• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Minimum Pidana Penjara

BAB III PERKEMBANGAN PIDANA PENJARA DARI KUHP KE

B. Lamanya Ancaman Pidana Penjara

1. Masalah Minimum Pidana Penjara

Telah dikemukan di atas, bahwa minimum umum pidana penjara menurut Konsep ditentukan satu hari. Ketentuan minimum itu tidak dirumuskan secara eksplisit di dalam perumusan pasal yang bersangkutan (Pasal 58 Konsep), tetapi disebutkan di dalam “penjelasan”.

Mengenai batas minimum ini, tidaklah sama di berbagai negara. KUHP Jepang dan Korea menetapkan minimum umum satu bulan. KUHP Norwegia

menetapkan batas minimum 21 hari dan KUHP Polandia menetapkan minimum umum tiga bulan.

Ditetapkannya minimal penjara satu hari menurut Konsep, berarti diberi kemungkinan kepada hakim untuk menjatuhkan pidana penjara pendek terhadap semua jenis tindak pidana. Penggunaan pidana penjara pendek ini, dalam Konsep 2006/2007 Buku I juga ingin dibatasi dengan memberikan kemungkinan atau alternatif kepada hakim untuk menjatuhkan pidana denda. Kemungkinan itu diberikan dalam hal tindak pidana yang bersangkutan diancam dengan pidana penjara maksimum 7 tahun atau kurang, dan dalam hal hakim bermaksud menjatuhkan pidana penjara tidak lebih dari tiga bulan (lihat Pasal 70 Konsep).53

Agar ketentuan minimal umum satu hari itu tidak menyebabkan kemungkinan terjadinya disparitas pidana yang sangat mencolok untuk delik-delik yang secara hakiki berbeda kualitasnya. Menurut Barda Nawawi Arief, perlu diimbangi dengan pidana minimal khusus. Di samping bertolak dari pemikiran demikian, perlunya minimal khusus ini didasarkan pada pemikiran yang analog dengan dimungkinkannya maksimum umum maupun maksimum khusus

Dengan adanya ketentuan ini, secara teoritis sebenarnya dapat dikatakan, bahwa hakim hendaknya menjatuhkan pidana penjara minimal tiga bulan; kalau akan menjatuhkan dibawah tiga bulan, sebaiknya menjatuhkan pidana denda. Dengan perkataan lain, di dalam Pasal 70 Konsep itu sebenarnya terkandung minimal umum pidana penjara tiga bulan. Hanya saja pembuat Konsep bersikap hati-hati untuk tidak menegaskan hal itu, dengan maksud tetap memberi kemungkinan dijatuhkannya pidana penjara pendek dalam hal-hal tertentu.

53

diperberat dalam hal-hal tertentu. Analog dengan itu, minimum umum satu hari itupun hendaknya dalam hal-hal tertentu dapat diperberat. Secara teknik perundang-undangan, kemungkinan memperberat minimal umum itu dapat dicantumkan dalam Aturan Umum Bab I atau dalam Buku II dengan menetapkan minimal khusus untuk delik-delik tertentu, khususnya untuk delik-delik yang dikualifikasi atau yang diperberat oleh akibatnya (erfolgqualifizierte delikte) atau delik-delik yang menurut pandangan masyarakat dipandang sangat membahayakan atau merugikan. Perlunya minimal khusus inipun, dapat dirasakan dari keresahan atau kekurangpuasan warga mayarakat terhadap pidana penjara yang selama ini dijatuhkan dalam praktik, terutama pidana yang tidak jauh berbeda antara pelaku tindak pidana kelas kakap dan kelas teri.54

2. Masalah Maksimum Pidana Penjara

Lamanya maksimum khusus menurut KUHP dan perundang-undangan lainnya selama ini sangat bervariasi. Maksimal khusus untuk pidana penjara yang selama ini diancamkan di dalam KUHP berkisar dari maksimum 3 minggu samapi maksimal 20 tahun, sedangkan dalam undang-undang di luar KUHP berkisar dari maksimal 1 tahun sampai maksimal 20 tahun. Dari jumlah maksimal khusus yang sangat bervariasi itu, sulit diketahui pola yang digunakan oleh pembuat undang-undang selama ini, malah terkadang dirasakan adanya kekurangpadanan. Ketiadaan patokan atau pola penetapan maksimum pidana ini sangat dirasakan sekali di dalam praktik legislatif.

