• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Masyarakat Pesisir (Nelayan)

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu

sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontiniu dan terikat oleh suatu rasa identitas

yang sama Koentjaraningrat (1994) dalam Defenisi Pusat Indonesia (2012).

Daerah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat

dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai dan

sepertiga dari wilayah laut untuk Kabupaten/Kota dan ke arah darat hingga batas

administrasi Kabupaten/Kota (Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor

Kep.10/Men/2002 Tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir

Terpadu).

Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama

mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas terkait

dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir (Satria (2004)

dalam Ikhsani (2012)). Masyarakat pesisir pada umumnya telah menjadi bagian

masyarakat yang pluraristik tapi masih tetap memiliki jiwa kebersamaan. Artinya

bahwa struktur masyarakat pesisir rata-rata merupakan gabungan karakteristik

masyarakat perkotaan dan pedesaan. Karena, struktur masyarakat pesisir sangat

plurar, sehingga mampu membentuk system dan nilai budaya yang merupakan

akulturasi budaya dari masing-masing komponen yang membentuk struktur

masyarakatnya (Wahyudin, 2003).

Menurut Wahyudin (2003), hal menarik adalah bahwa bagi masyarakat

pesisir, hidup di dekat pantai merupakan hal yang paling diinginkan untuk dilakukan

kesehariannya. Dua contoh sederhana dari kemudahan-kemudahan tersebut

diantaranya : Pertama, bahwa kemudahan aksesibilitas dari dan ke sumber mata pencaharian lebih terjamin, mengingat sebagian masyarakat pesisir menggantungkan

kehidupannya pada pemanfaatan potensi perikanan dan laut yang terdapat di

sekitarnya, seperti penangkapan ikan, pengumpulan atau budidaya rumput laut, dan

sebagainya. Kedua, bahwa mereka lebih mudah mendapatkan kebutuhan akan MCK (mandi, cuci, dan kakus), dimana mereka dapat dengan serta merta menceburkan

tubuhnya; mencuci segenap peralatan dan perlengkapan rumah tangga, seperti

pakaian, gelas, dan piring; bahkan mereka lebih mudah membuang air (besar maupun

kecil). Selain itu, mereka juga dapat dengan mudah membuang limbah domestiknya

langsung ke pantai/laut.

Masyarakat nelayan pada umumnya adalah gabungan dari masyarakat kota

dan desa, sehingga mampu membentuk sistem dan nilai budaya yang merupakan

akulturasi dari budaya masing-masing komponen yang membentuk struktur

masyarakatnya. Menurut Horton (2003) dalam Gaffar (2010), masyarakat adalah

sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup

lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan

melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut. Permukiman di

lingkungan perairan diartikan sebagai sekelompok rumah tempat tinggal bersama

sarana dan prasarana, yang merupakan kesatuan dalam hal keruangan dan berada

pada bentang alam dengan hamparan air yang menonjol. Lebih penting lagi adalah

penghidupan penghuninya berorientasi kehamparan air itu (Purba (2001) dalam

Menurut Purba (2001) dalam Gaffar (2010) mengatakan bahwa masyarakat

pesisir dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

1. Masyarakat Perairan, kesatuan sosial yang hidup dari sumber daya perairan,

cenderung terasing dari kontak dengan masyarakat-masyarakat lain, hidupnya

pun lebih banyak berada dilingkungan perairan daripada di darat, dan

berpindah-pindah tempat di suatu wilayah (teritorial) perairan tertentu.

Kehidupan sosial mereka cenderung bersifat egaliter, dan hidup dalam

kelompok-kelompok kekerabatan setingkat klen kecil.

