• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP

D. Masalah Sosial

yang mengalami transisi ke arah kebiasaan kota, yaitu pergeseran tenaga kerja dari pertanian, dan mulai masuk ke sektor industri.

Ciri-ciri masyarakat transisi adalah : adanya pergeseran dalam bidang pekerjaan, adanya pergeseran pada tingkat pendidikan, mengalami perubahan ke arah kemajuan, masyarakat sudah mulai terbuka dengan perubahan dan kemajuan zaman, tingkat mobilitas masyarakat tinggi dan biasanya terjadi pada masyarakat yang sudah memiliki akses ke kota misalnya jalan raya.

para ahli mendefinisikan bahwa masalah sosial suatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat berdasarkan studi merupakan gejala yang dapat menimbulkan kekacauan atau gangguan terhadap kehidupan warga masyarakat secara keseluruhan.

2. Kartini (1988) masalah social adalah bentuk tingkah laku yang melanggar adat-istiadat masyarakat (adat-istiadat yang diperlukan sebagai instrumen untuk mengatur masyarakat dalam hal mencapai keseahteraannya.

3. Soerjono Soekanto, Masalah Sosial adalah suatu ketidaksesuaian yang terjadi antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, dimana ketidaksesuaian tersebut dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial masyarakat.

4. Martin S. Weinberg mengemukakan pengertian masalah sosial, Masalah Sosial merupakan situasi yang dinyatakan sebagai keadaan yang bertentang dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup penting, dimana masyarakat sepakat melakukan suatu tindakan guna mengubah situasi tersebut.

Batasan masalah sosial rumit, karena kaitannya dengan sistem niali yang dianut oleh masing-masing komunitas. Menurut Cohen (Agussalim2005:9) masalah sosial terbatas pada masalah perilaku keluarga, kelompok atau individu menurut campur tangan masyarakat.

Salah satu ciri masalah sosial adalah sifatnya yang kompleks, tidak sesederhana yang dipikirkan orang, Masalah sosial tidak pernah muncul

mendadak melainkan dilatarbelakangi oleh penyebab yang kompleks dan rumit.

Penyebab yang kompleks dapat ditelusuri melalui berbagai proses, baik proses ekonomi, sosial, politik maupun kepribadian. Masalah itu dapat merupakan factor-factor inheren dan eksteren.

Dari suatu penelitian R.H. Lauer (1976) dalam (Sigit:2013) teridentifikasi adanya paling tidak terdapat tiga jenis masalah dilihat dari perhatian yang dilatarbelakangi masyarakat. Ada masalah yangterus-menerus mengancam, ada masalah yangmuncul secara periodic, dan ada yang secara teratur muncul dan hilang. Di dalam literature dijumpai banyak cara untuk melakukan klasifikasi masalah sosial. Garcia dan Militante menyebut beberapa cara untuk melakukanklasifikasi masalah sosial.

Yang pertama adalah yang dilakukan oleh D.M. Jensen (1947) berdasar atas penyebab timbulnya masalah, dan menghasilkan 4 kelompok masalah, yaitu :

1) masalahsosial yang bersumber fisik (penyakit fisik dan cacat),

2) masalah sosial bersumber mental (gangguan jiwa dan keterbelakangan mental),

3) masalah sosial bersumber ekonomi (kemiskinan dan pengangguran), 4) masalah sosial bersumber budaya (masalah kesejahteraan anak,

gelandangan, jompo, kejahatan, dan kecanduan minuman keras).

