• Tidak ada hasil yang ditemukan

Matriks dan Ruang Vektor

BAB II HIMPUNAN KONVEKS DAN TEORI OPTIMISASI

A. Matriks dan Ruang Vektor

Pada subbab ini akan dibahas mengenai matriks, panjang (norm), ja-rak, ruang vektor, dan beberapa definisi serta teorema dasar tentang analisis real.

Definisi 2.1.1 (Ruang Berdimensi n)

Jika n adalah suatu bilangan bulat positif, maka tupel n berurutan adalah suatu

urutan dari n bilangan real , , … , . Himpunan semua tupel n

Definisi 2.1.2 (Matriks)

Matriks adalah jajaran empat persegi panjang dari bilangan-bilangan yang atur menurut baris dan kolom. Bilangan-bilangan dalam jajaran tersebut di-sebut dengan elemen dari matriks.

Elemen-elemen yang terletak pada baris i dan kolom j di dalam ma-triks A dapat dinyatakan sebagai . Sehingga, matriks secara umum dapat di-tulis sebagai berikut:

Atau lebih singkat dapat ditulis sebagai atau .

Definisi 2.1.3 (Matriks Simetrik)

Sebuah matriks bujur sangkar A adalah simetrik jika dan hanya jika A = AT.

Definisi 2.1.4 (Matriks Definit Positif dan Matriks Semidefinit Positif) Misalkan A adalah matriks simetrik.

A dikatakan definit positif jika xTAx > 0, , 0. A dikatakan semidefinit positif jika xTAx ≥0, .

Dari Definisi 2.1.4, dapat disimpulkan bahwa jika A adalah matriks definit positif, maka A juga adalah matriks semidefinit positif.

Untuk lebih memahami definisi matriks, matriks simetrik, matriks de-finit positif dan matriks semidede-finit positif, maka akan diberikan contoh beri-kut.

Contoh 2.1.1

Misalkan diberikan suatu matriks simetrik:

2 1 0

1 2 1

0 1 2

Untuk mengkaji bahwa matriks A adalah matriks definit positif, maka harus ditunjukkan bahwa xTAx > 0, , 0. ! ! ! 21 21 01 0 1 2 ! ! ! ! ! ! ! " 2!2! ! ! ! " 2! ! #2! ! $ " ! # ! " 2! ! $ " ! # ! " 2! $ 2! ! ! ! ! " 2! !%!& !%!&" 2! 2! 2! ! " 2! 2!%!&" 2! ! " #! 2! ! " ! $ " #! 2!%!&" ! $ " !

! " #! ! $ " #!% !&$ " !

Dari sini dapat disimpulkan bahwa matriks A bersifat definit positif karena ! " #! ! $ " #!% !&$ " ! ' 0, , kecuali jika

! ! ! 0.

Contoh 2.1.2

Misalkan diberikan suatu matriks simetrik: ( )2 00 2*

Untuk mengkaji bahwa matriks G adalah matriks semidefinit positif, maka ha-rus ditunjukkan bahwa xTGx ≥0, .

( ! ! )2 0

0 2* )!! * ! ! +2!2! , ! #2! $ " ! #2! $ 2! " 2!

Karena ( 2! " 2! - 0, , maka dapat disimpulkan bahwa matriks G adalah matriks semidefinit positif.

Definisi 2.1.5 (Ruang Vektor)

Misalkan . adalah himpunan tak kosong yang dilengkapi dengan operasi pen-jumlahan dan perkalian skalar dengan bilangan real. Artinya, bila diberikan dua elemen / dan 3 di . dan , 5 , maka penjumlahan / " 3 dan perka-lian skalar / didefinisikan dan terletak di V juga. Kemudian V dengan kedua operasi ini disebut ruang vektor jika kedua operasi tersebut memenuhi aksi-oma-aksioma berikut.

Untuk setiap /, 3, 6 . dan , 5 berlaku: (i) / " 3 3 " /.

(ii) / " #3 " 6$ #/ " 3$ " 6.

(iii) Ada elemen 7 . sehingga / " 7 /. (iv) Ada elemen / . sehingga / " # /$ 7. (v) #/ " 3$ / " 3.

