• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORETIK

2. Mastery Learning

a. Pengertian dan Konsep dasarMastery Learning(belajar tuntas)

Secara bahasa, kata “mastery” berarti“penguasaan” atau

“keunggulan”.19Sedang “learning” sering diartikan “belajar” atau “pengetahuan”.20 Sehingga kalau digabung dua kata tersebut “mastery learning” berarti “penguasaan pengetahuan” atau “penguasaan penuh”. Namun dalam dalam dunia pendidikan “mastery learning” bisa diartikan dengan “belajar tuntas” atau “pembelajaran tuntas.” Mastery learning (belajar tuntas) dalam KTSP adalah pendekatan pembelajaran yang mempersyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu.21 Pengertian tersebut menunjukkan bahwa mastery learning merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan tujuan agar sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran (kompetensi) secara tuntas.22

Mastery learning merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur, bertujuan untuk mengadaptasikan pembelajaran pada siswa kelompok besar (klasikal), membantu mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada siswa dan berguna untuk menciptakan kecepatan belajar (rate of progress). Pendekatan ini bersifat individual dan diharapkan mampu mengatasi kelemahan-kelemahan pembelajaran yang bersifat klasikal. Artinya, mastery learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menganut azas ketuntasan belajar, dengan tolok ukur yang digunakan pada pencapaian hasil belajar, yakni tingkat kemampuan siswa orang perorang, bukan per kelas dalam

19 John M. Echols dan Hasan Shadily,Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1996), h. 374

20 Ibid., h.374

21 Kunandar,Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,22 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 327.

E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan inovasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h. 53.

mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Pembelajaran individual (individualized instruction) merupakan ciri khas dari mastery learningini. Secara konseptual, mastery learning ini merupakan strategi atau model pembelajaran yang telah lama digagas oleh Carrol dalam bukunya “model of school learning”. Teori Carrol tersebut kemudian dimodifikasi secara operasional oleh Bloom, lalu dikembangkan lagi oleh Block.23 Namun demikian, model ini tetap masih relevan dan baik, apalagi diterapkan dalam upaya pencapaian standar kompetensi siswa, terutama dalam pembelajaran ekonomi dalam KTSP sebagai kurikulum yang berbasis kompetensi. Artinya mastery learning merupakan suatu keniscayaan dan bagian integral yang tak dapat dipisahkan. Pendekatan/strategi pembelajaran ini lebih menekankan pencapaian kompetensi dan hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning). Pembelajaran tuntas yang dimaksudkan dalam pelaksanaan KTSP merupakan suatu pola pembelajaran yang menggunakan pendekatan diagnostic/preskriptif (mengetahui kesulitan belajar siswa) dan ketuntasan secara individual. Hal ini diperlukan pemberian kebebasan belajar serta berupaya mengurangi kegagalan siswa dalam belajar. Pada sisi lain, strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada kelompok siswa (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual siswa, sehingga potensi masing-masing siswa berkembang secara optimal. Dasar pemikiran dari mastery learning dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing.24

23 B. Suryosubroto,Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 84.

24 Kunandar,Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,, h. 327

b. KarakteristikMastery Learning

Adapun karakteristikmastery learning, sebagai berikut:25

1) Pada dasarnyanya strategimastery learningadalah jika kepada para siswa diberikan waktu yang cukup, dan mereka diperlakukan secara tepat, maka mereka akan mampu dan dapat belajar sesuai dengan tuntutan kompetensi yang diharapkan.

2) Belajar atas tujuan pembelajaran yang hendak dicapai yang ditentukan terlebih dahulu.

Tujuan pembelajaran memberi arah balik kepada guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, ini berarti bahwa tujuan strategi pembelajaran adalah agar hampir atau semua siswa dapat mencapai tingkat penguasaan tujuan pendidikan. Jadi, baik sarana, metode, materi pelajaran maupun evaluasi yang digunakan untuk keberhasilan siswa berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

3) Memperhatikan perbedaan individu(individual difference)

Suatu kenyataan bahwa individu mempunyai perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan karena faktor-faktor intern maupun ekstern. Terutama faktor ekstern melalui indra dan kecepatan belajar siswa. Untuk itu pelaksanaan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan kepekaan indra siswa. Jadi, proses pembelajaran yang tepat adalah menggunakan multimedia dan multi metode yang sesuai dengan tujuan dan keadaan individu siswa.

