KOLESTEROL DAGING AYAM BROILER
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2012. Pemeliharaan ayam broiler dilakukan di Laboratorium Lapang (Kandang C), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pengukuran organ dalam dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Unggas, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis kolesterol total daging ayam dilakukan di Laboraturium Terpadu, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Ternak Percobaan
Penelitian ini menggunakan 375 ekor ayam broiler Strain Cobb CP 707 yang dipelihara dalam kandang sistem litter dan diberi ransum penelitian selama lima minggu. Ternak dibagi ke dalam lima perlakuan dan lima ulangan yang masing- masing ulangan terdiri dari 15 ekor ayam broiler. Pada minggu ke lima, dua ekor ayam diambil dari setiap ulangan diambil sebagai sampel untuk dilakukan pengukuran dan penimbangan bobot karkas, organ dalam, serta empat ekor dari setiap perlakuan untuk dilakukan pengukuran terhadap kolesterol total daging ayam.
Pakan
Ransum penelitian yang diberikan terdiri dari ransum starter untuk 0-18 hari dan ransum finisher untuk 19 hari-panen. Ransum yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lima jenis penambahan level asam fulvat yaitu 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75% dan 1,00%. Ransum penelitian disusun berdasarkan rekomendasi kebutuhan zat makanan menurut Leeson dan Summers (2005). Formulasi ransum dibuat dengan menggunakan software Brill. Susunan dan kandungan zat makanan ransum penelitian untuk ayam broiler periode starter dan periode finisher dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil analisis asam fulvat yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
15 Tabel 2. Komposisi dan Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian Ayam Broiler
Periode Starter (0-18 hari) dan Periode Finisher (19 hari-dipanen)
Keterangan: 1) Berdasarkan perhitungan software Brill.
2) Hasil Analisis GE di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB (2012).
3) Hasil Analisis Proksimat di Laboratorium Pusat Antar Universitas (PAU), IPB (2012).
4) Hasil Analisis Ca dan P di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, IPB (2012).
Bahan Pakan Starter Finisher
Jagung (%) 49,66 49,65 Bungkil Kedelai (%) 25,18 22,04 Bungkil Kelapa (%) 5,00 7,00 Pollard (%) 3,00 4,00 CGM (%) 5,71 9,00 MBM (%) 5,50 0,00 Minyak (%) 3,50 4,00 DCP (%) 0,70 1,58 CaCO3 (%) 0.54 1.27 Garam (%) 0,42 0,49 Premix (%) 0,25 0,25 DL-Meth (%) 0,28 0,25 L-Lysin (%) 0,26 0,47 Total (%) 100 100 Kandungan Nutrien :
Energi Metabolis (kkal/kg)1) 3050 3100
Energi Bruto (kkal/kg)2) 4113 4413
Kadar Air (%)3) 11,94 6,67 Protein Kasar (%)3) 21,57 19,99 Serat Kasar (%)3) 2,44 2,41 Lemak Kasar (%)3) 6,12 7,44 Ca (%)4) 0,61 0,98 P Total (%)4) 0,46 0,57 P tersedia (%)1) 0,45 0,41 Metionin (%)1) 0,63 0,59 Lysin (%)1) 1,20 1,19 Na (%)1) 0,22 0,21 Cl (%)1) 0,39 0,43
16 Tabel 3. Kandungan Asam Fulvat Penelitian
Keterangan : Hasil Analisis di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB (2011)
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang berukuran 1 m × 1,5 m dengan sistem litter yang beralaskan sekam padi dengan ketebalan 5 cm dari lantai kandang. Sekat dibuat dari bilah bambu yang telah dipotong dan dibersihkan. Setiap petak kandang dilengkapi dengan tempat pakan, air minum dan lampu pijar 60 watt. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan, plastik ransum dan termometer, ember, sikat untuk tempat minum dan kandang, stiker dan alat tulis.
