• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa-Masa Perumusan BPUPK/PPK 1945

LATAR BELAKANG SEJARAH

A. Pendidikan dari Masa ke Masa

1. Masa-Masa Perumusan BPUPK/PPK 1945

Masuknya gagasan pendidikan ke dalam UUD 1945 ti-dak terjadi begitu saja. Ada sebuah proses dan kondisi yang menjadi pertimbangan penting bagi para pendiri negara untuk memasukkan pendidikan dalam dasar negara. Namun, catatan sejarah yang memuat proses pentingnya pendidikan da lam penyeleng garaan pemerintahan negara ini tidak banyak ter-tulis secara mendetail.

Pada notulasi sidang hari pertama, 29 Mei 1945, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), pidato Soerio memberikan informasi penting ten tang gagasan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indone sia ke depan. Dalam pidatonya, Soerio menyampaikan tiga syarat yang harus dipenuhi untuk menuju kepada dasar kemerdekaan Indonesia, yaitu:

a. Kuat dan Santosa. b. Subur dan Makmur. c. Suci Abadi.3

3 RM.A.B Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945, (Depok: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hlm. 107. Dalam buku Muhammad Yamin, hanya terdapat satu pidato yang disampaikan pada 29 Mei 1945 yaitu pidato Muhammad Yamin. Lihat, Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang

Uraian syarat yang ketiga, yaitu kata suci abadi, meru-pa kan ungkameru-pan yang memberikan perhatian penting bagi pendidikan bangsa Indonesia. Menurut Soerio, suci abadi berarti harus berdasarkan persatuan lahir dan batin. Perasaan persatuan tidak dapat diberikan atau diperintahkan, tetapi ha-rus timbul dan tumbuh. Namun, untuk mengubah perasaan bagi orang-orang dewasa sudah sukar. Jadi proses perubahan harus dimulai dari anak-anak. Usaha-usaha yang praktis untuk mencapai suci abadi ini menurut usulan Soerio adalah sebagai berikut.

a. Semua sekolahan, mulai rendah hingga tinggi harus dipersatukan: artinya, dijadikan sekolah Indonesia; jangan masih ada sekolah Jawa, Tionghoa, Arab dan sebagainya. Perlu upaya didikan pengajaran dapat dipersatukan dalam asas dan tujuannya.

b. Pada semua sekolahan, mulai rendah hingga ting gi, harus digabungkan internat atau asrama, di ma na anak-anak muridnya dapat mengolah adat lem baganya serta tekadnya yang terpimpin. Hal ini kami pandang amat perlu sekali guna mencepatkan tercapainya persatuan perasaan dan tujuan, karena kita mengakui, betapa besar pengaruh rumah-tangga dan kampung, di atas jiwa anak-anak yang masih mur ni itu. Meskipun sekali-kali ta’ menacat, akan te tapi merasa bahwa persatuan tujuan tentu tidak akan lekas tercapai, apabila anak-anak murid masih setiap hari pulang ke rumahnya masing-masing. Da lam asrama itulah nanti akan terjadi penanaman semangat seperti kita cita-citakan dengan gampang dan cepat. Pun soal agama akan terkupas pula dalam hidup di asrama situ karena pengaruh dari luar akan menjadi tiada.

c. Juga harus diciptakan nama-nama baru buat anak-anak dalam asrama tersebut, nama persatuan Indo nesia di samping nama lamanya. Ini adalah suatu usaha yang praktis guna mencepatkan datangnya per satuan perasaan tersebut. Karena kita tahu, bah wa nama Sudibyo senantiasa mengingatkan yang me ma kainya kepada kebangsaannya

Jawa; na ma lama Liem Siem Hok kepada kebangsaannya Tionghoa dan sebagainya.4

Begitu juga dalam pidato yang disampaikan oleh Soesanto Tirtoprodjo yang menyatakan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari sokoguru bagi negara Indonesia merdeka. Me-nurut Soesanto, sokoguru negara Indonesia merdeka adalah sebagai berikut.