Ciri masalah sosial :

1. Masalah sosial bersifat relatif :

 Masalah sosial berkaitan erat dengan nilai-nilai moral yang dianut masyarakat

 Masalah sosial berkait erat denga struktur sosial yang menetukan normal/ abnormal

 Masalah sosial dilihat secara vertikal dan horizontal berbeda

2. Masalah sosialsaling berkaitan: saling berkaitan bersifat implikatif tidak sendiri-sendiri. JG Manis :

 Masalah primer : kondisi yg sangat berpengaruh dpt menimbulkan kerusakan ganda

 Masalah sekunder : kondisi berbahaya sbg dampak dari masalah primer

 Masalah tersier : kondisi berbahaya sbg akibat dari masalah dominan 3. Masalah sosial bersifat kompleks

Masalah sosial tidak muncul secara mendadak tetapi dilatarbelakangi oleh faktor penyebab yang rumit. Penyebabnya dapat ditelusuri melalui proses ekonomi, sosial, politik maupun kepribadian akibat yang ditimbulkan kadang diluar dugaan.

Masalah sosial tidak mudah ditangani sebab penyebabnya rumit, akibat yang ditimbulkan sulit diramalkan dan masalah sosial sering dilestarikan memlaui budaya.

4. Masalah sosial berubah dari waktu ke waktu.

RH Lauer : dilihat dari perhatian masyarakat ada 3 jenis masalah : a. Masalah yang terus menerus mengancam: perang dan damai.

b. Masalah yang muncul secara periodik: kemerosotan nilai moral

c. Masalah yang secara teratur muncul dan menghilang : pengangguran

Kesalahan pahaman mengenai masalah sosial :

1. Anggapan bahwa masyarakat menyetujui masalah sebagaimana adanya Masalah sosial relatif karena tolok ukurnya berbeda

2. Masalah sosial bersifat alamiah dan dapat dihindarkan

Masalah sosial terkait dengan nilai moral dan struktur sosial. Masalah sosial timbul dari hubungan antar manusia bukan faktor alam.

3. Masalah sosial abnormal

Masalah sosial tidak hanya disebabkan oleh kegagalan (patologi) tetapi juga oleh keberhasilan cont: ledakan penduduk karena keberhasilan pembangunan.

4. Masalah sosial disebabkan orang jahat Kejahatan timbul karena ada kesempatan

5. Masalah sosial berkembang sebagai akibat pemberitaan

Teori konflik berpandangan bahwa masalah sosial muncul melalui proses panjang yang disebut : model perkembangan alamiah (natural history model) atau karier sosial Mempunyai 4 tahap : agitasi, legitimasi dan kooptasi, birokrasi dan reaksi, serta re emergensi.

6. Semua orang menghendaki masalah sosial ditanggulangi Ada pihak yang dirugikan jika masalah sosial di tuntaskan.

7. Masalah sosial berhenti dengan sendirinya

Masalah sosial tidak dapat selesai dengan sendirinya bahkan akan menumpuk dan meledak menjadi masalah besar.

8. Masalah sosial dapat diselesaikan tanpa perubahan kelembagaan Penyelesaian masalah sosial tetap akan melibatkan kelembagaan..

E. Tanah Wakaf (Tempat Pemakaman Umum (TPU)

Wakaf adalah perbuatan hukum yang suci dan mulia, dan sebagai shadaqah jariyah. Artinya, selama barang yang diwakafkan dapat dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkannya, pahalanya tetap mengalir, meskipun si wakif (orang yang memberi wakaf) telah meninggal dunia. Wakaf merupakan salah satu ibadah kebendaan yang penting dan secara ekplisit tidak memiliki rujukan dalam kitab suci Al-Quran.

Kata wakaf didefinisikan sebagai akad menahan aset wakaf dan menyalurkan manfaatnya pada sabilillah. Definisi ini memberi pengertian bahwa wakaf memang harus menghasilkan sesuatu yang akan disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Artinya, jika tidak menghasilkan, maka maksud disyariatkannya wakaf menjadi tidak tercapai.

Pasal 1 poin (5) PP tentang Pelaksanaan UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf mendefinisikan pihak yang berhak menerima manfaat wakaf adalah pihak yang ditunjuk untuk memperoleh manfaat dari peruntukan harta benda wakaf sesuai pernyataan kehendak wakif yang dituangkan dalam Akta Ikrar Wakaf.

