• Tidak ada hasil yang ditemukan

NELAYAN DAN PEDAGANG IKAN

RIWAYAT HIDUP

4) Berkembangnya industri-industri perikanan dan pengolahan ikan

2.5 Analisis SWOT Pengembangan PP

2.5.2 Matrik SWOT

Matrik SWOT merupakan cara atau teknik yang digunakan dalam menyusun faktor-faktor strategis. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik SWOT disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Matrik SWOT

IFAS EFAS Kekuatan (S) Tentukan faktor-faktor kekuatan internal Kelemahan (W) Tentukan faktor-faktor kelemahan internal Peluang (O) Tentukan faktor peluang eksternal Strategi SO Strategi WO Ancaman (T) Tentukan faktor ancaman eksternal Stategi ST Strategi WT (Sumber: Rangkuti 2006)

Matrik SWOT menghasilkan empat set alternatif strategi yaitu strategi SO, ST, WO dan WT.

1) Strategi SO

Memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesar- besarnya.

2) Strategi ST

Memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. 3) Strategi WO

Memanfaatkan peluang untuk meminimalkan kelemahan yang ada. 4) Strategi WT

19

3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

Alat penelitian adalah kuesioner. Adapun bahan penelitian diperoleh dari data hasil pengamatan di lapangan dan informasi wawancara kuesioner.

3.2 Waktu dan Lokasi

Penelitian di lapangan dilaksanakan pada bulan Maret dan Juli 2011. Adapun lokasi penelitian di PPI Pangandaran dan kawasan wisata bahari Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Lokasi PPI Pangandaran meliputi lokasi lama dan lokasi baru (Gambar 1).

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Adapun aspek yang diteliti pada penelitian ini adalah kondisi aktual fasilitas-fasilitas kepelabuhanan perikanan PPI Pangandaran baik di lokasi lama maupun di lokasi baru, dan dampak yang dapat ditimbulkan akibat pemindahan PPI Pangandaran ke lokasi baru di Desa Babakan Pangandaran. Telah terdapat penolakan nelayan untuk pindah dari lokasi PPI Pangandaran lama ke lokasi baru.

Identifikasi dan pengumpulan data penelitian diperoleh melalui pengamatan terhadap aktivitas nelayan dan pedagang ikan, kondisi fasilitas di PPI Pangandaran baik lokasi lama maupun lokasi baru dan wawancara menggunakan kuesioner. Metode pengambilan sampel responden penelitian dilakukan secara purposive sampling.

Jumlah responden yang diwawancarai berjumlah 17 orang yang terdiri atas pengelola PPI Pangandaran (2 orang), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat (1 orang), Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis (2 orang), pedagang ikan (2 orang) dan nelayan (10 orang). Responden nelayan pada penelitian ini adalah nelayan yang melakukan usaha penangkapan ikan (nelayan pemilik) dan nelayan sebagai pekerja (buruh nelayan). Responden pedagang ikan pada penelitian ini adalah pedagang yang membeli ikan kepada nelayan pemilik dan menjualnya kembali ke pihak pembeli.

21

Berdasarkan pengamatan awal peneliti, dapat dikatakan bahwa pedagang ikan di PPI Pangandaran relatif bersifat homogen, yaitu di dalam hal besaran usaha (modal usaha atau omset per hari) dan jenis ikan yang dibeli. Wawancara dilakukan untuk mengetahui pendapat responden terhadap pemindahan PPI Pangandaran ke lokasi baru. Adapun jumlah responden yang diwawancarai pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jenis responden yang diwawancarai tahun 2011

Jenis Responden Subjumlah

Responden

1. Pengelola PPI 2

2. Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Ciamis 2 3. Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Jawa Barat 1

4. Pedagang ikan 2

5. Nelayan 10

Jumlah 17

Jenis data yang dikumpulkan

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer, sekunder dan penunjang.

1) Data primer

Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara. Data ini meliputi:

(1) Kondisi aktual fasilitas dan aktivitas kepelabuhanan perikanan di PPI Pangandaran, baik di lokasi lama maupun di lokasi baru.

(2) Pendapat pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Ciamis terhadap pemindahan PPI Pangandaran ke lokasi baru. (3) Pendapat nelayan dan pedagang ikan terhadap pemindahan PPI

Pangandaran ke lokasi baru berkaitan dengan aktivitas, pengelolaan waktu dan pendapatan.