Prosedur Pembuatan Ransum
Bahan baku dipersiapkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Bahan baku tersebut dicampurkan dengan asam fulvat sesuai dengan level perlakuan. Gambar asam fulvat penelitian dapat dilihat pada Gambar 4. Ransum yang sudah dicampur dimasukkan ke dalam mesin pelet untuk pencetakan pelet. Pelet kemudian dipecah hingga menjadi menjadi bentuk crumble. Ransum yang telah dibuat juga dianalisis kandungan nutrisinya dengan analisis proksimat, analisis Energi Bruto, analisis Ca dan P. Komponen Jumlah Asam Fulvat (%) 74,26 Bahan Organik (%) 22,29 Asam Humat (%) 0,55 C (%) 12,90 N (%) 0,51 P (%) 0,04 Na (%) 22,19 K (ppm) 109,00 Ca (ppm) 8,23 Mg (ppm) 4,08 Fe (ppm) 44,85 Zn (ppm) 4,05 pH 9,40
17 Gambar 4. Asam Fulvat penelitian
Persiapan Kandang
Sebelum digunakan kandang dibersihkan dengan sapu dan disiram dengan air detergen sampai bersih, lalu dikapur, dan disemprot dengan desinfektan. Sekam ditaburkan sebagai litter dengan ketebalan 5-7 cm dan disemprot menggunakan desinfektan ke seluruh bagian ruangan. Setiap kandang akan dilengkapi dengan satu tempat pakan, satu tempat air minum dan satu buah lampu 60 watt, serta pemasangan tirai di sekeliling kandang. Pengacakan kandang dilakukan sebelum penempatan ayam broiler dengan menyusun nomor perlakuan dan ulangan terlebih dahulu pada setiap kandang yang telah disiapkan, kemudian dipilih secara acak. Kandang diistirahatkan selama 14 hari sebelum ayam masuk.
Pemeliharaan Ayam
Ayam sebanyak 375 ekor dibagi ke dalam lima perlakuan dan lima ulangan. Masing-masing ulangan terdiri dari 15 ekor ayam broiler. Ayam broiler yang baru datang diberi larutan air gula untuk mengembalikan kondisi tubuh ayam selama perjalanan ke kandang. Pakan dan air minum diberikan ad libitum selama pemeliharaan. Penimbangan bobot badan dilakukan satu minggu sekali, bersamaan dengan penimbangan sisa ransum.
Pengambilan Sampel
Penimbangan bobot akhir ayam broiler (gram/ekor) dilakukan pada akhir minggu ke lima. Selanjutnya dua ekor ayam dari setiap ulangan percobaan diambil secara acak untuk dilakukan pengukuran dan penimbangan karkas serta organ dalam. Ayam akan disembelih lalu diambil bulu, kepala, leher, ceker dan jeroan untuk
18 mengetahui bobot karkas. Hati, jantung, limpa, gizzard, dan bursa fabricius akan ditimbang untuk menghitung persentase berdasarkan bobot hidup. Usus halus (yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum), sekum, serta kolon ditimbang untuk menghitung persentasenya berdasarkan bobot hidup dan diukur panjangnya. Sampel paha dan dada ayam dari empat ekor untuk setiap perlakuan akan diambil sampel untuk mengukur kolesterol daging ayam dengan metode Lieberman Burchard Colour Reactions (Kleiner dan Dotti, 1962).
Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan. Setiap ulangan terdiri dari dua ekor ayam. Model matematik dari rancangan tersebut adalah sebagai berikut :
Xij= μ + τi+ εij Keterangan :
Xij = Perlakuan pengolahan ke-i dan ulangan ke-j
= Rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
εij = Eror (galat) perlakuan ke-i ulangan ke-j
Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis menggunakan analisa ragam (Analyses of Variance, ANOVA) dan dilakukan uji jarak Duncan terhadap data yang berbeda nyata. Analisis data menggunakan software komputer yaitu IBM SPSS Statistics 20.
Perlakuan
Penelitian ini menggunakan ransum yang terdiri dari ransum starter dan ransum finisher. Ransum perlakuan yang diberikan yaitu :
R0 = Ransum basal tanpa asam fulvat R1 = R0 + 0,25% asam fulvat
R2 = R0 + 0,50% asam fulvat R3 = R0 + 0,75% asam fulvat R4 = R0 + 1,00% asam fulvat
19
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bobot hidup (gram/ekor)
Diperoleh dari penimbangan bobot badan pada minggu terakhir penelitian.
