• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASA PERALIHAN

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 112-116)

Sistem Jaminan Sosial Nasional dimaksudkan untuk menjamin adanya satu sistem penyelenggaraan secara nasional. Untuk mewujudkan adanya satu sistem yang berskala nasional diperkirakan membutuhkan waktu yang panjang. Oleh sebab itu dalam jangka pendek lembaga-lembaga yang sekarang ada dapat melanjutkan program-programnya berdasarkan ketentuan masing-masing sambil menyesuaikan diri terhadap satu sistem nasional sebagaimana dimaksud dalam UU SJSN.

Prinsip-prinsip yang akan diterapkan dalam masa peralihan adalah sebagai berikut: 1. Tidak merugikan peserta yang telah mengikuti program jaminan sosial yang sedang

diselenggarakan oleh PT. Jamsostek, PT. Askes, PT. Taspen dan PT. Asabri;

2. Memanfaatkan personil, sistem dan kekayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang ada tanpa harus menimbulkan pemutusan hubungan kerja atau kerusakan sistem yang ada;

3. Melakukan perubahan sistem, program, maupun kekayaan yang ada secara bertahap sehingga tidak menimbulkan gejolak di kalangan personil maupun peserta jaminan sosial yang ada sesuai UU SJSN.

BAB IX

P E N U T U P

Kondisi perekonomian yang berkembang saat ini baik dilihat secara global, regional maupun nasional, mendorong semakin diperlukannya suatu sistem jaminan sosial yang bersifat nasional dengan kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem jaminan sosial dimaksud harus mampu memberikan perlindungan menyeluruh bagi masyarakat terutama pada kondisi-kondisi tertentu seperti sakit, mengalami kecelakaan, meninggal, kehilangan pekerjaan dan pada saat memasuki usia lanjut. Sementara beberapa jaminan sosial yang ada yaitu PT Jamsostek, PT Askes, PT Taspen dan PT Asabri dan JPKM belum mampu memenuhi tuntutan dimaksud. Oleh karenanya diperlukan UU SJSN untuk memperkuat BP menjalankan visi jaminan sosial.

Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam Sidang Tahunan MPR-RI Tahun 2001 menugaskan kepada Presiden RI untuk membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dalam upaya memberikan perlindungan sosial yang menyeluruh dan terpadu. Oleh karenanya Presiden merasa perlu melahirkan SJSN yang pelaksanaannya ditetapkan dengan Undang-undang.

Dipertanyakan oleh banyak komponen, dalam kondisi ekonomi saat ini, mampukan Pemerintah memberikan jaminan sosial dimaksud, terutama bagi tenaga kerja di sektor informal ? Sebelum sektor informal, kita harus buktikan dulu bahwa jaminan sosial bagi sektor formal dapat berjalan baik dan memuaskan. Perlu dipahami bahwa SJSN tidak dibiayai oleh pemerintah sendiri tetapi bersama-sama dengan pemberi kerja dan pekerja. Tantangan ini akan diantisipasi dalam Undang-undang SJSN yang akan dilahirkan dan diharapkan dalam waktu dekat ini dapat diundangkan. Pelaksanaannya menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pekerja dan Pemberi Kerja. Masing-masing pihak memberikan iuran. Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan beragamnya status pekerjaan, maka jangkauan kepesertaan dilakukan secara bertahap, di awali dari tenaga kerja produktif yang mempunyai upah/penghasilan. Bagi tenaga kerja yang karena kondisi tertentu menjadi miskin sehingga tidak mampu mengiur, untuk sementara diatasi dengan mekanisme bantuan sosial. Lembaga yang akan dibangun tidak bertujuan mencari laba, namun mencari dana untuk membiayai manfaat sebesar-besarnya, oleh karenanya sisa hasil usaha penyelenggaraan program sewajarnya bebas pajak penghasilan badan.

Untuk menjamin pengelolaan keuangan yang aman dan pelayanan yang optimal, jaminan sosial nasional ini akan dikelola dalam suatu wadah/lembaga secara nasional berdasarkan prinsip Dana Amanat. Kantor perwakilan akan berada di seluruh daerah dengan kebutuhan dan semangat otonomi. Badan hukum lembaga tersebut sebaiknya berupa badan hukum quasi pemerintah atau badan hukum milik masyarakat. Badan hukum tersebut belum resmi di kenal di Indonesia. Lembaga dimaksud harus dikelola secara profesional, transparan dan memiliki akuntabilitas publik yang tinggi.

Konsep Naskah Akademik SJSN ini merupakan konsep ke-enam yang merupakan intisari Konsepsi Awal SJSN yang telah menghimpun masukan-masukan dari berbagai unsur, antara lain dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), beberapa serikat pekerja (SPBI), studi banding penyelenggaraan asuransi sosial di Australia, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Korea Selatan, Thailand, Filipina, Malaysia dan workshop di China. Konsep ini diperkaya pula dari hasil rapat Sidang Kabinet Terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden RI, Rakor Menko Kesra khusus membicarakan SJSN yang dipimpin langsung oleh Menko Kesra dan dialog informal Tim SJSN dengan anggota Komisi VII DPR-RI. Dalam menyusun konsep SJSN ini, Tim SJSN melakukan pembahasan yang mendalam yang terdiri dari para tenaga ahli asuransi, wakil dari BUMN dan badan penyelenggara program jaminan sosial yang beroperasi selama ini, PT Askes, PT Jamsostek, PT Taspen dan PT Asabri dan beberapa pejabat dari isntansi terkait lainnya seperti Depdagri, BKKBN, Meneg PAN dan Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Sebelum konsep Naskah Akademik SJSN ini dituangkan menjadi Draft RUU SJSN, di dengar pula masukan masyarakat dalam menentukan tahapan penjangkauan kepesertaan, besaran iuran, dan mekanisme penyelenggaraan SJSN, dll. Selanjutnya, sosialisasi konsep SJSN ini akan dilakukan kepada masyarakat yang lebih luas di pusat dan daerah termasuk dengan DPR dan DPRD. Direncanakan secara bertahap Tim SJSN akan melakukan sosialisasi ke beberapa wilayah di Indonesia dengan bantuan pendanaan dari dana bilateral dan multi lateral seperti Uni Eropa (untuk 14 wilayah/provinsi), ADB dan ILO. Dengan kegiatan sosialisasi ini diharapkan semua unsur yang terlibat di pusat dan daerah mempunyai cara pandang dan persepsi yang sama terhadap konsep SJSN.

Dengan telah menyebarnya informasi di masyarakat tentang rencana Pemerintah akan mengundangkan UU SJSN dalam waktu dekat ini, banyak rumor berkembang. Agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, terutama pihak penyelenggara dan peserta jaminan sosial yang sudah berjalan, perlu ditegaskan disini bahwa sistem yang ada tetap

berjalan seperti biasa. Tidak ada dana iuran peserta yang dialaihkan ke badan atau peserta lain. Apabila UU SJSN telah diberlakukan, badan penyelenggara tersebut harus menyesuaikan programnya dengan aturan yang tercantum dalam UU SJSN.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 112-116)