• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mawdhu' Dakwah: Hakikat dan Karakteristik Islam

BAB III HAKIKAT, DASAR HUKUM, TUJUAN DAN UNSUR DAKWAH

D. Unsur-unsur Dakwah

1. Mawdhu' Dakwah: Hakikat dan Karakteristik Islam

Posisi Islam dalam struktur sistem dakwah merupakan komponen maudhû

dakwah, yakni pesan, bahan, dan materi ajaran yang didakwahkan oleh dâ i

kepada mad u dengan metode tertentu dan melalui media yang sesuai dengan

tuntutan situasi dan kondisi peristiwa-peristiwa proses pelaksanaan dakwah.46

Berikut dikemukakan hakikat dan karakteristik Islam sebagai maudhû dakwah

menurut pemikiran Muhammad Abduh.

43 Lihat Ahmad Ahmad Ghalusy, al-Da wah al-Islâmiyyah: Ushûluhâ wa Wasâiluhâ

(Kairo: Dar al-Kitab al-Mishry, 1987), hlm. 33.

44 Lihat Jum ah Amin Abd al-Aziz, al-Da wah al-Islâsmiyyah: Qawâ id wa Ushûl (Kairo: Dar

al-Da wah, 1999), hlm. 20-21.

45Lihat Abd al Hamîd bin Bâdîs, Tafsîr bin Bâdis fi Majâlis al Tadzkîr Min Kalâm al

Hakîm al Khabîr, (Beirut: Dar al Fikr, 1979), hlm. 521-533. Prinsip struktur sistem dakwah ini

merupakan mafhum dari isyarat QS. Yûsuf:108 dan an-Nahl:125, yang menggambarkan proses

da wah islâmiyah dengan melibatkan semua unsurnya. Hal ini jika dibaca menurut pertanyaan

paradifmatik dari Lasweel s Model sebagaimana dikutip oleh Onong Ukhyana Effendi, merupakan jawaban dari: Siapa Mengatakan apa Melalui Saluran Apa kepada Siapa dengan Efek Apa (Who Say What in Wich Chanel to Whom What Effect). Lihat Onong Ukhyana Effendi, Ilmu, Teori dan

Filsafat Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hlm.253.

46 Hal ini sebagaimana diyakini oleh Abd al-karim Zaydan bahwa

a. Hakikat Islam

Muhammad Abduh berpendapat bahwa Islam adalah al-dîn (agama) yang

dibawa oleh semua nabi Allah sebagai bukti kebaikan Allah kepada al-basyar

(manusia sebagai makhluk sosial). Inti agama adalah tata aturan hidup yang sesuai dengan kebutuhan hidup manusia baik ruhaniyah maupun jasadiyah. Muhammad Abduh percaya bahwa, agama merupakan karya Tuhan sebagai perwujudan kebaikan-Nya terhadap manusia. Ia diwahyukan melalui salah seorang nabi di antara mereka yang bukan merupakan usaha dan perbuatannya bahkan ia tidak bisa meraihnya dengan cara mendalami atau mempelajarinya (ia tiada lain kecuali

wahyu yang diturunkan). 47 Atas pendapatnya ini Muhammad Abduh bersrgumen

bahwa, “Sesungguhnya agama (al-dîn) yang benar menurut Allah adalah Islam.”

Islam di sini mencakup seluruh agama yang dibawa oleh para nabi karena Islam merupakan substansinya yang bersifat universal dan bersesuaian meski bentuk- bentuk kewajiban dan kegiatannya berbeda-beda. Para nabi, seluruhnya,

menyerukan dan mewasiatkan Islam.48

Dalam pernyataan tentang hakikat dîn Islam tersebut, Muhammad Abduh

tidak menjelaskan dari sudut etimologisnya, tetapi berupa ungkapan yang

menguraikan kedudukan dîn Islam bagi manusia dan kehadiran dîn Islam bukan

ciptaan para nabi Allah, sebagaimana dituduhkan oleh para penentang dakwah para nabi Allah. Oleh karenanya, Rasyid Ridha memberikan penjelasan

