• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Masalah Lingkungan dan Pengaruhnya Terhadap Infeksi Cacing

Transmisi Kecacingan

Derajat kesehatan di Indonesia masih rendah. Apabila menggunakan indikator Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) akan terlihat Indonesia tertinggal jauh dari negara lainnya. Sebagai penyebab mendasar rendahnya derajat kesehatanmasyarakat, adalah pengaruh faktor lingkungan (45%), faktor perilaku (30%), dan faktor pelayanan kesehatan(20%).

Faktor lingkungan dapat dinilai dari berbagai cakupan diantaranya indikator akses pada air bersih dan rumah tangga dengan lantai tanah. Data Survei Ekonomi dan Sosial Nasional (Susenas) 2004 menunjukkan persentase rumah tangga yang memiliki akses air bersih di perkotaan (92%) lebih tinggi dibandingkan di pedesaan (69%). Mengenai data rumah tangga dengan lantai bukan tanahmenunjukkan persentase rumah berlantai bukan tanah lebih tinggi di perkotaan (93%) dibanding di pedesaan (79%). Masih adanya rumah tangga yang mempunyai lantai tanah menunjukkan lingkungan rumah tangga yang tidak sehat. Hal ini berpotensi dan berisiko tertular penyakit cacingan.18

Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh postif terhadap terwujudnya status kesehatan. Sanitasi lingkungan mencakup perumahan, penyediaan air bersih, pembuangan air limbah, jamban dan pembuangan sampah.10 Paradigma Blum tentang kesehatan terdiri dari lima faktor dimana lingkungan mempunyai pengaruh dominan.

1. Lingkungan Rumah

Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Menurut Poespoprojo (2002) dalam Jalaluddin (2009), rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni. Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi di dalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.6 Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

Sanitasi lingkungan merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan. Oleh karena itu untuk mencapai kemampuan hidup sehat di masyarakat, maka hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. Penyediaan Air Bersih

Air merupakan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusiaakan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Supaya air tetap sehat dan terhindar darikuman maka air yang digunakan harus diolah terlebih dahulu.10 Untuk itu penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan seperti:

Syarat kualitas air secara fisik adalah tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau dan jernih. Secara kimia air yang baik tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia ataupun mineral terutama zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Dan syarat bakteriologis semua air minum hendaknya dapat terhindar dari kemungkinan terkontaminasi bakteri terutama bakteri patogen. Mengingat bahwa tidak mungkin air yang dikonsumsi seratus persen sesuai dengan persyaratan kesehatan, namun air yang ada diusahakan sedemikian rupa mendekati syarat-syarat yang tercantum dalam

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 416/MENKES/PER/IX/1990.19

b. Sistem Pembuangan

Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal darirumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada.5 Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh sebab itu, air buangan ini harus dikelola atau diolah secara baik.Air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai

gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain menjadi media berkembang biaknya mikroorganisme patogen.

Pengolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguanyang timbul karena pencemaraan air limbah tersebut. Namun demikian,alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu dibuang.7

c. Jamban

Jamban adalah salah satu sarana dari pembuang tinja manusia yang penting, karena tinja manusia merupakan sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran penyakit yang bersumber pada feses dapat melalui berbagai macam jalan atau cara seperti air, tangan, lalat, tanah, makanan dan minuman sehingga menyebakan penyakit.10 Mardiana dkk, (2000) melaporkan hasil penelitian pada anak prasekolah atau balita di Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung menunjukkan yang terinfeksi cacing usus melalui tanah 5,6 %, kuku 5,0% dan tinja 5,6%.1 Jadi bila pengolahan tinja tidak baik, jelas penyakit akan mudah tersebar. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antaralain: tipus, kolera dan bermacam-macam cacing.

