BAB III EKSISTENSI AGAMA SHINTO DI JEPANG DARI MASA
B. Masa Modern
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad 19 Jepang mengalami desakan yang hebat untuk membuka pantai-pantainya bagi dunia luar. Didalam negeri, struktur sosial dan poltik ciptaan Ieyashu Tokugawa makin terjepit oleh pemikiran-pemikiran baru. Rakyat Jepang merasa Era Tokugawa sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman. Nasib Tokugawa berada dalam bahaya. Selama satu dasawarsa terjadi kekalutan hebat hingga akhirnya runtuhlah Shogunat Tokugawa pada tahun 1867.14 Kekuasaan penuh kini kembali lagi ke tangan Kiasar. Kaisar Meiji (1868-1912) segera melakukan berbagai perombakaan dan perbaikan struktur kenegaraan dan social. Gerakan Meiji ini dikenal dengan istilah Restorasi Meiji.
Kekacauan-kekacauan yang terjadi di akhir masa Tokugawa itu akhirnya memaksa kaisar turun tahta di tahun 1868 yang merupakan awal masa modern dalam Jepang.15 sejak dimulainya masa Meiji (1868-1912) sampai dengan
13R. Hartz Paula, World Religion: Shinto. Thrid Edition. (New York: Chelsea House. 2009).
h. 10.
14Syahbuddin Mangandaralam, Mengenal dari dekat Jepang Negara Matahari Terbit.
(Bandung: Reamdja Karya.1986). h. 25.
15Djam’annuri, Agama Jepang, h. 39.
meletusnya perang di tahun 1945, kehidupan Jepang sangat erat hubungannya dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah. Selama masa tersebut ada empat hal utama yang menjadi ciri pokokdalam kehidupan agama di Jepang terutama yang bersangkutan dengan agama Shinto, yaitu:
1. Usaha pemerintah untuk menciptakan Negara Teokrasi16
Pemerintah Meiji berusaha untuk mendirikan sebuah negara yang didasarkan atas konsep Saisei itchi yaitu konsep kesatuan antara upacara-upacara keagamaan dengan politik.17Oleh karena itu banyak langkah-langkah pembaharuan drastis yang diambil oleh pemerintah, terutama yang ada hubungannya dengan agama, yang semuanya dimaksud untuk mendirikan sebuah negara theokrasi yang didasarkan oleh atas kultus agama Shinto. Salah satu dia antara berbagai kebijakan yang mula-mula diambil oleh pemerintah ialah menghidupkan kembali Jingi-kan, Lembaga resmi pemerintah yang mengurus masalah-masalah agama Shinto. Lembaga Jingi-kan mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan berbagai upacara dan perayaan agama, hak milik agama, tingkat aturan kependetaan, pengaturan tempat-tempat suci agama, Pendidikan keagamaan, dan ketentuan-ketentuan pemberian bantuan pada tempat-tempat suci.18
16Djam’annuri, Agama Jepang, h. 39.
17Tenrikyo Church Headquarters, an Introduction to Tenrikyo its Histori and Teachings, (Japan: Tenri Jiho 1966). h. 7-8.
18K. William Bunce , Religion in Japan, h. 28.
2. Penataan Jinja (Tempat Suci/Ibadah)
Pada tahun 1935, anggota-anggota komite peneliti Jinja meminta didirikannya sebuah badan khusus untuk agama Shinto, alasan yang mereka kemukakan ialah: (a). Biro urusan Jinja yang ada, tidak dapat memenuhi keinginan dari para leluhur kaisar. (b). Adanya sebuah badan khusus, mutlak diperlukan untuk membimbing bangsa, dan (c). Kualitas kepemimpinan dan kegiatan biro yang ada, tidak memenuhi syarat.19
Menjelang meletusnya perang, tercapai kesepakatan untuk mendirikan sebuah badan terpisah dan di tahun 1940, akhirnya dibentuk Badan Jinja (Jingi-ji) sebagai perluasan biro yang sebelumnya. Tujuan utama badan ini ialah mengembangkan peribadatan agama Shinto dan memajukan Pendidikan agama Shinto di kalangan Bangsa. Sampai dengan dihapuskannya pada akhir perang, badan tersebut merupakan pusat admnistrasi tempat-tempat suci agama Shinto dan memegang peranan penting dalam dunia Shinto.20
3. Campurtangan pemerintah terhadap agama
Antara tahun 701 M, ketika undang-undang negeri Jepang untuk pertama kalinya dikondifikasikan, sampai dengan tahun 1945, saat berakhirnya perang
19William K. Bunce , Religion in Japan. h. 31-32.