etimologis dîn Islam ketika mengomentari penjelasan gurunya, menurutnya

bahwa, agama secara etimologis adalah balasan, kepatuhan, ketundukan atau sebab adanya balasan. Para ulama berpendapat bahwa apa yang menjadi kewajiban manusia disebut syariat dari sisi peletakan dan penjelasannya, disebut

dîn (agama) dari segi ketundukan dan ketaatan terhadap pembuat syariat, dan

disebut millah dari segi kewajiban-kewajiban secara umum. Kata „islâm

merupakan bentuk mashdar dari kata „aslama yang bermakna tunduk dan

47 Al-Manâr, jld. II, hlm. 69. Abduh mengacu antara lain pada Q.S. al-Najm (53):4, ayat ini

mengenai apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah wahyu Allah SWT, dan al- Baqarah (2): 165 dalam menjelaskan makna al-dîn, ayat ini mengenai bagian perilaku orang beriman dan orang musyrik.

48Al-Manâr, jld. III, hlm. 257. Dalam memahami dien Islam ini, Abduh mengacu pada Q.S.

86

berserah diri, juga bermakna „addâ (menunaikan) seperti dalam contoh ungkapan

berikut:“Saya menunaikan sesuatu kepada Si Fulan jika saya melaksanakannya,”

juga bermakna „dakhala (masuk) dalam kedamaian. Kata „islâm dengan harakat

fathah atau kasrah bermakna kebaikan dan keselamatan, serta gerakan yang bersih

dari sesuatu. 49

Kemudian, Muhammad Abduh mengemukakan dua macam sasaran utama

dîn Islam sebagai peraturan Allah bagi manusia, yaitu menurutnya bahwa, Allah

mensyariatkan agama untuk dua hal pokok, yaitu:

Pertama, penyucian ruh dan pemurnian akal dari keyakinan-keyakinan menyimpang dengan kekuatan gaib bagi segenap makhluk dan kemampuannya untuk berperilaku di alam ini guna penyelamatan dari ketundukan dan penyembahan kepada sesama makhluk atau yang lebih rendah lagi dalam hal kapasitas dan kesempurnaannya; dan

Kedua, memperbaiki hati dengan tujuan yang baik dalam berbagai kegiatan dan memurnikan niat karena Allah bukan karena manusia. Ketika dua tujuan ini terwujud, terlepaslah fithrah dari ikatan-ikatan yang mengungkungnya sehingga tidak bisa sampai pada kesempurnaan secara individual dan komunal. Lagipula, kedua hal ini merupakan substansi maksud dari kata „islâm. Adapun kegiatan-kegiatan ibadah disyariatkan guna mendidik ruh perintah ini terhadap ruh penciptaan. Oleh karena itu, dipersyaratkan adanya niat dan keikhlasan. Sekali terdidik dengan baik, mudahlah bagi pemiliknya untuk menunaikan segala kewajiban moral dan keadaban yang dengannya ia sampai pada „al-madinah al-

fadhilah dan perwujudan cita-cita kaum bijak. 50

Dari penjelasan Muhammad Abduh tentang hakikat Islam dari segi status keberadaan dan sasarannya, terdapat beberapa dimensi utama yang terkandung dalam hakikat Islam yang mencirikan keberadaannya, yaitu: (1) peraturan buatan

49 Al-Manâr, jld. III, hlm. 257. Makna etimologis ini, lebih lanjut, bandingkan dengan Abd

al-Wadud Yusuf, Tafsîr al-Mu minîn (Beirut: Dâr al-Fikr, 1960), hlm. 40-41, dan Khalid Abd al- Rahman al-„Ak, Shafwah al-Bayân li Ma âni al-Qurân al-Karîm (Beirut: Dâr al-Salam, 1994), hlm. 52.

