BAB IV. PEMBAHASAN
G. Tanggapan dan Penghayatan Masyarakat
1. Masyarakat Setempat
Cerita Rakyat Sendang Kasihan sebagaimana karya sastra yang lain,
tentu keberadaannya tidak lepas dari dukungan masyarakat setempat, baik itu penduduk asli maupun pendatang. Sebagai warga masyarakat yang bermukim di sekitar Sendang Kasihan mereka menyatu dalam ikatan sosial yang saling merekat.
Bapak Suharto, SH yang menjabat sebagai Kepala Desa Taman Tirta, beranggapan tentang Cerita Rakyat Sendang Kasihan adalah cerita yang benar-benar pernah terjadi pada masanya dan tonggak kelahiran Desa Taman Tirta. Putri Pembayun yang juga merupakan tokoh yang banyak mewariskan
tempat keramat dan suci. Bagi warga Desa TamanTirta pada dasarnya menjunjung sekali dengan cerita yang ada dalam wilayahnya. Selain itu desa-desa disekitarnya TamanTirta juga saling membantu satu dengan lainnya untuk menciptakan kerukunan. Hal itu tidak lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa dijaman sekarang ini nilai-nilai yang dibangun untuk menjalin kerja sama antar desa semata-mata lebih ditekankan pada kebersamaan. Kerja sama itu dapat dibuktikan atau dilihat dari cara mereka mengadakan berbagai bidang antara lain bidang olah raga, kesenian, ketrampilan dan sebagainya. Bagi masyarakat Desa Taman Tirta dan sekitarnya yang bisa menikmati hikmah dari kerja sama tersebut akan menikmati kerukunan yang tidak akan menimbulkan permasalahan. Hal itulah yang menjadikan masyarakat Kecamatan Kasihan bisa dikatakan tidak pernah terlibat permasalahan atau kerusuhan massal yang meminta korban jiwa, harta benda sampai sekarang.
Seorang Kepala Desa TamanTirta beliau sangat bangga dan selalu berusaha menganjurkan kepada masyarakat sekitar daerah TamanTirta untuk bisa selalu hidup rukun. Dari terjalinnya hidup rukun tersebut menumbuhkan kerja sama antara masyarakat dan bisa menguntungkan bagi masa yang akan datang.
Yudho Rianto selaku juru kunci Sendang Kasihan yang juga Keturunan dari orang yang di percaya untuk menjaga dan merawat tempat itu berpendapat bahwa cerita tersebut merupakan kisah dua penguasa yang sama-sama membela daerah kekuasaannya, namun pada akhirnya kedua penguasa harus rela mengorbankan dirinya demi mempertahankan daerah
kekuasaannya. Menurut keadaan pada saat itulah yang menyebabkan perselisihan yang tidak dapat dihindari, karena pada jaman dahulu tidak ada aturan hukum yang tegas bagi siapapun yang melanggarnya akan di tindak tegas. Dalam cerita ini, Putri Pembayun adalah orang yang pantas dijadikan contoh yang baik bagi anak cucunya. Begitu juga dengan Ki Ageng Mangir yang mempunyai jiwa kesatria demi melindungi daerahnya rela bermusuhan dengan Penguasa Mataram yang bernama Panembahan Sinopati yang pada akhirnya menyebabkan kematian diri sendiri. Bagi masyarakat Desa Mangiran tidak menaruh dendam sama sekali dengan penguasa Mataram dan anak cucunya, karena masyarakat Mangiran memaklumi kalau istri dari Ki Ageng Mangir sendiri adalah anak dari penguasa Mataram dan meskipun perselisihan itu tidak bersifat individual, tidak perlu melibatkan masyarakat luas yang tidak tahu menahu dan tidak berdosa. Pedoman masyarakat yang terpenting adalah melestarikan, menjaga dan merawat apa yang sudah menjadi peninggalan itu berupa Sendang Kasihan yang sampai saat sekarang masih dimanfaatkan airnya oleh masyarakat sekitar untuk kehidupan sehari-hari dan tidak dikenakan biaya. Semua itu tergantung pada keikhlasan masing-masing masyarakat. Sendang Kasihan sudah menjadi bagian dari hidupnya, karena ia merupakan satu-satunya orang yang mampu berkomunikasi dengan arwah Putri Pembayun untuk meminta petunjuk petunjuk dari permasalahan-permasalahan hidup dari orang-orang yang datang ketempat Sendang Kasihan.
pada warga agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaannya yang dapat mengakibatkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat menganggap Sendang Kasihan adalah tempat yang suci dan keramat sehingga sehingga tidak boleh diperlakukan secara sebarangan apalagi sampai merusak keberadaannya. Secara tegas akan di peringatkannya masyarakat pendatang contohnya: takabur dan seenaknya sendiri apabila sedang berada di lokasi Sendang Kasihan. Hal tidak lain adalah untuk mengajarkan sikap waspada bagi siapapun bila mengambil segala keputusan dalam hidupnya, khususnya saat berada ditempat keramat dan suci.