2. Bobot Karkas (gram/ekor)
Diperoleh dari penimbangan bobot tubuh ternak tanpa bulu, kepala, leher, kaki dan jeroan.
3. Persentase Bobot Karkas (%)
Karkas adalah tubuh ternak tanpa bulu, kepala, leher, kaki dan jeroan. Persentase diperoleh dengan membagi bobot karkas dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
4. Persentase Bobot Hati (%)
Diperoleh dengan membagi bobot hati dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
5. Persentase Bobot Jantung (%)
Diperoleh dengan membagi bobot jantung dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
6. Persentase Bobot Limpa (%)
Persentase bobot limpa diperoleh dengan membagi bobot limpa dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
7. Persentase Bobot Bursa Fabricius (%)
Diperoleh dengan membagi bobot Bursa Fabricius dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
8. Persentase Bobot Proventrikulus (%)
Persentase bobot proventrikulus diperoleh dengan membagi bobot proventrikulus dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
9. Persentase Bobot Gizzard (%)
Persentase bobot gizzard diperoleh dengan membagi bobot gizzard dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
20
10. Panjang Relatif dan Persentase Usus Halus a. Persentase Bobot Duodenum (%)
Persentase bobot duodenum diperoleh dengan membagi bobot duodenum dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
b. Panjang Relatif Duodenum (cm/gram)
Panjang relatif duodenum diperoleh dengan membagi panjang duodenum (cm) dengan bobot hidup ayam (gram).
c. Persentase Bobot Jejunum (%)
Persentase bobot jejunum diperoleh dengan membagi bobot jejunum dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
d. Panjang Relatif Jejunum (cm/gram)
Panjang relatif jejunum diperoleh dengan membagi panjang jejunum (cm) dengan bobot hidup ayam (gram).
e. Persentase Bobot Ileum (%)
Persentase bobot ileum diperoleh dengan membagi bobot ileum dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
f. Panjang Relatif Ileum (cm/gram)
Panjang relatif ileum diperoleh dengan membagi panjang ileum (cm) dengan bobot hidup ayam (gram).
11. Panjang Relatif dan Persentase Bobot Sekum a. Persentase Bobot Sekum (%)
Persentase bobot sekum diperoleh dengan membagi bobot sekum dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
b. Panjang Relatif Sekum (cm/gram)
Panjang relatif sekum diperoleh dengan membagi panjang sekum (cm) dengan bobot hidup ayam (gram).
12. Panjang Relatif dan Persentase Bobot Kolon a. Persentase Bobot Kolon (%)
Persentase bobot kolon diperoleh dengan membagi bobot kolon dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
21
b. Panjang Relatif Kolon (cm/gram)
Panjang relatif kolon diperoleh dengan membagi panjang kolon (cm) dengan bobot hidup ayam (gram).
13. Persentase Bobot Lemak Abdomen (%)
Persentase bobot lemak abdomen diperoleh dengan membagi bobot lemak abdomen dengan bobot hidup kemudian dikalikan 100%.