50 Al-Manâr, jld. III, hlm. 257-258. Penjelasan Abduh ini bagian dari penafsiran Q.S. Ali

Allah SWT.,51 (2) bukti kebaikan Allah kepada manusia sebagai makhluk sosial, (3) berlaku universal bagi semua nabi Allah, (4) penjernihan jiwa dari kemusyrikan dan penyelamatan akal dari kejumudan, (5) perbaikan hati dengan menempatkan tujuan dan tekad yang tulus karena Allah SWT semata dalam semua tindakan pengamalan ajaran, (6) mendidik jiwa dengan beribadah kepada Allah yang berhak diibadati, dan (7) peradaban terlahir dari perilaku keruhanian

manusia dalam menjalankan ajaran.52

Menurut Muhammad Abduh, Islam memiliki tiga macam asas utama yang

mencirikan universalitas inti ajarannya yang dibawa oleh para nabi Allah dan para rasul-Nya. Dan siapa saja yang mengingkari dan meninggalkan tiga asas utama

ini, maka ia dihukumi sebagai murtad, yakni orang yang keluar dari status sebagai

Muslim dan kembali menjadi non-Muslim. Mengenai tiga macam asas utama

Islam, Muhammad Abduh menyatakan bahwa, keluar dari Islam (murtad) adalah

keluar dari tiga asasnya yang fundamental, yakni: (1) keimanan bahwa alam raya yang sempurna ini merupakan kesatuan tatanan-Nya dan kecermatan ketentuan- Nya. Ia merupakan Tuan (Rabb) dan Tuhan (Ilâh) yang menciptakannya dan menyempurnakannya dengan kekuasaan-Nya dan hikmah-Nya tanpa pembantu dan perantara. Tidak ada kekuatan lain yang bisa mengutak-atik alam kecuali orang yang mendapat petunjuk-Nya dengan memunculkan sunnah-sunnah-Nya pada berbagai sesab atau yang disebabkan. Maka haruslah mereka menyembah Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Prinsip ini merupakan puncak pemikiran akal manusia dalam berkeyakinan dan membersihkan diri dari beragam khurafat dan pikiran sesat; (2) keimanan terhadap alam gaib dan kehidupan akhirat. Keimanan ini merupakan salah satu rukun prestasi keluhuran diri manusia yang tidak bisa mencapai alam itu kecuali

51 Pengertian dîn Islam sebagai peraturan buatan Tuhan digunakan oleh Sa id bin

Muhammad Ba syan. Ia menulis:

dalam karyanya Busyrâ al-Karîm bi Syarh Masâil al-Ta lîm (Jeddah, Al-Haramayn, tt.), hlm. 4.

52 Bandingkan dengan Khurshid Ahmad, Pesan Islam, terj. Islam: Its Meaning and

Message, oleh Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka Perpustakaan Salman ITB, 1983), hlm. 326-

327, tentang esensi Islam, dan Khurshid Ahmad dkk., Islam Sifat, Prinsip Dasar dan Menuju

Kebenaran, terj. The Islamic Foundation, oleh A. Nashir Budiman (Jakarta: PT. Raja Grafindo

88

kesempurnaan dan kesadaran bahwa keberadaan mereka lebih sempurna dan lebih kekal ketimbang apa yang dapat mereka perkirakan; dan (3) amal saleh yang

membawa manfaat bagi pelakunya dan sekalian manusia.53

Maka ketiga prinsip utama yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul ini tidak ada manusia yang meninggalkannya setelah mengetahuinya dan mengambilnya kecuali akan terjerembab ke dalam kenistaan. Ia tidak akan memperoleh kesempurnaan apapun di dunia dan akhirat, malahan termasuk orang berjiwa kotor dan memiliki ruh yang gelap yang tidak memiliki tempat di akhirat kecuali

