HASIL SURVEY LAPANGAN
MATRIK WAWANCARA MENDALAM
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
No. TOPIK SMU & SMK DIPLOMA SARJANA BLK
1 Tujuan lulusan Untuk SMU, lulusannya dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke jejang yang lebih tinggi. Dalam kurikulum yang diterapkan, aplikasi dalam oraktek lapangan kerja sebagin besar tidak ada. Untuk SMK, lulusannya dipersiapkan untuk siap bersaing didunia kerja. Kurikulum yang digunakan sesuai dengan Depdiknas, yang didalamnya terdapat banyak Praktikum.
Lulusannya dipersiapkan masuk kedunia kerja, dimana kurikulum yang digukan adalah berbasis dual sistem 110 SKS, dimana aplikasi akan lebih banyak dibandingkan teori.
Lulusan Universitas dipersiapkan untuk menjadi calon pengambil kebijakan, baik di level manajemen perusahaan, pemerintahan serta jenis pekerjaan lainnya. Tujuan ini disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan yakni pengambilan minimum 144 SKS.
Lulusan BLK murni
dipersiapkan untuk masuk dunia kerja, kurikulum dengan standar kompetensi tertentu di masing-masing bidang keahlian. Hampir semua BLK yang dikunjungi memiliki berbagai jenis pelatihan sekaligus, baik otomotif, logam, tata niaga, listrik, bangunan, dll.
2 Lulusan yang bekerja Hanya sekitar 20-40 persen lulusannya SMU yang bekerja, kecuali di NTB 60-65 persen. Untuk SMK, 60-90 persen alumninya adalah bekerja.
Rata-rata 85-95 persen lulusan Diploma Sosial diterima bekerja, kecuali di NTB yang masih ada program diploma dimana hanya 40 persen lulusannya diterima bekerja.
Distribusi kelulusannya: • 80-95% : Bekerja disegala
sektor termasuk menjadi entreprenuer
• 5-15% : Melanjutkan studi ke jenjang S-2
Secara umum distribusi lulusan BLK diperkirakan 90% bekerja dan 10% masih menganggur.
3 Lama menunggu sebelum
bekerja Rata-rata lama menunggu sebelum diterima bekerja adalah 6-12 bulan untuk SMU dan 4-6 bulan untuk SMK
Masa tunggu lulusan sebelum memasuki dunia kerja rata-rata untuk bidang ilmu sosial adalah 6 – 12 bulan dan 4-6 bulan untuk diploma bidang teknik.
Rata-rata 6-12 bulan untuk lulusan bidang ilmu sosial, dan 6-8 bulan untuk bidang ilmu eksakta.
Rata-rata ≤ 3 bulan mereka sudah diterima bekerja setelah melalui OJT di BLK selama 3 bulan.
4 Kualifikasi lulusan Rata-rata sekolah sudah
menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai dengan standar nasional tentang kurikulum Sekolah Menengah Lanjutan.
Kualifikasi dan kompetensi lulusan diarahkan pada standar
teknisi/praktisi bidang masing-masing.
Kualifikasi dan kompetensi lulusan diarahkan pada teknisi lapangan dan manajemen keproyekan dengan bidang konsentrasi sesuai program studi yang diambil.
Kualitas lulusan BLK rata-rata mampu dan diterima di dunia kerja dengan baik, BLK menerapkan sistem evaluasi kelulusan, dimana rata-rata kelulusan tiap tahunnya mencapai 90%. BLK negeri (milik depnakertrans) memiliki 3 program kelompok pelatihan yaitu
1. pelatihan swadana;
2. Pelatihan MTU (proyek) atau didanai APBN dan
3. Pelatihan MTU (proyek) atau didanai APBD.
Tingkat kelulusan tertinggi adalah kategori program swadana.
5 Kurikulum vs dunia kerja Secara umum informan guru yang diwawancarai menyatakan bahwa kurikulum sekolahnya sudah bagus, terutama sekolah-sekolah kejuruan. Khusus untuk sekolah-sekolah umum, lulusannya memang tidak dipersiapkan untuk lansung kerja, tetapi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kurikulum yang dipakai oleh SMK-SMK yang disurvey pada studi ini malah sudah disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Kurikulum yang digunakan saat ini sudah sesuai dan dapat diterima dunia kerja. Kualitas lulusan dapat memenuhi standar kebutuhan kerja dikarenakan sudah memiliki sertifikasi. Sebagian besar program mengadakan perbaikan dan review terhadap kurikulum yang dilakukan tiap semester atau minimal 1 tahun sekali agar tidak tertinggal dan sesuai muatan lokal.
