• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah sipil dan administratif selama reintegrasi

10. Perlindungan, Keamanan, dan Keselamatan

11.3 Masalah sipil dan administratif selama reintegrasi

Beberapa masalah sipil dan administratif terjadi pada korban setelah perdagangan orang. Beberapa korban trafficking kekurangan dokumen (dengan alasan-alasan diatas) yang membuatnya harus mengurus dan memproses dokumen batu. Beberapa dokumen korban sudah tidak berlaku ketika mereka kembali.

Proses dokumen baru atau penggantian dokumen seringkali rumit dan melibatkan prosedur administrasi yang tidak jelas. Seorang perempuan menjelaskan bagaimana ia tidak mengerti prosedur dan menerima informasi dari lembaga yang berbeda-beda Ia memutuskan untuk membayar seseorang untuk membantunya menguruskan akte kelahiran namun orang itu menipunya dan menghilang dengan uangnya tanpa memproses dokumennya, seperti dijelaskannya “Saya nyuruh sama orang situ [di desa] untuk ngurusin akte kelahiran. Saya sudah bayar, tapi aktenya engga ada. Jadi duitnya ilang orangnya kabur”.

Perempuan lain menjelaskan prosedur yang panjang dan rumit dengan biaya tinggi dan banyak persyaratan untuk akte kelahiran anaknya: “Ada pembuatan akte kelahiran gratis di desa [saya] tapi prosesnya susah sekali…persyaratannya banyak. Dan banyak sekali orang yang ikut”. Ia kemudian mengajukan ke kantor Kecamatan, namun ia juga menghadapi masalah:

Saya sudah kasih 500,000 [45USD] ke petugas di kecamatan untuk membuat akte kelahiran tapi sampai sekarang dia belum juga memprosesnya. Saya sedih karena untuk mendapatkan uang itu sangat sulit buat saya tapi kenapa orang itu belum memproses akte itu? Saya menangis kalau memikirkan tentang itu dan ibu saya juga menangis kalau saya bertanya soal ini.

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

108Di banyak negara Timur Tengah (Bahrain, Jordan, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab), sistem Kafala menyatakan bahwa status imigrasi tenaga kerja terikat secara hukum pada individu yang mempekerjakannya atau sponsor (“kafeel”). Hal ini berarti tenaga kerja migran tidak dapat masuk ke negara yang bersangkutan, berpindah kerja atau meninggalkan negara dengan alasan apapun tanpa ijin tertulis dari kafeel. Seringkali kafeel terlalu mengontrol tenaga kerja dengan menahan paspor dan dokumen perjalanan meskipun hal ini dinyatakan ilegal. Migrant Forum in Asia (2012) Policy Brief No. 2: Reform of the Kafala

(Sponsorship System). Philippines: Migrant Forum in Asia. Malaysia, negara tujuan utama lainnya bagi tenaga

kerja Indonesia, menggunakan sistem serupa dengan Kafala yang mengikat pekerja dengan majikan atau sponsor. Tahun 2009, Kementerian Dalam Negeri Malaysia melaporkan nota kesepakatan antara Malaysia dan lima negara asal tenaga kerja bahwa pekerja harus menyerahkan paspor mereka kepada majikan. Amnesty International (2010) Trapped: The Exploitation of Migrant Workers in Malaysia. London: Amnesty International.

Mengurus dokumen juga seringkali membuatkorban harus kembali ke tempat tinggal asal mereka dan akan memakan waktu dan biaya, seperti dijelaskan oleh seorang perempuan korban perdagangan orang: “Kalau bolak-balik ke sana, habis ongkos gitu”.

Seorang pria dan anak laki-laki sedang mendaftarkan diri untuk mendapatkan layanan di klinik kesehatan setempat. Foto: Peter Biro.

Beberapa korban tidak dapat pergi ke desa asalnya. Seorang perempuan menghadapi kesulitan untuk memperbaharui dokumennya karena ia tinggal di desa lain sejak ia kembali dan kondisi kesehatannya tidak memungkingkan untuk bepergian. Ia meminta bantuan sauadaranya untuk mengurus dokumen yang diperlukannya namun hal ini membutuhkan waktu, yang pada akibatnya juga menunda aksesnya untuk memperoleh perawatan

kesehatan. Laki-laki lainnya tidak bisa kembali ke rumah untuk mengurus dokumen baru karena ia mempunyai utang di desanya yang tidak bisa dikembalikannya. Ia meminta bantuan saudara untuk menguruskan dokumen tersebut namun mereka tidak memahami prosedurnya, ditambah lagi dengan tidak adanya hubungan dengan kepala desa yang menyebabkan proses nya tidak berjalan lancar.