20Shinto Committee for the IXth International Congress for the history of Religion, Basic Terms Of Shinto ( Tokyo: Kokugakuin University, 1958), h. 21.
dunia ke-II, prinsip dasar kebijakan pemerintah dalam bidang agama adalah pengawasan dan pengarahan semua organisasi-organisasai agama menurut keinginan dan selera pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan yang diakui pemerintah, memperoleh bantuan dan dukungan tetapi yang tidak diakui, tidak emiliki kebebasan dalam menyiarkan ajaran-ajarannya dan tidak memperoleh bantuan apapun.
Sejak semula pemerintah mempergunakan Jinja Shinto untuk kepentingan pemerintah. Dengan adanya hak kemerdekaan beragama, kebijakan tersebut dinyatakan hanya untuk tujuan-tujuan admnistratif dan Jinja Shinto ditetapkan bukan satu agama. Tetapi, berbeda dengan tembat ibadah agama Budha, Kristen ataupun sekte-sekte keagamaan lainya, Jinja Shinto memiliki kedudukan yang terpisah atau berbeda baik dalam segi administrasi maupun hukum. Pemerintah membentuk dua buah badan, satu untuk mengurus agama Shinto dan satunya lagi untuk mengawasi agama-agama lainnya.21
4. Militerisme Dalam Agama.
Antara tahun 1931 samapai 1945 bangsa Jepang dapat dikatakan berada dalam suasana perang. Segala usaha pemerintah dalam mengatur dan mengawasi semua agama pada dasarnya hanya merupakan usaha-usaha pendahuluan dalam rangka mencapai tujuan yang lebih jauh yang dimulai dengan peperangan
21Djam’annuri, Agama Jepang, h. 45.
melawan Inggris dan Amerika. Lebih-lebih selama tahun 1941 sampai 1945 agama dapat dikatakan benar-benar menjadi budak pemerintah.22
Jauh sebelum tahun 1940 semua badan-badan keagamaan digunakan untuk mempertebal semangat nasionalisme dan militeresime. Semua tempat suci agama, baik local maupun nasional, kedudukannya menjadi bertambah penting.
Pemujaan dan peribadatan yang dilakukan dalam tempat-tempat suci tersebut bukan saja berarti memperlihatkan adanya rasa antusias terhadapa militer tetapi juga dijadikan ukuran kesetiaan seseorang terhadap kaisar dan negerinya.
Agama-agama selain agama Shinto yang pada mulanya menjauhkan diri dari corak pemujaan yang dilakukan dalam tempat suci agama Shinto, akhirnya juga ikut mengambil peran-serta penuh. Berdasarkan pernyataan pemerintah bahwa tempat-tempat suci tersebut bukan merupakan lembaga-lembaga agama, maka baik agama Katolik mauapun Protestan sama-sama menceburkan diri dalam dalam arus nasionalisme dan militerisme yang melanda seluruh bangsa.
Kemenangan yang diperoleh dalam peperangan dirayakan bersama-sama oleh orang-orang agama Budha, Kristen dan Shinto, dan kadangkala dirayakan sendiri-sendiri. Doa-doa untuk memperoleh kemenangan perang disusun dan dirumuskan oleh ketiga pemuka agama. Sejumlah 16.000 orang pendeta agama Shinto diharuskan untuk mengucapkan doa semacam itu.23Pada 28 Agustus 1944
22William K. Bunce , Religion in Japan, h. 39.
