampto Utomo adalah saudara.
Ia pertama kali sekolah di Bandung mengikuti ayahnya yang ditugaskan di ko lama setahun, antara 1935-1936, melanjutk Cepu. Lalu ia pindah lagi ke Barabai, Kalim
ak Sejarah Pemikiran Agraria
jogyo
Tempat
usumo Kampto Utomo 26. Ayahnya, Soewardjo ng karirnya dimulai dari gkan ibunya, Ibu Chami- guru abadi bagi dia dan lah anak ke-2 dari 6 ber- ung pada tahun 1934, kota itu. Kemudian se- jutkan sekolah ke HIS di limantan Selatan selama
Ahmad Nashih Luthfi
tiga tahun. Di kota pedalaman ini, ayahnya bertugas menjadi kepala sekolah. Meski tinggal di kota kecil, keluarga ini berlang- ganan majalah de Locomotief, sebuah majalah yang bisa dianggap radikal. Kampto Utomo senang membaca rubrik anak-anak dan berita olah raga.4
Tidak sampai lulus di HIS Barabai, Kampto Utomo melan- jutkan kepindahannya ke Kediri, Jawa Timur pada tahun 1938. Di sini ia menamatkan HIS. Hanya setahun sekolah MULO di Kediri, ia melanjutkannya di Purwokerto hingga masa Jepang yang telah berubah menjadi SMP. Selepas dari Purwokerto, ia melanjutkan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Yogyakarta, tepatnya di Kota Baru (kini menjadi SMA III).5
Nilai olah raga Kampto Utomo di rapor tercatat angka 9. Namun ketika ia lari pagi dengan kawan-kawannya di dekat Kri- dosono, ia terjatuh dan muntah darah. Ia diangkut ke RS. Panti Rapih dan mendapat perawatan beberapa hari. Vonis dokter me- nyatakan bahwa ia terkena penyakit TBC. Vonis itu mengha- ruskannya pindah ke Purwokerto, agar dapat dirawat di sanatori- um Baturaden. Peristiwa ini terjadi tahun 1944, ketika ia masih bersekolah di SMT.6
Akibat sakit ini dan perawatannya di sanatorium, Kampto Utomo sangat peka dalam masalah suhu udara dan sangat hati- hati dan tertib dalam menjaga kesehatannya. Dalam perawatan itulah, ia menemukan kekasih hatinya, Soekemi, meski tidak pernah dinikahinya sebab meninggal terlebih dahulu. Ia kemu- dian bertemu dengan Hesti, gadis yang juga dirawat di sanatori- um dan 12 tahun lebih tua. Gadis inilah yang kemudian dinika- hinya.7
4 Eka Budianta, Bertemu Sajogyo(Bogor: BRI, Agro Ekonomi, dan SAINS, draftversi 2009), hal. 57.
5 Suratmin, Prof. Dr. Ir. Sayogyo, Hasil Karya dan Pengabdiannya (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983), hal. 10-12.
6Eka Budianta,op.cit., hal. 9.
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria B. Pertanian: Meleburnya Unsur Natura dan Unsur Huma-
na
Sejak sekolah menengah pertama, Kampto Utomo telah tertarik dengan bidang pertanian. Ketertarikan bermula dari sang paman, Amin Tjokrosuseno, seorang insinyur muda lulusan kehutanan yang telah bekerja mengurus perkebunan di Pekan- baru. Setiap kali liburan, ia berkunjung ke kakaknya, ibu dari Kampto Utomo. Ia membawakan keponakannya foto-foto ten- tang petani dan berbagai alatnya. Cerita tentang kehidupan pe- tani dan pedesaan disimak benar oleh bocah Kampto Utomo ini. Ia tertarik, sehingga ketika lulus MULO ia mendaftar ke Sekolah Pertanian Menengah Atas, Bogor. Namun ia urung memasukinya dan lebih memilih SMA di Yogyakarta.
Pengalamannya sewaktu menjadi tentara pelajar, ter- gabung dalam kelompok Sudirman di Purwokerto dan berlanjut di Solo bersama Slamet Riyadi8, menambah pengertiannya ten-
tang kehidupan tani dan pedesaan. Selepas SMA, pada tahun 1949 dia segera melanjutkan ke Universitas Indonesia, Fakultas Pertanian yang kampusnya ada di Bogor. Di fakultas ini ia meng- ambil jurusan yang sering disebut dengan “Sosek” (Ilmu-ilmu So- sial Ekonomi Pertanian). Fakultas Pertanian bersama Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan kemudian pada tahun 1963 melepaskan diri menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Pendi- rian ini disahkan melalui keputusan Presiden RI, No. 2791, Ta- hun 1965.9
Selama kuliah di sana, Kampto Utomo menerima beasiswa ikatan dinas dari pemerintah. Di kampus inilah, Kampto Utomo mulai mengembangkan pemikirannya dan meneliti, sampai akhirnya di kemudian hari dijuluki sebagai perintis pemikiran pembangunan desa dan studi agraria Indonesia. Selama kuliah, ia belajar pada Prof. Teko Sumodiwiryo, seorang ahli penyuluhan yang memajukan koperasi tahun 1930-an. Mengenai bagaimana “pengaruh luar” masuk dalam masyarakat pedesaan Indonesia, ia
8Riwayat periode ini disajikan oleh Suratmin,Ibid.,hal. 15-24.
