BAB III BIOGRAFI IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM SYAFI’I.….32-50
B. Biografi Imam Syafi’I………….……………………………………..41-50
4. Masa Mencari Ilmu
Imam Abu Hanifah pada awalnya hanya fokus pada profesinya sebagai seorang pedangan beliau jarang menemui ulama’ dan sering kepasar untuk berdagang, dan suatu ketika ada seorang ulama yang mengetahui kejeniusan dan kecerdasan Abu Hanifah maka ulama’ itu pun tidak mau Imam Abu Hanifah menghabiskan waktunya tersebut hanya untuk berdagang saja, maka dia menasehati
52Abdul Aziz Asy-Syinawi, Biografi Empat Imam Mazhab, terj. Abdul Majid dan Arif Mahmudi (Cet I; Jakarta: Ummul Qura, 2016), h. 22.
Imam Abu Hanifah agar sering pergi berguru kepada ulama’ sebagaimana beliau sering pergi ke pasar untuk berdagang.53
Ada yang pernah meriwayatkan perihal Imam Abu Hanifah, dia berkata, “aku bertemu dengan seorang Imam Asy-Sya’bi yang sedang duduk lalu dia memanggilku dan berkata kepadaku. “kemana kamu biasanya pergi?” dan dia menjawab, “aku biasa ke pasar” dan berkata lagi, “ yang saya maksud bukan ke pasar tetapi bertemu dengan ulama’?” dan saya menjawab, “ jangan kamu lakukan itu, saya melihat dalam dirimu ada bakat dan kemampuan yang besar untuk mencari ilmu dan berguru dengan ulama’. Pada saat itu Imam Abu Hanifah berkata, “saya merasa terbawa dengan ucapannya dan saya bergegas untuk tinggalkan pasar untuk mencari ilmu, kemudian Allah memberiku nasehat dan manfaatnya.54
Imam Abu Hanifah sudah fokus berguru kepada ulama’dan sangat jarang pergi ke pasar setelah mendapat nasehat dari Asy-Sya’bi, tetapi hal itu tidak berarti beliau meninggalkan profesinya secara total, Imam Abu Hanifah sembari menjalangkan profesinya sebagai pedagang beliau pun berusaha keras memahami nash, menetapkan kaidah dan menetapkan suatu hukum. Pada saat itu beliau mengunjungi halaqah-halaqah ulama’ di Masjid Kufa yang terdiri dari ilmmu kalam, halaqah hadist, halaqah fikih dan halaqah Al-quran, kemudian setelah itu beliau mendatangi halaqah ilmu kalam di Masjid Bashrah, dalam halaqah tersebut diisi dengan perdebatan yang sengit yang membangkitkan semangatnya sebagai anak muda.
53Abdul Aziz Asy-Syinawi, Biografi Empat Imam Mazhab, h. 25-27.
54Rasyad Hasan Khalil, Tarikh Tasyri Al-Islami, terj. Nadirsyah Hawari, (Cet. I; Jakarta: Amzah, 2009), h.173.
Imam Abu Hanifah mengetahui bahwa salafusaleh adalah kelompok yang sangat mengetahui tentang dasar-dassar aqidah, mereka pun tidak pernah mendebatkanya, itu artinya bahwa perdebatan merupakan sesuatu yang sama sekali tidak mengundang kebaikan, sehingga beliau mempelajari ilmu agama yaitu Al-quran dan Hadist. Imam Abu Hanifah setelah setelah berguru di Kufa dan Bashrah beliau kembali ke kampung halamannya untuk berkonsentrasi mengikuti halaqah-halaqah fikih untuk membahas masalah-masalah baru dan mempelajari aturan-aturan untuk menetapkan suatu hukum.55
5. Guru-guru Abu Hanifah
Menurut sebagian dari para ahli sejarah bahwa Abu Hanifah belajar ilmu fikih dari Ibrahim, Umar, Ali, ibnu Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas, sehingga Abu Hanifah terkenal sebagai seorang ahli fikih dan tauhid, diantara para guru yang mengajarinya yaitu Hamid bin Abu Sulaiman Al-Asya’ari, ia begitu banyak memberikan pelajaran kepada Abu Hanifah, sehingga Abu Hanifah begitu menguasai bidang ilmu fikih dan tauhid berkat gurunya.
Setelah Hamid meninggal dunia Abu Hanifah melanjutkan untuk mengajar ilmu fikih menggantikan gurunya. Pada masa itu Nama Abu Hanifah terkenal ke seluruh negeri, untuk mengenang kepada jasa-jasa gurunya.