(4) Pemasaran hasil tangkapan nelayan. 2) Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari pihak/instansi tertentu dan masih berkaitan dengan penelitian. Data ini meliputi :

(1) Data fasilitas kepelabuhanan perikanan PPI Pangandaran baik di lokasi lama maupun di lokasi baru.

(2) Data produksi dan nilai produksi hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Ciamis dan Pangandaran.

(3) Data perkembangan unit penangkapan ikan (alat tangkap, kapal, dan nelayan) di Kabupaten Ciamis dan Pangandaran.

(4) Data struktur organisasi pengelola PPI Pangandaran.

(5) Data laporan Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis tahun 2010.

(6) Data Ciamis dalam Angka tahun 2010. 3) Data penunjang

Data penunjang merupakan data yang dapat menunjang data primer sehingga mampu memperkuat peneliti dalam melakukan analisis terhadap data yang telah diperoleh. Data penunjang penelitian ini terdiri atas :

(1) Letak geografis Kabupaten Ciamis

(2) Pemukiman, telekomunikasi, sarana dan prasarana transportasi. (3) Kondisi umum kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Ciamis (4) Kondisi umum kegiatan perikanan tangkap di Pangandaran

(5) Kondisi umum kegiatan wisata bahari di Pangandaran (6) Fasilitas infrastruktur di Pangandaran

3.4 Analisis Data

1) Analisis deskriptif (rata-rata, kisaran dan grafik). Analisis ini digunakan untuk: (1) Menjelaskan alasan pemindahan PPI Pangandaran

(2) Menjelaskan pendapat nelayan dan pedagang ikan tentang pemindahan PPI Pangandaran

(3) Menduga dampak pemindahan PPI Pangandaran terhadap aktivitas nelayan dan pedagang ikan.

2) Analisis Strength Weakness Opportunity Threat (SWOT)

Analisis SWOT dilakukan untuk mempelajari faktor yang menjadi kekuat- an (strength), dan kelemahan (weakness), dan faktor yang menjadi peluang

23

(opportunity), dan ancaman (threat) (Rangkuti, 2006). Analisis SWOT diguna- kan untuk mencari strategi yang tepat pengembangan PPI Pangandaran.

Menurut Pane (2006) vide Rakhmania (2008), analisis SWOT mempunyai kelemahan yaitu sifat subyektif dari peneliti yang sulit dihindari. Analisis ini ditingkatkan keobyektifannya dengan cara melakukan pendalaman terhadap parameter-parameter yang terdapat di dalam kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang disebut juga dengan analisis SWOT plus. Analisis SWOT plus merupakan analisis SWOT yang diperdalam/ditingkatkan kedalaman dengan memberikan bukti/fakta atau indikator yang diperkuat dengan faktor-faktor SWOT (kekuatan atau strength, kelemahan atau weakness, peluang atau opportunity, ancaman atau threat).

Dalam penelitian ini, analisis SWOT dilakukan oleh peneliti. Analisis SWOT diterapkan oleh peneliti adalah kegiatan kepelabuhanan perikanan sektor perikanan tangkap yang mengalami pemindahan lokasi PPI. Pengguna analisis ini adalah Dinas Kelautan dan Perikanan. Tahapan yang dilakukan dalam anali-sis SWOT adalah sebagai berikut (Rangkuti, 2006) :

(1) Mengidentifikasi faktor-faktor SWOT (a) Faktor internal (kekuatan dan kelemahan)

Faktor internal merupakan faktor dalam yang dapat berupa kekuatan atau kelemahan. Hasil identifikasi faktor internal akan memberikan gambaran bagi peneliti tentang kekuatan dan kelemahan yang terdapat dari masing-masing lokasi PPI, baik lokasi lama maupun lokasi baru.

(b) Faktor eksternal (ancaman dan peluang)

Faktor eksternal merupakan faktor luar yang berpotensi menjadi peluang dan atau ancaman. Hasil identifikasi faktor eksternal akan memberikan gambar-an tentang peluang dan ancaman dari masing-masing lokasi PPI.