23William K. Bunce , Religion in Japan, h. 40-42.
Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan instruksi kepada para pendeta agama Shinto sebagai berikut: “Perang telah sampai pada tingkat yang penting. Kamu, pelayan para dewa, harus mengabdikan dirimu untuk melaksanakan kewajibanmu lebih baik lagi. Secara tulus berdoalah bagi kemenangan terhadapa musuh yang sombong”. Dengan demikian perang itu sendiri bagi kebanyakan rakyat jepang merupakan suatu pengalaman keagamaan. Masyarakat Jepang telah digerakkan deng penuh semangat menuju terbentuknya sebuah negara yang didasarkan atas rasa nasionalisme yang berpusat pada keyakinan akan watak dan asal-usul kedewaan kaisar dan bangsa mereka. Ide Kamikaze (Nafas Dewa) tampak bukan sekedar impian kosong bagi masyarakat Jepang. dalam angan-angan mereka hal yang dahulunya dianggap tidak mungkin, sekarang sedang terjadi: Jepang sedang merubah dunia, dan sejarah sudah sampai pada tingkat yang menentukan. Dan hal ini baik agama Shinto, Budha, dan Kristen sama-sama terbawa dan hanyut dalam arus emosi yang melanda dasar-dasar akal dan agama. Pengabdian terhdap “Jalan para Dewa” dan “Jalan Kiasar” merupak dua hal yang tidak dapat dipisahkan.24
Tidak lama setelah perang dunia ke-II berakhir, maka pada tanggal 4 Oktober 1945 dikeluarkan sebuah ketetapan yang berjudul “Removal of Restrictions on Political, Civil, and Religion Liberties” (Penghapusan pembatasan-pembatasan Kemerdekaan Politik, Sipil, dan Agama ). Sesuai dengan Namanya, ketetapan tersebut mengharuskan menghapuskan semua
undang-24William K. Bunce , Religion in Japan. h.40-42.
undang, ketentuan, peraturan ataupun ketetapan yang meberikan pembatasan-pembatasan terhadap hak kemerdekaan beragama, berfikir, berkumpul dan berbicara. Oleh karena itu Undang-undang Organisasi Keagamaan yag dahulu diberlakukan pada 1940 dicabut, dan pada 15 Desember 1945 dikeluarkan sebuah ketetapan lain yang disebut “Abolition of Govermental Sponsoship, Support, Perpetution, Control, and Dissemination of State Shinto” (Pencabutan Bantuan,
Dukungan, Pembakuan, Pengawasan , Dan Pengembangan Pemerintah Terhadap Agama Shinto Negara) yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Pedoman Shinto.25Dalam praktiknya pedoman tesebut tidak hanya berlaku terhadap agama Shinto tetapi juga terhadap semua macam agama, kepercayaan, keyakinan, dan aliran-aliran keagamaan yang terdapat di Jepang.
Di samping tujuan pokok Pedoman Shinto adalah untuk meniadakaan sifat nasionalisme agama Shinto, pedoman tersebut juga didasarkan atas tiga prinsip yaitu: (a). Pembasmian semua paham militerisme dan ultranasionalisme (b).
Pembakuan kemerdekaan beragama, dan (c). Pemisahan agama terhadap negara.26
Saat ini, agama Shinto adalah identitas Jepang yang begitu melekat di hati bangsanya. Banyak masyarakat Jepang yang saat ini tidak memeluk shinto tapi tetap menggunakan kultusnya dalam momentum tertentu. Menurut catatan yang ada pada Kementrian Pendidikan Jepang pada 31 Desember 1970, agama Shinto memiliki 234.233 Lembaga keagamaan, agama Budha 93.779 , agama Kristen
25Hori Ichiro, Japanese Religion. h. 164-165.