4) Menggunakan prinsip siswa belajar aktif(active learning)

Belajar aktif (active learning) memungkinkan para siswa memperoleh pengetahuan dan mengembangkan ketrampilan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan sendiri. Cara belajar yang demikian memungkinkan siswa untuk

bertanya apabila mengalami kesulitan dalam mencari buku-buku atau sumber-sumber lain dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya.

5) Menggunakan satuan pelajaran terkecil (RPP)

Satuan-satuan pelajaran dengan unit terkecil disusun secara sistematis, berurutan dari yang mudah ke yang sukar. Pembagian unit pelajaran menjadi yang kecil-kecil (cremental units) sangat diperlukan guna memperoleh umpan balik (feedback) secepat mungkin, sehingga perbaikan dapat segera dilakukan sedini mungkin dan untuk memberikan layanan yang terbaik.

6) Menggunakan sistem evaluasi yang kontinyu dan berdasar atas kriteria.

Evaluasi secara kontinu berarti evaluasi dilaksanakan terus menerus yaitu pada awal, selama dan pada akhir proses belajar mengajar. Evaluasi ini dilakukan agar guru memperoleh umpan balik dengan segera, sering dan sistematis. Sedang evaluasi berdasar atas kriteria berarti evaluasi berdasar keberhasilan belajar siswa, tidak berdasar atas norma dibandingkan dengan siswa lain dalam satu kelas. Evaluasi yang digunakan bisa melalui tes (misalnya tes formatif dan sumatif) atau non tes (misalnya unjuk kerja/performancedan portofolio).26

c. Asumsi dasarMastery Learning

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa mastery learning dalam KTSP berbasis kompetensi merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Oleh karena itu, dalam model yang paling sederhana, Carrol dalam Winkel mengemukakan bahwa jika setiap siswa diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan siswa akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika siswa tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu

yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan kompetensi siswa tersebut belum optimal.27 Block dalam Winkel menyatakan tingkat penguasaan kompetensi siswa sebagai berikut:

Degree of learning = f ( time actually spent : time needed)

Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu.28 Mastery learning berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat, semua siswa mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua siswa memperoleh hasil yang maksimal pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisasi tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap siswa yang lambat mencapai tujuan (kompetensi) yang telah ditetapkan.

Mastery learningdilandasi oleh dua asumsi.Pertama, teori yang mengatakan bahwa adanya hubungan antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensi yang dimiliki (bakat). Hal ini sesuai dengan teori bakat menurut Carrol dalam Mulyasa, yang menyatakan bahwa apabila siswa didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Hal ini berarti bahwa siswa yang berbakat cenderung untuk memperoleh nilai yang tinggi atau dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi.29

Kedua, apabila pembelajaran dilaksanakan secara sistematis, semua siswa

27 W.S Winkel,, Psikologi Pengajaran, …, h. 268. 28 Ibid., h. 270.

akan mampu menguasai bahan yang disajikan kepadanya.Mulyasa menyatakan bahwa pada dasarnya bakat bukanlah merupakan indeks kemampuan seseorang, melainkan sebagai ukuran kecepatan belajar (measure of learning rate). Artinya orang yang memiliki bakat tinggi memerlukan waktu relatif lebih sedikit untuk mencapai taraf penguasaan bahan dibandingkan dengan siswa yang memiliki bakat rendah. Sehingga dengan demikian, siswa dapat mencapai penguasaan penuh terhadap bahan yang disajikan, bila kualitas pembelajaran dan kesempatan waktu belajar dibuat tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Oleh karena itu, implikasinya dalam kegiatan belajar harus diberikan waktu belajar yang berbeda-beda untuk masing-masing siswa.30

d. Prinsip-prinsipMastery Learning

Pada dasarnya mastery learning akan menciptakan siswa memiliki kemampuan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan antara anak cerdas dengan anak kurang cerdas atau anak yang berbakat dengan anak yang tidak berbakat.31 Secara tegas dapat dikatakan bahwa sistem pembelajaran yang menggunakan prinsipmastery learning adalah tidak menerima perbedaan prestasi belajar siswa sebagai konsekuensi perbedaan bakat.32

Sebagaimana yang telah dikemukakan Carrol tentang teori bakat pada penjelasan sebelumnya. Pada posisi ini, prinsip mastery learning adalah menciptakan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran (kompetensi). Sehingga dengan demikian, di dalam kelas tidak terjadi anak cerdas akan mencapai semua kompetensi, sementara anak yang kurang cerdas mencapai sebagian kompetensi atau tidak mencapai sama sekali kompetensi yang diharapkan. Melalui prinsip mastery learning semua siswa akan mencapai kompetensi, hanya saja waktu yang diperlukan berbeda.