Penyebaran infeksi kecacingan tergantung dari lingkungan yang tercemar tinja yang mengandung telur cacing. Infeksi pada anak sering terjadi karena menelan tanah yang tercemar telur cacing atau melalui tangan yang terkontaminasi telur cacing. Maka untuk menghindari penyebaran penyakit lewat tinja ini setiap orang diharapkan menggunakan jamban sebagai penampung tinjanya. Persyaratan jamban dan kamar mandi:

2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah dibersihkan

3) Ada pembuangan air limbah dari jamban dan kamar mandi, dilengkapi dengan penahan bau

4) Letak jamban dan kamar mandi tidak berubungan langsung dengan tempat pengelolaan makanan (dapur, ruang makan) 5) Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara

luar

6) Harus dilengkapi dengan slogan untuk memelihara kebersihan 7) Tidak terdapat penampungan atau genangan air yang dapat

menjadi tempat perindukan binatang pengerat dan serangga 8) Pembuangan Sampah

d. Pembuangan Sampah

Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit dan vektor. Sehingga smpah harus dikelola baik untuk kesehatan dan keindahan lingkungan.10

2. Lingkungan Sekolah

Menurut Poespoprodjo (2002) dalam Jalaluddin (2009), di samping lingkungan rumah, lingkungan sekolah secara tidak langsung mempunyai sumbangan terhadap terjadinya penularan penyakit infeksi cacing karena sebagian besar waktu anak sekolah dasar dihabiskan dengan bermain baik di rumah maupun sekolah sehingga anak sekolah dasar mempunyai potensial untuk terjangkit penyakit infeksi kecacingan.6

2.3.2 Dampak Lingkungan Terhadap Angka Kejadian Kecacingan

Lingkungan sangat berpengaruh pada penyebaran cacing usus.Penyakit cacing usus sangat dipengaruhi terjadinya pencemaran tinja pada tanah dan air, sehingga pola pembuangan tinja/kotoran akan sangat

menentukan. Di daerah rural dan kumuh pada umumnya tingkat sosial dan ekonomi rendah, tingkat pendidikan terbatas maka ketersediaan jamban yang memenuhi kriteria higienis juga sangat terbatas.Sebagai akibatnya terjadi pembuangan kotoran di sembarang tempat seperti di semak-semak sekitar tempat tinggal.Hal ini terlihat dari hasil penelitian di daerah perkebunan karet di Kalimantan Selatan, ditemukan adanya kotoran di sekitar rumah atau semak-semak dan pencemaran tanah yang tinggi oleh telor Ascaris mencapai >70%.20

Pencemaran lingkungan melalui air karena adanya kebiasaan membuang kotoran di sembarang tempat termasuk di sungai. Air sungai yang tercemar akan memungkinkan terjadinya penyebaran yang lebih luas ke daerah hilir maupun ke area pemukiman yang jauh dari local point. 20

Data penyebaran cacing usus yang luas atau jauh dari focal point dapat dilihat dari laporan penelitian Sasongko dimana tidak dijumpai perbedaan bermakna antara prevalensi kecacingan pada anak usia SD di daerah perkotaan tidak berbeda secara bermakna dengan di daerah kumuh. Hal ini juga dapat dijelaskan sebagai berikut: bila di luar lingkungan yang memiliki tingkat sosial-ekonomi baik, perilaku pribadi baik dengan adanya jamban dan tidak adanya pembuangan kotoransembarangan masih terdapat lingkungan kumuh atau kondisi kesehatan dan kesadaran tentang kesehatan masih buruk, maka lingkungan yang baik akan tetap tercemar tinja dari lingkungan yang buruk. Hal ini akan diperparah dengan tejadinya banjir.