14. Kadar Kolesterol Total Daging (%)
Kadar kolesterol total daging diperoleh dengan mengambil sampel paha dan dada ayam dari empat ekor untuk setiap perlakuan. Kolesterol karkas diukur dengan metode Lieberman Burchard Colour Reactions. Sebanyak ± 0,1 g sampel dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge kemudian ditambahkan campuran alkohol:heksan 3:1 sebanyak 8 ml, dan diaduk hingga bercampur dengan baik. Pengaduk dibilas dengan alkohol:heksan 3:1 sebanyak 2 ml lalu disentrifuge dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit. Supernatan dipindahkan ke dalam gelas baker 100 ml dan diuapkan pada penangas air sampai kering. Residu diuapkan dengan kloroform (sedikit demi sedikit) sambil dituangkan kedalam tabung berskala (sampai volume 5 ml), ditambahkan 2 ml acetic anhidrida dan 0,2 ml H2SO4 pekat (pa) sebanyak 2 tetes. Selanjutnya
divortex dan disimpan selama 15 menit didalam ruang gelap selama 25 menit. Lalu dilakukan pembacaan absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang ( ) 420 nm dengan standar yang digunakan = 0,4 mg/ml. Nilai kolesterol diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Absorbans sampel 100
Kolesterol (mg/100g) = x 0,4 (konsentrasi standar) x
22
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Hidup dan Karkas
Rataan bobot hidup dan karkas ayam broiler umur lima minggu hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Bobot Hidup dan Karkas Ayam Broiler
Peubah Ransum Perlakuan
R0 R1 R2 R3 R4 Bobot Hidup (g) 1535 ± 47,07 1600 ± 147,45 1534 ± 57,95 1575 ± 71,27 1528 ± 65,06 Karkas - (g) 1059 ± 31,19 1053 ± 77,69 1015 ± 48,21 1060 ± 66,85 1054 ± 44,28 - (%) 69,01 ± 1,99 66,13 ± 1,97 66,13 ± 1,61 67,70 ± 3,19 68,94 ± 0,84 Keterangan : R0 (Ransum basal tanpa asam fulvat), R1 (R0 + 0,25% asam fulvat), R2 (R0 + 0,50%
asam fulvat), R3 (R0 + 0,75% asam fulvat), R4 (R0 + 1,00% asam fulvat).
Bobot Hidup
Bobot hidup akhir ayam penelitian berkisar antara 1534-1600 g. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan asam fulvat hingga 1,00% dalam ransum tidak mempengaruhi bobot hidup ayam broiler. Laporan yang sama disampaikan oleh Karaoglu et al. (2004) yaitu tidak ada pengaruh suplementasi asam humat hingga 0,30% terhadap bobot badan akhir. Rataan bobot hidup akhir ayam penelitian yang diperoleh lebih rendah dari standar yang dihasilkan Charoen Pokphand (2006) yaitu 1765 g/ekor. Bobot hidup akhir ayam ini dipengaruhi oleh konsumsi ransum. Konsumsi ransum ayam broiler penelitian ini yaitu berkisar antara 2605-2719 g/ekor selama lima minggu. Konsumsi ransum standar ayam broiler sampai umur lima minggu yang dihasilkan Charoen Pokphand (2006) sebesar 2920 g/ekor.
Konsumsi pakan yang rendah pada ayam penelitian ini menyebabkan bobot hidup akhir ayam menjadi rendah. Konsumsi pakan yang rendah ini diduga karena ayam mengalami cekaman panas. Berdasarkan data pengamatan, suhu kandang selama pemeliharaan ayam berkisar antara 26,3-31,54ºC. Menurut Amrullah (2004), suhu nyaman untuk pemeliharaan ayam broiler yaitu antara 19-27ºC. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pokok dan untuk pemenuhan produksi termasuk pembentukan daging. Menurut Wahju (2004), konsumsi ayam
23 pedaging tergantung pada pakan, strain, umur, jenis kelamin, aktivitas, cekaman, penyakit, serta manajemen pemeliharaannya.
Karkas Ayam Broiler
Karkas adalah potongan ayam tanpa bulu, darah, kepala, leher, kaki, cakar dan organ dalam. Persentase bobot karkas yang didapatkan masih berada pada kisaran normal menurut Pesti dan Bakalli (1997) yaitu antara 60,52%-69,91% dari bobot hidup. Hakim (2005) mendapatkan bahwa karkas ayam broiler umur 35 hari sebesar 65,3% dari bobot hidup pada perlakuan ransum basal berbasis bahan baku jagung dan bungkil kedelai. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak mempengaruhi persentase bobot karkas secara nyata. Hasil analisis ini sesuai dengan hasil penelitian Kompiang dan Supriyati (2007) yang menyatakan bahwa pemberian ransum basal dengan air minum mengandung 300 mg/l asam humat tidak berpengaruh nyata terhadap persentase karkas umur lima minggu.
