• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MASYARAKAT HUKUM ADAT SAIBATIN DAN POLITIK

3.3 Masyarakat Hukum Adat dan Pemimpin Adat dalam Politik Hukum

3.3.4 Masyarakat Hukum Adat dan Pemimpin Adat Dalam

Reformasi politik yang bermula pada tahun 1998 memandang bahawa sistem politik

yang dibina oleh pemerintah Orde Baru kurang mampu memenuhi aspirasi demokrasi,

termasuk mengelola beragam sosial yang ada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Lemahnya mekanisme check and balances di antara lembaga negara, antara

pusat dan daerah, antara negara dan masyarakat, memberikan akibat munculnya

kekuasaan yang sentralistik dan melahirkan ketidakadilan. Oleh itu Reformasi ini

mengembangkan Indonesia sebagai bangsa menuju negara yang demokratik, adil dan

makmur dengan cara merubah sistem kekuasaan dan merubah struktur-struktur negara

sesuai dengan perubahan zaman dan tuntutan-tuntutan yang berkembang dalam

masyarakat (Megawati 2006: 1-2).

Untuk merubah sistem kekuasaan itu, maka dibentuklah UU No. 22 Tahun 1999

yang kemudian diganti oleh UU No. 32 Tahun 2004 (tentang Pemerintahan Daerah).

UU yang baharu ini memberikan asas desentralisasi lebih besar daripada asas

University

152

dekonsentrasi dalam penyelenggaran pemerintahan daerah. Dengan demikian, corak

kekuasaan pada masa Reformasi berubah daripada bersifat sentralisasi, hirarki dan

uniformiti kepada kekuasaan yang bersifat desentralisasi dan autonomi. Perubahan

kekuasaan itu dalam UU tersebut untuk mewujudkan masyarakat madani (civil society)

dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat madani akan menciptakan nilai

demokrasi, sikap keterbukaan, kejujuran, keadilan, mendahulukan kepentingan rakyat

dan bertanggungjawab kepada rakyat (accountability) (Syaifin dan Junaedah 2005:

165-166).

Sejalan dengan perubahan kekuasaan itu, UU ini tidak mengatur perkara

masyarakat hukum adat berikut pemimpin adat secara jelas namun telah memberikan

peluang bagi masyarakat hukum adat untuk memadukan autoriti berdasarkan

adat-istiadat dengan autoriti desa yang telah diberikan oleh UU tersebut. Dalam konteks

keanekaragaman, UU ini juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk memberikan

nama/istilah desa sesuai dengan nama yang ada dalam adat-istiadat. Tetapi secara jelas,

kewujudan UU lebih ditujukan untuk mengatur pemerintahan desa supaya lebih dinamik

dan demokrasi, dan membentuk struktur-struktur kekuasaan yang lebih mempunyai

keseimbangan antara satu sama lainnya (check and balance) (Syaifin dan Junaedah

2005: 165-166) bukan untuk mengatur masyarakat hukum adat berikut kepimpinan adat

secara seimbang dan adil.

Untuk membentuk sistem pemerintahan desa supaya lebih dinamik dan

demokrasi, dan supaya mempunyai keseimbangan antara satu struktur kekuasaan

dengan struktur kekuasaan yang lain (check and balance), UU ini memisahkan lembaga

eksekutif (kepala desa dan perangkat desa) dengan lembaga legislatif desa (Badan

Permusyawaratan Desa/BPD). Pemisahan kedua-dua lembaga tersebut merupakan

perubahan paradigma kekuasaan pada pemerintahan desa. Sebelumnya, menurut UU

No. 5 Tahun 1979, kepala desa selain sebagai kepala pemerintah desa (eksekutif), ia

University

juga sebagai kepala lembaga legislatif desa (Lembaga Musyawarah Desa/LMD).

Bahkan kepala desa menjawat hampir semua lembaga termasuk Lembaga Ketahanan

Masyarakat Desa (LKMD). Jadi kepala desa diinginkan oleh politik hukum Orde Baru

sebagai pihak yang berkuasa secara tunggal dan juga sebagai wakil daripada pemerintah

dia atas desa secara hirarki. Oleh sebab itu, LMD tidak boleh diharapkan sebagai wadah

penyalur aspirasi masyarakat desa dan pula sebagai pengawal terhadap proses

penyelenggaraan pemerintahan desa (UU No. 32 Tahun 2004, Pasal 210; Peraturan

Pemerintah (PP) RI No. 72 Tahun 2005, Pasal 30).