Lingkungan yang sangat berpengaruh pada penyebaran cacing usus juga dapat dilihat dari hasil penelitian tentang pengobatan kecacingan. Meskipun pengobatan dapat menurunkan angka prevalensi kecacingan sampai >80%, akan tetapi reinfeksi terjadi dalam waktu kurang lebih 3 bulan. Hal tersebut karena pencemaran tanah yang masih tetap tinggi dan ketahanan telur cacing yang cukup lama.20

Hasil penelitian Sasongko (2000), pemeriksaan angka kecacingan pada anak sekolah dasar di daerah transmigrasi, pada 3 kabupaten di provinsi Bengkulu dimana sarana sanitasi masih kurang, kualitas air dan lingkungan belum seperti yang diharapkan (75,8% belum memenuhi syarat

kesehatan) serta masyarakat yang kurang memperhatikan kesehatan pribadi/lingkungan ditemukan positif Ascaris 65%, Trichuris55% dan cacing tambang 22%.20

Dari hasil penelitian malnutrisi dan infeksi parasit terjadi bersamaan dimana kemiskinan memastikannya dengan masih adanya perumahan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, pelayanan kesehatan yang buruk, sanitasi yang buruk dan kurangnya air bersih.21

2.3.3 Pemberantasan Kecacingan Berbasis Lingkungan

Penyakit kecacingan tersebar luas di daerah rural maupun perkotaan dengan prevalensi yang tinggi dan memberikan dampak yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Kecacingan mempengaruhi pemasukan, pencernanaan, penyerapan, dan metabolisme makanan. Kecacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian serta menurunkan kualitas sumber daya manusia. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan, dan produktifitas kerja, kecacingan juga dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.3 Penyakit yang disebabkan parasit menjadi penyumbang utama etiologi dari malnutrisi-infeksi yang kompleks. Penelitian menemukan bahwa infeksi kecacingan disertai dengan penurunan pertumbuhan masa kanak-kanak dan gangguan penyerapan nutrisi; infeksi cacing tambang mepengaruhi status besi yang dapat menyebabkan anemia.21

Untuk mencegah kerugian yang terjadi akibat kecacingan, maka perlu dilakukan pemberantasan kecacingan dengan mempertimbangkan faktor yang paling mempengaruhi kecacingan. Salah satu faktor yang berperan yaitu faktor lingkungan yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia. Udara, air, tanah, hewan yang ada di dalam lingkungan merupakan faktor yang dapat menyebabkan penyakit. Lingkungan yang tidak baik akan memberikan dampak buruk dan merugikan kesehatan. Untuk itu keadaan tersebut harus diperbaiki, terutama pada daerah

pemukiman, pembuangan tinja manusia, penyediaan air bersih, pembuangan limbah, pembuangan sampah.

Sehubungan dengan paradigma kesehatan, kondisi lingkungan sudah seharusnya diperhatikan secara menyeluruh dan terpadu untuk melakukan tindakan pencegahan. Faktor perilaku juga tidak seharusnya diabaikan, dimana kegiatan promosi kesehatan berguna untuk meningkatkan pengetahuan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku sehat pada masyarakat. Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat menjaga lingkungannya dan terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan ditekannya kasus/masalah kesehatan terhadap penyakit berbasis lingkungan melalui upaya/tindakan preventif dan promotif.7

Kecacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan, oleh karena itu pemberantasan penyakit cacing ini harus melibatkanberbagai pihak. Upaya pemberantasan yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan berbagai pihak melalui kegiatan promosi kesehatan. Promosi pemberantasan kecacingan dilakukan dengan advokasi pemberantasan cacingan antara pusat dan daerah, bina suasana untuk mendapatkan opini positif masyarakat, dan gerakan masyarakat agar masyarakat mengenali dan memahami tentang faktor resiko penyakit kecacingan serta pengobatan dengan segera pada penderita baik secara massal maupun secara individu.20

Program pemberantasan kecacingan yang terdapat dalam keputusan menteri kesehatan tentang pengendalian kecacingan untuk jangka pendek, dengan mengurangi prevalensi infeksi cacing dengan pengobatan, dengan pengobatan intensitas infeksi dapat ditekan, sehingga dapat memperbaiki derajat kesehatan. Sedangkan program penanggulangan jangka panjang dengan pemberdayaan masyarakat dan peran swasta yaitu berprilaku hidup bersih dan sehat, meningkatkan kesehatan perorangan dan lingkungan, sehingga diharapkan produktifitas kerja akan meningkat.3

Dokumen terkait