(2) Menentukan bobot setiap variabel

Penentuan bobot bertujuan untuk mengkalkulasikan faktor internal dan eksternal. Skala dalam penentuan bobot setiap variabel adalah 1,2 dan 3 dengan aturan sebagai berikut:

1: Jika komponen horizontal kurang penting dari pada komponen vertikal 2: Jika komponen horizontal sama penting dari pada komponen vertikal

3: Jika komponen horizontal lebih penting dari pada komponen vertikal Bobot setiap variabel diperoleh dengan menentukan nilai setiap variabel terhadap jumlah keseluruhan variabel dengan menggunakan rumus (Rangkuti, 2006) :

Keterangan :

Ai : Bobot komponen ke-I dari komponen kekuatan/kelemahan atau peluang/ancaman Xi : Nilai komponen ke-i

i : 1,2,3,…. N n : Jumlah komponen

Penilaian bobot faktor strategis internal disajikan pada Tabel 4, sedangkan penilaian bobot faktor strategis eksternal disajikan pada Tabel 5. Penentuan bo- bot dan nilai setiap faktor internal dan eksternal dilakukan oleh peneliti.

Tabel 4 Penilaian bobot faktor strategis internal

Internal a b c …… Xi Ai a…….. … b…….. … c…….. … ………. … ∑ 1 Keterangan:

a, b, c... = Komponen-komponen kekuatan atau kelemahan pada faktor internal kegiatan kepelabuhanan perikanan sektor perikanan tangkap (yang mengalami pemindahan) yang diteliti

Xi = Jumlah nilai komponen kekuatan dan kelemahan Ai = Bobot (%) komponen kekuatan dan kelemahan n = Besar komponen yang digunakan

Tabel 5 Penilaian bobot faktor strategis eksternal

Eksternal a b c …… X Ai a…….. … b…….. … c…….. … ………. … ∑ 1

25

Keterangan :

a, b, c... = Komponen-komponen kekuatan atau kelemahan pada faktor eksternal kegiatan kepelabuhanan perikanan sektor perikanan tangkap (yang mengalami pemindahan) yang diteliti

Xi = Jumlah nilai komponen peluang dan ancaman Ai = Bobot (%) komponen peluang dan ancaman n = Besar komponen yang digunakan

3) Membuat matrik SWOT

Matrik SWOT merupakan cara atau teknik yang digunakan untuk menyusun faktor-faktor strategis. Dalam matrik ini tergambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.

4) Menentukan strategi pengembangan

Penentuan strategi dalam pengembangan PPI Pangandaran dilakukan oleh peneliti. Penentuan strategi dilakukan dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang dan minimalisasi kelemahan dan ancaman, hasil perhitungan bobot dan nilai faktor strategis dan matrik SWOT.

Terdapat dua alternatif pengembangan PPI Pangandaran yang ditawarkan dalam penelitian ini yaitu pengembangan PPI Pangandaran dilakukan di lokasi lama atau di lokasi baru. Masing-masing lokasi PPI mempunyai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, tetapi belum diketahui lokasi yang memiliki kekuatan dan peluang yang lebih dominan ataupun sebaliknya kelemahan dan ancaman yang dominan. Dengan melakukan analisis SWOT, maka dapat diketahui lokasi yang mempunyai kekuatan dan peluang terbesar dengan kelemahan dan ancaman terkecil serta strategi pengembangannya.

Strategi pengembangan PPI Pangandaran yang diambil adalah lokasi terbaik dengan nilai kekuatan dan peluang terbesar dan nilai kelemahan dan ancaman terkecil. Selanjutnya dilakukan urutan prioritas strategi pengembangan yang akan dilakukan. Penentuan priotitas ini didasarkan pada tingkat kepentingan dan urgensi dari masing-masing strategi. Prioritas yang telah ditentukan dapat dilakukan secara bertahap atau secara keseluruhan. Hal ini bergantung kepada kondisi aktual yang terjadi di lokasi tersebut.

Alternatif 1 : Bila pengembangan PPI Pangandaran tetap dilakukan di lokasi baru

Pengembangan PPI Pangandaran dapat dilakukan di lokasi baru. Hal ini sesuai dengan rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan kawasan wisata bahari Pangandaran yang terpisah dengan kegiatan perikanan. Kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Ciamis direncanakan akan terpusat di satu lokasi. Pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru mendapat penolakan dari nelayan dan pedagang ikan, karena faktor lokasi PPI yang jauh dari pemukiman nelayan dan daerah pemasaran. Untuk merumuskan strategi pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru, terlebih dahulu dilakukan identifikasi terhadap faktor internal dan eksternal lokasi baru PPI Pangandaran yang disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7.