ruang kenistaan dan kehinaan.54

Dalam pernyataan Muhammad Abduh tersebut, dapat dipahami bahwa, kecerdasan akal dan kejernihan jiwa manusia merupakan akibat dari merealisasikan tiga pilar dan asas utama agama Islam, dan sebaliknya, manusia akan menjadi nista, hina, dan rugi jika meninggalkan tiga pilar dan asas utama agama Islam ini, yaitu: (1) keimanan akan adanya Allah SWT. Pencipta semesta alam dan segala hukumnya, (2) keimanan akan adanya alam gaib dan kehidupan

akhirat, dan (3) amal saleh yang bermanfaat bagi pelakunya dan orang lain.55

Tiga asas utama agama Islam yang diyakini Muhammad Abduh menunjukkan adanya integrasi antara penggunaan akal dalam memahami hukum- hukum alam, di satu sisi, dan, di sisi lain, penguatan hati dalam meyakini hukum- hukum dalam ajaran agama Islam yang mengatur kehidupan alam manusia. Pemikirannya ini menyiratkan adanya pengaruh dari pemikiran-pemikiran sebelumnya yang pernah ia pelajari. Misalnya, pemikiran Ibn Rusyd (1126-

1198M) yang terlebih dahulu telah melakukan hal yang sama.56

53 Al-Manâr, jld. II, hlm. 318-319. Penjelasan Abduh ini bagian dari penafsiran Q.S. Al-

Baqarah (2):217, ayat ini mengenai ketentuan peperangan di jalan Allah dan konsekuensi orang

murtad dan kafir. Tawhid Allah merupakan puncak pemikiran akal manusia dalam pandangan

Abduh ini, lebih lanjut bandingkan dengan Abul Qasim al-Khuli, Menuju Islam Rasional: Sebuah

Pilihan Memahami Islam, terj. Rationality of Islam, oleh Dede Azwar N. (Jakarta: Hawra

Publisher, 2003).

54 Al-Manâr, jld. II, hlm. 319.

55 Tiga pilar dan asas utama Islam ini bagi Waqar Ahmed Husaini merupakan tritunggal

kaum muslimin dalam mengembangkan syariat Islam. Lihat karyanya Sistem Pembinaan

Masyarakat Islam, terj. Environmental Systems Engineering, oleh Anas Mahyuddin (Bandung:

Pustaka ITB, 1983), hlm. 78-79.

56 Lihat Abu al-Walid bin Rusyd, Fashl al-maqâl fî mâ bayn al-Hikmah wa al-Syari ah min

Dalam proses dakwah, inti ajaran Islam yang dijadikan materi dakwah bagi seluruh umat manusia, menurut Muhammad Abduh terdapat empat macam,

hal ini dikemukakan ketika menafsirkan Q.S. al-Bâqarah (2): 21, yaitu (1) tawhid

ulûhiyyah dengan menyembah Allah sendiri serta memperhatikan tawhid rubûbiyyah; (2) Al-Qurân sebagai ayat-Nya yang agung dan agama-Nya yang terperinci; (3) kenabian Muhammad SAW. yang diutus dengan membawa Al- Qurân ini, dan (4) balasan di akhirat atas kekufuran dan tindakan-tindakan yang mengikutinya dengan neraka dan terhadap keimanan dan tindak-tanduk yang

mengikutinya dengan balasan surga.57

Mengenai bidang akidah sebagai materi dakwah tersebut telah dikupas

secara rinci dalam karya Muhammad Abduh Risâlah Tawhîd.

b. Karakteristik Islam

Karakteristik Islam dimaksudkan sebagai sifat khas dan prinsip-prinsip yang dimiliki Islam yang dengannya ia berbeda dengan yang non_Islam. Berikut dikemukakan beberapa sifat khas Islam menurut pandangan Muhammad Abduh.