54

3. Masalah Pidana Penjara Seumur Hidup

Belum jelas apa sebenarnya alasan atau latar belakang tetap dianutnya pidana penjara seumur hidup dalam Konsep Rancangan Buku I KUHP 2006/2007. Kebanyakan KUHP negara lain juga menganut sistem maksimum seumur hidup ini, walaupun ada yang tidak menganutnya.55

Pidana penjara seumur hidup atau menetapkan maksimum pidana penjara tertentu yang tinggi, tidak dapat melepaskan diri dari pemikiran filsafati mengenai tujuan diadakannya pidana penjara. Dilihat dari konsepsi “pemasyarakatan”, pada hakikatnya “perampasan kemerdekaan” seorang itu hanya bersifat “sementara” (untuk waktu tertentu) sebagai sarana untuk memulihkan integritas terpidana agar ia mampu melakukan re-adaptasi sosial. Maka secara teoritis-filsafat sebenarnya tidak ada tempat untuk pidana penjara seumur hidup. Jika di Indonesia akan tetap dianut, maka bertolak dari pemikran di atas, pidana penjara seumur hidup harus bersifat eksepsional dan sekedar untuk memberikan ciri simbolik. Sifat eksepsional ini didasarkan terutama pada tujuan untuk melindungi atau mengamankan masyarakat dari perbuatan-perbuatan dan pelaku tindak pidana

Di banyak negara, termasuk Indonesia, pidana penjara seumur hidup berhubungan pula dengan fungsi subsidair, yaitu sebagai pengganti untuk delik-delik yang diancam dengan maksimum pidana mati.

Dikaitkan dengan fungsi subsidair, sebagai pidana pengganti, kelihatannya dihadapkan kepada dua pilihan sederhana sekali dalam menentukan pengganti pidana mati. Pertama, dengan menetapkan pidana penjara seumur hidup atau kedua, dengan menetapkan maksimum pidana penjara tertentu yang tinggi.

55

Negara-negara yang telah menghapuskan pidana penjara seumur hidup, antara lain Portugis (1976), Spanyol (1980), Norwegia (1981), Brazil (1988) dan Colombia (1991). Lihat Life Imprisonment, UN Publication ST/SCDHA/24, 1994, footnote, p. 2.

yang dipandang sangat membahayakan atau merugikan masyarakat. Namun terhadap kriteria eksepsional yang demikian inipun harus tetap berhati-hati, karena kriteria “membahayakan atau merugikan masyarakat” itupun merupakan kriteria yang cukup sulit. Di samping kriteria itu bersifat relatif, juga karena pada hakikatnya setiap tindak pidana adalah perbuatan yang membahayakan atau merugikan masyarakat. Bertolak dari pemikiran “relativitas”, bahwa tidak ada perbuatan yang secara absolut terus-menerus membahayakan dan tidak ada pelaku tindak pidana yang mempunyai kesalahan absolut atau sama sekali tidak dapat diperbaiki atau memperbaiki dirinya sendiri, maka akan dirasakan lebih aman bila tidak menggunakan pidana penjara seumur hidup yang di dalamnya mengandung unsur “absolut” dan “definite”. Perbuatan atau orang yang dipandang “membahayakan masyarakat” itu, dapat dinetralisasi dengan merelatifkan sifat berbahaya itu dalam jangka waktu tertentu. Misalnya batas waktu antara 25-40 tahun merupakan batas waktu yang dipandang cukup untuk menganggap bahwa “bahaya” itu telah dihilangkan atau dinetralisasi.

Dari uraian di atas, dapatlah dikonkritkan, bahwa pidana penjara seumur hidup hanya dapat diterima secara eksepsional dalam arti hanya sekedar untuk memberikan ciri simbolik. Jadi tidak untuk benar-benar secara harafiah dijatuhkan, tetapi sekedar untuk memberikan “peringatan” kepada warga masyarakat akan sangat tercelanya perbuatan yang bersangkutan.

Secara teknik perundang-undangan, dapat dirumuskan sebagai “maksimum umum” untuk delik-delik yang diancam dengan pidana penjara seumur hidup. Jadi cukup dirumuskan dalam bagian umum KUHP. Dengan demikian, berbeda dengan sistem perumusan yang selama ini digunakan, yaitu

pidana seumur hidup dialternatifkan dengan pidana penjara maksimum 20 tahun dalam perumusan delik yang bersangkutan.