2. Masyarakat nelayan, golongan masyarakat pesisir yang paling banyak

memanfaatkan hasil laut dan potensi lingkungan perairan dan pesisir untuk

kelangsungan hidupnya. Masyarakat nelayan umumnya bermukim secara

tetap di daerah-daerah yang mudah mengalami kontak dengan masyarakat

lain. Sistem ekonomi sudah masuk ke sistem perdagangan, karena hasil laut

yang mereka peroleh tidak untuk di konsumsi sendiri, tetapi didistribusikan

dengan imbal ekonomis kepada pihak-pihak lain. Walaupun demikian,

masyarakat nelayan sebenarnya lebih banyak menghabiskan kehidupan sosial

budayanya di daratan.

3. Masyarakat pesisir tradisional, masyarakat yang berdiam dekat dengan

perairan laut, akan tetapi sedikit sekali menggantungkan kelangsungan hidup

dari sumber daya laut. Mereka kebanyakan hidup dari pemanfaatan sumber

Dari pengelompokkan di atas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa

masyarakat nelayan adalah bagian dari masyarakat pesisir yang bermukim secara

menetap di lokasi yang dekat dengan laut dan banyak memanfaatkan hasil laut dan

potensi lingkungan perairan dan pesisir untuk kelangsungan hidupnya.

Ada beberapa ciri masyarakat nelayan menurut Hadi (2000) dalam Gaffar

(2010) yaitu kondisi sosial ekonomi yang rendah, pendidikan yang rendah, fasilitas

sarana dan prasarana yang masih kurang, hunian liar (squatters) dan kumuh (slum). Teori yang lain diungkapkan oleh Darsef dalam Gaffar (2010) yang mengatakan

bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan wilayah pesisir yaitu:

Pertambahan penduduk, kegiatan-kegiatan manusia, pencemaran, sedimentasi,

ketersediaan air bersih, dan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam.

Pendapat lain diungkapkan lebih lanjut oleh Dahuri dalam Gaffar (2010)

mendefinisikan bahwa gejala kerusakan lingkungan yang mengancam kelestarian

sumber daya pesisir meliputi: pencemaran, degradasi fisik habitat, eksploitasi yang

berlebihan terhadap sumber daya alam, abrasi pantai, konversi kawasan lindung

menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan bencana alam.

Pendapat lain disampaikan oleh Departemen Pekerjaan Umum Bidang Cipta

karya tentang karakteristik permukiman nelayan dalam Gaffar (2010) adalah :

1. Merupakan Permukiman yang terdiri atas satuan-satuan perumahan yang

memiliki berbagai sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan dan

penghidupan penghuninya.

2. Berdekatan atau berbatasan langsung dengan perairan, dan memiliki akses

3. 60% dari jumlah penduduk merupakan nelayan, dan pekerjaan lainnya yang

terkait dengan pengolahan dan penjualan ikan.

4. Memiliki berbagai sarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan

penduduknya sebagai nelayan, khususnya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan

eksplorasi ikan dan pengolahan ikan.

5. Memiliki berbagai prasarana yang mendukung penghidupan penduduknya

sebagai nelayan, khususnya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan eksplorasi

ikan dan pengolahan ikan.

Dari berbagai parameter tentang permukiman dan karakteristik nelayan dapat

dirumuskan bahwa permukiman nelayan merupakan suatu lingkungan masyarakat

dengan sarana dan prasarana yang mendukung, dimana masyarakat tersebut

mempunyai keterikatan dengan sumber mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

Selain itu, menurut Amran (2004) dalam Handayani (2011), sanitasi sangat sulit

untuk dibangun di daerah pesisir dikarenakan air tanah sangat dangkal terlebih

dimusim hujan, sangat menyulitkan dalam membangun struktur bawah tanah dalam

situasi seperti ini, daerah pesisir yang sangat rata/datar sehingga sangat sulit

mendapatkan aliran gravitasi untuk saluran drainase dan penyaluran air limbah

(khususnya sistem terpusat) dan ketersediaan tanah, hampir semua tanah disekitar

daerah pemukiman adalah milik pribadi, ini merupakan masalah jika akan

Dokumen terkait