Hidup di komunitas yang baru setelah perdagangan orang mengharuskan mereka untuk mendaftarkan tempat tinggalnya dan banyak responden yang berintegrasi di Jakarta menjelaskan kesulitan dalam proses ini termasuk tentang ketidakjelasan prosedur dan mahalnya biaya. Seorang perempuan yang tinggal di Jakarta menjelaskan bahwa ia menunggu selama sepuluh tahun sebelum akhirnya mendapatkan dokumen yang benar:

Saya engga bisa buat KTP Jakarta, aku bikin dulu aja musiman aja. Bayar 250ribu [23 USD] […] Saya ngasih uang, jadi kaya kartu kuning engga resmi gitu cuma ada logo dki ... Itu per 3 bulan abis […] Ya, aku hampir 10 tahun tinggal di Jakarta jadi ketika saya sudah mempunyai suami terus pengen punya ktp tuh baru dapet ktp dki tuh ketika udah punya suami aja…Dapet KTP DKI ya sampai sekarang.Saya merasa bangga menjadi warga DKI.

Kekurangan akses pada dokumen menyebabkan korban tidak dapat mengakses layanan yang seharusnya mereka dapatkan. Seorang perempuan korban eksploitasi seksual

menjelaskan bagaimana anak laki-lakinya tidak dapat melamar kerja karena tidak memiliki KTP. Perempuan lain menjelaskan bahwa karena anaknya tidak memiliki dokumen, ia tidak dapat mendaftarkannya ke sekolah. Perempuan lain lagi tidak dapat mendaftarkan anaknya pada pelayanan kesehatan juga karena tidak memiliki dokumen.

Ditambah lagi, beberapa anak yang lahir di luar negeri membutuhkan dokumen ketika kembali ke Indonesia. Seorang perempuan merupakan korban yang kemudian tinggal di negara tujuan tempat ia berhubungan dengan seorang laki-laki dan mempunyai anak. Laki-laki tersebut berkewarganegaraan asing dan tidak kembali ke Indonesa bersamanya. Proses untuk mengurus akter kelahiran menjadi rumit dan membutuhkan waktu yang panjang karena ia tidak memiliki surat nikah. Ia membutuhkan waktu satu tahun untuk

mendapatkan akte kelahiran untuk anak perempuannya. Dalam situasi dimana perempuan korban mengalami pemerkosaan (misalnya oleh majikan atau tamu) dan kembali dengan anak, mendapatkan identitas dan status hukum menjadi lebih sulit.

11.4 Ringkasan

Memiliki status legal termasuk identitas dan dokumen yang terdaftar sangat diperlukan untuk mengakses bantuan, serta melakukan hal praktis seperti melamar kerja, membuka rekening bank dan mengajukan pinjaman ke bank atau menggadaikan barang. Beberapa korban dan keluarganya kekurangan dokumen sebelum perdagangan orang yang

membatasi kemampuan untuk mengakses bantuan dan hak nya.

Beberapa masalah sipil merupakan konsekuensi langsung dari perdagangan termasuk dokumen yang disita oleh agen perekrut selama migrasi, atau hilang dan rusaknya dokumen oleh majikan, pelaku perdagangan orang atau yang mempekerjakannya. Beberapa korban mengalami dokumennya disita oleh agen perekrut ketika kembali dan ketika mengajukan tuntutan.

Kekurangan dokumen identitas menyebabkan korban tidak memiliki kemampuan untuk mengakses layanan yang menjadi hak mereka, yang sangat penting untuk mendukung reintegrasi. Banyak korban kekurangan dokumen sebelum atau sebagai konsekuensi

perdagangan; dokumen lainnya sudah tidak berlaku dan membutuhkan pembaharuan Anak-anak yang lahir dari ibu-ibu yang mengalami perdagangan orang juga tidak memiliki

dokumen ketika kembali ke Indonesia. Mendapatkan atau memperbaharui dokumen seringkali menjadi proses yang rumit karena prosedur administrasi yang tidak jelas, biaya tinggi dan masalah logistik lainnya.

Dokumen terkait