Tabel 6 Perhitungan nilai minimum dan maksimum faktor internal untuk pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru tahun 2011

Internal Skor Bobot Nilai Min Maks Min Maks Kekuatan :

a. Adanya dukungan dari pemerintah daerah berupa Perda Kab. Ciamis No. 9 tahun 2002 tentang penentapan Desa Babakan sebagai lokasi baru PPI Pangandaran

1 3 6,86 6,86 20,56

b. Hasil tangkapan dalam kondisi segar 1 3 5,15 5,15 15,44 c. Adanya pengelola PPI di lokasi baru 1 3 4,90 4,90 14,71 d. Adanya gedung TPI di lokasi baru 1 3 4,90 4,90 14,71 e. Adanya instalasi listrik dan air di lokasi baru 1 3 4,90 4,90 14,71 f. Adanya kantor pengelola di PPI di lokasi baru

Kelemahan :

1 3 4,90 4,90 14,71 a. Biaya pembangunan PPI yang besar 1 3 9,31 9,31 27,94 b. Pembangunan berbagai fasilitas belum selesai

dilaksanakan 1 3 8,82 8,82 26,47

c. Jauh dari pemukiman nelayan 1 3 9,07 9,07 27,21 d. Jauh dari daerah pemasaran 1 3 7,35 7,35 22,06

e. Jauh dari konsumen 1 3 7,35 7,35 22,06

f. Jumlah SDM pengelola PPI di lokasi baru adalah

sedikit 1 3 5,88 5,88 17,65

g. Biaya transportasi menuju PPI cukup besar 1 3 6,86 6,86 20,56 h. Lama waktu beraktivitas di PPI baru lebih lama

dibandingkan di PPI lama 1 3 7,84 7,84 23,53 i. Sarana transportasi ke PPI yang terbatas 1 3 5,88 5,88 17,65

27

Jumlah nilai maksimum faktor internal pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru adalah 300,00. Penentuan kriteria faktor internal di lokasi baru adalah sebagai berikut:

Baik ≥80% dari nilai maksimum (240); komponen kekuatan yang dimiliki lokasi baru adalah dominan

Sedang 79-60% dari nilai maksimum (237-180); kondisi internal lokasi baru dalam keadaan seimbang antara kekuatan dan kelemahan Buruk <60% dari nilai maksimum (<180); komponen kelemahan lokasi

baru sangat dominan.

Tabel 7 Perhitungan nilai minimum dan maksimum faktor eksternal untuk pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru tahun 2011

Eksternal Skor Bobot Nilai

Min Maks Min Maks

Peluang :

a. Jumlah armada dan alat tangkap meningkat 1 3 8,33 8,33 25,00 b. Adanya trip penangkapan one day fishing sehingga

hasil tangkapan dalam kondisi segar 1 3 8,33 8,33 25,00 c. Adanya eksportir hasil perikanan 1 3 7,22 7,22 21,67 d. Adanya pasar ekspor

Ancaman :

1 3 7,22 7,22 21,67

a. Adanya penolakan dari nelayan 1 3 10,00 10,00 30,00 b. Adanya penolakan dari pedagang ikan 1 3 9,44 9,44 28,33 c. Tidak adanya tempat berlindung dari hempasan

gelombang bagi perahu nelayan 1 3 13,33 13,33 40,00 d. Kurangnya keselamatan beraktivitas di lokasi baru

PPI 1 3 13,33 13,33 40,00

e. Keharusan nelayan menyerahkan hasil tangkapan dan penentuan harganya ke tengkulak karena adanya nelayan yang terikat dengan tengkulak

1 3 8,33 8,33 25,00 f. Adanya potensi bencana tsunami 1 3 14,44 14,44 43,33

Jumlah 300,00

Jumlah nilai maksimum faktor eksternal pengembangan PPI Pangandaran di lokasi baru adalah 300,00. Penentuan kriteria faktor eksternal di lokasi baru adalah sebagai berikut:

Baik ≥80% dari nilai maksimum (≥ 240); komponen peluang yang dimiliki lokasi baru adalah dominan

Sedang 79-60% dari nilai maksimum (237-180); kondisi eksternal lokasi baru dalam keadaan seimbang antara kekuatan dan kelemahan

Buruk <60%dari nilai maksimum (<180); komponen ancaman lokasi baru sangat dominan.