Tanah Waqaf adalah tanah yang dipisahkan atau diserahkan oleh wakif (pihak yang mewakafkan harta bendanya) untuk dimanfaatkan dalam jangka

waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut syariah. Oleh karena itu, perbuatan wakaf dilaksanakan sepenuhnya untuk tujuan sosial atau kesejahteraan umum.

Secara umum, pengelolaan bandha wakaf telah memiliki kamar-kamar model yang meliputi ragam bidang wakaf. Dalam bidang ibadah dan kegiatan keagamaan, bandha wakaf memiliki dua masjid yang menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, seperti ibadah, dakwah, dan pengajaran agama Islam, dan dijadikan sebagai tempat pemakaman umum.

Dalam bidang kesehatan, masing-masing masjid memiliki klinik tersendiri yang sama-sama membuka layanan kesehatan umum dan gigi. Dalam bidang bisnis, di atas bandha wakaf telah berdiri berbagai bangunan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti SPBU, komplek pertokoan, area komersial, dan wahana wisata keluarga. Bandha wakaf juga memiliki banyak lahan yang diberdayakan dalam bentuk pertanian dan perkebunan.

1. Unsur-unsur Perwaqafan Tanah

Tanah yang diwaqafkan adalah tanah hak milik atau tanah milik yang bebas dari segala pembebanan, ikatan, sitaan, atau perkara. Sedangkan pihak yang mewaqafkan tanah miliknya disebut waqif pada umumnya waqif adalah seseorang atau beberapa orang pemilik tanah yang telah dewasa, sehat akalnya dan tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hokum. Perwaqafan tanah milik harus dilakukan atas kehendak sendiri dan tanpa paksaan dari pihak lain. Selain manusia, badan hukum juga dapat melakukan perwaqafan tanah milik, namun hanya badan hukum tertentu yang menguasai tanah hak milik yang dapat

mewaqafkan tanah miliknya. Badan hukum yang dimaksud adalah bank pemerintah, lembaga keagamaan dan badan sosial.

2. Tata Cara Perwaqafan Tanah

Waqif harus mengikrarkan kehendaknya secara jelas dan tegas kepada nadzir di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Waqaf (selanjutnya disebut PPAIW). PPAIW kemudian menuangkan ikrar waqaf ke dalam Akta Ikrar Waqaf dengan disaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi. Dalam melaksanakan ikrar waqaf, waqif harus membawa dan menyerahkan kepada PPAIW surat-surat sebagai berikut :

1) Sertifikat hak milik atau tanda bukti pemilikan tanah lainnya

2) Surat keterangan dari Kepala Desa yang diperkuat oleh Kepala Kecamatan setempat yang menerangkan kebenaran pemilikan tanah dan tidak tersangkut suatu sengketa.

3) Surat keterangan pendaftaran tanah 4) izin dari bupati atau walikota 3. Perubahan Perwaqafan Tanah

Pada prinsipnya tanah milik yang telah diwaqafkan tidak dapat dilakukan perubahan terhadap peruntukan atau penggunaannya selain dari apa yang telah diwaqafkan dapat dilakukan karena :

1) Tidak sesuai lagi dengan tujuan waqaf sesuai dengan apa yang diikrarkan oleh waqif.

2) Kepentingan umum

Perubahan peuntukan tanah waqaf tersebut harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Agama. Perlu diketahui bahwa tanah waqaf tidak dapat dijadikan jaminan utang. Hal ini disebabkan karena sifat dan tujuan waqaf yang tidak dipindahtangankan.

4. Tempat Pemakaman Umum

Definisi Tempat Pemakaman Umum berdasarkan Pasal 1 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1987 tentang Penyediaan Penggunaan Tanah Untuk Keperluan Tempat Pemakaman (“PP 9/1987”) “ Tempat Pemakaman Umum adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman jenazah bagi setiap orang tanpa membedakan agama dan golongan, yang pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II atau Pemerintah Desa.