(vi) # " 5$/ / " 5/. (vii) # 5$/ #5/$. (viii) 1/ /.

Untuk lebih memahami definisi ruang vektor, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.3

Buktikan bahwa 8#9 , 9 , … , 9 $|9 , 9 , … , 9 < adalah ruang vektor!

Bukti:

Misalkan / #9 , 9 , … , 9 $ dan 3 #= , = , … , = $, maka

/ " 3 #9 " = , 9 " = , … , 9 " = $ dan / # 9 , 9 , … , 9 $. a) / " 3 #9 " = , 9 " = , … , 9 " = $ #= " 9 , = " 9 , … , = " 9 $ 3 " / b) #/ " 3$ " 6 >#9 " = , 9 " = , … , 9 " = $? " #@ , @ , … , @ $ >#9 , 9 , … , 9 $ " #= , = , … , = $? " #@ , @ , … , @ $ #9 , 9 , … , 9 $ " #= , = , … , = $ " #@ , @ , … , @ $ #9 , 9 , … , 9 $ " ##= , = , … , = $ " #@ , @ , … , @ $$ #9 , 9 , … , 9 $ " #= " @ , = " @ , … , = " @ $ / " #3 " 6$ c) / " 7 #9 , 9 , … , 9 $ " #0, 0, … , 0$ #9 " 0, 9 " 0, … , 9 " 0$

#9 , 9 , … , 9 $ / d) / " # /$ #9 , 9 , … , 9 $ " # 9 , 9 , … , 9 $ #9 " # 9 $, 9 " # 9 $, … , 9 " # 9 $$ #0, 0, … , 0$ 7 e) #/ " 3$ #9 " = , 9 " = , … , 9 " = $ ##9 , 9 , … , 9 $ " #= , = , … , = $$ #9 , 9 , … , 9 $ " #= , = , … , = $ / " 3 f) # " 5$/ # " 5$#9 , 9 , … , 9 $ ># " 5$9 , # " 5$9 , … , # " 5$9 ? # 9 " 59 , 9%" 59%, … , 9 " 59 $ # 9 , 9 , … , 9 $ " #59 , 59 , … , 59 $ #9 , 9 , … , 9 $ " 5#9 , 9 , … , 9 $ / " 5/ g) # 5$/ # 5$#9 , 9 , … , 9 $

># 5$9 , # 5$9 , … , # 5$9 ? # #59 $, #59 $, … , #59 $$ #59 , 59 , … , 59 $ #5/$ h) 1/ 1#9 , 9 , … , 9 $ #19 , 19 , … , 19 $ #9 , 9 , … , 9 $ /

Karena 8#9 , 9 , … , 9 $|9 , 9 , … , 9 < dengan operasi penjumlahan dan perkalian skalar memenuhi aksioma-aksioma seperti pada Definisi 2.1.5, maka terbukti bahwa adalah ruang vektor.

Definisi 2.1.6 (Ruang Hasil Kali Dalam)

Hasil kali dalam pada adalah sebuah fungsi yang mengasosiasikan se-buah bilangan real A , BC dengan sepasang vektor x dan y di , sehingga ak-sioma-aksioma berikut ini terpenuhi bagi semua vektor x, y, dan z di dan semua bilangan skalar s.

(i) A , BC AB, C (Aksioma Kesimetrian) (ii) A " B, DC A , DC " AB, DC (Aksioma Penjumlahan)

(iii) AE , BC EA , BC (Aksioma Homogenitas) (iv) A , C - 0 (Aksioma Positivitas) (v) A , C 0 jika dan hanya jika 0

Sebuah ruang vektor real yang memiliki sebuah hasil kali dalam disebut ruang hasil kali dalam.

Untuk lebih memahami sifat hasil kali dalam yang pertama, yakni A , BC AB, C , maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.4 Untuk F ! ! ! G dan B F H H H

G adalah sembarang vektor-vektor di , bukti-kan jika A , BC B, maka B AB, C!

Bukti:

Ambil sebarang vektor F ! ! ! G dan B F H H H

G dalam ruang vektor . Akan dibuktikan A , BC B memenuhi A , BC AB, C.