a. Pemerintahan yang sesuai dengan kehendak rakyat. Ini berarti harus adanya Badan Perwakilan Rakyat atau Parlemen.

b. Badan Kehakiman yang satu untuk segenap pen du duk dan bebas dari pengaruh Badan-Badan peme rintahan c. Perekonomian yang teratur dan terbatas menurut

kebutuhan masyarakat, ini berarti membuang pendi rian

liberalisme.

d. Pendidikan rohani dan jasmani seluas-luasnya de ngan menjauhkan sifat-sifat intellectualisme dan ma te rialisme.5

Peserta lain yang memberikan perhatian terhadap pendi-dikan adalah Roosseno. Dalam rapat BPUPK tersebut, Roosseno menyampaikan kelemahan-kelemahan masyarakat dalam mem-buat persiapan dan rancangan yang sistematis dan rasional. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah (1) dalam lapangan pendidikan dan pendidikan umum serta (2) dalam lapangan perekonomian, teknik, dan politik internasional. Dalam pidatonya, dia juga mengusulkan supaya pendidikan diurus oleh satu badan seperti Jawa Hookokai.6 Hal ini dilakukan demi

4 Dari laporan stenograis Sidang Hari Pertama tanggal 29 Mei 1945, sedangkan lapo� ran notulen lebih singkat lagi. Lihat Ibid., hlm. 107—109.

5 Ibid., hlm. 112. Pidato Soesanto Tirtoprodjo ini juga tidak terdapat pada buku Muham� mad Yamin.

6 Jawa Hookokai (Perhimpunan Kebaktian Jawa). Organisasi ini didirikan pada 1944 oleh Panglima Tentara Keenambelas Jepang, Jenderal Kumakici Harada. Organisasi

Jawa Hookokai merupakan organisasi resmi pemerintah. Susunan organisasi Jawa Hookokai merupakan lembaga yang integral dengan tubuh pemerintah. Anggota orga�Anggota orga� nisasi ini terdiri dari bangsa Indonesia, pegawai negeri Jepang. Bagi bangsa Jepang yang bukan pegawai negeri, bangsa Cina dan Eropa yang ingin masuk sebagai anggo� ta harus terlebih dahulu diteliti. Struktur organisasi Jawa Hookokai terdiri dari pusat dan daerah. Pengurus pusat mempunyai tiga bagian, yaitu bagian pendidikan, ba� gian usaha, dan bagian umum. Di tingkat pusat ini anggotanya terdiri dari bermacam� macam hookokai, para guru masuk dalam wadah Kyoiku Hookokai (Kebaktian para Pendidik), Izi Hookokai (Kebaktian para Dokter), Fujinkai (organisasi wanita), Keimin

persatuan bahasa dan persatuan negara yang harus menjadi dasar Indonesia Merdeka.7 Pendapat Roosseno ini kemudian dipertegas oleh M. Aris dengan ungkapan yang singkat dan penuh semangat, ”Pendidikan pemuda harus mendapatkan perhatian yang istimewa. Pendidikan teknik supaya diperluas dan diperdalam.”8

Pada sidang hari kedua 30 Mei 1945, A. Rahchim Pratalykrama menyampaikan delapan butir penting, termasuk masalah pendidikan dengan menekankan kewajiban belajar. Delapan hal tersebut sebagai berikut.

(1) Negara Indonesia: Kepala dipilih rakyat, punya Per-dana Menteri dan Kebinet; (2) Badan Perwakilan Rakyat: Majelis Luhur dan Majelis Rendah, yang anggotanya dipilih rakyat; (3) Keluar: Satu Negara di dalam: Beberapa daerah pemerintahan dan kota-kota yang masing-masing otonomi dengan tunduk pada pimpinan Kepala Negara Indonesia; (4) Pembelaan: Milisi umum sebelumnya itu diadakan gemblengan bagi rakyat dijuken-juken sebagai sekarang, buat menimbulkan semangat berkorban buat tanah air; (5) Pendidikan: Kewajiban belajar;9