Berdasarkan data yang diperoleh, ayam yang mendapat suplementasi asam fulvat 0,25% (R1), 0,50% (R2), 0,75% (R3) dan 1,00% (R4) dalam ransum memiliki persentase bobot karkas yang lebih kecil dibandingkan dengan pemberian ransum basal (R0). Hal ini diduga karena asam fulvat dapat mempengaruhi persentase bulu pada ayam broiler. Persentase bulu ayam yang mendapat ransum R0, R1, R2, R3, dan R4 berturut-turut yaitu 2,13%; 2,56%; 2,53%; 1,60%; dan 1,44%. Islam et al. (2005) melaporkan bahwa suplementasi asam humat dapat mengaktifkan albuminous exchange. Menurut Piliang dan Djojosoebagio (2006), salah satu komponen dari albuminoid adalah keratin. Keratin ini merupakan bahan penyusun utama dari bulu. Pada R1 dan R2 memiliki persentase bobot bulu yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Bulu mempunyai fungsi sebagai isolator yang menjaga panas tubuh, melindungi tubuh dari luka dan infeksi, reseptor terhadap ransangan dari luar, dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi kesehatan (Suprijatna et al., 2005). Hal ini menunjukkan bahwa ayam pada R1 dan R2 memiliki kondisi yang lebih baik dalam menjaga panas tubuh dari cekaman panas.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (2009), ukuran karkas penelitian ini termasuk kedalam ukuran sedang yaitu sekitar 1,0-1,3 kg. Bobot karkas yang diperoleh dari hasil pengukuran menunjukkan bahwa ayam menghasilkan bobot karkas yang lebih rendah dibandingkan dengan standar. Menurut Amrullah (2004),
24 bobot karkas ayam broiler jantan dan betina umur lima minggu berturut-turut adalah 1237 g dan 1160 g. Konsumsi pakan yang rendah dapat mempengaruhi bobot karkas ayam (Bell dan Weaver, 2002). Anggorodi (1995) menyatakan bahwa konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada pakan, strain, umur, jenis kelamin, aktivitas, cekaman, penyakit, serta manajemen pemeliharaannya.
Pengaruh Perlakuan terhadap Organ Dalam Ayam
Rataan bobot organ dalam ayam broiler umur lima minggu hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Bobot Organ Dalam Ayam Broiler
Peubah Ransum Perlakuan
R0 R1 R2 R3 R4 Hati - (g) 35,01 ± 2,83 37,34 ± 5,83 35,94 ± 4,58 35,50 ± 1,32 32,38 ± 1,77 - % 2,28 ± 0,16 2,32 ± 0,16 2,34 ± 0,26 2,26 ± 0,11 2,12 ± 0,09 Jantung - (g) 7,19 ± 0,39 7,10 ± 0,47 7,65 ± 0,25 7,48 ± 0,43 6,96 ± 0,22 - (%) 0,47 ± 0,03 0,45 ± 0,06 0,50 ± 0,03 0,48 ± 0,03 0,46 ± 0,01 Limpa - (g) 1,87 ± 0,91 3,31 ± 2,76 2,38 ± 1,07 1,84 ± 0,50 1,57 ± 0,45 - (%) 0,12 ± 0,05 0,20 ± 0,14 0,15 ± 0,06 0,12 ± 0,03 0,10 ± 0,03 Bursa Fabricius - (g) 0,74 ± 0,22 0,79 ± 0,08 0,87 ± 0,15 0,74 ± 0,16 0,92 ± 0,08 - (%) 0,05 ± 0,01 0,05 ± 0,01 0,06 ± 0,01 0,05 ± 0,01 0,06 ± 0,01 Keterangan : R0 (Ransum basal tanpa asam fulvat), R1 (R0 + 0,25% asam fulvat), R2 (R0 + 0,50%
asam fulvat), R3 (R0 + 0,75% asam fulvat), R4 (R0 + 1,00% asam fulvat).