B ! ! … ! F

H H H

! H " ! H " … " ! H H ! " H ! " … " H ! H H … H F ! ! ! G B AB, C

Jadi, terbukti bahwa A , BC AB, C. ▄

Definisi 2.1.7 (Panjang atau Norm)

Panjang atau norm sebuah vektor di dinotasikan dengan L L dan dide-finisikan sebagai

L L A , CMN # · $MN P! " ! " … " ! .

Sebuah pemetaan L . L dikatakan sebuah norm jika dan hanya jika memenuhi sifat berikut:

(1) L L - 0,

(2) L L 0 jika dan hanya jika x = 0, (3) Lα L |R|L L, R ,

Definisi 2.1.8 (Ortogonal)

Dua vektor u dan v di dalam ruang hasil kali dalam di dikatakan ortogo-nal jika A/, 3C 0.

Teorema 2.1.1 (Hukum Phytagoras)

Jika u dan v adalah vektor-vektor ortogonal di dalam ruang hasil kali dalam di , maka

L/ " 3L L/L " L3L .

Bukti:

L/ " 3L A/ " 3, / " 3C

A/, /C " A/, 3C " A3, /C " A3, 3C A/, /C " A/, 3C " A/, 3C " A3, 3C A/, /C " 2A/, 3C " A3, 3C

L/L " L3L ▄

Definisi 2.1.9 (Proyeksi Skalar dan Proyeksi Vektor)

Jika u dan v adalah vektor-vektor di dalam ruang hasil kali dalam di dan 3 0, maka proyeksi skalar dari u pada v diberikan oleh R A/,3CL3L dan proyeksi vektor dari u pada v diberikan oleh T R UL3L3V A/,3CA3,3C3 .

Teorema 2.1.2

Jika 3 0 dan p adalah proyeksi vektor dari u pada v, maka / T dan p ada-lah ortogonal.

Bukti:

Karena AT, TC AL3LW 3,L3LW 3C UL3LW V A3, 3C R dan A/, TC #A/,3C$A3,3C R . Ini mengakibatkan A/ T, TC A/, TC AT, TC R R 0. Oleh karena itu, / T dan p adalah ortogonal.

Teorema 2.1.3 (Ketaksamaan Cauchy-Schwarz)

Jika u dan v adalah vektor-vektor di dalam ruang hasil kali dalam di , maka |A/, 3C| S L/LL3L

Bukti:

Jika 3 0, maka |A/, 3C| 0 L/LL3L. Jika 3 0, maka misalkan p seba-gai proyeksi vektor dari u pada v. Karena p ortogonal pada / T, maka me-nurut Hukum Phytagoras

LTL " L/ TL L/L

X LTL L/L L/ TL

X#A/, 3C$L3L L/L L/ TL

X #A/, 3C$ L/L L3L L/ TL L3L S L/L L3L

Dengan mengambil akarnya, maka diperoleh |A/, 3C| S L/LL3L. ▄

Untuk lebih memahami definisi norm serta sifat-sifat dari norm, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.5 Buktikan bahwa L L Y|! | Z [\ adalah norm! Bukti:

Untuk membuktikan bahwa L L adalah norm, maka harus ditunjukkan bah-wa L L memenuhi keempat sifat dari norm.

Misalkan, x dan y adalah sebarang vektor di dan R adalah sebarang bila-ngan real.

(1) Akan dibuktikan bahwa L L - 0

L L Y|! | Z [\

- 0

(2) Akan dibuktikan bahwa L L 0 jika dan hanya jika 0. Jika 0, maka ! 0, ].

Oleh karena itu, ∑ |! |Z

[\ 0dan L L 0. Sebaliknya, jika L L 0, maka ∑ |! |Z

[\ 0.

Karena |! | - 0, dengan demikian ∑ |! |Z

[\ 0 hanya dipenuhi jika |! | 0 sehingga 0.

(3) Akan dibuktikan bahwa LR L |R|L L , R , . LR L Y|R! | \ |R| _Y|! | \ ` |R|L L

(4) Akan dibuktikan bahwa L " BL S L L " LBL .

