VI. Masalah perburuhan
Dengan dilaksanakannja projek-projek pemintalan, ra- yon, rami, dan kapas sesuai dengan pola pertama ini, maka un- tuk selama 5 tahun setapak-demi setapak djumlah tenaga kerdja di Industri Sandang akan bertambah dengan 404.000 orang buruh tetap dan 1.100.000 kaum buruh tani akan dapat tambahan pengha- silan sebagai buruh musiman untuk perkebunan kapas.
Menginsjafi besarnja peranan tenaga kerdja dalam pe- laksanaan pembangunan dan sesuai dengan tudjuan pembangunan semesta berentjana menudju masjarakat adil dan makmur atau sosialis a la Indonesia, sudah selajaknja djika masalah upah, kesedjahteraan sosial dan djaminan sosial para pekerdja men- dapatkan perhatian sebaik-baiknja. Dalam hubungan ini adalah wadjar bila dalam merentjanakan projek-projek dibidang san- dang, diberi perhatian terhadap unsur-unsur planologi dalam merentjanakan projek-projek perumahan dengan memenuhi sjarat- sjarat kesehatannja, poliklinik, tempat-tempat dan taman-taman rekreasi, lapangan-lapangan olah raga, kindergarten, tempat- tempat penitipan dan sekolah kanak-kanak serta tempat-tempat pertemuan untuk meningkatkan kebudajaan para pekerdja.
Soal-soal upah dan djaminan sosial seperti untuk tun- djangan sakit, perawatan, djaminan hari tua dan lain-lain emo- lumen harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga tidak ber- tentangan dengan prinsip adil dan makmur, bahkan harus dapat memperbesar kemungkinan untuk adanja kegembiraan dan enthousi- asme dikalangan tenaga kerdja. Untuk keperluan upah, djaminan sosial dan lain-lain emolumen kiranja belum tepat untuk dite- tapkan setjara terperintji dalam pola ini, mengingat masih adanja berbagai sistim upah/djaminan sosial dan berbedanja keadaan daerah jang satu dengan lainnja.
Berhubung dengan itu, maka harus ditetapkan djumlah persentase tertentu dari hasil pendjualan produksi, dari djumlah mana disatu fihak adan dapat mendjamin dipenuhinja hidup lajak bagi para pekerdja dan difihak lain setjara bed- rijfseconomies dapat dipertanggung-jawabkan menurut prinsip ekonomi terpimpin.
P E N U T U P ……..
P E N U T U P
Adalag suatu hal jang menggembirakan, bahwa suasana dewasa ini, suasana setelah kita kembali jepada Undang-undang Dasar 1945, mendorong kita berfikir dan bekerdja berbeda dengan tjara berfikir dan bekerdja kita pada masa-masa jang lalu.
Dibidang kebutuhan kita akan sandang pada masa-masa jang silam, pemerintah-pemerintah kita lebih tjenderung untuk mendatangkan/mengimport bahan-bahan jang sudah djadi. Memang ha- rus diakui, bahwa tjara demikian adalah tjara jang paling mudah, karena kita tidak usah memeras otak dan bersusah-pajah untuk memetjahkan problema jang sangat polik jakni bagaimana persoalan kekuarangan akan sandang Rakjat Indonesia bisa dipetjahkan dan diatasi atau lebih djauh bagaimana kita bisa selfsupporting di- bidang sandang. Djika keadaan tjadangan devisen tjukup banjak djumlahnja, kedjanggalan tjara bekerdja jang demikian itu kurang terasa benar. Tetapi, apabila tjadangan devisen makin berkurang, maka terasa sekali bahwa tjara bekerdja jang demikian adalah ku- rang/tidak tepat.
Kalau kita renungkan dan menengok, sedjenak kebelakang agaknja berulangkali kita telah berbajang-bajang persoalan ten- tang perlunja menghemat devisen itu supaja djatah untuk pemba- nguan bertambah besar. Tetapi pada saat-saat itu orang tidak/ku- rang begitu “berani” untuk menempuh djalan jang lain. dan kembali pula kita pada djalan jang memang sudah kita akui tidak tepat itu.
Akibat dari tjara bekerdja jang kurang “berani” untuk menempuh djalan jang lain itu sangat kita rasakan bersama. Balasan tahun telah lewat, tetapi Negara kita belum djuga memiliki suatu projek jang dapat dibanggakan dibidang sandang untuk mentjukupi kebutuhan sandang Rakjat kita.