Hati
Berdasarkan analisis statistik, penambahan asam fulvat pada ransum tidak memberikan efek yang nyata terhadap rataan bobot hati. Rataan persentase bobot hati broiler hasil penelitian ini masih berada pada kisaran normal yaitu antara 2,12%- 2,34% dari bobot hidup. Menurut Putnam (1991), ukuran bobot hati ayam broiler berkisar antara 1,7%-2,8% dari bobot hidupnya. Hati ayam broiler penelitian juga tidak ditemukan adanya kelainan penampakan dan kerusakan secara fisik. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam fulvat tidak mengganggu kerja hati dalam
25 detoksifikasi zat-zat yang berbahaya. Ayam broiler penelitian diduga masih dapat mentolerir penambahan asam fulvat hingga taraf 1,00% pada ransum.
Bobot hati akan dipengaruhi oleh ukuran tubuh, spesies, jenis kelamin serta dipengaruhi oleh bakteri patogen yang biasanya mengakibatkan pembengkakan hati (Sturkie, 2000). Hati sangat penting di dalam tubuh karena mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai sekresi empedu, detoksifikasi komponen berbahaya, metabolisme protein, karbohidrat, dan lipid, menyimpan vitamin dan glukosa, destruksi sel darah merah, formasi dari protein plasma, serta berperan hormonal (Scanes et al., 2004). Menurut McLelland (1990), warna hati tergantung pada status nutrisi unggas, hati yang normal berwarna coklat kemerahan atau coklat terang.
Jantung
Rataan persentase bobot jantung hasil penelitian yang diperoleh masih berada dalam kisaran normal yang dinyatakan oleh Putnam (1991) yaitu 0,42%-0,57% dari bobot hidup. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan ransum tidak menyebabkan perbedaan terhadap persentase bobot jantung. Pada jantung ayam broiler penelitian juga tidak ditemukan adanya kelainan secara fisik, hal ini menunjukkan bahwa asam fulvat tidak bersifat toksik dan berpengaruh negatif yang dapat menyebabkan kontraksi yang berlebihan pada otot jantung, serta tidak menghambat sirkulasi darah. Menurut North dan Bell (1990), laju jantung dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ukuran tubuh, umur dan temperatur lingkungan. Pemberian asam humat sebesar 8,1 ppm per kg bobot hidup ayam broiler pada air minum tidak berpengaruh nyata terhadap konversi pakan, persentase karkas, jantung, rempela, lemak abdomen, dan usus halus (Ozturk dan Coskun, 2006).
Pembesaran ukuran jantung biasanya disebabkan adanya penambahan jaringan otot jantung. Dinding jantung mengalami penebalan, sedangkan ventrikel relatif menyempit apabila otot menyesuaikan diri pada kontraksi yang berlebihan (Ressang, 1984). Pembesaran jantung juga dipengaruhi oleh ukuran tubuh. Unggas yang mempunyai ukuran tubuh lebih kecil mempunyai laju kerja jantung yang lebih tinggi sehingga menyebabkan peningkatan bobot organ tersebut, sedangkan unggas yang mempunyai ukuran tubuh lebih besar sebaliknya (North dan Bell, 1990).
26
Limpa
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan asam fulvat hingga 1,00% pada ransum tidak menyebabkan perbedaan persentase bobot limpa. Rataan persentase bobot limpa hasil penelitian yang diperoleh masih berada pada kisaran normal menurut Hermana et al. (2008) yaitu sekitar 0,09%-0,14% dari bobot hidup. Limpa unggas berwarna merah gelap terletak di sebelah kanan penghubung antara proventikulus dengan rempela (McLelland, 1990).
Salah satu fungsi limpa adalah membentuk zat limfosit yang berhubungan dengan antibodi. Bobot limpa juga dapat menunjukkan aktifitas pembentukan pada zat limfosit. Limpa akan membentuk sel limfosit untuk membentuk antibodi apabila ransum toksik, mengandung zat antinutrisi maupun penyakit. Aktivitas limpa yang meningkat atau menurun ini mengakibatkan limpa semakin membesar atau semakin mengecil ukurannya (Ressang, 1984). Menurut Frandson (1992) mekanisme pertahanan melawan zat-zat bersifat racun pada limpa adalah dengan cara menyaring keluar jaringan dan sebagai makrofag yang memakan bakteri, oleh karena itu berarti mengontrol kemungkinan-kemungkinan timbulnya infeksi.