Pertama, Islam merupakan dîn al-fithrah (agama fitrah). Prinsip ini dijelaskannya ketika Muhammad Abduh menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):138, bahwa ayat ini mengisyaratkan bahwasanya dalam Islam tidak diperlukan upaya membedakan seorang Muslim dari yang lainnya dengan kegiatan-kegiatan yang dibuat-buat seperti salib dalam kasus Nasrani, misalnya. Apa yang menjadi identitas seorang Muslim adalah apa yang disematkan oleh Allah dalam dirinya berupa fithrah lurus yang mewujud dalam bentuk keikhlasan, cinta kebaikan, keseimbangan, dan niat baik. Sesungguhnya, dalam tradisi Al-Qurân, Islam itu

merupakan agama seluruh nabi sebagaimana ia juga merupakan agama fithrah.58

57 Al-Manâr, jld. I, hlm. 183. Bandingkan dengan uraian mengenai empat pokok agama

Islam oleh Muhammad bin Shalih al-Utsamain, Syarah Tsalâtsah al-Ushûl (Ryadh: Dâr al- Tsuraya, 1994), hlm. 12-15.

58 Al-Manâr, jld. I, hlm. 486 dan Al-Manâr, jld. IV, hlm. 348. Ketika menafsirkan QS. Al-

90

Kedua, Islam merupakan agama ummah wasathâ (umat siger-tengah). Prinsip ini dijelaskan Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):143. Menurutnya bahwa bagi umat Islam, Allah telah menghimpun dalam aspek agamanya dua kebenaran yakni kebenaran ruh dan jasad. Maka Islam itu bersifat ruhani dan jasmani. Bahkan jika mau, saya berpendapat bahwa masyarakat Islam itu diberi seluruh hak kemanusiaan. Manusia itu terdiri atas jasad dan ruh, hewan dan malaikat. Maka seolah-olah Allah berfirman: “Kami

menjadikan kamu sekalian sebagai umat pertengahan.” 59

Ketiga, Islam merupakan agama keadilan dalam semua aspek kehidupan

baik ruhaniyah maupun jasadiyah. Prinsip ini dijelaskan Muhammad Abduh

ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran (3):19, bahwa Allah SWT memberikan persaksian semacam itu seraya tegak dalam keadilan karena Dia Maha Adil dalam hal agama, syariat, dalam hal alam dan kealaman. Termasuk di antara yang pertama adalah penetapan keadilan dalam akidah seperti tawhid yang merupakan titik-tengah antara anti-tuhan dan kemusyrikan. Termasuk di antara yang kedua adalah hukum-hukum penciptaan dalam alam raya dan manusia yang menunjukkan hakikat akidah yang tegak di atas asas keadilan. Maka siapa saja yang melihat pada hukum-hukum tersebut dan tatanannya yang detail, akan tampaklah baginya keadilan universal Allah. Menegakkan keadilan semacam ini merupakan sinyal terhadap bukti akan kebenaran persaksian Allah Ta ala dalam makhluk hidup dan alam raya, karena kesatuan organisasi dalam keadilan tersebut menunjukkan kesatuan penciptanya. Hal ini membantah penafsiran sebagian mufasir atas maksud persaksian yang dipahami sebagai wujud persaksian itu

Abd al-Rahman bn Nâshir al-Sa di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân

(Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2001), hlm. 641. Selanjutnya al-Sa di dab Taysîr.

59 Al-Manâr, jld. II, hlm. 4-5. Selain ummah wasathâ, karakteristik Islam bagi Yusuf

Qaradhawi adalah Robbâniyyah (ketuhanan), insâniyyah (kemanusiaan), syumûl (universal),

waqi iyyah (kontekstual), wudhûh (jelas), thathawwur wa tsabât (integrasi antara transformasi dan

konsistensi). Selanjutnya lihat Yusuf Qaradhawi, Karakteristik Islam Kajian Analitik, terj.