26Hori Ichiro, Japanese Religion. h. 164-165.
6.378 , dan kelompok-kelompok agama lain sebanyak 41.828, dan jumlah keseluruhan pengikut agama-agama itu sama banyaknya dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama yaitu 103.720.060 jiwa.27 Ini berarti bahwa tidak ada satupun dari penduduk Jepang yang tidak menyatakan diri sebagai pemeluk agama tertentu.
Dalam survei yang dilakukan Japan-Guide.com28 pada tahun 2000, diperoleh hasil yang cukup mengejutkan seperti yang terlihat dibawah ini:
27Hori Ichiro, Japanese Religion. h. 12.
28Dikutip dariwww.japan-Guide.com/survey-religion-in-japan/diunduh tanggal 14 Desember 2020.
Table: 1. Survei keagamaan Japan-Guide.com
Masyarakat Jepang notabenya dianggap begitu religius, yang setiap hari melakukan ibadah menyembah Dewa, atau adat lain ternyata lebih dari setengah penduduknya mengatakan bahwa mereka tidak beragama (Pertanyaan 1). Dari 52,4% masyarakat yang tidak beragama, ternyata pada pertanayaan ini 55,3%
merasa dirinya tidak religious dan mendalami agamanya (Pertanyaan 2). Jumlah itu didukung dengan jumlah masyarakat yang menganggap bahwa agama tidak penting bagi kehidupan sehari-hari jauh lebih banyak dari pada yang menganggap
050%
agama penting (Pertanyaan 3). Namun yang begitu mengejutkan dari survei ini, saat masyarakat ditanya mengenai upacara pernikahan, hanya 42,3% yang mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan upacara keagamaan dalam pernikahan. Hal ini berbanding terbalik dengan dua jawaban sebelumnya (Pertanyaan 4). Jumlah masyarakat yang tidak beragama sebanyak 52,4% ternyata Sebagian besar diantaranya sering atau pernah mengunjungi tempat ibadah.
Hanya 8,1% yang menyatakan tidak pernah mengunjungi sama sekali (Pertanyaan 5).
Dalam tradisi masyarakat Jepang, tiada hari tanpa matsuri. Matsuri adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto yang berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kammi atau dewa sedangkan menurut pengertian sekulerisme berarti festival, perayaan, atau hari libur perayaan.
Matsuri bagi orang Jepang dianggap sebagaisalah satu simbol dari kegiatan manusia untuk berkomunikasi dan melayani dewa. Dengan kata lain, matsuri bagi orang Jepang merupakan jalan untuk bertemu dengan Kammi (dewa).29
Sifat religius masyarakat Jepang diperlihatkan dari jumlah pengunjung tempat-tempat suci terkenal, yang cukup banyak terutama pada saat-saat merayakan datangnya tahun baru . disamping itu, meskipun pengaruh agama Budha terhadapa kehidupan social dan spiritual masyarakat Jepang tampak demikian kuat, dan jumlah pemeluk agama Budha menurut statistic sebanyak
29Sri Dewi Andriani,” Eksistensi agama Shinto dalam pelaksanaan Matsuri di Jepang”, Jurnal LINGUA CULTURA, vol.1, no. 2, h.136.