Abu Hanifah pun mempelaji ilmu tajwid dari gurunya yaitu Idris bin Asir seorang yang mengguasai ilmu tajwid, Abu Hanifah juga sangat terkenal sebagai orang yang sangat terlatih dalam mengikuti kaidah qias, kaidah ini pun berkembang sebagai salah satu dasar hukum Islam.
Abu Hanifah menggantikan gurunya yang sedang bepergian, pada masa itu Abu Hanifah menggantikan gurunya Abu Hanifah menerima banyak perrtanyaan yang diajukan kepadanya, dan beliau pun menjawab pertanyaan tersebut, dan seketika gurunya sudah pulang dari pengembaraanya, Abu Hanifah pun meminta pada gurunya untuk memeriksa jawaban yang sudah dijawab dari pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan gurunya menyetujui hanya empat puluh dari enam puluh jawaban yang telah dijawabnya, setelah gurunya itu meninggal dunia, beliau menggantikan kedudukan gurunya, dan murid-murid gurunya yang lain datang pada Abu Hanifah untuk belajar.
6. Murid-murid atau pengikut Abu Hanifah
Abu Yusuf Ya’akub Al-Ansari adalah beberapa diantara murid dari Abu Hanifah yang terkenal sebagai seorang yang menguasai bidang ilmu fikih berkat pengarahan dan bimbingan dari Abu Hanifah, dia diangkat menjadi kadli semasa Khalifah Rasyid pada masa pemerintahan Abasiyyah, adapun karyanya yaitu
Al-Kharaj, Al-Athar dan juga kitab Arras a’la siari al-Auzali.
Diantara murid Abu Hanifah yang lain yaitu Al-Hasan Zaid Al-Lu’lu, dia menjadi kadli di kota Kufa, kitab karangan Al- Hasan Zaid Al-Lu’lu yaitu Al-Qadhi, Al-Khisal, Ma’ani Al-iman, Nafakat, Al-Kharaj, Al-Fara’idh, Al-Wasaya dan yang terakhir yaitu Al-Amani, dan murid Abu Hanifah yang lain yaitu Al-Hazail, dia tidak banyak mengarang buku, melainkan dia lebih banyak memberikan pelajaran secara lisan.
Mazhab Abu Hanifah dikenal walaupun Abu Hanifah sendiri tidak banyak mengarang sebuah kitab, tetapi dikarenakan muridnya yang banyak menulis kitab
untuk mazhabnya terutama muritnya yang bernama Abu Yusuf Muhammad dan yang lainnya.56
Mazhab Hanafi pada masa Khilafah Bani Abbas merupakan mazhab yang banyak dianut oleh umat Islam dan pada pemerintahan kerajaan Utsmani, mazhab ini merupakan mazhab resmi Negara, Para pengikut Abu Hanifah banyak terpencar diberbagai Negara seperti Irak, Turki, Asia Tengah, Pakistan, India, Tunis, Turkistan, Syria, Mesir dan Libanon.
Imam Abu Hanifah memiliki manhaj sendiri dalam meng-istimbat hukum. Beliau pernah berkata , “saya mengambil dari kitab allah, jika tidak ada maka dari Sunnah Rasulullah, dan apabila tidak ada pada keduanya maka saya akan mengambil pendapat para sahabat, saya memilih salah satu dari pendapatnya dan meninggalkan pendapat yang lain, dan saya tidak akan keluar dari pendapat mereka dan mengambil pendapat orang lain, dan jika sudah sampai kepada pendapat Ibrahim, Asy- Sya’bi, Al-Hasan, Ibnu Sirin dan sa’id Al-Musayyid maka saya akan berijtihad seperti mereka berijtihad.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa manhaj imam Abu Hanifah dalam meng-instimbat hukum yaitu sebagai berikut:
a. Al-Quran b. Sunnah
c. Pendapat sahabat d. Ijma’
e. Al-‘urf (adat istiadat).57
56Ahmad Asy-Syurbasi, Sejara dan Biografi Empat Mazhab (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h. 17-18.