Ahmad Nashih Luthfi
belajar dari D. H. Burger, seorang ahli birokrasi Hindia Belanda dan politik. Dari Ir. Terra (ahli pekarangan) ia belajar tentang “studi etnologi”, di mana Terra menyoroti tipe usaha tani pekara- ngan yang dikaitkan dengan pola “matriarkal”, dan sebaliknya pola “lahan rumputan” yang jauh dari rumah sebagai pola “patri- arkal”. Darinya juga Kampto Utomo belajar tentang masalah gizi dan sumbangan “hasil holtikultura” bagi pola makanan rakyat.
Dosennya yang lain, Van Aartsen, memberinya pemahaman tentang geografi ekonomi dalam konteks perekonomian dunia. Bloembergen (ahli botani) mengajarinya tentang “geografi tum- buhan”. Ia dalam kuliahnya dituntut menulis laporan studi pus- taka dan lapangan, sehingga mengharuskannya menjelajahi pulau Jawa, dari barat sampai ke timur, termasuk Kepulauan Seribu. Prof. Timmer (lulusan Fakultas Pertanian Wageningen) yang me- nulis “agronomi sosial” memberinya pemahaman yang lebih so- siologis.10
Dalam iklim dan spektrum kajian semacam itulah, Kampto Utomo mempelajari relasi antara natura dan humana.11 Mempe-
lajari pertanian di kampus itu menyadarkan pentingnya hubu- ngan antara unsur-unsur alam dan manusia. Unsur pertama melahirkan ilmu eksakta dan unsur kedua menciptakan ilmu so- sial dan humaniora. Keduanya dalam batas-batas tertentu dipela- jarinya di kampus itu. Maka tak ayal dalam perkembangannya kemudian, Sajogyo terkenal dengan semboyannya, “Jika Anda i- ngin mengerti perekonomian negeri kami, kajilah kebudayaan dan sistem politik kami; jika ingin memahami kebudayaan dan sistem politik kami, kajilah perekonomian kami”.12
10 Sajogyo, “Refleksi Sajogyo: dari Praktek ke Teori dan ke Praktek yang
Berteori” (versi Januari 2004), refleksi pada sebuah acara yang diadakan oleh Survey Agro Ekonomika di Jakarta, 2004, hal. 4-5 (versi Januari 2004). Naskah refleksi ini diterbitkan kembali dalam Sajogyo, Ekososiologi, Deidologisasi Teori, Restrukturisasi Aksi (Petani dan Pedesaan Sebagai Kasus Uji), (Francis Wahono [Ed.]) (Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, bekerjasama dengan Sains, dan Sekretariat Bina Desa, 2006).
11 Francis Wahono, “Pendahuluan: Teori Terbentuk karena Aksi”, dalam
Sajogyo, 2006,op.cit.,hal. 3.
12D. H. Penny,Hints for Research Workers in the Social Sciences, dikutip dari
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Kampto Utomo yang kemudian dikenal dengan “Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia” tidak pernah benar-benar belajar tentang sosiologi yang kala itu memang belum dikenal.13 Bekal
utama dalam memahami kehidupan masyarakat pedesaan selama kuliah terutama adalah dari kegiatan ekstrakurikuler. Ia pernah menjadi asisten mahasiswa yang bertugas di perpustakaan ju- rusan dengan tugas membaca dan membuat kartu berisi anotasi makalah penting dari berbagai majalah yang dilanggani. Penga- laman membuat bibliografi ini diakuinya sangat penting di dalam memberi peta awal pengetahuannya mengenai sosiologi.
Pengalamannya belajar turun lapangan di tengah masyarakat desa di Cibodas, Lembang, Bandung, juga memberi pengaruh mendalam. Secara sukarela dan berbiaya sendiri ia mendampingi H ten Dam, insinyur muda lulusan Universitas Wageningen Belanda. Di tengah masyarakat ini ia bergaul dan meneliti ten- tang buruh tani dan koperasi.14 Laporan penelitian ini menarik
perhatian Prof. W. F. Wertheim dari Universitas Amsterdam untuk mengajar di Indonesia, memilih menetap di UI Bogor dan bukannya UI Jakarta yang saat itu sedang merintis studi sosi- ologi.15
want to understand the economy of my country, study our culture and our political system; if you want to understand our culture and our political system, study our economy."