81.000.000 lebih, namun tradisi agama Shinto kuno hidup terpelihara dan sangat terpengaruh pula dalam kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari. Bahkan ada semacam perasaan yang menganggap agama Budha sebagai sebuah agama asing.30
C. Agama Shinto dan Masyarakat Jepang Saat ini
Kementerian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, dan Olahraga setiap tahunnya merilis jumlah penganut agama terkini dalam masyarakat Jepang. Jika melihat Jumlah penganut dari tiap-tiap kepercayaan di akhir tahun 2012, Shinto dengan jumlah penganut kira-kira serratus juta jiwa adalah yang terbesar, urutan kedua agama Budha dengan jumlah penganut berkisar 85 juta jiwa, urutan ketiga Kristen dengan jumlah kira-kira 19 juta jiwa, dan lain-lain berkisar 9 juta 110 ribu jiwa. Jika semuanya dijumlahkan, total keseluruhan penganut berjumlah 197.100.000 jiwa. Jumlah penduduk Jepang sendiri tahun 2013 bulan 10 ada 127 juta jiwa. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka jumlah keseluruhan pemeluk agama jauh lebih besar.31
Dalam laporan, tidak diperoleh jumlah orang Jepang yang mendeklarasikan sendiri agamanya, jumlah penganut didapatkan dari masing-masing organisasi keagaman. Dan karena masing-masing organisasi keagamaan mengeluarkan data sendiri dan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari tiap pemeluk untuk
30Hori Ichiro, Japanese Religion. h. 12.
31Diperoleh dari laman resmi Agency for Culture Affrairs, Government of Japan, pada 8 Juli 2014.http://www.bunka.go.jp/shukyouhoujin/nenkan/
melaporkan jumlahnya, maka jumlah penganut dan jumlah penduduk tetap tidak sama, karena itulah data tersebut sebenarnya tidak bisa mewakili.
Pada saat tahun baru orang Jepang pergi ke Kuil Jinja (Shinto) untuk berdoa.
Namun, tidak pernah ada anggapan orang Shinto berdoa di Kuil, sebaliknya, kebiasaan untuk mengunjungi kuil Shinto terjadi saat pergantian tahun baru. Di Tokyo ada kuil Shinto yang terkenal bernama Kuil Meiji. Di awal bulan, selama, 3 hari (1-3 Januari ) sebanyak 3 juta lebih jiwa telah mengunjungi kuil ini untuk merayakan tahun baru.
Jika melihat total penganut agama di Jepang kebanyak memeluk agama Shinto.32dari jumlah penduduk Jepang, seperdelapannya memeluk agama Shinto.
Masyarakat Jepang menganggap gunung, sungai, dan jalan adalah kekayaan alam yang besar. Orang Jepang sejak dahulu kala takut pada gunung, hutan, danau, batu, dan pohon yang dianggap sebagai hal yang suci, dan jika ada hal baik yang terjadi, orang Jepang akan berterima kasih pada benda-benda itu. Jepang juga banyak terkena Gempa bumi, Topan, dan Gunug berapi. Orang jepang sadar bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada manusia, karena itu setiap komponen jadi terlihat sebagai tuhan/dewa.33
Dewa agama Shinto sangat banyak, dan istilah yooyorozu yang artinya adalah
“8 juta dewa”. Ini tentu tidak berarti jumlah dewa tepat 8 juta, tetapi pendek kata
32Yusuke Shindo, Mengenal Jepang, h. 154.
33Yusuke Shindo, Mengenal Jepang, h. 155.
ini berarti “sangat banyak” dan karena 8 juta yang selalu dipakai. Sejak dahulu kala, orang Jepang (Shinto) takut akan kemarahan alam, maka mereka selalu menjaga kelestarian alam yang sudah ada.
Agama Shinto adalah agama unik di Jepang. meskipun dikatakan sebagai agama, namun sangat berbeda jika dibandingkan dengan Islam, Kristen, dan agama lainnya. Agama Islam meyakini pembawa wahyu pertama kali adalah Nabi Muhammad dengan kitab suci Al-Quran. Bagi orang Kristen adalah Yesus dan ajaranya dituangkan dalam Alkitab. Bagi agama Shinto, orang yang pertama kali menyebarkan ajaran bukanlah penemu ajaran tersebut. Ajaran Shinto menyebarkan ajaran ini sedikit demi sedikit, dan tidak ada ajakan untuk juga menjadi penganut agama Shinto.34
Orang Jepang sendiri tidak memiliki kesadaran bahwa mereka adalah penganut agama Shinto, tidak pula memiliki kesadaran bahwa ajaran tertentu adalah ajaran agama Shinto. Ajaran agama Shinto pada akhirnya menjadi cara pikir yang umum, dan menjadi adat istiadat, yang disebarkan lewat pergaulan ataupun ajaran orang tua. Karena itu, jika ada orang asing yang ingin belajar Shinto atau ingin juga menjadi pemeluk agama Shinto, mungkin akan terasa sulit karena Shinto tidak ada kitab Sucinya.