7. Dasar Mazhab Imam Hanifah
Metodeh Ijtihad Imam Abu Hanifah dalam mengambil hukum-hukum fikih adalah seperti yang dinyatakannya sendiri: saya kembalikan persoalan kepada kitab, apabila saya tidak menemukan jawaban hukum dari kitab maka saya merujuk pada sunnah Nabi Saw dan apabilah saya tidak menemukan jawaban dari kitab dan sunnah Nabi Saw maka saya pun akan mengambil pendapat dari para sahabat Nabi dan tidak berpindah pada fatwa lain selain yang keluar dari mereka. Apabila masalah itu suudah sampai kepada Ibrahim, Asy’ Sya’bi, Al-Hasan, Ibnu Sirin, dan Saad bin Musayyab mereka semua merupakan seorang Tabi’in, maka saya akan berijtihad sama halnya dengan mereka berijtihad. Ringkasnya kajian fikih dan kajian rasional berkembang melalui Abu Hanifah dan para sahabatnya dan para fuqaha Irak maka mucullah perkembangan dan kemajuan baru dalam bidang fikih.58
8. Karya Imam Hanifah
Perkataan atau pikiran dari Imam Abu Hanifah yang berkaitan dengan masalah hukum agama, yang dihimpun oleh para sahabat dan murid terdekat Imam Abu Hanifah dan diampur dengan perkataan-perkataan dan pendapat mereka masing-masing dengan mazhab Imam Hanafih, masalah yang bertentangan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dengan para sahabat dan murid hanya memiliki sedikit pendapat yang bertentangan.
Kitab yang berisi masalah-masalah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hanifa dan para sahabatnya yang terkenal seperti Imam Abu Yusuf dan yang lainnya adalah
57Achmad Musyahid Idrus, Pengantar Memahami Mazhab (Cet. I; Gowa: Pusaka Almaida, 2017), h. 177-179.
58Abdul Wahab Kholaf, Sejarah Fikih Islam, terj. Fadlil Sa’id An-Nadwi, (Surabaya: Al-Hidayah, 1422H), h. 171-172.
Masailul Ushul atau biasa dinamakan dengan Dhahirur riwayah kitab ini berisi
masalah-masalah keagamaan, yang sudah dikatakan dan diterapkan oleh beliau kemudian disatukan dengan pendapat dari para sahabat Imam Abu Hanifah yaitu Imam Abu Yusuf dan yang lainnya. Sementara itu Imam Muhammad bin Hasan mengumpulkan “Masa ilul ushul” ke dalam enam kitab Dhahirur Riwayah, diantaranya yaitu:
1. Kitab Al-Mabsuth
2. Kitab Al-Jami’us Shaghir 3. Kitab Al-Jami’ul Kabir 4. Kitab As-Sairush Shaghir 5. Kitab As-Sairul Kabir dan 6. Kitab Az-Ziyadat.
9. Wafatnya Imam Hanifah
Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 153 H, tetapi yang benar adalah pendapat yang pertama yaitu tahun 150 H, dan Imam Abu Hanifah dimakamkan di Bagdad.59 B. Biografi Imam Syafi’i
1. Riwayat Hidup
Nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin al-Syafi’i. imam Syafi’I dilahirkan pada tahun 150 H, di kota Ghaza yang terletak di utara Sina dan selatan Palestina, dan beliau wafat pada tahun 204 H. ada beberapa ulama mengatakan bahwa imam Syafi’I dilahirkan tepat pada hari wafatnya Imam Abu Hanifah. Kedua orang tua imam Syafi’I merupakan keturunan Arab, ayahnya
meninggal ketika imam Syafi’I masih dalam susuan. Sedangkan ibu imam syafi’I dengan penuh susah payah merawat dan membesarkan imam Syafi’I dalam keadaan yang sangat sederhana.
ketika beliau berumur 7 tahun, beliau sudah hafal al-Quran 30 juz Hafal al- Muwatha’ Imam Malik dalam usia 10 tahun kemudian mempelajari Fikih lewat Syeikh Muslim bin Kholid aal-Zanjiyi. Selain itu, beliau ia juga banyak menghafal syair-syair Arab. Syafi’I mendalami al- Muwatha’ dan berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas di madinah sampai ia menguasainya. Lalu Syafi’i pindah ke kota Irak untuk mempelajari Fikih Hanafi pada tahun 184 H.