L " BL Y|! " H | \ S Y|! | " \ Y|H | \

L L " LBL

Jadi, L " BL S L L " LBL . ▄

Teorema 2.1.4 (Ketaksamaan Cauchy-Buniakowski-Schwarz) Misalkan , B , maka gY ! H \ g S L L LBL Bukti: Pertidaksamaan |∑ ! Hh

i\j | S L L LBL akan bersifat trivial jika dan hanya jika 0 atau B 0. Oleh karena itu, andaikan bahwa dan B, keduanya taknol. Misalkan, k adalah sebarang bilangan real. Maka,

0 S L " kBL Y#! " kH $ \ Y ! \ " 2k Y ! H " k Y H \ \ L L " 2k Y ! H " k LBL \ Misalkan, LBL , 5 ∑ ! H , dan l L Lh

i\j . Sehingga pertidaksa-maan menjadi k " 25k " l - 0 untuk semua k . Hal ini dapat terjadi

jika dan hanya jika diskriminan atau m #25$ 4 l 45 4 l o 0. Karena itu, 5 o l. Dengan mensubstitusikan nilai dari , 5, dan l, maka di-peroleh

_Y ! H \

` S L L LBL Dengan mengambil akarnya, maka diperoleh

gY ! H \ g S L L LBL ▄ Contoh 2.1.6 Buktikan bahwa L L _Y ! \ ` p adalah norm! Bukti:

Untuk membuktikan bahwa L L adalah norm, maka harus ditunjukkan bah-wa L L memenuhi keempat sifat dari norm.

Misalkan, x dan y adalah sebarang vektor di dan R adalah sebarang bila-ngan real.

(1) Akan dibuktikan bahwa L L - 0 .

Karena ! - 0 untuk sebarang bilangan real !, maka

L L #Y ! $ / - 0 \

(2) Akan dibuktikan bahwa L L 0 jika dan hanya jika 0. Jika 0, maka ! 0, ].

Oleh karena itu, ∑ !h 0

i\j dan L L 0. Sebaliknya, jika L L 0, maka ∑ !h 0

i\j .

Karena ! - 0, dengan demikian #∑ ! $h / 0

i\j hanya dipenuhi jika ! 0 sehingga 0.

(3) Akan dibuktikan bahwa LR L |R|L L , R , . LR L _Y#R! $ \ ` _R Y ! \ ` / |R| _Y ! \ ` / |R|L L

(4) Akan dibuktikan bahwa L " BL S L L " LBL . L " BL Y#! " H $ \ Y ! " 2 \ Y ! H " Y H \ \ S L L " 2 gY ! H \

g " LBL #Sifat nilai mutlak$

S L L " 2L L LBL " LBL # Ketaksamaan Cauchy-Buniakowski-Schwarz)

#L L " LBL $

Dengan mengambil akarnya, maka diperoleh L " BL S L L " LBL .

Selanjutnya, akan diberikan definisi dan sifat jarak pada .

Definisi 2.1.10 (Jarak)

Jarak antara dua buah titik titik dan B dinotasikan dengan

Teorema 2.1.5 (Sifat-Sifat Jarak pada )

Jika x, y, dan z adalah vektor-vektor pada , maka: (1) L BL - 0

(2) L BL 0 jika dan hanya jika B (3) L DL S L BL " LB DL

(4) L BL LB L

Bukti:

(1) Akan dibuktikan bahwa L BL - 0.

Bukti: L BL 2 / 1 1 2 ) (       −

= n i i i y x

Karena #! H $ - 0 untuk sebarang bilangan real ! dan H, maka L BL - 0.

(2) Akan dibuktikan bahwa L BL 0 jika dan hanya jika B.

Bukti:

Oleh karena itu, ∑ #! H $\ 0dan L BL 0. Sebaliknya, jika L BL 0, maka ∑ #! H $\ 0.

Karena #! H $ - 0, dengan demikian ∑ #!\ H $ 0 hanya dipe- nuhi jika ! H 0 sehingga B.

(3) Akan dibuktikan bahwa L DL S L BL " LB DL.