34Yusuke Shindo, Mengenal Jepang, h. 156.
Dalam pemikiran agama Shinto, orang Jepang dan kehidupan harus berjalan beriringan. Hal seperti ini bisa dijalankan jika mengetahui cara berpikir orang Jepang.
63
JEPANG MODERN
A. Harga Diri (Kehormatan)
Jepang adalah suatu bangsa yang sangat disiplin terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, terhadap negara, terhadap kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang suci bagi mereka.1
Seorang ahli Jepang, D.C Holten menyatakan bahwa orang-orang Jepang dilahirkan dalam tradisi agama Shinto, kesetiaanya terhadap kepercayaan dan pengamalan ajarannya adalah menjadi kualifikasi pertama sebagai “orang Jepang yang baik”. Meskipun ia memeluk agama universal seperti Budhisme atau Kristen, pemahaman lama (Shinto) tetap merupakan pengaruh vital luas, yang secara fundamental faham lama tersebut membentuk pula mentalitas dan tingkah laku serta memberikan pola dasar yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Dikemukakan bahwa ajaran Shinto tentang kesusilaan yang paling terhormat yang biasanya dilakukan para bangsawan atau para ksatria-ksatria Jepang sebagai berikut: 2 (a). Keberanian dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian sudah dididikkan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya. Sikap mereka terhadap keberanian dinyatakan
1H.M Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: Golden trayon press, 1987), h. 53.
2H.M Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. h. 54.
dengan semboyan: “Keberanian yang benar untuk hidup, dan mati bilamana hal itu benar untuk mati”. (b). Sifat penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “Semua dosa besar dan kecil dapat diampuni melalui tobat , kecuali dua hal yaitu penakut dan pencuri”. (c). Loyalitas, yaitu setia. Kesetian pertama kepada Kaisar, kemudian meluas kepada anggota keluarga Kaisar, lalu kepada masyarakat dan generasi yang akan datang, dan (d). Kesucian dan kebersihan, adalah suatu hal yang sangat penting dalam agama Shinto oleh karenanya dalam faham ini terdapat upacara-upacara pensucian. Orang tidak suci adalah berdosa, karena berarti melawan dewa-dewa.
Atas pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi”
termasuk perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan.
Kamar mandi dipandang sebagai tempat yang menarik hati bagi semua orang, sedang waktu mandi ditentukan menjadi tradisi, misalnya 2 jam di waktu sore 17.00 dan 19.00 sebelum makan malam.3
Harga diri dan kehormatan merupakan hal yang penting bagi orang Jepang terutama seorang samurai. Mancius, yang dikutip oleh Nitobe(1974), mengatakan bahwa rasa malu adalah lahan dari segala kebajikan, tempat tumbuh pepohonan kelakuan baik dan moral yang baik. Karena itu seseorang samurai merasa lebih baik mrmilih mati dari pada menanggung malu. Untuk mengimbangi hal tersebut, seorang samurai belajar juga mengenai kesabaran dan kemurahan hati. Dalam kasus seorang pengusaha atau direktur yang bunuh diri, sebenarnya sangat sulit menilai mani yang lebih dominan antara sebagai
3H.M Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. h. 54.
bentuk dari rasa tanggung jawab ataukah karena takut menganggung malu.
Orang Jepang sangat terikat dengan kelompok sehingga, jika kelompok tersebut tidak menerimahnya, yang bersangkutan akan kehilangan pegangan.
B. Etika (Akhlak)
Masyarakat Jepang sangat menghargai hubungan baik dengan orang lain.
