• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Struktur Komunitas Semut di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2009

Abdul Rahim NRP: A451060021

ABDUL RAHIM. 2009. Ant Community Structure in Seribu Island: Implication of Invasive Ant to Local Community Ant. Supervised by DAMAYANTI BUCHORI and LILIK BUDI PRASETYO.

The objectives of this research were to study (1) ant community structure in Seribu Islands and (2) the implication of invasive ant to local ant community. Ecological research was conducted in three islands with different land use in Seribu Islands. Ants were sampled using pitfall trap and winkler in 5 m x 5 m plots that were distributed randomly on each island. In total, we found 68.787 individual of ant belongs to 4 subfamilies, 21 genera, and 35 species. Ant species composition appears different among islands. Bokor and Rambut Island were dominated by species from genus Pheidole, Paratrechina, Odontomachus, Tetramorium, and Monomorium in ground surface, whereas in leaflitter habitat by predators (e.g Hypoponera and Ponera). In contrast, Untung Jawa Island was dominated by Iridomyrmex, Tapinoma, Monomorium, and Tetramorium, and also invasive species Anoplolepis gracilipes, Solenopsis geminata and Paratrechina longicornis. Based on multidimensional scalling analysis (MDS) revealed that ant community structure in Untung Jawa completely different with Bokor and Rambut Island. Species invasive seems to change the ant species composition and tend to dominating in appropriate habitat. S. geminata might have significant effect on shaping ant community in Untung Jawa Island.

RINGKASAN

ABDUL RAHIM. 2009. Struktur Komunitas Semut Di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal. Dibimbing oleh DAMAYANTI BUCHORI dan LILIK BUDI PRASETYO.

Karakteristik pulau dan keberadaan spesies invasif berperan dalam menyusun struktur komunitas semut lokal, terutama di daerah Kepulauan. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui struktur komunitas semut di Kepulauan Seribu; dan (2) untuk mempelajari implikasi keberadaan semut invasif terhadap semut lokal di Kepulauan Seribu. Pengambilan contoh semut dilaksanakan pada tiga pulau yang memiliki karakteristik pulau yang berbeda yaitu; (1) Pulau Untung Jawa (pulau yang banyak mengalami gangguan habitat), (2) Pulau Rambut (pulau yang belum banyak mengalami gangguan dan habitatnya sesuai bagi burung), dan (3) Pulau Bokor (pulau yang belum banyak mengalami gangguan habitat).

Koleksi semut dilakukan dalam plot dengan metode koleksi pitfall trap dan winkler. Indeks Shannon dan Simpson digunakan untuk membedakan keanekaragaman semut antar pulau. Selain itu, kurva akumulasi spesies juga digunakan untuk menggambarkan perbedaan kekayaan spesies berdasarkan jumlah plot pengambilan contoh. Pendugaan kekayaan spesies semut dilakukan dengan menggunakan abundance coverage estimator (ACE). Indeks Sorenson digunakan untuk melihat kemiripan komposisi spesies semut antar pulau. Perbedaan komposisi spesies antar plot di setiap pulau atau untuk melihat pengaruh keberadan spesies invasif digunakan analisis multidimensional scalling (MDS) dan analisis ragam.

Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman semut yang diperoleh dari keseluruhan pengambilan contoh pada tiga pulau adalah 68.787 individu yang terdiri dari 4 subfamili, 21 genus dan 35 spesies. Selain itu Pulau Bokor dan Pulau Rambut memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa, sedangkan jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa lebih tingi dibandingkan dengan pulau lainnya, walaupun berdasarkan estimasi dengan menggunakan ACE, jumlah spesies semut yang ditemukan di Pulau Untung Jawa telah mencapai 96,86%, lebih tinggi dibandingkan dengan pulau lainnya (Pulau Bokor 92,05% dan Pulau Rambut 77,70%).