30 E.Mulyasa,Implementasi Kurikulum 2004, …, h 54

31 Martinis Yamin,Profesionalitas Guru Dan Implementasi KTSP,(Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), h. 121

32 Oemar Hamalik, Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA,(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2003), h. 84.

Argumentasi tersebut sangat sejalan dengan pendapat Winkel yang mengemukakan bahwa bilamana siswa tidak mencapai tingkat keberhasilan yang dituju, hal ini karena tidak disediakan waktu yang cukup, sesuai dengan kebutuhan siswa atau karena waktu yang disediakan dan sebenarnya cukup itu, tidak digunakan dengan sungguh-sungguh. Artinya tingkat penguasaan bahan (kompetensi) dalam pembelajaran sangat tergantung pada jumlah waktu yang disediakan.33

Berdasarkan konsep tersebut, dapat dipahami bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan mastery learning adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi siswa dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus siswa yang lambat belajar (slow learners) agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar.34 Hal tersebut mencerminkan adanya variasi penguasaan materi pembelajaran sekaligus juga mengakui adanya perbedaan kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi.

Berdasarkan uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa prinsip mastery learning adalah: Pertama, ditetapkan batas minimal tingkat kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Kedua, menggunakan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) untuk menilai keberhasilan belajar siswa mencapai standar ketuntasan minimal (KKM). Ketiga, siswa tidak diperbolehkan pindah ke topik atau tugas berikutnya, jika topik atau tugas yang sedang dipelajarinya belum dikuasai sampai standar minimal. Keempat ,memberikan kemampuan yang utuh, mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kelima, setiap peserta diberi kesempatan untuk mencapai standar minimal, sesuai dengan irama dan kemampuan belajarnya masing-masing (individualized learning). Keenam,

33 W.S Winkel,, Psikologi Pengajaran, …, h. 268.

34 Kunandar,Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) …, h. 327.

disediakan program bimbingan remedial bagi peserta yang lambat (slow learner), dan program pengayaan bagi peserta yang lebih cepat (fast learner) menguasai kompetensi serta percepatan (acceleration) bagi anak yang superior dan istimewa.

e. Strategi PelaksanaanMastery Learning

Pendekatanmastery learningapabila dilakukan pada kondisi yang tepat, maka semua siswa akan mampu belajar dengan baik dan dapat mencapai hasil yang maksimal. Agar semua siswa memperoleh hasil yang maksimal, pembelajaran harus dilakukan secara sistematis terstruktur, yakni tercermin dalam strategi pembelajaran tuntas yang dilaksanakan. Strategi mastery learning menurut Hamalik adalah suatu strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok (group based approach). Pendekatan ini memungkinkan para siswa belajar bersama-sama berdasarkan pembatasan bahan pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa, sampai tingkat tertentu, penyediaan waktu belajar yang cukup, dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.35

Strategi mastery learning dapat diterapkan secara tuntas sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama dalam level mikro yaitu mengembangkan individu dalam proses pembelajaran di kelas. Menurut Mulyasa strategi mastery learning dapat dibedakan dari pembelajaran non-mastery learningterutama dalam hal-hal berikut:36

1) Pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test).

2) Siswa baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan.

35 Oemar Hamalik, Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA,…, h. 85.

3) Pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap siswa yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran korektif yang menurut Marrison merupakan pengajaran kembali, pengajaran tutorial, restrukturasi kegiatan belajar dan pengajaran kembali kebiasaan-kebiasaan belajar siswa, sesuai dengan waktu yang diperlukan masing-masing.

Sementara strategi mastery learning yang dikembangkan oleh Bloom meliputi tiga bagian, yaitu mengidentifikasi prakondisi, mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar. Selanjutnya diimplementasikan dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual yang meliputi:

1) Corrective technique, semacam pengajaran remedial yang dilakukan dengan pemberian terhadap tujuan yang gagal dicapai oleh siswa, dengan prosedur dan metode sebelumnya.