Untuk itu ada beberapa dasar penting dari budaya, kebiasaan, dan aturan masyarakat Jepang yang perlu di ajarkan, misalnya sopan santun, sikap menghormati orang lain, sikap rendah hati, dan tidak ragu meminta maaf.4
Ajaran etika dalam agama Shinto ialah:5
1. Manusia boleh saja Hidup sebaik-baiknya, asal saja dia selalu berbudi dan berhati jujur. Kaya atau miskin tidak mempengaruhi dan tidak membedakan manusia dalam hidup itu namun syarat hidup yang baik ialah dibentuk dengan akhlak yang baik pula.
2. Orang Tua yaitu Ayah dan ibu, guru-guru atau atasan bagaikan matahari dan bulan (Amaterasu dan Tsukuyomi).
3. Pengetahuan mendapat tempat yang penting daripada yang lain-lain, haranya lebih mahal daripada emas dan perak. Shinto menganggap, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang tidakakan ada habisnya, sedangkan harta kekayaan sewaktu-waktu dapat lenyap sama sekali.
4Yusuke Shindo, mengenal Jepang. (Jakarta: Kompas, 2015), h. 88.
5Ismail, Sejarah Agama-Agama, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2017), h. 204.
4. Hati-hatilah sebelum berbuat, hati-hatilah sebelum berbicara karena ucapan yang sudah dikeluarkan atau diucapkan tidak dapat ditarik Kembali oleh empat ekor kuda.
5. Kecelakaan yang paling berbahaya, ialah yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Kamu menghindarkan diri dari kecelakaan yang timbul dari langit, tetapi kamu tidak dapat mengelakkan diri dari kecelakaan yang ditimbulkan oleh dirimu sendiri.
6. Mati untuk kemuliaan orang yang kamu cintai dan untuk hidup abadi sebagai seorang penghianat.
7. Mengakui kesalahan atau kekhilafan, merupakan perbuatan yang mulia.
Ketika orang tua di Jepang mengasuh anaknya , hal terpenting yang diajarkan adalah “jangan menyusahkan orang lain”. Dalam suatu kelompok, kita harus menahan diri atas keingina pribadi, menahan pendapat pribadi dan menjalankan aturan kelompok.
Sebagai contoh, etika dalam masyarakat Jepang adalah kebiasaan
“membungkuk”. Misalnya, membungkuk saat bertemu dan meberi salam terhadap teman ataupun saat meminta maaf.6
Jika diperhatikan, orang Jepang sangat serius dan teliti dalam memperkenalkan tata krama dan moral pada anak didik dalam mempraktikkan perilaku social yang baik. Misalnya saja cara membungkuk dan duduk yang benar. Prilaku ini kemudian melembaga, seperti yang tegas terlihat dalam
6Yusuke Shindo, Mengenal Jepan,. h. 88.
ritual agama Shinto dalam upacara minum teh (Chanoyu). Pada hakikatnya chanoyu mengajarkan orang untuk bersikap sopan, saling menghormati, terkendali, sesuia dengan tata krama, sehingga tercipta suatu ketenangan dan rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan ini diangap sangat penting dalam masyarakat Jepang. akibatnya, mereka berkotak-kotak dalam kelompok, yang tentu saja memiliki kepentingan, ciri khas, dan aturan sendiri.7
Tentu saja setiap suku bangsa ataupun negara memiliki etika dan sopan santun yang berbeda. Misalnya di negara Barat, jika seseorang memberikan hadiah, ia akan memuji-muji pemberiannya kepada orang yang diberi, sebagai bentuk pengahargaan kepadanya yang memberikan sesuatu yang baik.
Tentu saja setiap suku bangsa ataupun negara memiliki etika dan sopan santun yang berbeda. Misalnya di negara Barat, jika seseorang memberikan hadiah, ia akan memuji-muji pemberiannya kepada orang yang diberi, sebagai bentuk pengahargaan kepadanya yang memberikan sesuatu yang baik.