Komposisi spesies di Pulau Bokor dan Pulau Rambut diantaranya dari genus Pheidole, Paratrechina, Odontomachus, Tetramorium, Monomorium, Hypoponera, Ponera, dan Anochetus. Sedangkan, komposisi spesies yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, pada umumnya didominasi dari genus Iridomyrmex, Anoplolepis, Solenopsis, Paratrechina, Monomorium, Tetramorium, dan Tapinoma. Spesies tersebut umumnya merupakan spesies predator, scavenger, omnivor dan granivore. Struktur komunitas semut di pulau ini juga terdiri dari beberapa spesies pendatang yang bersifat invasif, yakni Paratrechina longicornis, Solenopsis geminata, dan Anoplolepis gracilipes yang hanya di temukan di Pulau Untung Jawa.

spesies paling tinggi (86%), dibandingkan dengan Pulau Untung Jawa dan Pulau Bokor (72%), Hal tersebut menunjukkan bahwa kemiripan komposisi spesies dipengaruhi oleh luas, jarak (isolasi), tipe habitat, dan intensitas gangguan habitat (frekuensi kehadiran manusia di suatu pulau).

Spesies invasif P. longicornis, S. geminata, ditemukan di Pulau Bokor, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa, sedangkan A. gracilipes hanya ditemukan di Pulau Untung Jawa. Ada perbedaan antara pengaruh keberadaan spesies invasif S. geminata terhadap komposisi spesies di Pulau Bokor, Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa. Pada Pulau Bokor dan Pulau Rambut, keberadaan spesies S. geminata tidak mengubah komposisi spesies, sedangkan di Pulau Untung Jawa terdapat perbedaan komposisi spesies antar plot yang terdapat spesies invasif dan plot yang tidak terdapat spesies invasif S. geminata. Hal ini dapat disebabkan S. geminata memiliki kemampuan berkompetisi dengan spesies lokal dan didukung oleh habitat yang sesuai (lahan terbuka) di Pulau Untung Jawa.

Nilai keanekaragaman pada plot yang tidak memiliki spesies invasif memiliki kecendrungan berubah pada setiap waktu pengambilan contoh, hal ini disebabkan umumnya semut memiliki perilaku mencari makan dari berbagai sumber (generalized forages), predator, dan perantara bagi penyebaran benih (granivore), sehingga dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, sedangkan pada plot yang memiliki spesies invasif memberikan informasi nilai keanekaragaman yang relatif sama, disebabkan terjadinya kompetisi ruang yang dapat mengganggu pergerakan semut permukaan tanah masuk ke plot tersebut.

Implikasi keberadaan spesies semut invasif menyebabkan penguasaan (pengambilalihan) ruang oleh spesies, penurunan keanekaragaman spesies lokal, dan terjadinya homogenisasi biotik. Pada penelitian ini keberadaan spesies invasif co-exist dengan habitatnya, sehingga mengakibatkan terjadinya homogenisasi biotik di Pulau Untung Jawa.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

IMPLIKASI KEBERADAAN SEMUT INVASIF TERHADAP

KOMUNITAS SEMUT LOKAL

ABDUL RAHIM

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Entomologi-Fitopatologi

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal Nama : Abdul Rahim

NRP : A451060021

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Entomologi-Fitopatologi

Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang diberikan sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tesis ini berjudul ”Struktur Komunitas Semut di Kepulauan Seribu: Implikasi Keberadaan Semut Invasif Terhadap Komunitas Semut Lokal”. Tesis ini merupakan salah syarat untuk memperoleh gelar magister sains di Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc sebagai ketua komisi pembimbing, Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc sebagai anggota komisi pembimbing, yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, saran, dan motivasi selama penelitian dan penulisan tesis. Ucapan terimakasih, kami sampikan pula kepada Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, M.Si selaku penguji luar komisi pada ujian tesis

Kepada ibunda Simay, ayahda Usman, istri Siti Hadijah, putra Radja SR dan Rakjat HA, serta seluruh keluarga dan sahabat atas dukungan moral maupun materilnya sehingga penelitian dan penyusunan tesis dapat diselesaikan.

Penulis menyampaikan terimakasih kepada Universitas Borneo Tarakan, Ditjend Dikti, Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Pemerintah Propinsi Kaltim, Pemerintah Kota Tarakan, yang telah memberikan kesempatan dan membantu pendanaan pendidikan di Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada Akhmad Rizali, M.Si atas bimbingan teknis ilmiah selama kegiatan penelitian dan penulisan tesis, serta Yayasan PEKA Indonesia yang memberikan kesempatan penulis ikut serta pada kegiatan penelitian ini.

Akhir kata penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyusunan tesis ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan amal baik dengan pahala yang tak terhingga.

Dokumen terkait