2) Memberikan tambahan waktu kepada siswa yang membutuhkan atau belum menguasai bahan dan kompetensi secara tuntas.37

f. Pola dan ProsedurMastery Learning

Sebagai upaya menciptakan suatu pembelajaran yang baik dan berhasil, Bloom mengembangkan suatu pola dan prosedur pembelajaran yang dapat diterapkan pada satuan kelas termasuk mastery learning. Secara operasional, Bloom dan Winkel mempersiapkan langkah-langkah praktis dalam implementasi

mastery learningsebagai berikut:38

1) Menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa, baik yang bersifat umum maupun khusus (sekarang dikenal dengan istilah standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator).

Menurut Sanjaya ada beberapa alasan tujuan pembelajaran perlu dirumuskan

37 Martinis Yamin,Profesionalitas Guru Dan Implementasi KTSP,…, h. 125. 38 Ibid., h.126.

dalam merancang suatu program pembelajaran, yaitu:39

Pertama, perumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektifitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan itu merupakan indikator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.

Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat membimbing siswa dalam melaksanakan aktifitas belajar. Berkaitan dengan itu guru juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu siswa.

Ketiga, tujuan pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dan tepat dapat membantu guru dalam menentukan materi pembelajaran, strategi, alat, media dan sumber belajar, serta menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa.

Keempat, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya melalui penetapan tujuan, guru dapat mengontrol seberapa jauh siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah/madrasah.

2) Menjabarkan materi pembelajaran (bahan ajar) atas sejumlah unit pembelajaran (sekarang disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/ RPP). Materi pembelajaran dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, berdasarkan kurikulum yang sedang berlaku (KTSP). Agar rencana pembelajaran membantu guru dalam pembelajaran, rincian pokok-pokok materi hendaknya

dicantumkan secara cermat dalam rencana pembelajaran. Dalam mengorganisasikan materi, guru dapat menempuh berbagai cara. Guru dapat menyusunnya dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak, atau yang ada disekitar siswa.40

Pemilihan materi pembelajaran (bahan ajar) harus sejalan dengan kriteria-kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum bidang, yaitu: 1)

akurat danup to date, sasarannya sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan baru dalam bidang teknologi; 2) kemudahan, sasarannya untuk memenuhi prinsip, generalisasi dan memperoleh data; 3) kerasionalan, sasarannya mengembangkan kemampuan berfikir rasional, bebas dan logis; 4) esensial, sasarannya untuk mengembangkan moralitas penggunaan pengetahuan; 5) kemaknaan, sasarannya bermakna bagi siswa dan perubahan sosial; 6) keberhasilan, sasarannya keberhasilan untuk mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa; 7) keseimbangan, sasarannya mengembangkan pribadi siswa secara seimbang dan menyeluruh; 8) kepraktisan, sasarannya mengarahkan tindakan sehari-hari dan untuk pelajaran berikutnya.41

3) Memberikan pelajaran secara klasikal, sesuai dengan unit pembelajaran yang sedang dipelajari.

Proses pembelajaran menurut Muslich dikelompokkan ke dalam tiga kegiatan besar, yaitu: 1) kegiatan awal, biasanya diisi dengan mengemukakan hal-hal yang menarik minat siswa untuk belajar, membahas ulang pengetahuan prasyarat atau menyampaikan informasi awal atau penjelasan tugas secara klasikal. Pengetahuan prasyarat yang dibahas hendaknya betul-betul yang dekat dengan konsep baru yang dipelajari, tidak terlalu jauh sehingga waktu yang digunakan menjadi singkat; 2) kegiatan inti, disediakan untuk siswa mengalami kegiatan seperti melakukan percobaan, bermain peran, kegiatan pemecahan

40 Wardani,Pemantapan Kemampuan Guru Mengajar, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), h. 8.

masalah, atau simulasi yang sebaiknya dilakukan secara berpasangan atau kelompok. Apabila kegiatan ini dilakukan siswa secara perorangan maka harus diikuti dengan kegiatan yang melibatkan lebih dari satu orang, misalnya saling menjelaskan proses dan hasil belajar kepada temannya. Hal ini dimaksudkan agar tercipta interaksi diantara mereka sehingga hasil belajar mereka menjadi mantap; 3) kegiatan penutup, biasanya diisi dengan rangkuman hasil belajar secara klasikal. Alokasi waktu untuk kegiatan awal dan penutup sebaiknya tidak lebih dari 10-15 menit sehingga sisanya untuk kegiatan inti.42