Proses untuk menuntut ilmu yang begitu lama membawa hasil yang maksimal dengan dinobatkannya sebagai ulama besar yang memiliki kewenamgan dan mutu yang tinggi untuk menetapkan hukum atas berbagi masalah yang dihadapi umat pada waktu itu. Kedudukaannya sebagai ulama semakin diakui dan terus berlanjut, Ijtihad- ijtihadnya dituangkan dalam sebuah buku Al-Kitab al-Baghdadi, karena ijtihad-ijtihadnya tersebut tidak semuanya sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada pada waktu itu, ia kemudian berfikir untuk melakukan perjalanannya dalam usaha untuk mendirikan sekolah yang mengutamakan pada persoalan yang berkaitan dengan fikih, dan mengajarkan mazhab baru dengan mengganti ijtihad-ijtihad lama yang pernah disampaikan sewaktu di Irak. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada di Mesir, kemudian beliau mengumumkan bahwa yang baru pun termasuk dalam mazhabnya.
Imam Syafi’i dan perumusan hadis yang pertama kali muncul sebagai sistem pemikiran tentang hukum Islam adalah aliran al-ra’yu, aliran al-ra’yu itu berkembang di Mesopotamia yang menjadi pusat pemerintahan dan perdaban Islam
pada saat itu di kota Bagdad, aliran al-ra’yu ini diwakili oleh Abu Hanifah pendiri mazhab Hanafi yang oleh sebagian kalangan sarjana-sarjana Hijaz diklaim tidak menghiraukan hadis, namun kenyataannya tidaklah seperti itu, karena diketahui Abu Hanifah sendiri memiliki kumpulan hadis. meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa mazhab Hanafi menggunakan metode pemahaman hukum yang lebih rasional, sehingga banyak yang mencamtumkan ke dalam kelompok al-ra’yu. bertepatan dengan hal itu perhatian besar terhadap al-Sunnah itu ditunjukkan oleh penduduk Madinah yang bernama Malik bin Anas, dan ternyata Imam Malik sendiri yang pernah berguru pada Rabi’ah bin Farukh yang menganut aliran al-ra’yu. namun Malik bin Anas lebih banyak mengambil ilmu yang sehubungan dengan hadis, bukan aliran ra’yu-nya.
Imam Syafi’i seakan-akan muncul diantara keduanya, Hanafi dan Maliki. Imam syafi’I pernah berguru pada imam Malik pendiri mazhab Maliki dan pernah juga pernah menuntut ilmu pada imam al-Syaibani penganut mazhab Hanafi, pengalaman itu yang memberikan kesan tersendiri dalam mengembagkan mazhabnya. Imam Syafi’i belajar sunnah dari imam Malik, namun demikian imam Syafi’ilah yang memberi rumusan penggolongan yang rapi dan tegas bahwa tidak semua bentuk sunnah boleh dijadikan hujjah, tetapi yang jelas kekuatan hukumnya saja. Karena itu, kritik terhadap hadis dari sisi sanatnya perlu dilakukan secara objektif dengan proses yang ketat. Semua hadis harus diuji kesahihannya menurut standar ilmiah tertentu yang selanjutnya dibutuhkan kedisiplinan ilmu Musthalah hadis.
imam Syafi’I sangat berperan sebagai pelekat dasar dalam bidang kajian ilmiah mengenai hadis dengan berbagai pandangan dan teori imam Syafi’I tentang
hadis yang sangat memerlukan waktu sekitar setengah abad untuk dapat terlaksana dengan baik. Setelah munculnya sejarah hadis dari Bukhara yaitu imam Bukhari barulah pelaksanaan penelitian terhadap hadis tersebut memperoleh bentuknya, dan pada fase berikutnya dilanjutkan oleh muridnya dia merupakan keturunan dari Nisaphur yaitu imam Muslim.
Ada beberapa ahli hadis meneruskan kajian dan penelitian terhadap hadis-hadis Nabi Saw, karena hasil dari karya ahli hadis-hadis tersebut masih jauh menutupi keseluruhan dari sunnah Nabawiyah, dan kemudian dari hasil penelitian tersebut terkumpul enam buah buku hadis yang berbeda-beda selain Sahihannya, yaitu Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi dan Sunan Nasa’i. walaupun dikalangan kaum Sunni dianggap standar tetapi saat ini setidaknya secara tertulis umat Islam terutama yaitu kaum Sunni dalam usaha memahami agamanya harus berpegang terhadap al-Quran dan kumpulan hadis al-Kutub al-Sittah.
Pendapat imam Syafi’I mengenai bid’ah terbagi menjadi dua macam yaitu bid’ah terpuji dan bid’ah sesat, yang dimaksud dari perkataan terpuji yaitu bila bid’ah tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip al-Quran dan Sunnah, sedangkan yang dimaksud dari perkataan sesat yaitu bila bid’ah tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip al-Quran dan Sunnah. Dalam soal bertaklid, imam Syafi’I selalu memberikan perhatian kepada pendapat dan hasil ijtihadnya, imam Syafi’I tidak mau muridnya bertaklid buta pada pendapat dan ijtihadnya, sebaliknya ia malah menyuruh untuk bersikap kritis dan berhati-hati dalam menerima suatu pendapat, seperti yang telah dikatakan beliau “inilah ijtihadku, apabila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik dari ijtihadku maka ikutilah ijtihad tersebut.”