Ibu Sumiati yang merupakan salah satu warga Desa Taman Tirta yang bertempat tinggal selama tiga puluh tahun. Menurut pendapatnya Cerita
Rakyat Sendang Kasihan merupakan cerita yang benar-benar pernah terjadi
pada masanya. Hal ini dapat dapat dibuktikan dengan keberadaan petilasan-petilasan yang berupa Sendang. Tokoh yang berperan dalam cerita ini memang sepantasnya untuk dijadikan pepundhen desa Taman Tirta, karena berkat jasa-jasanya.Bagi Ibu Sumiati dan pendukung cerita rakyat hal terpenting adalah dapat mewariskan hal-hal yang positif bagi generasi penerus bukan malah mempunyai dendam atau meneruskan pertentangan antara Ki Ageng Mangir dan panembahan Senopati. Hal berikutnya bagi masyarakat yang sudah bertempat tinggal disekitar lokasi Sendang Kasihan perlu menghormati keberadaan cerita tersebut dan sekaligus menjaga dan memelihara petilasan-petilasan yang ada. Bagi masyarakat yang mengikuti acara bersih desa tidak ada yang saling membeda-bedakan antara penduduk
asli dan masyarakat pendatang. Dalam acara bersih desa masyarakat harus berkumpul menjadi satu untuk bekerja sama melaksanakan tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Pada dasarnya kegiatan versih desa itu berlangsung demi kepentingan umum bukan kepentingan pribadi melainkan golongan tertentu. Dalam melaksanakan bersih desa ini, Ibu Sumiati dan Ibi-Ibu warg asli dan pendatang bersama-sama bekerja untuk memasak aneka masakan yang sudah ditentukan untuk upacara tersebut. Makanan itu akan dijadikan sesaji dalam upacara bersih desa. Sesaji yang sudah tersedia itu sebagian diberikan kepada dhanyang Sendang Kasihan dan sebagian dimakan oleh seluruh warga yang terlibat dalam bersih desa yang sebelumnya sudah didoakan oleh juru kunci Sendang Kasihan. Upacara yang kelihatannya sederhana tersebut ternyata mampu membawa pengaruh yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Hal itu dapat dibuktikan dari banyaknya warga masyarakat desa yang terlibat dalam acara itu. Dilihat dari hal tersebut mengambarkan bahwa kerukunan antar warga masyarakat masih tetap terpelihara dan terjaga dengan kuat.
Budi yang usianya masih muda dan mengenyam pendidikan tinggi berpendapat bahwa keberadaan Cerita Rakyat Sendang Kasihan telah banyak membentuk pola berpikir masyarakat pendukungnya sehingga banyak masyarakat mempercayai keberadaan mitos yang terkandung di dalam cerita rakyat itu. Setiap gejola dalam kehidupan yang dihadapi manusia mestinya
merupakan wujud keberadaan dari tokoh Putri Pembayun lengkap dengan petilasan yang berwujud sendang. Sebagai salah satu bagian dari warga setempat Budi mendukung dari segi tradisi bersih desa dimana seluruh warga desa yang ada melebur dalam tanggung jawab untuk melaksanakan ajaran yang ditinggalkan leluhurnya di dalamnya terkandung unsur tolong menolong dan saling membantu antar umat manusia.
Mujiati yang berprofesi sebagai guru berpendapat mengenai Cerita
Rakyat Sendang Kasihan di dalamnya banyak terkandung unsur-unsur
pendidikan yang bersifat positif, semua dapat dibuktikan pada say ia menyampaikan cerita tersebut kepada anak didiknya di sekolah. Semua murid-muridnya memperhatikan dengan antusias. Seluruh murid ingin sekali datang kelokasi Sendang Kasihan untuk dapat membuktikan bahwa generasi muda sekarang masih menaruh perhatian terhadap budaya warisan nenek moyang, khususnya cerita rakyat. Mereka juga menyatakan alangkah baiknya kalau cerita tersebut dapat dibukukan sehingga semakin dapat memperkaya khasanah kebudayaan local yang ada. Sebagai seorang pendidik berharap sekali anak didiknya mampu menyerap semua unsur-unsur pendidikan yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut.
Wiryo Atmojo yang merupakan seorang wiraswata yang berkembang dalam usahanya menyatakan bahwa keberadaan Cerita Rakyat Sendang
Kasihan sangat di dukung dengan adanya tradisi bersih desa yang ada
cerita ini. Masyarakat semakin bertambah motivasi kerjanya, karena mempunyai harapan yang positif setelah mengadakan aktivitas ritualnya ditempat Sendang Kasihan. Pada dasarnya harapan penduduk setempat atau pendatang sama yaitu bahwa di masa mendatang kehidupan mereka akan menjadi lebih baik ditinjau dari segi materiil maupun spiritual.
Busrowiyono yang berprofesi sebagai pendagang kain batik mengatakan bahwa lokasi Sendang Kasihan merupakan tempat yang sangat dihormatinya. Sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di Desa Taman Tirta, Busrowiyono mempunyai tanggung jawab untuk tetap menjaga dan melestarikan keberadaan Cerita Rakyat Sendang Kasihan dengan segala konsekuensinya. Busrowiyono akan dengan sekuat tenaga dan sekuat hati membantu pelaksanaan acara tradisi bersih desa mulai dari awal hingga selesai sebagai wujud penghormatan dan menjaga hubungan baik dengan Putri Pembayun. Bahkan pada saat ia mempunyai hajat penting perlu memberikan
sajen agar acara hajatnya dapat berjalan lancar dan baik.