Bukti: L DL L B " B DL A B " B D, B " B DC A B, B " B DC " AB D, B " B DC A B, BC " A B, B DC " AB D, BC "AB D, B DC L BL " A B, B DC " AB D, BC " LB DL L BL " A B, B DC " A B, B DC " LB DL L BL " 2A B, B DC " LB DL S L BL " 2L BLLB DL " LB DL (Ketaksamaan Cauchy-Schwarz) #L BL " LB DL$

L DL S L BL " LB DL.

Jadi, terbukti untuk L DL S L BL " LB DL. ▄

(4) Akan dibuktikan bahwa L BL LB L.

Bukti:

L BL L# 1$#B $L | 1|LB L

LB L

Teorema 2.1.6 (Hukum Paralelogram) Untuk semua , B L " BL " L BL 2#L L " LBL $ Bukti: L " BL " L BL A " B, " BC " A B, BC A , " BC " AB, " BC " A , BC AB, BC

A , C " AB, BC " A , C " AB, BC 2A , C " 2AB, BC

2L L " 2LBL 2#L L " LBL $ ▄

Selanjutnya, akan diberikan definisi kitar dan titik-interior.

Definisi 2.1.11 (Kitar)

Diberikan titik dan δ > 0. Kitar- δ dari x didefinisikan sebagai st# $ 8B |LB L o δ<

Definisi 2.1.12 (Titik Interior)

Misalkan m v dan m. Titik x dikatakan titik interior dari D jika ada suatu kitar- δ dari x sedemikian sehingga st# $ v m.

Untuk lebih memahami definisi titik interior, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.7

Himpunan ini merepresentasikan titik yang berada di dalam lingkaran dengan pusat (0,0) dan radius 1 seperti pada Gambar 2.1.1.

Gambar 2.1.1 Lingkaran ! " ! o 1

Titik-titik yang berada di dalam lingkaran adalah titik interior. Sedangkan, ti-tik-titik yang berada pada batas dan luar lingkaran bukan merupakan titik inte-rior.

Definisi 2.1.13 (Himpunan Terbuka)

Himpunan semua titik interior dari D disebut interior D dan dinotasikan de-ngan int(D). Selanjutnya, jika int(D) = D, yakni setiap titik dari D adalah titik interior dari D, maka D adalah himpunan terbuka.

Definisi 2.1.14 (Himpunan Tertutup)

Suatu himpunan m v dikatakan tertutup jika dan hanya jika komplemen-nya adalah terbuka.

Untuk lebih memahami definisi himpunan terbuka, maka akan diberi-kan contoh berikut.

Contoh 2.1.8

Berdasarkan Contoh 2.1.7, A adalah himpunan terbuka, karena titik-titik yang berada di dalam lingkaran adalah titik interior.

Selanjutnya, akan diberikan definisi relasi dan himpunan terurut secara parsial.

Definisi 2.1.15 (Relasi)

Sebuah relasi dari suatu himpunan A ke himpunan B adalah suatu subset R dari X x, di mana X x 8# , 5$: , 5 x<.

Relasi dapat pula ditulis sebagai z 5 yang berarti bahwa # , 5$ z.

Definisi 2.1.16 (Himpunan Terurut Secara Parsial)

Misalkan R adalah sebuah relasi pada sebuah himpunan S, maka R disebut re-lasi urutan parsial jika yang memenuhi tiga sifat berikut:

(i) Refleksif

(ii) Antisimetris

R dikatakan antisimetris jika dan hanya jika z 5 dan 5 z , maka 5, untuk setiap # , 5$ {.

(iii) Transitif

R dikatakan transitif jika dan hanya jika z 5 dan 5 z l, maka z l, untuk setiap # , 5, l$ {.

Himpunan S bersama dengan suatu relasi urutan parsial R pada A dikatakan himpunan terurut secara parsial.

Relasi urutan parsial dari sebuah himpunan S biasanya dinotasikan dengan S atau -. Relasi S 5 dibaca dengan “a mendahului b”, sedangkan relasi - b dibaca dengan “a melampaui b”.