Alternatif 2: Bila pengembangan PPI Pangandaran tetap dilakukan di lokasi lama

Pengembangan PPI Pangandaran dapat dilakukan di lokasi lama. Hal ini dikarenakan lokasi lama yang berada di Pantai Timur lebih terlindung oleh teluk, dekat dengan pemukiman nelayan, dekat dengan daerah pemasaran, dan bersebelahan dengan wisata bahari, sehingga memiliki peluang yang cukup besar dalam pemasaran hasil tangkapan nelayan.

Untuk merumuskan strategi pengembangan PPI Pangandaran di lokasi lama, terlebih dahulu dilakukan identifikasi terhadap faktor internal dan eksternal. Identifikasi faktor internal dan eksternal tersebut disajikan pada Tabel 8 dan Tabel 9.

Tabel 8 Perhitungan nilai minimum dan maksimum faktor internal untuk pengembangan PPI Pangandaran di lokasi lama tahun 2011

Internal Skor Bobot Nilai

Min Maks Min Maks

Kekuatan :

a. Lokasi lama PPI dekat dengan pemukiman nelayan 1 3 8,06 8,06 24,194 b. Lokasi lama PPI dekat dengan daerah pemasaran 1 3 8,06 8,06 24,194 c. Lokasi lama PPI dekat dengan konsumen 1 3 8,39 8,39 25,161

d. Adanya gedung TPI 1 3 8,71 8,71 26,129

e. Adanya kantor pengelola dan KUD 1 3 7,10 7,10 21,29 f. Adanya alat bantu navigasi 1 3 10,32 10,32 30,968 g. Biaya transportasi menuju PPI rendah 1 3 8,39 8,39 25,161 h. Lama waktu beraktivitas lebih singkat dibandingkan

PPI baru 1 3 8,71 8,71 26,129

i. Lokasi terlindung oleh teluk 1 3 10,65 10,65 31,935 j. Hasil tangkapan dalam kondisi segar

Kelemahan :

1 3 8,06 8,06 24,194

a. Tidak adanya kolam pelabuhan 1 3 4,52 4,52 13,548 b. Tidak adanya dermaga 1 3 4,52 4,52 13,548 c. Tidak adanya breakwater 1 3 4,52 4,52 13,548

Jumlah 300,00

Jumlah nilai maksimum faktor internal pengembangan PPI Pangandaran di lokasi lama adalah 300,00. Penentuan kriteria faktor internalnya sebagai berikut:

29

Baik ≥80% dari nilai maksimum (≥ 240); komponen kekuatan yang dimiliki lokasi lama adalah dominan

Sedang 79-60% dari nilai maksimum (237-180); kondisi internal lokasi lama dalam keadaan seimbang antara kekuatan dan kelemahan Buruk <60% dari nilai maksimum (<180); komponen kelemahan lokasi

lama sangat dominan.

Tabel 9 Perhitungan nilai minimum dan maksimum faktor eksternal untuk pengembangan PPI Pangandaran di lokasi lama tahun 2011

Eksternal Skor Bobot Nilai

Min Maks Min Maks Peluang :

a. Peningkatan jumlah armada dan alat tangkap 1 3 9,09 9,09 27,27 b. Adanya trip penangkapan one day fishing sehingga

hasil tangkapan dalam kondisi segar 1 3 9,09 9,09 27,27 c. Lokasi lama PPI dekat dengan wisata bahari 3 9,55 9,55 28,64 d. Adanya eksportir hasil perikanan 1 3 10,00 10,00 30,00

e. Adanya pasar ekspor 1 3 7,73 7,73 23,18

f. Peningkatan pendapatan nelayan melalui penyewaan perahu kepada wisatawan

Ancaman :

1 3 9,09 9,09 27,27

a. Kebijakan pengembangan wisata bahari 1 3 8,64 8,64 25,91 b. Pemanfaatan perairan konservasi untuk tambat labuh

perahu 1 3 8,64 8,64 25,91

c. Adanya nelayan yang terikat dengan tengkulak 1 3 6,36 6,36 19,09 d. Pemindahan paksa nelayan dari PPI lama jika

pembangunan PPI baru telah selesai 1 3 8,64 8,64 25,91 e. Adanya potensi bencana tsunami 1 3 13,18 13,18 39,55