Menurut UU No. 32 Tahun 2004, kepala desa sebagai kepala pemerintahan desa

dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dibantu oleh seluruh perangkat desa yang

ada, iaitu setiausaha desa, kepala urusan, dan kepala dusun. Setiausaha desa dan kepala

urusan dipilih oleh anggota BPD sedangkan kepala desa dan kepala dusun dipilih

langsung oleh masyarakat desa dan masyarakat dusun (PP RI No. 72 Tahun 2005, Pasal

15). BPD merupakan lembaga legislatif desa dan anggota-anggota BPD berasal

daripada masyarakat desa yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti ketua

rukun warga, pemangku adat, dan tokoh masyarakat lainnya, yang dipilih dengan cara

musyawarah dan mufakat (UU No. 32 Tahun 2004, Pasal 210 ; PP RI No. 72 Tahun

2005, Pasal 30). BPD selain sebagai lembaga legislatif desa, ia juga sebagai lembaga

demokrasi di peringkat desa dan berkedudukan sebagai “rakan kerja” kepala desa. Masing-masing kepala desa dan BPD mempunyai kekuasaan. Kepala desa

mempunyai autoriti, antaranya, memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa,

membina kehidupan masyarakat desa, perekonomian desa, memelihara ketentraman dan

ketertiban masyarakat desa, mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan dan boleh

menunjuk kekuasaan hukum, serta mempertanggungjawabkan semua tugas dan

kewajibannya kepada masyarakat desa melalui BPD dan kepada Pemerintah Kabupaten

(PP RI No. 72 Tahun 2005, Pasal 14). Adapun autoriti BPD adalah menyusun tata tertib

University

154

BPD, membincangkan rancangan dan menetapkan peraturan desa bersama-sama dengan

kepala desa, menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja tahunan desa (APB-Desa)

dalam peraturan desa, dan melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan

desa dan peraturan kepala desa. BPD juga boleh mengusulkan pengangkatan dan

pemberhentian kepala desa kepada bupati melalui camat, membentuk panitia pemilihan

kepala desa dan menggali, menampung, menghimpun, merumuskan, dan menyalurkan

aspirasi masyarakat desa (PP RI No. 72 Tahun 2005, Pasal 34 dan 35). Dengan

kedudukan dan autoriti yang diberikan oleh UU baharu ini, BPD merupakan manifestasi

daripada usaha membina kehidupan demokrasi di kalangan masyarakat desa.

Untuk lebih memperdayakan masyarakat desa, pemerintahan desa boleh

membentuk lembaga-lembaga lain, seperti rukun tetangga, rukun warga, pendidikan

kesejahteraan keluarga, organisasi pemuda, dan lembaga pemberdayaan lainnya.

Pembentukan lembaga-lembaga tersebut berdasarkan kepada peraturan desa (yang telah

ditetapkan oleh BPD dan kepala desa) dan berpedoman pada peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi. Tugas lembaga-lembaga tersebut sebagai “rakan kerja”

kepala desa dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat desa (UU No. 32 Tahun

2004, Pasal 211; PP RI No. 72 Tahun 2005, Pasal 89, 90, dan 91). Selain itu, UU baharu

ini juga mengatur hal-hal mengenai pembentukan, penghapusan dan/atau penggabungan

desa, keuangan desa, kerjasama antara satu desa dengan desa lain, dan pendapatan desa.

Demikian yang boleh dihuraikan sehingga boleh disimpulkan bahawa

kewujudan UU No. 32 Tahun 2004 lebih ditujukan untuk mengatur pemerintahan desa

supaya lebih dinamik dan demokrasi dan membentuk struktur-struktur kekuasaan yang

lebih mempunyai keseimbangan antara satu sama lainnya (check and balance). Adanya

demokrasi dan check and balance dalam kekuasaan diharapkan boleh menumbuhkan

prakarsa dan kreativiti masyarakat desa dan boleh menyokong peningkatan partisipasi

mereka dalam pembinaan desa. Jadi UU tersebut secara nyata bukanlah untuk mengatur

University

kewujudan masyarakat hukum adat, berikut pemimpin adat supaya lebih baik dan arif

dalam kehidupan bersama secara nasional.

Pada sisi yang lain, UU ini telah memberikan kebebasan kepada sesiapa sahaja,

termasuk pemimpin adat, untuk boleh dipilih menjadi kepala desa oleh masyarakat desa

yang berkenaan. Berbeza dengan masa Orde Baru, dalam pemilihan kepala desa,

pemerintah dilarang ikut campur melainkan diserahkan kepada masyarakat desa

sepenuhnya untuk memilih kepala desa yang mereka anggap layak dan cakap. Dalam

konteks ini, nampaknya UU ini memberikan peluang bagi pemimpin adat secara adil

untuk menjadi kepala desa sebagai bentuk peluasan kekuasaan yang sebelumnya

tersingkirkan.