(6) Perekonomian: Ekonomi dalam arti seluas-luasnya perlu diperluas dan diperdalam dan di segala lapangan misalnya nasionalisasi dari perusahaan-perusahaan. Aturan-aturan hak tanah-tanah komunal dihapuskan, tanah erfpacht dan opstal

harus dikembalikan kepada rakyat via pemerintah; (7) Dasar Negara: persatuan rakyat sekokoh-kokohnya. Agama Islam 95% dari penduduk beragama dan Kepala Negara harus seorang Muslimin. Islam sebagai Agama Negara dengan kemerdekaan seluas-luasnya bagi penduduk untuk memeluk agama yang bukan Islam; dan (8) Permulaan pembangunan Negara harus Bunka Syidoosyo (Pusat Kebudayaan). Sedang di tingkat daerah hanya mempunyai dua bagian saja. Pada tahun 1944, dikeluarkan Osamu Seiri No. 22/2604 mengenai penertiban sekolah�sekolah swasta dan kebebasan untuk membuka sekolah�sekolah, baru diberikan kepada Jawa Hookokai. Lihat Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1975), hlm. 163�170.

7 Kusuma, Op. Cit, hlm. 115. 8 Ibid., hlm. 116.

minta bantuan kepada Dai Nippon berupa penasehat-penasehat Nippon dan lain-lain.10

Pada sidang hari ketiga pada 31 Mei 1945, pembicara pertama, Abdul Kadir, menyampaikan bahwa dasar-da sar pembentukan negara baru adalah (1) Persatuan; (2) Pendi dikan Rakyat; dan (3) Pembangunan untuk memajukan eko nomi yang sehat agar rakyat menjadi makmur.11

Selanjutnya, pada 1 Juni 1945 dalam Rapat Besar tentang Dasar Negara, Soekarno menceritakan negara-negara merde ka membangun negaranya, membentuk pemerintahan dan mengisi kemerdekaannya bersama masyarakat yang ma sih terbelakang. Dengan bahasa yang lugas dan kuat, Soekarno mengemukakan beberapa contoh negara yang merdeka, lalu mengajarkan masyarakatnya. Berikut ini petikan pidato Soekarno.

Bacalah buku Amstrong yang menceritakan tentang Ibnu Saud! Di situ ternyata bahwa Ibnu Saud mendirikan pemerintah Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibnu Saud dikasih makan gan dum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Tokh Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat Soviet Rusia! Pada masa Lenin men dirikan Negara Soviet, adakah rakyat Soviet sudah cerdas! Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik12 yang lebih daripada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang ter k enal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu mendirikan negara Soviet itu.

Ibnu Saud mengadakan satu negara di dalam satu ma lam, in one night only! Kata Amstrong dalam kitab nya. Ibnu Saud mendirikan Saudi Arabia merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riyad dengan 6 orang! Se su dah ”jembatan” itu diletakkan oleh Ibnu Saud, maka di se berang

10 Ibid., hlm. 120. 11 Ibid., hlm. 122.

jembatan, artinya kemudian daripada itu. Ibnu Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai no made yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibnu Saud ja ngan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok tanam.13

Sampai dengan masa reses sidang BPUPK pada 2 Juni hingga 9 Juli 1945, tidak ada lagi para pembicara yang mengemukakan pendidikan. Bahkan, selama masa reses, ketika ada pengumpulan usul-usul para anggota BPUPK yang digolongkan dalam 12 hal, tidak tercantum soal pendidikan. Begitu juga dalam rancangan undang-undang dasar sementara yang terdiri atas 18 pasal, sebagaimana yang disampaikan kepada Zimukyokutyoo dari Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai tanggal 15 Juni 1945, juga tidak terdapat ketentuan yang menyangkut pendidikan.