Satu hal yang juga menarik untuk ditinjau, ialah ketentuan Pasal 58 ayat (2) yang menyatakan bahwa pidana seumur hidup dapat dikenakan apabila tindak pidana yang dilakukan juga diancam dengan pidana mati. Dalam “penjelasan” dikemukakan, bahwa hal ini merupakan ketentuan “baru” di mana hakim, dapat menjatuhkan pidana seumur hidup meskipun tidak secara nyata diancamkan terhadap tindak pidana yang bersangkutan. Sebenarnya hal ini tidak merupakan hal baru sama sekali, karena memang dalam sistem KUHP maupun ketentuan di luar KUHP selama ini, ancaman pidana mati selalu dialternatifkan dengan pidana penjara seumur hidup. Jadi memang selama ini tidak ada tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana mati secara tunggal, sehingga wajar tidak ada ketentuan seperti dalam Pasal 58 ayat (2) Konsep itu. Dengan adanya Pasal 58 ayat (2) Konsep sebagai “aturan umum”, berarti tidak perlu lagi pidana penjara seumur hidup diancam secara alternatif dalam perumusan delik yang memuat ancaman pidana mati. Jika demikian konsekuensinya, berarti sebaiknya tetap saja dianut sistem perumusan seperti yang sekarang berlaku, yaitu pidana penjara seumur hidup selalu dirumuskan sebagai alternatif dari pidana mati dan selalu dialternatifkan dengan pidana penjara dalam waktu tertentu. Terlebih dari penjelasan Pasal 57 Konsep juga ditegaskan, bahwa pidana mati harus diancam secara alternatif.

C. Penetapan Dan Perumusan Pidana Penjara

Dengan hanya mengenal satu jenis pidana perampasan kemerdekaan berupa pidana penjara, maka penetapan dan perumusannya dalam Buku II jelas sangat sederhana. Artinya, cukup pidana penjara saja yang dicantumkan dalam perumusan tindak pidana (yang dapat dirumuskan secara alternatif dengan jenis pidana lainnya), sedang pidana tutupan dan pidana pengawasan tidak perlu dicantumkan. Dengan telah ditetapkannya aturan umum penjatuhan pidana tutupan dan pidana pengawasan dalam Buku I (Pasal 64 s.d. 68 Konsep),56

56

Dalam Konsep 2006/2007, diatur dalam Pasal 76 s/d 79.

berarti tidak perlu lagi jenis-jenis pidana ini dicantumkan dalam perumusan delik. Hanya masih merupakan masalah, yaitu dengan adanya aturan umum mengenai penjatuhan pidana tutupan (dalam Pasal 64 Konsep) berarti dimaksudkan pidana ini dapat dijatuhkan kepada setiap orang yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana dalam Buku II. Mengingat perumusan umum dalam Pasal 64 Konsep itu, tampaknya memang demikianlah konsekuensi logisnya.

Masalah ini patut dikemukakan karena selama ini tindak pidana digolongkan dalam bentuk kejahatan dan pelanggaran, dan untuk perampasan kemerdekaan dibedakan antara pidana penjara dan pidana kurungan. Di samping itu, dalam sistem yang sekarang, tindak semua tindak pidana kejahatan diancam dengan pidana penjara. Ada tindak pidana kejahatan diancam dengan pidana kurungan atau denda, baik dirumuskan secara tunggal maupun alternatif. Sebaliknya ada tindak pidana pelanggaran yang diancam dengan pidana penjara. Meskipun keadaan demikian, beberapa kemungkinan dapat terjadi :

a. Pidana penjara diancamkan terhadap semua tindak pidana, baik berupa kejahatan maupun pelanggaran, yang selama ini diancam dengan pidana penjara atau pidana kurungan. Kemungkinan pertama ini mengandung konsekuensi, akan demikian banyaknya delik yang diancam dengan pidana penjara. Hal ini merupakan masalah dilihat dari sudut politik kriminal, khususnya dilihat dari kecenderungan masa kini yang ingin mengembangkan kebijaksanaan selektif dan limitatif dalam menggunakan pidana penjara sebagai salah satu sarana penanggulangan kejahatan ;

b. Pidana penjara hanya diancamkan terhadap tindak pidana yang selama ini dipandang sebagai kejahatan dan diancam dengan pidana penjara, sedang untuk tindak pidana pelanggaran dilakukan seleksi kembali, mana yang perlu diancam dengan pidana penjara. Kemungkinan kedua ini agak menguntungkan dilihat dari kebijaksanaan untuk melakukan “penghematan pidana penjara”. Namun juga mengandung masalah, yaitu, tindak pidana yang selama ini telah dinyatakan sebagai kejahatan, secara “begitu saja“ diterima atau dipandang sebagai perbuatan yang patut diancam dengan pidana penjara. Maka jelas akan menimbulkan masalah yang sulit berkaitan dengan kriteria kejahatan ;

c. Kemungkinan ketiga yang praktis ialah mencantumkan pidana penjara dalam setiap perumusan delik dengan selalu dialternatifkan dengan jenis pidana lainnya.