Al-Khashâish al-„Âmmah lî al-Islâm, oleh Rofi Munawwar,Lc. dan Tajuddin (Surabaya: Risalah

adalah penciptaan sesuatu yang menunjukkan keesaan berupa tanda-tanda alam

dan makhluk hidup.60

Muhammad Abduh percaya bahwa, hukum-hukum Allah SWT. berkenaan dengan ibadah, adab, dan berbagai amal diletakkan di atas dasar keadilan antara kekuatan ruhani dan badani dan antara sesama manusia satu sama lain. Itulah sebab mengapa Allah memerintahkan untuk dzikir dan syukur kepada-Nya dalam salat dan ibadah lainnya guna meningkatkan kemuliaan ruh dan menyucikannya. Allah juga membolehkan hal-hal yang baik dan perhiasan untuk memelihara kesehatan badan dan mendidiknya. Allah juga melarang sikap ekstrem dalam beragama dan berlebihan dalam hal duniawi. Itulah keadilan. Ini merupakan bentuk keadilan dalam ibadah dan kegiatan duniawi. Adapun keadilan dalam hal adab dan moral, amat jelas dalam Al-Qurân seperti jelasnya perintah adil dalam pemutusan hukum. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebajikan...” (QS. 16:90) dan Dia juga berfirman: “Jika kamu sekalian memutuskan hukum di tengah manusia, hendaknya memutuskan hukum

secara adil..” (QS. 4:58). 61

Keempat, Islam merupakan agama anti-kezaliman. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):258, bahwa yang dimaksud dengan kezaliman dalam kasus ini adalah penyimpangan dari cahaya ilahi yaitu cahaya akal yang menjadi pedoman operasional akal dalam jalan agama. Maka siapa pun yang menzalimi dirinya dengan memadamkan lampu tersebut lalu ia berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan, maka ia tidak mendapat

petunjuk dalam perjalanannya menuju jalan lurus (al-shirât al-mustaqîm) yang

menghantarkannya kepada kebahagiaan. Alih-alih, ia tersesat dari jalan lurus

hingga ia binasa tak tentu tujuan. 62

60 Al-Manâr, jld. II, hlm. 256. Karakteristik Islam sebagai agama keadilan ini bis

dibandingkan dengan pendapat Sayid Quthb tentang ciri khusus citra Islam, lihat Sayid Quthb,

Ciri Khusus Citra Islam dan Landasannya, terj. Al-Khashâis al-„Âmmah li al-Islâm oleh Abu

Laila dan Muhammad Thahir, (Bandung:Pt. Al-Ma arif, 1988), hlm. 63-287.

61 Al-Manâr, jld. III, hlm. 256.

62 Al-Manâr, jld. III, hlm. 47. Menurut al-Sa di, al-zhulm adalah:

(lawan dari keadilan dan ia mencakup kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri dengan beragam kemaksiatan dan kemusyrikan, serta

92

Kelima, Islam merupakan agama yang mementingkan keseimbangan mencari kebaikan duniawi dan ukhrawi. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):207, bahwa sesungguhnya Islam mendorong kita untuk mencari kesenangan duniawi melalui cara-cara yang baik, sebagaimana ia mendorong kita untuk mengejar kebahagiaan akhirat. Bahkan hal itu diperkuat sedemikian rupa. Mencari kesenangan duniawi melalui berbagai jalan yang baik yang disyariatkan dan fungsional tidaklah menghilangkan keridhaan Allah SWT. Kita boleh menikmatinya secara halal sambil kita tetap

mendapat pahala dan ridha Allah SWT. 63

Keenam, Islam merupakan agama yang memberikan kebebasan memilih dan tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):256, bahwa Allah menjelaskan buat mereka bahwa pemaksaan itu terlarang dan bahwa pokok dakwah Islam adalah menjelaskannya sehingga tampak jelas antara jalan terarah dan jalan sesat dan bahwa manusia kemudian diberi kebebasan untuk menerima

atau tidak menerima seruan dakwah itu. 64

Ketujuh, Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian dan keamanan. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. Al-Nisa (4):86, bahwa ditetapkannya ucapan salam kaum Muslim adalah “salâm” guna mensosialisasikan bahwa agama mereka merupakan agama kedamaian dan keamanan dan bahwa mereka merupakan masyarakat pengusung kedamaian dan