Pada rapat besar 10 Juli 1945 di gedung Tyuoo Sangi In, Soekarno sebagai Syusa melaporkan hasil kerja panitia

sembilan yang terdiri dari Soekarno, Hatta, Muh. Yamin,

Maramis, Wachid Hasjim, Soebardjo, Kiai A.K. Muzakkir, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Haji Agoes Salim untuk meru-muskan dengan baik satu rancangan pembukaan hukum da sar. Rumusan tersebut merupakan hasil persetujuan antara pi hak Islam dan pihak kebangsaan. Bunyi rumusan tersebut adalah sebagai berikut.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak sega la bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantar Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan

dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya ber ke hidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian da ripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap Bangsa In do nesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan un tuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban du nia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan ke-bangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Da sar Negera Indonesia yang terbentuk dalam suatu susu nan negara Republik Indonesia, yang menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut da sar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan ser ta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.14

Hasil rumusan pembukaan hukum dasar, yang kemudian dikenal sebagai ”Piagam Jakarta” tersebut memang tidak seca ra eksplisit menyebut kata pendidikan atau pengajaran, tetapi ada ungkapan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai sa lah satu tujuan nasional yang mempunyai makna tentang pen t ing nya pendidikan untuk mencapai tujuan terse but. Na mun, terdapat sebuah dokumen penting, yang tidak banyak ter publikasikan, tentang pasal pendidikan. Dokumen tersebut berupa draf awal atau rencana permulaan dari ”Undang-Undang Dasar Negeri Indonesia” yang terdiri dari 11 bab dan 74 pasal.15 Dalam dokumen tersebut, ketentuan pendidikan tertulis sebagai berikut.

14 Ibid., hlm. 154.

15 Rancangan Undang�Undang Dasar ini merupakan rancangan Mr. Supomo, Subardjo dan Maramis tertanggal 4 April 1942, seperti didapat dalam naskah peninggalan Prof. Dr. Mr. R. Supomo. Lihat, Op.Cit., hlm. 550�569.

BAB VIII PENGAJARAN

Pasal 68

Pengajaran adalah hal yang senantiasa diperhatikan oleh Pemerintah.

Semua badan-badan pengajaran harus di bawah pe nga-mat-amatan negeri dan harus diatur olehnya.

Pemerintah harus mendirikan dan mengusahakan suatu cara pengajaran yang lengkap dan laras, yang ditetapkan oleh undang-undang.

Semua sekolah-sekolah harus membantu menumbuhkan rasa cinta pada tanah air, sebagai anggota keluarga bangsa-bangsa Asia, yang bekerja bersama-sama dan menuju kesejahteraan bersama mengajarkan kewajiban-kewajiban penduduk negeri.

Pada saat Rapat Besar Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, 13 Juli 1945, dibacakan sebuah rumusan pertama Undang-Undang Dasar. Rumusan pertama mengenai pen di dikan berjudul “Tentang Pendidikan” terdapat pada Pasal 31 serta terdiri atas dua ayat, yang berbunyi sebagai berikut.

Tentang Pendidikan Pasal 31

1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat penga jar an. 2) Pemerintah harus mendirikan dan mengusahakan satu

sistem pengajaran nasional yang lengkap dan laras, yang diatur dengan undang-undang.

Namun dalam rapat pada 14 Juli 1945 rumusan tersebut telah mengalami beberapa perubahan. Perubahan-perubahan itu terdapat pada penggunaan kata Bab, yang sebelumnya tidak ada, dan pendidikan masuk pada bagian Bab XII. Judul ”Tentang Pendidikan” diganti menjadi Pendidikan saja, sedangkan pasalnya yang semula terdapat pada Pasal 31 bergeser

menjadi Pasal 30. Hal itu terjadi karena Pasal 14 yang berbunyi

Presiden menetapkan pembikinan uang dihapuskan. Isi dari ayat dua mengalami perubahan karena kata harus dan mendirikan

dihapus, lalu ditambah kata menyelenggarakan, serta dihapus pula kelompok kata yang lengkap dan laras. Bunyi lengkap hasil perubahan tersebut sebagai berikut.

BAB XII PENDIDIKAN

Pasal 30

(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu

sistem pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-Undang.