Kurikulum yang digunakan saat ini sudah sesuai dengan tuntutan dunia kerja yaitu 60% teori dan 40% praktek (laboraturium). Untuk mempertajam dan menyesuaikan mereka agar pas dengan kebutuhan dunia kerja maka perlu ada jembatan program pelatihan atau pendidikan (on the job training) dibidang kompetensi kerja yang akan mereka masuki sebelum mereka memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.
Kurikulum yang digunakan saat ini sudah mencukupi dengan kebutuhan dunia kerja umumnya, kecuali untuk bidak kompetensi khusus maka perlu di-updated lagi sesuai
perkembangan teknologi saat ini. Pemerintah perlu
memfasilitasi link and match BLK dengan dunia kerja baik berupa dukungan fasilitasi perangkat peraturan maupun kerjasama dengan pihak ketiga untuk penyaluran lulusan BLK.
6 Sarana & prasarana yang
dimiliki Umumnya sekolah-sekolah baik umum maupun kejuruan masih mengeluhkan sarana yang tidak memadai.
Hampir semua program diploma memiliki sarana laboratorium untuk tempat praktikum mahasiswa/i. Namun masih banyak yang mengeluhkan bahwa fasilitas yang ada tersebut sudah tidak memadai untuk kebutuhan kerja.
Fasilitas atau peralatan yang dimilki BLK berasal dari bantuan Jerman (CMC) tahun 1984. Lembaga Sertifikasi (Depnaker) memberikan bantuan peralatan tiap tahun tergantung kebutuhan dan permintaan. Namun didaerah, fasilitas ujian untuk
mendapatkan sertifikat ini masih terbatas.
7 Informasi bursa kerja Hampir semua sekolah yang dikunjungi pada studi ini sudah memiliki pusat informasi kerja di sekolahnya masing-masing. Informasi ini disampaikan melalui majalah dinding sekolah. Khusus untuk SMK, informasi lowongan kerja ini sebagian besar merupakan hasil kerjasama dengan institusi-institusi tempat bekerja lulusan sekolah tersebut.
Ada melalui media informasi kerja, melalui jaringan tempat praktek kerja lapangan maupun jaringan perusahaan yang biasa bekerjasama dengan fakultas atau jurusan.
Ada, melalui bursa kerja dan kerjasama dengan Disnaker, dari perusahaan-perusahaan mitra, dan sebagainya.
Informasi kerja dari perusahaan-perusahaan mitra BLK dalam bentuk media papan informasi belum on line. BLK sudah mendesain program bursa kerja namun terkendala oleh alokasi dana untuk keberlanjutannya.
8 Opini terhadap SMU vs
SMK Sebagian besar responden sepakat bahwa pemerintah sebaiknya mempersiapkan lulusan sekolah menengah untuk masuk kedunia kerja. Mereka menyarankan agar sekolah kejuruan diperbanyak serta memperlengkapi sekolah-sekolah tersebut dengan fasilitas
Perusahaan, Asosiasi Profesi dan Asosiasi Perusahaan
No. TOPIK PERUSAHAAN ASOSIASI PROFESI ASOSIASI PERUSAHAAN
1 Standar Kompetensi Tidak semua perusahaan membutuhkan pekerja yang memiliki SKNI tertentu, kecuali khusus industri logam dan otomotif yang masih mewajibkan pekerjanya memiliki standar sesuai dengan SKNI yang dikeluarkan oleh lembaga profesi. Standar yang dibutuhkan sesuai dengan kompetensi yang sudah ditetapkan oleh BNSP.
Standar profesi yang digunakan oleh asosiasi ini adalah standar – standar kompetensi yang merupakan acuan yang dibuat oleh industri untuk menetapkan tingkat kemampuan dan merupakan kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan semua pihak terkait, ex. : Pemerintah, Industri, lembaga pelatihan dan peserta pelatihan.