Bursa Fabricius
Rataan persentase bobot bursa fabricius hasil penelitian yang diperoleh masih berada pada kisaran normal menurut Wirapati (2008) yaitu sekitar 0,04%-0,12% dari bobot hidup. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa ayam yang mendapat penambahan asam fulvat hingga 1,00% dalam ransum tidak mempengaruhi persentase bobot bursa fabricius. Berdasarkan data yang diperoleh, ayam yang mendapat suplementasi asam fulvat 0,25% (R1), 0,50% (R2), 0,75% (R3) dan 1,00% (R4) dalam ransum memiliki bursa fabricius yang relatif lebih besar dibandingkan dengan R0. Ayam yang memiliki bursa fabricius yang lebih besar akan lebih tahan terhadap penyakit dan cekaman stres.
Bursa fabrisius merupakan salah satu organ limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentukan antibodi (Scanes et al., 2004). limfosit memiliki sifat merespon adanya antigen (benda-benda asing) dengan membentuk antibodi yang bersirkulasi di dalam darah atau dalam pengembangan imunitas (kekebalan seluler). Apabila T-limfosit
27 mengalami ekspose terhadap antigen, T-limfosit akan dirangsang dengan cepat untuk melawan antigen spesifik (Tizzard, 1988).
Asam humat tidak hanya mengandung C, N, H, dan O tetapi juga terdapat sulfur dan fosfor. Asam humat juga mengandung unit aromatik dengan ikatan asam amino (organik N), peptida, asam alipatik dan bahan campuran lain yang tipe dan jumlahnya akan tergantung bahan organiknya (Orlov, 1985). Asam fulvat yang bersifat sebagai chelator ini diduga dapat meningkatkan ketersediaan protein di dalam tubuh ayam. Protein (asam amino) yang ada pada ransum akan berikatan dengan gugus fenol dan karboksilat benzene yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen (Tan, 1982). Menurut Tizzard (1988), protein merupakan antigen terbaik yang akan membentuk antibodi. Asam fulvat yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai indikasi secara nonspesifik dapat menekan terjadinya penyakit, cekaman atau stress yang terjadi selama pemeliharaan ayam. Hal ini dapat ditunjukkan dengan mortalitas yang terjadi selama pemeliharaan. Persentase kematian selama masa penelitian untuk ayam yang mendapat ransum R0, R1, R2, R3, dan R4 berturut-turut yaitu 2,13%; 0,80%; 0,27%; 1,60%; dan 1,90%.
Pengaruh Perlakuan terhadap Saluran Pencernaan Ayam Broiler
Rataan bobot dan persentase saluran pencernaan ayam broiler umur lima minggu hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Proventrikulus
Proventrikulus merupakan suatu pelebaran dari esophagus sebelum berhubungan dengan gizzard (Suprijatna et al., 2005). Menurut Scanes et al. (2004), di dalam proventrikulus, pakan akan dicerna secara cepat dan terbatas. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa presentase bobot proventrikulus tidak berbeda secara nyata. Persentase proventrikulus yang didapatkan dari penelitian ini yaitu 0,43%- 0,50% dari bobot hidup.
Pemberian asam fulvat cenderung meningkatkan bobot proventrikulus dibandingkan dengan kontrol. Hal ini diduga karena asam fulvat yang digunakan memiliki pH sekitar 9,4 (basa). Menurut Scanes et al. (2004), di dalam proventrikulus terjadi sekresi cairan lambung. Kondisi pH yang ideal untuk aktivitas sekresi cairan lambung yang baik adalah dalam kondisi yang asam (Piliang dan
28 Djojosoebagio, 2006). Kondisi yang kurang mendukung aktivitas pencernaan ini akan menyebabkan organ bekerja lebih keras. Otot yang semakin meningkat aktivitasnya, akan menyebabkan penebalan urat daging sehingga ukuran berat dari proventrikulus menjadi meningkat.