Untuk lebih memahami definisi himpunan terurut secara parsial, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.9

Perhatikan bilangan bulat positif }. Didefinisikan relasi " membagi 5" de-ngan |5, jika terdapat sebuah l } sedemikian sehingga l 5. Misalnya, 2|4, 3|12, 7|21, dan seterusnya. Tunjukkan bahwa pembagian adalah sebuah pengurutan parsial dari }, yakni tunjukkan bahwa berlaku sifat berikut:

a. Refleksif: | .

b. Antisimetris: Jika |5 dan 5| maka 5. c. Transitif: Jika |5 dan 5|l maka |l.

Bukti:

a. Karena · 1 , maka | .

b. Andaikan |5 dan 5| , misalkan 5 † dan E5. Maka, 5 †E5 se-hingga †E 1. Karena † dan E adalah bilangan bulat positif, maka † 1 dan E 1. Dengan demikian, 5.

c. Andaikan |5 dan 5|l, misalkan 5 † dan l E5. Maka, l E† se-hingga |l.

Berikut ini diberikan definisi batas atas, supremum, batas bawah, dan infimum.

Definisi 2.1.17 (Batas Atas)

Misalkan A adalah himpunan bagian dari sebuah himpunan S yang terurut se-cara parsial.

Sebuah elemen M dalam S dikatakan sebuah batas atas dari A jika M me-lampaui setiap elemen dari A, yaitu M adalah sebuah batas atas dari A jika un-tuk setiap x dalam A diperoleh ! S ‡.

Definisi 2.1.18 (Supremum)

Jika sebuah batas atas dari A mendahului setiap batas atas lain dari A maka di-sebut batas atas terkecil atau supremum dari A yang dinotasikan dengan sup (A).

Definisi 2.1.19 (Batas Bawah)

Sebuah elemen m dalam S dikatakan sebuah batas bawah dari A jika m men-dahului setiap elemen dari A, yaitu m adalah sebuah batas bawah dari A jika untuk setiap x dalam A diperoleh ˆ S !.

Definisi 2.1.20 (Infimum)

Jika sebuah batas bawah dari A melampaui setiap batas bawah lain dari A ma-ka disebut batas bawah terbesar atau infimum dari A yang dinotasikan dengan inf (A).

Definisi 2.1.21 (Terbatas ke Atas dan Terbatas ke Bawah) Misalkan { merupakan subhimpunan tak kosong dari .

a. Himpunan { dikatakan terbatas ke atas jika ada bilangan 9 sedemi-kian sehingga E S 9 untuk semua E {. Setiap bilangan 9 dikatakan batas atas dari {.

b. Himpunan { dikatakan terbatas ke bawah jika ada bilangan @ se-demikian sehingga @ S E untuk semua E {. Setiap bilangan @ dikata-kan batas bawah dari {.

Lemma 2.1.1

Batas bawah ‰ dari himpunan tak kosong { di adalah infimum dari { jika dan hanya jika Š ' 0 terdapat ! { sedemikian sehingga ‰ " Š ' !.

Bukti #‹$

Diketahui ‰ inf { dan Š ' 0.

Akan ditunjukkan terdapat ! { sedemikian sehingga ‰ " Š ' !. Jika 5 batas bawah { maka 5 S ‰.

Karena ‰ " Š ' ‰ maka ‰ " Š bukan batas bawah {.

Karena ‰ " Š bukan batas bawah { maka harus ada ! { sehingga ‰ " Š ' !. #Œ$

Jika ‰ suatu batas bawah {, dan untuk setiap Š ' 0 terdapat ! { sedemikian sehingga ‰ " Š ' !.

Akan dibuktikan ‰ inf {.

Misalkan bahwa 5 suatu batas bawah {. Karena ! { dan 5 suatu batas ba-wah { maka ! - 5.

Karena ‰ " Š ' ! maka ‰ " Š ' 5.

Jadi untuk setiap Š ' 0 berlaku ‰ " Š ' 5. Andaikan 5 ' ‰ maka jika diambil Š •Ž• akan diperoleh ‰ " Š ••• sehingga 5 ' ‰ " Š ' ‰ dan 5 ' ‰ " Š ' ! yang kontradiksi dengan pernyataan bahwa 5 batas bawah. Jadi, jika 5 batas bawah { haruslah ‰ - 5 sehingga ‰ merupakan batas bawah terbesar atau ‰ inf {.