Pada pertengahan tahun 1955 Pemerintah telah menginsjafi hal ini.
Dengan surat keputusan Menteri pertanian No. 89/UM/55 tanggal 6 Djuli 1955 dibentuklah “Panitya serat” jang bertugas sebagai berikut:
1. Mempeladjari segala sesuatu jang berhubungan dengan pelaksanaan pembuatan pakaian dari bahan-bahan jang dihasilkan di Indonesia, seperti kapas, rami, rosel- la dan sebagainja.
2. Menjusun ……….
2. Menjusun projek Nasional untuk produksi Tekstil. Menurut laporan Panitya Serat tanggal 10 Oktober 1955 hasil jang telah ditjapai selama itu adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan dan mempeladjari keterangan-keterangan tentang tanaman-tanaman serat tekstil, jang dalam tingkat sekarang baharu terdiri atas tanaman kapas dan Rami studi-studi termak- sud meliputi berbagai-bagai segi, jaitu
a. Segi pertanian (kultur – tehniknja).
b. Segi perindustrian (dalam hal ini processing dari bahan- bahan tersebut dari raw material hingga mendjadi “finished product”.
c. Segi penjelidikan (research) jang bersifat dua jakni menge- nai persoalan-persoalan pertanian dan perindustrian.
2. Mengadakan synchronisasi dan koordinasi dari hasil-hasil jang ditjapai dalam fatsal 1.
3. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan dari hasil-hasil studi jang termaksud dalam fatsal 1 dan 2, jang nanti akan disarankan ke- pada Pemerintah supaja selandjutnja mendapat perhatian seperlu- nja dan dapat dilaksanakan selekas-lekasnja.
4. Sebagai titik kulminasi dari hasil djerih pajah Panitya Serat, maka kini tersusunlah suatu “Urgensi Program) mengenai porjek: Produksi Tekstil untuk Indonesia. Dalam hal ini Panitya Serat tidak mempunjai protensi bahwasanja “Urgensi program” termaksud telah sempurna.
Dengan mengemukakan ini djelaslah bagi kita sampai di- mana usaha-usaha dan hasil-hasil jang telah ditjapai oleh Peme- rintah dibidang Sandang pada masa-masa jang lalu.
Kesimpulan jang dapat diambil daripadanja jalah bahwa Pemerintah pada masa-masa jang telah silam kurang memperhatikan soal bagai- manakah Indonesia dapat selfsupporting dibidang sandang.
Karena itu kita dapat mengerti bahwa sekaranglah tiba waktunja untuk memulai pekerdjaan jang berat itu, agar dalam waktu singkat Rakjat kita dapat ditjukupi kebutuhnja dibidang Sandang.
Depernas, sebagai suatu badan jang bertugas chusus
Dibidang ……
dibidang perentjanaan pembangunan semesta sesuai dengan bunji ketentuan jang berlaku baginja, dalam menuaikan tugasnja mesti mendjuruskan segala perhatiannja kepada persoalan bagaimana bahan-bahan kekajaan alam jang terdapat di Indonesia ini dapat dipergunakan demikian rupa untuk membantu usaha mentjukupi kebu- tuhan Rakjat dibidang sandang dengan djalan selfsupporting. Disamping masalah pemintalan jang begitu penting kedudukannja, bahan-bahan seperti Rayon, Kapas dan Rami dapat didjadikan projek- projek untuk tudjuan selfsupporting dibidang Sandang.
Dengan berpegangan pada hasil-hasil jang telah diru- muskan oleh Seksi Sandang Depernas, terutama dibidang pemintalan Rayon, Kapas dan Rami, adalah tidak berlebih-lebihan untuk menda- sarkan kejakinan kita, bahwa masalah kekurangan dibidang Sandang akan dapat diatasi dalam waktu singkat.
Dengan bantuan jang tulus-ichlas dari segala fihak jang bersang- kutan, kejakinan tersebut pasti mendjadi kenjataan.
Mari kita bekerdja terus!
Bandung, 1 M a r e t 1960 Seksi Sandang Depernas
Ketua, t.t.d.
(Mr. Elkana Tobing)
Sekretaris, Wakil Ketua,
t.t.d. t.t.d.
(Bahrin Jahja) (Lobo I.R.)