5. Ijin Pengelolaan Makam

Dasar Hukum Perda No. 5 Tahun 2003 Tentang Retribusi Pelayanan Pemakaman.

a. Pengertian :

1. Makam adalah tempat untuk menguburkan jenasah

2. Tempat Pemakaman umum adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman jenasah yang pelayanannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah

3. Tempat Pemakaman bukan umum adalah areal tanah milik pemerintah daerah yang disediakan untuk keperluan pemakaman jenasah yang dikelola oleh badan sosial dan atau badan keagamaan

4. Retribusi Pelayanan Pemakaman Jenasah adalah pembayaran atas pelayanan pemakaman jenasah yang meliputi pelayanan pemakaman jenasah dan sewa tempat pemakaman jenasah yang diberikan oleh pemerintah daerah

b. Ketentuan Umum :

Setiap pemegang ijin dalam pengelolaan makam berkewajiban untuk :

1. Setiap akhir tahun memberikan data maka dalam pengelolaan pemegang ijin

2. Melaporkan makam-makam yang telah habis masa sewa tanah makamnya 3. Mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku

4. Memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan makam

5. Mencegah pengundulan dan erosi yang mengakibatkan rusaknya lingkungan

6. Membantu pemerintah daerah memungut retribusi pemakaman baru dan perpanjangan

7. menciptakan lingkungan yang nyaman, asri dan indah dengan penataan pohon/bunga hias

8. memasang papan pengumuman sebagai sarana sosialisasi tentang peraturan daerah yang berlaku.

Setiap Pemegang Izin dalam pengelolaannya dilarang : 1. Memindahtangankan ijin Pengelolaan Makam kepada pihak lain 2. Mengadakan perluasan tanah/lahan makam tanpa ijin Bupati

3. Memakamkan jenasah diatas tanah/lahan yang belum memeliki ijin dari instasi yang berwenang

F. Kerangka Pikir

Permasalahan tanah waqaf dalam hal ini tempat pemakaman umum menimbulkan perhatian banyak masyarakat sehingga bermunculan berbagai pandangan-pandangan atau perspektif mengenai lahan pemakaman tersebut.

Dalam sosiologi, perspektif atau pandangan masyarakat merupakan cara yang dilakukan dengan melihat, memahami, dan mengamati apa yang terjadi di lapangan. Tanah waqaf dalam hal ini tempat pemakaman umum memang mampu mengintegrasikan warga masyarakat lantaran tempat pemakaman merupakan fungsi, yakni difungsikan oleh warga masyarakat tanpa terkecuali.

Namun yang jadi permasalahan adalah Pertambahan penduduk senantiasa menuntut tersedianya lahan untuk menampung kegiatannya, salah satunya adalah masalah penyediaan lahan untuk pemakaman umum di perkotaan termasuk di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Lahan yang terbatas menyebabkan pola pemanfaatan lahan makam yang ada kurang teratur sehingga menimbulkan berbagai masalah seperti penyerobotan dan terdesaknya lahan makam yang dijadikan permukiman penduduk oleh masyarakat sekitar Tempat Pemakaman Umum setempat, kurang diperhatikannya keserasian dan keselarasan lingkungan hidup.

lahan pemakaman yang semakin sempit menimbulkan konflik dalam hal perebutan tanah makam, sehingga yang memiliki kekuasaan dan status sosial yang tinggi itulah yang mendapatkan tanah makam tersebut. Bagi masyarakat biasa

terpaksa memakamkan jenazah keluarganya di tempat yang tidak terurus, seperti di tanah liar, entah itu di tanah yang berbukit, atau di kebun sendiri yang bisa di pergunakan seadanya. Masalah berikutnya adalah semakin tingginya biaya pemakaman maka akan menyulitkan warga yang miskin untuk bisa menikmati TPU tersebut, dibanding dengan warga yang berkuasa. Pembangunan makam tertentu yang biasa bermegah-megahan, mempercantik, akan menimbulkan diskriminatif dalam hal pemakaman serta membuat lahan pemakaman semakin sempit.

Dokumen terkait