Kekayaan spesies di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa pada penelitian ini terdiri atas 4 subfamili, 21 genus, dan 35 spesies, sedangkan penelitian Rizali et al. (2006) menginformasikan kekayaan spesies ketiga pulau terdiri atas 5 subfamili, 26 genus, dan 45 spesies. Penelitian Rizali et al. (2006), menggunakan metode koleksi intensif, sehingga contoh semut dapat diperoleh dari berbagai relung yang ada, sedangkan penelitian ini menggunakan pitfall trap dan winkler yang hanya efektif memperoleh contoh semut di permukaan tanah dan serasah. Jadi, faktor yang memengaruhi perbedaan hasil disebabkan oleh metode pengambilan contoh.
Perbedaan waktu pengambilan contoh, juga memengaruhi kekayaan spesies semut. Pada penelitian Rizali et al. (2006) pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali pengambilan, sedangkan pada penelitian ini dilakukan selama tiga kali pengambilan contoh, sehingga terdapat contoh semut yang tidak ditemukan Rizali et al. (2006), misalnya Crematogaster difformis di Pulau Bokor dan Pulau Untung Jawa, serta Polyrachis arcuata di Pulau Rambut. Sehingga, waktu pengambilan contoh yang dilakukan beberapa kali, berpeluang memperoleh contoh semut yang baru di Kepulauan Seribu.
Selain metode dan waktu pengambilan contoh, kekayaan spesies di setiap pulau dipengaruhi oleh jarak pulau dari mainland dan luas suatu pulau. Pulau yang luas menyediakan relung yang beragam bagi keberadaan spesies semut. Selain itu, jarak pulau dari sebagai sumber kolonisasi (Pulau Jawa), memiliki pengaruh terhadap kekayaan spesies semut, yang ditunjukkan pada Pulau Bokor yang memiliki luas terkecil dan terjauh dari Pulau Jawa pada penelitian ini, memiliki kekayaan spesies terendah, dibandingkan dengan Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa. Menurut Wilson (1959; 1967) dan McArthur & Wilson (1967) terdapat hubungan antara luas suatu pulau dengan keanekaragaman semut, dimana ukuran pulau yang luas mendukung tersedianya sumberdaya ruang dan makanan, sedangkan spesies yang memiliki kemampuan menyebar rendah tidak akan ditemukan pada pulau yang jauh dari mainland sebagai sumber kolonisasinya. Pada penelitian ini D. thoracicus dan A. gracilipes ditemukan di
Pulau Jawa (Ito et al. 2001) dan ditemukan pula di Pulau Untung Jawa (Rizali et al. 2006), namun tidak ditemukan di Pulau Bokor.
Perbedaan tipe habitat memengaruhi struktur dan komposisi spesies di suatu pulau. Pada Pulau Bokor komposisi spesies didominasi spesies Pheidole sp.01, Paratrechina longicornis, dan Odontomachus similimus. Demikian pula, di Pulau Rambut spesies Pheidole sp.01, P. longicornis, dan O. similimus juga mendominasi komposisi spesies. Namun, hasil yang berbeda ditunjukkan pada Pulau Untung Jawa, komposisi spesies didominasi Iridomyrmex anceps, Anoplolepis gracilipes, dan Solenopsis geminata. Berdasarkan hasil ini, maka perbedaan spesies yang mendominasi di ketiga pulau dipengaruhi oleh perbedaan tipe habitat, yakni luasan vegetasi di suatu pulau memengaruhi komposisi spesies semut di kepulauan.
Pengaruh jarak dan luas terhadap komposisi spesies semut juga tampak pada hasil penelitian ini, dimana Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut yang memiliki luas yang lebih besar dan jarak yang lebih dekat dengan mainland, memiliki kemiripan spesies yang tinggi. Beberapa spesies ditemukan di Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut, namun tidak ditemukan di Pulau Bokor, misalnya spesies Tetramorium smithi. Demikian pula, hasil penelitian Rizali et al. (2001), juga menemukan keberadaan spesies T. smithi di Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut, namun tidak menemukannya di Pulau Bokor. Jadi, kemiripan komposisi spesies dipengaruhi oleh jarak (isolasi) dan luas pulau.