4) Memberikan tes kepada siswa pada akhir masing-masing unit pembelajaran, untuk mengecek kemajuan masing-masing siswa dalam mengolah materi pembelajaran. Tes itu bersifat formatif, yaitu bertujuan mengetahui sampai seberapa jauh siswa dalam pengolahan materi pembelajaran (diagnostic progress test). Menurut Yamin dalam test formatif ini, ditetapkan norma yang tetap dan pasti, misalnya 80% dari jumlah pertanyaan dalam tes itu harus dijawab betul, supaya siswa dinyatakan berhasil atau telah menguasai tujuan pembelajaran.43

5) Siswa yang belum mencapai tingkat penguasaan yang dituntut, diberikan pertolongan khusus, misalnya bantuan dari seorang teman yang bertindak sebagai tutor sebaya, mendapat pengajaran dalam kelompok kecil, disuruh mempelajari buku bidang lain dan mengambil unit pelajaran yang telah diprogramkan.

6) Setelah semua siswa mencapai tingkat penguasaan pada unit pembelajaran yang bersangkutan barulah guru mulai mengajarkan unit berikutnya.

7) Setelah siswa paling sedikit kebanyakannya, mencapai tingkat keberhasilan yang dituntut guru mulai mengajar unit pelajaran ketiga. Jadi seluruh siswa dalam kelas selalu mulai mempelajari suatu unit pelajaran baru secara bersama-sama.

42 Masnur Muslich, KTSP:Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 60.

8) Prosedur yang sama diikuti pula dalam mengajarkan unit-unit pelajaran lain, sampai seluruh rangkaian pembelajaran selesai.

9) Setelah seluruh rangkaian unit pelajaran selesai, siswa mengerjakan tes yang mencakup seluruh rangkaian unit pembelajaran. Tes akhir ini bersifat sumatif, yaitu bertujuan mengevaluasi taraf keberhasilan masing-masing siswa terhadap semua tujuan pembelajaran.44

g. Faktor-faktor yang mempengaruhiMastery Learning

Para pakar pendidikan berkeyakinan bahwa sebagian besar bahkan semua siswa mampu menguasai bahan pelajaran tertentu sepenuhnya dengan syarat-syarat tertentu serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berdasarkan teori Carrol, Bloom, Block dan yang lainnya dapatlah diidentifikasi dan dielaborasikan bahwamastery learningdipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

1) Bakat (aptitude)

Bakat sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih juga sangat berpengaruh bagi tercapainya prestasi seseorang. Ada korelasi antara bakat yang tinggi dengan prestasi belajar. Korelasi antara bakat, misalnya untuk pelajaran matematika dan prestasi untuk bidang itu setinggi 70. Hasil itu akan tampak bila kepada siswa dalam satu kelas diberikan metode yang sama dalam waktu yang sama. Namun menurut Carrol adanya perbedaan bakat dipandang sebagai perbedaan waktu yang diperlukan untuk menguasai sesuatu. Jadi perbedaan bakat tidak menentukan tingkat penguasaan atau jenis bahan yang dipelajari. Jadi setiap orang dapat menguasai bidang studi apapun hingga penguasaan yang tinggi asal diberi waktu yang cukup.

2) Ketekunan belajar (perseverance)

Ketekunan itu nyata dari jumlah waktu yang diberikan oleh murid untuk belajar mempelajari sesuatu memerlukan jumlah waktu tertentu. Carrol

mendefinisikan ketekunan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh siswa untuk belajar.45 Bila siswa membutuhkan sejumlah waktu untuk mempelajari bahan pelajaran tetapi ia hanya mendapat waktu kurang dari apa yang ia butuhkan untuk mempelajari suatu bahan, maka ia tidak akan menguasai bahan sepenuhnya. Waktu belajar yang dimaksudkan adalah jumlah waktu yang digunakan untuk kegiatan belajar, yaitu mempelajari sesuatu secara aktif.

3) Kualitas pembelajaran(quality of instruction)

Implementasi KTSP berbasis kompetensi, menurut dukungan tenaga kependidikan yang terampil dan berkualitas, agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas setempat, serta mengefisienkan sistem dan mengendorkan birokrasi yang tumpang tindih. Dalam pada itu, dituntut kemandirian dan kreatifitas sekolah dalam mengembangkan

Dokumen terkait