Setelah terjadi pembahasan pada 15 Juli 1945, bab ten tang pendidikan mengalami perubahan lagi. Pada suatu pem ba hasan dalam sidang tersebut, sebuah uraian panjang yang disampaikan Soepomo sedikit menyinggung pasal pendi-dikan. Menurut Soepomo, dimasukkannya pasal pengajaran dalam Undang-Undang Dasar tujuannya adalah untuk menye-lenggarakan sistem pengajaran dan untuk memajukan negara dan masyarakat, sehingga setiap warga negara hendaknya mendapatkan pengajaran sebab pendidikan meru pakan hak-hak dasar seseorang (grondrechts). Selanjutnya, segala undang-undang dan terutama undang-undang dasar adalah hasil keadaan history, (suatu) keadaan negara pada waktu membentuk undang-undang dasar tersebut.

Pada hari itu juga, Mr. Yamin secara umum mengkritisi

Rancangan Undang-Undang Dasar yang ada, salah satunya

adalah persoalan sistematikanya. Menurut Mr. Yamin, su sunan

atau sistematik yang diturut Rancangan Undang-Undang Dasar hasil perubahan kedua tersebut ”tidak teratur” dan sistematika

yang dipakai ini ”melanggar tertib hukum”. Untuk itu, Yamin

I. Kelengkapan Umum

II. Perlindungan kemerdekaan dan kewajiban putra negara III. Badan Kekuasaan yang enam dalam pusat pemerintah:

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat 2. Dewan Perwakilan

3. Presiden dan Wakil Presiden 4. Majelis Pertimbangan 5. Kementerian

6. Balai Agung IV. Pemerintah daerah

V. Pendidikan dan Pengajaran VI. Perubahan Undang-Undang Dasar

Pada rapat besar 16 Juli 1945, rancangan Undang-Undang Dasar yang ketiga telah menampilkan pendidikan pada Bab XIII Pasal 31. Namun, isi dari pasal ini tidak ada perubahan sama sekali.

Pada sidang 17 Juli 1945, Subpanitia Pendidikan dan Pengajaran Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPK) yang terdiri atas Ki Hajar Dewantara sebagai Ketua, dengan anggotanya Prof. Dr. Husein Jayadiningrat, Prof. Dr. Asikin, Prof. Ir. Roosseno, Ki Bagus Hadikusumo, dan K.H. Mas Mansur, telah berhasil merumuskan Garis-Garis Besar Soal Pendidikan dan Pengajaran untuk diserahkan kepada Gunseikan Kakka pada 18 Juli 1945. Isi lengkap Garis-Garis Besar Soal Pendidikan dan Pengajaran tersebut adalah sebagai berikut:

I. Dengan Undang-Undang berkewajiban belajar, atau peraturan lain, jika keadaan suatu daerah me maksanya, Pe me rintah memelihara pendidikan dan kecerdasan akal budi untuk segenap rakyat dengan cukup dan sebaik-baiknya, seperti ditetapkan Un dang-Undang Dasar, Pasal 31.

II. Dalam garis-garis adab kemanusiaan, seperti terkan dung di dalam segala pengajaran agama, maka pen didikan dan pengajaran nasional bersendi pada aga ma dan kebudayaan

bangsa serta menuju ke arah kese lamatan dan kebahagiaan masyarakat.

III. Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia selu ruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai pun-cak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi de ra jat kemanusiaan bangsa Indonesia. IV. Untuk dapat memperhatikan serta memelihara

ke-pentingan-kepentingan khusus dengan sebaik-baik nya, teristimewa yang berdasarkan agama dan atau kebudayaan, maka pihak rakyat diberi kesempatan yang cukup luas untuk mendirikan sekolah-sekolah partikelir, yang penyelenggaraannya, seba gian atau se penuhnya, boleh dibiayai oleh Pemerintah. Penga wasan dari Pemerintah atas usaha sekolah-sekolah par tikelir itu, hanya mengenai syarat-sya rat untuk men jamin kebaikan pelajaran dan ketenteraman umum.