Dengan selalu merumuskan ancaman pidana penjara secara alternatif, berarti perumusan tunggal yang bersifat imperatif harus dihindari. Memang menurut Konsep Buku I (Pasal 70), dalam hal pidana penjara dirumuskan secara

tunggal, kepada hakim diberi kemungkinan juga untuk menjatuhkan pidana denda, dalam hal tindak pidana yang bersangkutan diancam dengan pidana penjara yang tidak lebih dari tujuh tahun dan apabila hakim bermaksud menjatuhkan pidana penjara tidak lebih dari tiga bulan.57

57

Dalam perkembangan Konsep, Pasal 70 ini dihapus dan diganti dengan pasal yang mengatur tentang pedoman penjatuhan pidana penjara yang dirumuskan secara tunggal. Lihat Pasal 58 Konsep 2005 s.d. 2006/2007.

Jadi, ketentuan dalam Pasal 70 Konsep itu tidak semata-mata ditujukan untuk mengatasi sifat kaku dari perumusan pidana penjara secara tunggal yang bersifat imperatif, tetapi dimaksudkan menghindari penjatuhan pidana penjara pendek (tidak lebih dari tiga bulan). Di samping itu, dirasakan ada kejanggalan dari Pasal 70 Konsep tersebut, karena apabila pidana denda yang dijatuhkan hakim sebagai pidana pengganti pidana penjara pendek itu tidak dapat dipenuhi, maka tetap berlaku kemungkinan terdakwa dikenakan pidana penjara pengganti denda selama maksimum enam bulan (menurut Pasal 69 ayat (5) dan (6) Konsep). Disinilah letak kejanggalannya, yaitu dirasakan adanya semacam lingkaran setan: pidana denda yang dimaksudkan sebagai pengganti pidana penjara pendek (tidak lebih dari tiga bulan), apabila tidak dibayar malah dapat dikenakan pidana penjara pengganti yang maksimumnya dapat mencapai enam bulan! Oleh karena itu, sekiranya tetap digunakan perumusan pidana penjara secara tunggal, seyogianya diimbangi dengan ketentuan umum sebagai katup pengaman (veiligheidsklep) yang memuat pedoman dan kewenangan bagi hakim untuk menghindari, membatasi atau memperlunak penerapan perumusan pidana penjara secara tunggal itu. Malah secara lebih umum, perlu pula kiranya dirumuskan pedoman untuk menerapkan sistem perumusan ancaman pidana penjara secara alternatif maupun secara kumulatif.

Akhirnya perlu dikemukakan, bahwa untuk memberikan landasan motivasi pemidanaan yang rasional perlu pula dirumuskan pedoman penjatuhan pidana penjara.58

D. Kebijakan Legislatif Dalam Rangka Mengefektifkan Pidana Penjara

1. Defenisi Kebijakan

Pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. Dengan demikian, dilihat sebagai bagian dari politik hukum, maka politik hukum pidana mengandung arti, bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundang-undangan pidana yang baik.59 Ada dua masalah sentral dalam kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana penal (hukum pidana) ialah masalah penentuan :60

a. Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana, dan

b. Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada pelanggar. Kebijakan legislatif atau kebijakan perundang-undangan adalah kebijakan politik dalam menyusun dan mewujudkan ide-ide para pembuat undang-undang (legislator) dalam bentuk norma-norma baku yang terumus secara eksplisit dalam bentuk peraturan perundang-undangan nasional, dengan berkekuatan sebagai apa yang dikatakan oleh Austin, “the command of the sovereign”.61

Kebijakan legislatif adalah suatu perencanaan atau program dari pembuat undang undang mengenai apa yang dilakukan dalam menghadapi problem tertentu

58

Dalam perkembangan Konsep, pedoman penjatuhan pidana penjara ini dirumuskan secara negatif dalam Pasal 66/2000-2002, Pasal 68/2004, Pasal 71/2005-2006/2007.