Jumlah 300,00

Jumlah nilai maksimum faktor eksternal pengembangan PPI Pangandaran di lokasi lama adalah 300,00. Penentuan kriteria faktor eksternal di lokasi lama sebagai berikut:

Baik ≥80% dari nilai maksimum (≥ 240); komponen peluang yang dimiliki lokasi lama adalah dominan

Sedang 79-60% dari nilai maksimum (237-180); kondisi eksternal lokasi lama dalam keadaan seimbang antara peluang dan ancaman

Buruk <60% dari nilai maksimum (<180); komponen ancaman lokasi lama sangat dominan.

Gambar 2 Kerangka operasional penelitian

Prakiraan Dampak Pemindahan Lokasi Pelabuhan Perikanan terhadap Aktivitas Nelayan dan Pedagang Ikan (Studi Kasus : PPI Pangandaran Kabupaten Ciamis)

Studi kasus

Aspek yang diteliti

1.Kondisi aktual fasilitas-fasilitas kepelabuhanan perikanan di PPI Pangandaran baik di lokasi lama maupun di lokasi baru

2.Prakiraan dampak yang dapat ditimbulkan akibat pemindahan PPI Pangandaran ke lokasi baru di Desa Babakan Pangandaran terhadap aktivitas nelayan dan pedagang ikan.

Wawancara Pengamatan di lapangan Pengelola PPI, DKP Provinsi Jawa Barat, DKP Kabupaten Ciamis, nelayan, pedagang dan pengolah ikan. a.Kondisi aktual di PPI

Pangandaran seperti fasilitas dan aktivitas yang terdapat disana. b.Para pelaku yang

beraktivitas di PPI Pangandaran.

Analisis Data: Deskriptif dan SWOT

Tujuan :

1. Mengetahui kondisi aktual Pangkalan pendaratan ikan (PPI) Pangandaran yang telah dipindahkan ke lokasi baru.

2. Mengetahui prakiraan dampak pemindahan PPI Pangandaran terhadap aktivitas nelayan dan pedagang ikan.

3. Mendapatkan strategi pengembangan PPIPangandaran Pengumpulan data

sekunder

Ciamis dalam angka, Laporan statistik perikanan Kabupaten Ciamis tahun 2010, data penduduk Kabupaten Ciamis beserta tingkat pendidikannya.

31

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Ciamis 4.1.1 Geografi, Morfologi dan Klimatologi

Kabupaten Ciamis terletak di selatan Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten ini terletak pada koordinat 108○20’ BT sampai 108○40’ BT dan 7○40’20”LS sampai 7○41’20” LS. Batas-batas wilayah Kabupaten Ciamis adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Kota Banjar (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, 2011).

Selanjutnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis tersebut diatas menyatakan bahwa luas wilayah Kabupaten Ciamis secara keseluruhan mencapai 244.479 ha, 67.340 ha (27,54%) diantaranya merupakan wilayah laut dengan garis pantai mencapai 91 km, dan 2.782,42 ha (1,14%) potensi lahan dimanfaatkan untuk kegiatan di bidang perikanan budidaya yaitu kolam, empang dan tambak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan perikanan telah cukup berkembang di Kabupaten Ciamis.

Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis (2011), kawasan pesisir di Kabupaten Ciamis seperti Pangandaran, Kalipucang dan sekitarnya merupakan suatu dataran rendah yang sangat luas dan didominasi oleh pantai berpasir. Kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai aktivitas di wisata bahari seperti menyelam, memancing, berperahu dan berselancar.

Bentuk dan tipe pantai di Kabupaten Ciamis dipengaruhi oleh angin, arus dan gelombang. Kawasan Pangandaran relatif terlindung dari hempasan gelombang (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, 2011). Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap seperti tambat-labuh kapal/perahu dan pendaratan hasil tangkapan.

Kabupaten Ciamis beriklim tropis yaitu matahari dapat menyinari wilayah ini sepanjang tahun sehingga sangat mendukung aktivitas penduduk, salah satunya adalah kegiatan perikanan tangkap. Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis

menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson, bertipe C (agak basah). Keadaan suhu udara berkisar antara 200 C sampai dengan 300 C dan kelembaban udara berkisar antara 80-90%. Keadaan curah hujan rata-rata sebesar 114 ml per bulan sedangkan curah hujan tertinggi mencapai 227 ml per bulan dengan jumlah hari hujan bervariasi antara 31 hari per tahun sampai 175 hari per tahun (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, 2011).