13Lihat perkembangan ilmu sosiologi di Indonesia dalam bab sebelumnya
(Bab IV). Pemahamannya tentang masyarakat desa dari teks diperoleh dari berlangganan majalah Currrent Antrhopology sejak tahun 1961 yang saat itu banyak mengulas tentang kehidupan desa, dan bukanCurrent Sociologyyang justru tentang perkotaan.
14 Hasil penelitian ini dapat dibaca dalam H ten Dam, “Cooperation and
Social Structure in the Village of Chibodas”, dalam W. F. Wertheim (Ed.),
Indonesian Economics: The Concept of Dualism in Theory and Practice(The Hague: W. van Hoeve, 1961), hal. 345-382. Ringkasan berbahasa Indonesia ada dalam Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo, Sosiologi Pedesaan, Kumpulan Bacaan Jilid 1
(Yogyakarta: GMU Press, 2005). Kajian mutakhir tentang Cibodas dilakukan oleh Slamet Widodo, “Struktur Sosial Masyarakat Desa: Cibodas Dari Masa Ke Masa”, lihat, www.learning-of.slametwidodo.com/?p=76, diakses tanggal 1 Februari 2008.
15 Pengakuan W. F. Wertheim kepada Sajogyo melalui surat pribadi,
Ahmad Nashih Luthfi
Pengalaman mendampingi penelitian H ten Dam di Cibodas semasa kuliah Sajogyo ini memberinya perhatian pada lapisan paling bawah dalam masyarakat tani. Jika aliran Tim MIT dalam dekade yang sama memunculkan nama samaran Mojokuto de- ngan pendekatan antropologi interpretatif ala Clifford Geertz, maka kelompok H ten Dam ini memunculkan nama desa Cibo- das tanpa embel-embel nama samaran, melalui pendekatan sosio- logis. Desa itu bisa dikunjungi sesuai dengan nama aslinya se- hingga realitas diferensiasi sosial sebagaimana yang digambarkan dalam penelitian itu dapat dikonfirmasi langsung ke lokasi ter- sebut. Sementara strategi “pseudonym” mengandung resiko bah- wa realitas yang digambarkan adalah rekonstruksi “di atas ker- tas” terlebih dengan pendekatan interpretatif yang mengandung bias subyektif peneliti. Selain itu, temuan riset dengan gaya tera- khir ini jarang dan sulit untuk memberi efek politik dan kebija- kan, sebagaimana yang diharapkan dalam riset-riset sosiologi. Sa- yang sekali nama Cibodas kalah populer dibanding nama “Mojo- kuto” dalam sejarah ilmu sosial (antropologi) Indonesia. Ia men- jadisocially and politically insensibledalam wacana ilmu sosial.
W. F. Wertheim mengulas lebih tajam hasil penelitian Cibo- das ini. Jika hasil Tim MIT menyajikan kecenderungan yang sa- ma: meremehkan signifikansi perbedaan kelas; maka hasil riset Cibodas telah mampu menunjukkan perbedaan tajam antara dua kategori: petani independen dan buruh tani. Sekitar 13% petani menguasai lebih satu hektar tanah atau 83% dari total kepe- milikan tanah di wilayah itu. Sementara buruh tani yang berjum- lah 87% dari populasi menguasai 18% lahan. Program koperasi dan penyuluhan dengan berbagai paket bantuannya tidak menjangkau mayoritas massa ini. Massa terbesar ini tetap “dalam kegelapan”. Menyikapi program pemerintah yang ada, massa rakyat ini mengungkapkan dengan istilah “melarangmelulu”.16
Dalam kegiatan kemahasiswaan, Kampto Utomo aktif di Masyarakat Mahasiswa Bogor (MM[B]). Dalam kenangan 16 W. F. Wertheim,Elite vs Massa(Yogyakarta: Resist dan LIBRA, 2009),
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria sahabat, murid, dan koleganya, Gunawan Wiradi, ia dikenal “keras kepala” dalam mempertahankan pendapatnya, semisal ketika dalam rapat organisasi. Meski demikian, ia menghargai perbedaan pendapat yang disampaikan yuniornya.
Masyarakat Mahasiswa merupakan organisasi hasil fusi pada tahun 1953 antara berbagai Persatuan Mahasiswa (Persatuan Mahasiswa Bogor, Persatuan Mahasiswa Bandung, dan Persatuan Mahasiswa Djogdja) dengan berbagai Corps/Concentrasi Maha- siswa (Corps Mahasiswa Bogor, Corps Mahasiswa Bandung, dan Concentrasi Mahasiswa Djogdja).17 Dalam organisasi MMB
inilah Kampto Utomo ikut membidani lahirnya Senat Mahasiswa UI di Bogor.
C. Asistensi pada K. J. Pelzer dan W. F. Wertheim: Kesem-