Definisi 2.1.22 (Barisan Naik dan Barisan Turun)

Misalkan ‘ 8! < merupakan barisan bilangan real. Barisan ‘ dikatakan naik jika memenuhi pertidaksamaan

! S ! S S ! S ! S

dan dikatakan turun jika memenuhi pertidaksamaan

! - ! - - ! - !

-Jika barisan ‘ merupakan barisan naik atau barisan turun maka merupakan barisan monoton.

Teorema 2.1.7

Barisan turun dan terbatas ke bawah adalah konvergen.

Bukti:

Diberikan 8! < turun dan terbatas ke bawah. Karena 8! : ’ }< “ maka terdapat 5 dan 5 inf8! : ’ }<. Jadi, untuk setiap ’ } berlaku

! - 5 (2.1) Karena 5 inf8! : ’ }<, maka untuk Š ' 0 yang diberikan terdapat s } dan

5 Š ' ! - 5 (2.2) Karena 8! < turun, maka mengingat (2.1) dan (2.2), untuk setiap ’ - s ber-laku

5 Š ' ! - ! - 5 ' 5 " Š (2.3) Jadi, diperoleh pernyataan bahwa untuk setiap Š ' 0 terdapat s } sedemi-kian sehingga untuk setiap ’ - } dan ’ - s, maka |! 5| o Š. Jadi, 8! < konvergen dan lim ! 5 inf8! : ’ }<.

Untuk lebih memahami definisi batas atas, batas bawah, supremum, dan infimum, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.10

Misalkan . 8 , 5, l, r, •, –, —< terurut seperti pada Gambar 2.1.1 dan misal-kan ‘ 8l, r, •<. Tentukan batas atas, batas bawah, supremum, dan infimum dari X!

– — • l r 5

Gambar 2.1.2 Himpunan Terurut

Penyelesaian:

Elemen •, –, dan — didahului oleh setiap elemen dari X, sehingga •, –, dan — adalah batas atas dari X.

Elemen mendahului setiap elemen dari X, sehingga adalah batas bawah dari X.

Elemen • mendahului – dan —, sehingga • adalah supremum dari X.

Elemen mendahului setiap batas bawah dari X, sehingga adalah infimum dari X.

Definisi 2.1.23 (Barisan Cauchy)

Barisan 8 ˜< v dikatakan Barisan Cauchy jika lim ,•™šL L 0. Dengan kata lain untuk setiap Š ' 0, terdapat bilangan bulat s sedemikian sehingga L L o Š untuk semua ˆ, ‰ ' s.

Untuk lebih memahami definisi barisan Cauchy, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.11

Buktikan bahwa › œ adalah barisan Cauchy!

Bukti:

Jika diberikan Š ' 0, dapat dipilih s } sedemikian sehingga s ' . Maka, jika ’, ˆ - s, diperoleh S o dan dengan cara yang sama diperoleh So . Oleh karena itu, jika ’, ˆ - s, maka

ž ž S " o" Š.

Karena berlaku untuk sebarang Š ' 0, maka dapat disimpulkan bahwa › œ adalah barisan Cauchy.

Definisi 2.1.24 (Konvergen)

Barisan 8E < dikatakan konvergen jika terdapat E dengan sifat, untuk se-barang Š ' 0 yang diberikan, terdapat s } sehingga untuk semua ’ } dengan ’ - s berlaku |E E | o Š. Bilangan s dinamakan limit 8E < untuk ’ ™ ∞ dan ditulis lim’™∞E EataudisingkatlimE E.

Untuk lebih memahami definisi konvergen dari suatu barisan, maka akan diberikan contoh berikut.

Contoh 2.1.12

Jika E l untuk semua ’ } dan c suatu konstanta, maka buktikan bahwa 8E < konvergen ke c!

Bukti:

Untuk semua ’ } berlaku |E l| 0. Jadi, jika diberikan Š ' 0, maka terdapat s } sehingga ’ - s berlaku |E l| o Š. Dalam hal ini, dapat diambil bilangan bulat positif manapun untuk }, karena |E l| 0 o Š un-tuk ’ }.

Dokumen terkait