4.1.2 Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Ciamis tercatat sebanyak 1.616.778 orang dengan tingkat kepadatan rata-rata 619 orang/km2 tahun 2010 (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ciamis (2011) vide Dinas Kelautan dan Perikanan Kabuaten Ciamis (2011). Penduduk bergerak di bidang usaha perikanan dan kelautan sebanyak 98.065 orang atau (6,40%) yang terdiri atas pembudidaya ikan 91.154 orang (5,92%), nelayan di perikanan laut 4.860 orang (0,31%), nelayan di perairan umum 1.952 orang (0,12%), dan lainnya (0,006%; bakul 62 orang dan pengolah ikan 37 orang) (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, 2011).

Tabel 10 Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Ciamis tahun 2001-2010

Tahun Jumlah penduduk (jiwa) Pertumbuhan (%)

2001 1.618.725,0 - 2002 1.604.132,0 -0,90 2003 1.448.445,0 -9,71 2004 1.454.365,0 0,41 2005 1.456.902,0 0,17 2006 1.457.146,0 0,02 2007 1.458.652,0 0,10 2008 1.539.165,0 5,52 2009 1.539.165,0 0,00 2010 1.616.778,0 5,04 Rata-rata 1.519.347,5 0,07 Kisaran pertumbuhan (%) -9,71 – 5,52

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis 2011

Perkembangan penduduk di Kabupaten Ciamis cenderung mengalami peningkatan selama periode tahun 2001-2010 (Tabel 10). Peningkatan jumlah

33

penduduk terjadi pada tahun 2004 dan berlanjut sampai tahun 2008 kemudian stagnan di tahun 2009.

Pertumbuhan penduduk Kabupaten Ciamis mengalami peningkatan rata- rata 0,07% per tahun dengan kisaran pertumbuhan antara -9,71% sampai 5,52% selama periode 2001-2010. Pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2008, dengan nilai pertumbuhan 5,52%, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi tahun 2003 dengan nilai pertumbuhan -9,71%.

Tingkat pendidikan penduduk merupakan salah satu indikator pembangunan sumberdaya di suatu kawasan. Tingkat pendidikan di Kabupaten Ciamis telah cukup lengkap mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Persentase tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Ciamis disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Persentase penduduk usia 15 tahun ke atas menurut pendidikan dan jenis kelamin di Kabupaten Ciamis tahun 2009

Pendidikan Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 11,40 15,07

SD/Sederajat 52,50 52,04

SLTP/Sederajat 19,24 15,38

SMA/Sederajat 12,56 10,58

D1-PT 4,30 6,93

Jumlah 100,00 100,00

Sumber : Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Ciamis tahun 2010

Hasil indeks pembangunan manusia Kabupaten Ciamis pada Tabel 11 memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Ciamis relatif rendah. Lebih 50% dari jumlah penduduk hanya menyelesaikan Sekolah Dasar (SD). Penduduk yang melanjutkan ke perguruan tinggi memiliki persentase terendah yaitu 4,30% untuk laki-laki dan 6,93% untuk perempuan.

Mata pencaharian penduduk di Kabupaten Ciamis relatif beragam yaitu pegawai pemerintah, TNI, Polri, pegawai swasta, nelayan, petani, tukang, pedagang dan penyediaan layanan jasa (BPS, 2010). Keragaman mata pencaharian penduduk ini menandakan bahwa lapangan pekerjaan di Kabupaten Ciamis cukup luas.

4.1.3 Sarana dan prasarana umum

Keberadaan sarana dan prasarana umum sangat menunjang kelancaran berbagai aktivitas di suatu kawasan. Sarana dan prasarana tidak hanya mempermudah menjalankan berbagai aktivitas, tetapi juga mempercepat proses dan menghemat waktu pelaksanaan. Sarana dan prasarana umum yang terdapat di Kabupaten Ciamis adalah sebagai berikut :

1) Transportasi

Sarana transportasi yang terdapat di Kabupaten Ciamis adalah transportasi darat, udara dan sungai. Salah satu prasarana transportasi darat adalah jalan. Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis adalah 4.809,54 km dengan