59

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hlm. 28.

60

Ibid, hlm. 32.

61

Joko Setyono dalam Muladi (Edt), Hak Asasi Manusia, Hakekat, Konsep & Implikasinya Dalam Perspektif Hukum Dan Masyarakat, Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 123.

dan cara bagaimana melakukan atau melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan.62

Lebih lanjut dikemukakan oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief bahwa sebagai usaha untuk penanggulangan kejahatan, politik kriminal dapat mengejawantah dalam pelbagai bentuk. Bentuk yang pertama adalah bersifat represif yang menggunakan sarana penal, yang sering disebut sebagai sistem peradilan pidana (criminal justice system). Dalam hal ini secara luas sebenarnya mencakup pula proses kriminalisasi. Yang kedua berupa usaha-usaha prevention without punishment (tanpa menggunakan sarana penal) dan yang ketiga adalah mendayagunakan usaha-usaha pembentukan opini masyarakat tentang kejahatan dan sosioalisasi malalui mass media secara luas.63

Dalam pandangan Sudarto, politik hukum atau kebijakan hukum adalah usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat.64 Pada kesempatan lain beliau mendefinisikan politik hukum sebagai kebijakan dari badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan mencapai apa yang dicita-citakan.65

Kebijakan legislatif merupakan kebijakan (policy) dalam menetapkan dan merumuskan sesuatu di dalam peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu

62

Barda Nawawi Arief, Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 1994, hlm. 60.

63

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 2007, hlm. 9.

64

Sudarto, Hukum Dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1981, hlm. 159.

65

Sudarto. Hukum Pidana Dan Perkembangan Masyarakat, Sinar Baru, Bandung, 1983, hlm. 20.

sering juga kebijakan legislatif disebut dengan istilah “kebijakan formulatif”. Adapun permasalahan yang ditinjau berkisar pada dua masalah pokok, yaitu : a. Dasar pembenaran eksistensi pidana penjara dilihat dari sudut efektivitas

sanksi ; dan

b. Kebijakan legislatif dalam rangka mengefektifkan pidana penjara.

2. Dasar Pembenaran Eksistensi Pidana Penjara Dilihat Dari Sudut Efektivitas Sanksi

Kebijakan pidana (penal policy), sebagaimana kebijakan publik pada umumnya, pada dasarnya harus merupakan kebijakan yang rasional. Salah satu ukuran rasionalitas kebijakan pidana antara lain dapat dihubungkan dengan masalah efektifitas. Jadi, ukuran rasionalitas diletakkan pada masalah keberhasilan atau efektivitas pidana itu dalam mencapai tujuannya.

Kebijakan hukum pidana, menurut Marc Ancel, adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan. Lebih lanjut dikatakan, di antara studi mengenai faktor-faktor kriminologis di satu pihak dan studi mengenai teknik perundang-undangan di lain pihak, ada tempat bagi suatu ilmu pengetahuan yang mengamati dan menyelidiki fenomena legislatif dan bagi suatu seni yang rasional, di mana para sarjana dan praktisi, para ahli kriminologi dan sarjana hukum dapat bekerja sama tidak sebagai pihak yang saling berlawanan atau saling berselisih, tetapi sebagai kawan sekerja yang terikat di dalam tugas bersama, yaitu

terutama untuk menghasilkan suatu kebijakan pidana yang realistik, humanis, dan berpikiran maju (progresif) lagi sehat.66

Bedasarkan penelitian yang pernah dilakukan, diperoleh gambaran bahwa pidana penjara merupakan jenis pidana yang paling banyak dijatuhkan oleh hakim dibandingkan dengan jenis-jenis pidana lainnya. Namun dilain pihak data statistik menunjukkan, bahwa kejahatan terus meningkat. Jadi, tampaknya tidak ada Menentukan dasar pembenaran pidana penjara dilihat dari sudut efektivitasnya, merupakan suatu pendekatan pragmatis yang memang sepatutnya dipertimbangkan dalam setiap langkah kebijakan. Namun masalahnya adalah, seberapa jauh efektivitas pidana penjara itu dapat diukur dan dibuktikan untuk memberikan dasar pembenaran ditetapkannya pidana penjara dalam perundang-undangan.

Untuk membahas masalah ini, berikut ini ditinjau masalah efektivitas pidana penjara dari dua aspek pokok tujuan pemidanaan, yaitu dari aspek perlindungan masyarakat dan dari aspek perbaikan si pelaku.