Tabel 6. Rataan Bobot dan Persentase Saluran Pencernaan Ayam
Peubah R0 R1 Ransum PerlakuanR2 R3 R4
Proventrikulus - (g) 6,66 ± 0,80 6,81 ± 0,42 7,48 ± 1,02 7,88 ± 0,62 7,46 ± 0,95 -(%) 0,43 ± 0,05 0,43 ± 0,05 0,49 ± 0,05 0,50 ± 0,05 0,49 ± 0,05 Gizzard - (g) 23,98 ± 5,77 24,61 ± 4,08 27,91 ± 1,99 24,72 ± 3,50 25,86 ± 4,70 -(%) 1,57 ± 0,40 1,57 ± 0,37 1,82 ± 0,11 1,56 ± 0,18 1,70 ± 0,33 Duodenum -(g) 10,42 ± 1,31 11,48 ± 1,20 9,71 ± 1,76 10,05 ± 0,48 8,78 ± 0,70 - (%) 0,68 ± 0,07a 0,72 ± 0,07a 0,63 ± 0,10ab 0,64 ± 0,05ab 0,57 ± 0,03b - (cm/g) 0,02 ± 0,00 0,02 ± 0,00 0,02 ± 0,00 0,02 ± 0,00 0,02 ± 0,00 Jejunum - (g) 20,40 ± 2,75 22,05 ± 3,47 20,28 ± 2,46 17,82 ± 1,54 17,08 ± 3,38 - (%) 1,33 ± 0,18ab 1,38 ± 0,13a 1,32 ± 0,16ab 1,13 ± 0,08b 1,12 ± 0,22b - (cm/g) 0,05 ± 0,01b 0,06 ± 0,00ab 0,06 ± 0,01a 0,06 ± 0,00ab 0,05 ± 0,01b Ileum - (g) 16,97 ± 2,05 16,50 ± 1,61 15,77 ± 1,66 15,04 ± 2,15 16,07 ± 2,27 - (%) 1,10 ± 0,11 1,03 ± 0,07 1,03 ± 0,10 0,96 ± 0,12 1,05 ± 0,16 - (cm/g) 0,06 ± 0,01 0,06 ± 0,01 0,06 ± 0,00 0,06± 0,00 0,06 ± 0,00 Sekum - (g) 5,31 ± 0,58 5,91 ± 1,26 6,07 ± 0,53 5,35 ± 0,81 5,79 ± 0,83 - (%) 0,35 ± 0,04 0,38 ± 0,10 0,40 ± 0,03 0,34 ± 0,04 0,38 ± 0,05 - (cm/g) 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 Kolon - (g) 2,70 ± 0,26 2,50 ± 0,34 2,56 ± 0,44 2,32 ± 0,45 2,16 ± 0,25 - (%) 0,18 ± 0,02a 0,16 ± 0,02ab 0,17 ± 0,03ab 0,15 ± 0,03ab 0,14 ± 0,01b - (cm/g) 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 0,01 ± 0,00 Keterangan : Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). R0
(Ransum basal tanpa asam fulvat), R1 (R0 + 0,25% asam fulvat), R2 (R0 + 0,50% asam fulvat), R3 (R0 + 0,75% asam fulvat), R4 (R0 + 1,00% asam fulvat).
Gizzard
Rataan bobot gizzard ayam penelitian masih berada kisaran normal menurut Putnam (1991) yaitu 1,60%-2,30% dari bobot hidupnya. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bobot gizzard tidak berbeda secara nyata terhadap suplementasi asam fulvat dalam ransum. Hal ini menunjukkan bahwa asam fulvat tidak
29 mengganggu proses pencernaan yang terjadi di gizzard. Gizzard akan mulai bekerja ketika makanan sudah masuk ke dalam gizzard, biasanya di dalam gizzard mengandung material yang bersifat menggiling, seperti grit, karang, atau batu kerikil yang memiliki fungsi untuk membantu memperkecil ukuran partikel makanan yang dikonsumsi (Suprijatna et al., 2005). Menurut Scanes et al. (2004), di dalam gizzard partikel makanan akan dicampur dan dihancurkan menjadi lebih kecil (pencernaan secara mekanik).
Usus Halus
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa R2 nyata (P<0,05) menaikkan panjang relatif jejunum dibandingkan dengan kontrol. Pada R4 menunjukkan penurunan yang nyata