cinta keselamatan. 65 Karakteristik Islam yang ketujuh ini sama dengan pendapat

Abdul Rozak Naufal, bahwa Islam mengajarkan cinta damai, cinta keamanan, dan anti perbudakan, anti rasialisme dan sukuisme sebagai penyebab kekacauan dan

pertengkaran umat.66

kezaliman terhadap orang lain dalam hal darah, harta, dan kehormatan mereka). Al -Sa di, Taysîr, hlm. 943. 63 Al-Manâr , jld. II, hlm. 256. 64 Al-Manâr , jld. III, hlm. 39. 65 Al-Manâr, jld. V, hlm. 311.

66 Selanjutnya lihat Abdul Rozak Naufal, al-Quran dan Masyarakat Modern, (Jakarta:

Kedelapan, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi persaudaraan antarindividu dan sosial, dengan implementasi secara bertahap. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah (2):256 dan menghubungkannya pada Q.S. Al-Nur ayat 27, bahwa sesungguhnya Islam merupakan agama semua orang. Di antara tujuannya adalah menebarkan keluhuran adabnya dan keunggulan nilai-nilainya di tengah manusia meski dengan cara bertahap. Islam mendekatkan satu manusia sama lain agar mereka

menjadi masyarakat manusia yang bersaudara. 67

Kesembilan, Islam merupakan agama yang mampu dilaksanakan, ringan dan tidak sulit. Prinsip ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh ketika menafsirkan Q.S. Al-Baqarah (2):286, bahwa “Allah tidak memberikan kewajiban kecuali sesuai dengan kemampuan manusia”. Kemampuan adalah sesuatu yang manusia mampu melakukannya tanpa susah-payah dan kesulitan. Maksudnya adalah bahwa, sejatinya Allah dan sunnah-Nya berkaitan dengan pensyari atan agama, Allah tidak membebani kepada hamba-hamba-Nya dengan tugas-tugas di luar

kemampuannya.68

Hakikat, sasaran, dan prinsip-prinsip Islam yang menjadi sifat khas yang melekat dalam islam sebagai materi dan agama dakwah yang telah dikemukakan

oleh Muhammad Abduh mencakup aspek hikmah al-tasyrî , yakni tujuan, dan

nilai guna yang dikandung dalam syari at Islam sebagai agama samawi yang

universal. Sebab, hikmah al-tasyrî yang mencakup empat macam persoalan

pokok terdapat dalam pemikiran Muhammad Abduh, sebagaimana dikaji oleh Ali Ahmad al-Jurjawi, menurutnya bahwa, seluruh syari at samawi tertuju pada empat hal, yaitu: (1) mengenal, mengesakan, dan memuliakan Allah serta menyebut-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya, dan sifat-sifat yang boleh bagi-Nya; (2) tata cara pelaksaan ibadah kepada-Nya yang mencakup pengagungan terhadap-Nya, mensyukuri nikmat-Nya yang tidak bisa kita menghitungnya “Jika kamu sekalian menghitung

67 Al-Manâr, jld. V, hlm. 313.

68Al-Manâr, jld. III, hlm. 145. Prinsip ini dalam ushûl al-fiqh disebut “taqlîl al-takâlîf,

Adam al-haraj,” dan “al-tadarruj fî al-tasyrî .” Lihat Abd Wahab al-Khalaf, „Ilm Ushûl al-Fiqh

94

nikmat Allah, kalian tidak akan kuasa menghitungnya,”; (3) himbauan untuk melakukan amar ma ruf nahy munkar berperangai dengan etika yang mulia, moral yang bersih, dan nilai-nilai luhur yang mengangkat manusia ke berbagai martabat kemuliaan dan keluhuran, seperti solidaritas menolong orang butuh, menjaga tetangga, memegang teguh amanah, sabar, dan semacamnya, yang itu semua merupakan nilai-nilai keunggulan yang agung; dan (4) memberi sangsi pelanggar

Dokumen terkait