Efektiviatas pidana penjara dilihat dari aspek perlindungan masyarakat dilihat dari aspek perlindungan/kepentingan masyarakat, maka suatu pidana dikatakan efektif apabila pidana itu sejauh mungkin dapat mencegah atau mengurangi kejahatan. Jadi, kriteria efektivitas dilihat dari seberapa jauh frekuensi kejahatan dapat ditekan. Dengan kata lain, kriteria-kriterianya terletak pada seberapa jauh efek “pencegahan umum” (general prevention) dari pidana penjara dalam mencegah warga masyarakat pada umumnya untuk tidak melakukan kejahatan.

66

pengaruh pencegahan atau setidak-tidaknya tidak ada korelasi antara banyaknya pidana penjara yang dijatuhkan dengan menurunnua jumlah kejahatan.67 Dari data penelitian memang dapat dibuktikan, bahwa di satu pihak hakim paling banyak menjatuhkan pidana penjara dan di lain pihak kejahatan tetap meningkat. Hanya sekedar itu sajalah sebenarnya yang dapat diketahui secara pasti, tetapi begaimana pengaruh yang sesungguhnya dari bekerjanya pidana penjara itu terhadap naik turunnya kejahatan tidak dapat dikatahui secara pasti. Malahan menurut para kriminolog, keanekaragaman berat ringannya pidana tidak mempunyai pengaruh yang dapat dilihat atau dibuktikan terhadap timbulnya atau meluasnya kejahatan. Dikemukakan oleh Schultz, bahwa naik turunya kejahatan di suatu negara tidaklah berhubungan dengan perubahan-perubahan di dalam hukumnya atau kecenderungan-kecenderungan dalam putusan pengadilan, tetapi berhubungan dengan bekerjanya atau berfungsinya perubahan-perubahan kultural yang besar dalam kehidupan bermasyarakat.68

Khususnya mengenai pengaruh dari pidana penjara dikemukakan olehnya, bahwa setiap orang mengetahui pengaruh penjara itu terhadap si pelanggar, tetapi pengaruhnya terhadap masyarakat secara keseluruhan merupakan “terra incognita”, suatu wilayah yang tidak diketahui.

Demikian meredakan ketakutan (alleviation of fears), melepaskan ketegangan-ketegangan agresif (release of aggressive tensions), dan sebagainya.

69

67

Barda Nawawi Arief, Kebijakan Penanggulanngan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, CV. Ananta, Semarang, 1994, hlm. 106.

68

H.D. Hart, Ed., Punishment : For And Against, Hart Publishing Co. Inc., New York City, 1971, hlm. 21 : “Increases and decreases in a country are not related to changes in its laws or trends in court decision, but are a function of the major cultural changes in a community’s life”. Dalam Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Hukum Pidana….. hlm. 215.

69

Dilihat dari aspek perbaikan si pelaku, maka ukuran efektivitas terletak pada aspek “pencegahan khusus” (special prevention) dari pidana. Jadi ukurannya, terletak pada masalah seberapa jauh pidana (penjara) mempunyai pengaruh pada si pelaku/terpidana.

3. Kebijakan Legislatif Dalam Rangka Mengefektifkan Pidana Penjara

Kebijakan legislatif (formulatif) merupakan tahap paling strategis dari keseluruhan proses operasionalisasi/fungsionalisasi dan konkretisasi (hukum) pidana. Oleh karena itu, untuk mengefektifkan berfungsinya pidana penjara atau pidana perampasan kemerdekaan pada umumnya, kebijakan legislatif sepatutunya memerhatikan hal-hal sebagai berikut :70

a. Mengingat berbagai kritik dan kelemahan/pengaruh negatif dari pidana penjara, maka penggunaan/penetapan pidana penjara dalam perundang-undangan seyogianya ditempuh dengan kebijakan selektif dan limitatif. Kebijakan demikian (selektif dan limitatif) tidak hanya berarti harus ada penghematan dan pembatasan pidana penjara yang dirumuskan/diancamkan dalam perundang-undangan, tetapi juga harus ada peluang bagi hakim untuk menerapkan pidana penjara itu secara selektif dan limitatif. Ini berarti harus pula tersedia jenis-jenis pidana/tindakan alternatif lain yang bersifat “ non-custodial” ;

b. Agar hakim dapat menerapkan pidana penjara secara selektif dan dengan

Dokumen terkait