Adapun karya imam Syafi’i yaitu al-Risalah, al-Umm yang mencakup isi beberapa kitabnya, selain itu juga buku al-Musnad berisi tentang hadis Rasulullah yang dihimpun dalam kitab Umm serta iktilaf hadis. Metode istinbath hukum Syafi’i: AlQuran, Sunnah, Ijma’, kesepakatan para sahabat, Qiyas, Istishab, al-Istiqra’.60
2. Nasab Imam Syafi’i
Nama Imam Syafi’I sewaktu kecil yaitu Muhammad dan silsilah Imam Syafi’I dari nasab ayahnya yang bernama Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin Saib bin Abdul Yazid bin Hasyim bin Abdul Muththalib bin Abdul Manaf, dilihat dari nasabnya jelas bahwa Imam Syafi’I keturunan bangsa Arab Quraisy dan beliau satu keturungan yang sama dengan Nab Saw, pada Abdul Manaf yaitu kakek generasi ketiga dari Nabi.
Sedangkan silsilah nasab dari ibunya Fathimah binti Abdullah bin Al-Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yaitu paman dari Nabi Saw, dilihat dari silsilah nasab ibu dan ayah Imam Syafi’I memiliki hubungan yang sangat kuat dengan silsilah Nabi Muhammad Saw. Disamping itu Said kakek ke empat Imam Syafi’I dia merupakan seorang dari bangsa Arab Quraisy yang pada masa itu dia masih musyrik dan pernah di tangkap oleh tentara kaum Muslimin di perang Badar al-Kubra. Dan pada saat itu dia pun tobat dan mengajukan tebusan kepada Nabi Saw supaya dirinya dibebaskan dari tawanan tentara Kamu Muslimin dan setelah dibebaskan dia tunduk dan mengikuti seruan Islam dengan kemauan dan keiklasannya dan dia adalah orang
60Muammar M. Bakry, Etika dan Praktik Bermazhab: Membangun Toleransi Antar Umat, h. 97-100.
yang termasuk setia mengikuti tuntunan Islam, dan pada saat itu Said termasuk salah satu dari seorang sahabat dari Nabi.61
3. Masa Kanak-Kanak Imam Syafi’I
Semasa kecilnya Imam Syafi’I sudah dilatih oleh ibunya dengan bangsa arab sehingga pada masa usiahnya yang masih tujuh tahun beliau sudah hafal Al-quran, hafalannya terhadap Al-quran ini telah menuntun Imam Syafi’I menjadi fasih dalam berbahasa Arab. Dan beliau hobi memanah dan sangat mahir, sampai-sampai ketika beliau melepaskan sepuluh anak panahnya, dan keseepuluh anak panah yang dibidiknya tepat sasaran dan tidak ada yang meleset.62
4. Masa Mencari Ilmu
Pada usia dua tahun Imam Syafi’I dibawah oleh ibunya pulang ke tanah air nenek moyangnya di Makkah, disanalah beliau dibesarkan sebagai anak yatim dalam asuhan ibunya , pada saat itu beliau pergi ke Hudzail yang mana mereka adalah sefasih-fasih bangsa Arab, dan ketika beliau sudah banyak menghafal syair-syair mereka beliau pun kembali sesudah mendapat kefasihan, beliau pun melanjutkan belajar pada Muslim bin Khalid Az-Zanji dia merupakan seorang mufti dan syaikh tanah haram dan beliau pun lulus padanyaa dan diijinkan untuk berfatwa, dan Imam Syafi’I meminta untuk dibutkan surat pengantar kepada Imam Malik bin Anas dia adalah seorang Imam di tanah Madina, setelah dibutkan surat pengantar untuk Imam Malik beliau pun beraangkat menuju Madinah dan setelah sampai kepada Imam Malik sebelumnya beliau telah menghafal kitab Muwatatha lalu kemudian Imam
61Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab (Cet. I; Depok: Gema Insani, 2016), h.166-167.
Syafi’I membacanya dihadapan Imam Malik dan bacaan beliau sudah berhasil mengagumkan Imam Malik.63