V. Tentang susunan pelajaran pengetahuan umum ha rus dite-tapkan suatu daftar pengajaran sedikit-di kitnya (minimum

leerplan), yang menetapkan luas-tingginya pelajaran penge-tahuan dan kepan dai an umum, serta pula pendidikan budi pekerti, ter istimewa pendidikan semangat bekerja, kekeluar ga an, kebaktian, cinta tanah air, serta keprajuritan. Syarat-syarat itu diwajibkan untuk semua sekolah, baik kepunyaan negeri maupun partikelir.

VI. Susunan sekolah diatur sebagai berikut:

1. Mulai tingkatan sekolah rakyat sampai tingkatan sekolah menengah tinggi diadakan sekolah penge tahuan umum dan sekolah kepandaian khusus (vakschool).

2. Untuk murid-murid yang tidak akan meneruskan pelajarannya, maka tiap-tiap sekolah rakyat di adakan kelas sambungannya, yaitu ”kelas ma sya rakat” untuk mengajarkan permulaan ke pan daian khusus yang sesuai dengan alam dan masyarakat di tempat kedudukan sekolah masing-masing, (pertanian di desa-desa, perdagangan dan pertukangan di dalam kota, pelajaran dan perikanan di keliling pantai dan seba gainya), dan pelajaran ilmu kemasyarakatan yang praktis.

3. Tiap-tiap sekolah pengetahuan umum mem punyai hu-bungan lanjutan dengan sekolah kepandaian khusus. 4. Sekolah-sekolah menengah dan menengah tinggi dibagi

menjadi Bagian A (dari Alam) dan Bagian B (dari Budaya), untuk menyesuaikan pengajaran dengan pembawaan anak-anak murid.

5. Pada sekolah-sekolah menengah atau menengah tinggi putri daftar pelajarannya yang mengenai pengetahuan umum, sama dengan daftar pela jaran sekolah yang sejenis untuk anak-anak laki-laki.

6. Lamanya belajar di masing-masing tingkatan seko lah (pertama, rakyat, menengah dan mene ngah tinggi) ialah 3 tahun.

7. Tentang sekolah-sekolah khusus, yakni sekolah ke pandaian (vakschool), maka untuk segala ke pen tingan masyarakat dan kebudayaan harus di adakan sekolah-sekolah khusus yang cukup. Misal nya, sekolah-sekolah tani, pertukangan, tek nik dan sebagainya: juga sekolah-sekolah ke su sasteraan, musik, pelukis, ukir-ukiran, dan sebagainya.

8. Sekolah-sekolah untuk mendidik guru-guru ha rus di-pen tingkan. Bahkan, untuk di-pengluasan di-pen didikan dan pengajaran yang sehebat-hebatnya, harus diadakan usaha-usaha mendidik guru de ngan secara kilat. Baik untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah gu ru biasa, maupun untuk pendidikan guru seca ra kilat, maka kegiatan rakyat

dengan sekolah-se ko lah partikelir harus dipergunakan sebaik-baiknya.

9. Untuk dapat tenaga-tenaga pemimpin penyeleng gara segala kewajiban negeri dan masyarakat yang penting-penting, maka harus diadakan uni versiteit dan atau sekolah-sekolah tinggi yang cukup; jangan dilupakan sekolah-sekolah tinggi untuk keprajuritan.

10. Biaya belajar harus serendahrendahnya, dengan pem be -basan uang belajar untuk mereka yang tidak mampu. VII. Tentang pelajaran bahasa dan kebudayaan, dengan mengingat

Pasal-Pasal 32 dan 36 Undang-Undang Dasar dan Pasal III dalam Garis-Garis Besar ini sebagai berikut:

1. Bahasa Indonesia diajarkan dengan cukup di segala sekolah di seluruh Indonesia dan dipakai sebagai bahasa perantaraan, mulai di sekolah rakyat sampai di sekolah tinggi.

2. Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sen diri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik, diwajibkan mengajarkan bahasa per satuan mulai kelas 3 pada sekolah pertama, dengan jaminan akan cukup pandainya anak-anak dalam bahasa Indonesia, bila mereka tamat belajar di sekolah-sekolah rakyat.

3. Bahasa Nippon sebagai bahasa asing yang ter pen ting di

Dokumen terkait