Pulau Bokor dan Pulau Rambut yang kurang mengalami intensitas gangguan habitat, juga memiliki nilai keanekaragaman yang tinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa. Menurut Lomolino (2000) migrasi, kepunahan, dan evolusi merupakan fungsi dari karakteristik pulau yang memengaruhi keberadaan spesies di suatu pulau, selain itu intensitas gangguan manusia, akan memengaruhi nilai keanekaragaman semut di suatu habitat (Suarez et al. 1998; Holway et al. 2002; Gibb Hochuli 2003; Hill et al. 2003). Demikian pula dengan kesamaan komposisi spesies, menunjukkan tingkat kesamaan yang lebih tinggi antara Pulau Bokor dan Rambut.
44
Intensitas gangguan manusia atau frekuensi kehadiran manusia di suatu pulau menyebabkan terbawanya spesies semut dari suatu pulau ke pulau lainnya. Hal itu tampak, pada keberadaan spesies invasif di tiga pulau pada penelitian ini, dimana ditemukan 3 spesies invasif di Pulau Untung Jawa yang memiliki intensitas gangguan tertinggi, dan hanya ditemukan 2 spesies invasif di Pulau Bokor dan Pulau Rambut yang memiliki intensitas gangguan manusianya rendah. Menurut Hölldobler & Wilson (1990) dan Schultz & McGlynn (2000) spesies invasif secara umum dapat berada di daerah kepulauan, yang banyak mengalami intensitas gangguan manusia, sedangkan menurut Rizali et al. (2006) meningkatkannya frekuensi manusia ke suatu pulau, menyebabkan terbawanya spesies eksotik (pendatang) di Kepulauan Seribu.
Struktur komunitas semut lokal di Pulau Bokor dan Pulau Rambut tidak dipengaruhi oleh keberadaan spesies S. geminata, dikarenakan rendahnya kemampuan beradaptasi dan menyebar, serta disebabkan kondisi habitat tidak mendukung keberadaaan spesies tersebut. Menurut Lomolino (2000) karakteristik pulau dan gangguan habitat yang ada pada suatu pulau dapat memengaruhi adaptasi dan penyebaran spesies invasif. Selain itu, kelimpahan S. geminata dipengaruhi oleh intensitas cahaya di suatu habitat (Perfecto & Vandermeer 1996). Jadi, Pulau Bokor dan Rambut yang memiliki naungan (tutupan lahan oleh vegetasi) lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa, menghambat penyebaran dari spesies invasif S. geminata
Spesies invasif A. gracilipes hanya ditemukan di Pulau Bokor dan Pulau Rambut, yang disebabkan oleh faktor tidak adanya habitat yang sesuai bagi spesies tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, A. gracilipes ditemukan di Pulau Untung Jawa, yang memiliki berbagai tipe habitat, sedangkan spesies P. longicornis memiliki kisaran habitat yang luas, sehingga ditemukan di 3 pulau tersebut dan mampu beradaptasi dan menyebar dengan baik. Hasil penelitian Rizali et al. (2006) juga menunjukkan P. longicornis spesies yang paling banyak ditemukan diantara 48 spesies yang terkoleksi dan ditemukan diseluruh pulau pengambilan contoh (18 pulau)
Keberadaan spesies invasif menyebabkan penguasaan (pengambilalihan) ruang spesies lokal, terjadinya homogenisasi biotik, dan kepunahan spesies semut lokal di Kepulauan Seribu. Pada penelitian ini tampak homogenisasi biotik terjadi di Pulau Untung Jawa, yang disebabkan oleh keberadaan spesies invasif yang co-exit dengan tipe habitat dan intensitas gangguan manusia.