Penerapannya di lapangan adalah standar – standar ini dibuat sedemkian rupa sehingga seseorang dapat menerapkannya pada semua kondisi di dalam industri bodi repair.
Standar yang digunakan sesuai dengan standar – standar yang telah ditetapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi.Indonesia. Penerapannya di lapangan disesuaikan dengan kebutuhan–kebutuhan yang diperlukan.
2 Karyawan menurut
pendidikan Secara umum tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini cukup lulusan SLTA saja, asal mereka memiliki sertifikasi yang
menunjukkan keahlian mereka. Perusahaan-perusahaan yang disurvey menggunakan tenaga kerja secara rata-rata lebuh dari 80 persen adalah lulusan SMA/SMK. Untuk bidang pariwisata dan perhotelan membutuhkan lulusan SMK pariwisata saja.
Standar kompetensi dibutuhkan untuk menjaga kualitas kerja para pekerja. SKNI akan mengurangi risiko kegagalan produksi dan kecelakaan kerja, kerugiannya ditanggung perusahaan. Saat ini yang dibutuhkan tenaga kerja terdidik dan terlatih lulusan SLTA sebagai teknisi dan operator.
3 Sertifikasi dan Kualifikasi untuk Mendapatkan Sertifikat
Perusahaan-perusahaan mensyaratkan sertifikat sesuai standar nasional (SKNI). Perusahaan mengakui sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan, dan akan semakin kuat jika ditambah dengan sertifikat dari asosiasi profesi.
Asosiasi ini mengeluarkan sertifikasi bagi para anggotanya dan juga terhadap orang-orang lain maupun kayawan–kaayawan dari perusahaan yg membutuhkan.. Proses sertifikasi yang harus dijalani adalah mereka harus mengikuti pelatihan dan menyelesaikan uji kompetensi sesuai
Asosiasi mensyarakatkan anggota-anggota bergerak di bidang industri yang sama.
dengan bidang – bidangnya.
Kualifikasi khusus untuk Uji Kompetensi untuk otomotif:
1. Teknisi Junior : Teknisi Otomotif yang telah menyelesaikan standar kompetensi sebanyak 41 unit kompetensi.
2. Teknisi Senior : Teknisi Otomotif yang telah selesai standar kompetensi sebanyak 62 unit kompetensi. 3. Teknisi Master: Teknisi Otomotif
yang telah menyelesaikan standar kompetensi sebanyak 89 unit kompetensi.
Kualifikasi untuk industri logam: 1. Teknisi Junior: teknisi logam dan
mesin yang menyelesaikan standar kompetensi level junior.
2. Teknisi Senior: teknisi logam dan mesin yang telah menyelesaikan standar kompetensi level senior. 3. Teknisi master: teknisi yang sudah
menyelesaikan sebanyak 89 unit kompetensi.
4 Masalah dalam pembuatan
sertifikasi Secara umum responden menilai bahwa Standar Kompetensi Kerja di Indonesia sudah cukup baik. Hanya proses sosialisasi yang kadang-kadang terlambat dan birokrasinya yg terlalu berat/susah
SKKNI yang berlaku di Indonesa sebenarnya sudah cukup baik, Akan tetapi sering terjadi terhambatnya proses sosialisasi.
5 Opini umum terhadap
Lembaga Pelatihan Banyak BLK-BLK sekarang yang hanya termotivasi untuk mencari keuntungannya saja. Lulusan BLK-BLK yang dulunya sudah siap pakai sekaranga harus tetap ditraining lagi oleh perusahaan tersebut.
SKKNI yang berlaku di Indonesa sebenarnya sudah cukup baik, Akan tetapi sering terjadi terhambatnya proses sosialisasi. . Kendala lainnya adalah kurangnya fasilitas untuk mengadakan uji kompetensi yang baik dan terakreditasi.
Kebutuhan akan tenaga kerja lulusan BLK masih tinggi, terutama untuk industri yang membutuhkan keahlian khusus seperti otomotif, elektrik, metal, dsb. BLK harus menjaga kualitas lulusannya agar lulusan mereka tetap diterima di perusahaan. Sampai saat ini lulusan BLK-BLK miliki pemerintah (depnaker) masih lumayan bagus.