• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Visualisasi Warak Ngendog

4.1.2 Media Dakwah dalam Ajaran Islam

Warak Ngendog memiliki interpretasi terkait ajaran agama Islam secara tersirat bagi masyarakat muslim Kota Semarang. Upacara dugderan rutin dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan, mulai dari prosesi upacara hingga lokasi upacara selalu berkembang dengan mengadopsi berbagai bentuk dan tampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman untuk menarik minat masyarakat. Perpindahan lokasi pemukulan bedug dari Masjid Besar Semarang ke halaman Balaikota Semarang terjadi mulai tahun 1978 dan pemindahan lahan dugder dari alun-alun Semarang ke tempat lain karena penyempitan kawasan dan

pergeseran fungsi lahan menjadi sebuah kawasan perdagangan terjadi mulai tahun 1970.

Perkembangan upacara dugderan seperti perubahan lokasi dan rangkaian upacara, tidak menyebabkan hilangnya Warak Ngendog sebagai maskot utama dalam upacara sampai kapanpun akan tetap ada. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, ide penciptaan Warak Ngendog didasarkan karena diperlukannya sebuah wujud yang mampu menjadi ikon yang menarik perhatian serta memiliki fungsi setara dengan pengumuman suhuf halaqah sekaligus mengandung pesan-pesan tersirat untuk masyarakat Semarang karena tidak semua masyarakat Kota Semarang hadir pada saat upacara dugderan.

Warak Ngendog diinterpretasikan sebagai media dakwah para ulama Kota Semarang. Media dakwah dapat menggunakan metode yang beragam dan materi dakwah pada umumnya ada yang bersifat informatif dan persuasif (Hasanah, 2018:174). Keduanya tentu bertujuan untuk memberikan pengetahuan, mengubah sikap atau perilaku suatu individu atau kelompok, agar tujuan tersebut tersampaikan dengan baik, materi dakwah perlu disampaikan secara efektif. Para ulama menginginkan masyarakat mendapatkan edukasi dari sebuah benda yang tidak menjurus kepada hal-hal yang dilarang dalam agama. Menurut penuturan Ibu Farah, Warak Ngendog sempat menjadi perdebatan karena dianggap syirik oleh beberapa ulama. Tidak seharusnya benda mati yang berbentuk makhluk hidup diarak dalam sebuah tradisi keagamaan. Akhirnya, persepsi Warak Ngendog pada tradisi keagamaan berhasil diluruskan oleh Kanjeng Bupati karena beliau menginginkan Warak Ngendog tetap ada sebagai media dakwah. Keefektivan suatu media dakwah bergantung pada komunikator yang menyampaikan dengan metode dan media yang dipakai kepada target hingga pesan tersebut tersampaikan kepada target yang dituju.

Interpretasi masyarakat terhadap Warak Ngendog sebagai penanda datangnya bulan puasa sudah melekat karena memang dahulu Warak Ngendog hanya muncul menjelang dugderan hingga akhirnya dijadikan ikon kota dan hadir di berbagai macam media. Seperti yang dikatakan Bapak Rusidin (50) pada saat karnaval budaya dugderan, ia menjelaskan dirinya menafsirkan bahwa Warak

Ngendog adalah simbol datangnya bulan Ramadan karena memang kehadirannya pada saat dugderan sangat dinantikan masyarakat Kota Semarang.

“Kalau bagi saya sendiri warak ngendog itu penanda datangnya ramadhan, warak muncul berarti sebentar lagi ramadan nih.” (Wawancara dengan Bapak Rusidin (50), 4 Mei 2019)

Pendapat serupa juga diutarakan oleh Mbak Enggar, seorang pegiat seni dan budaya yang wawancarai di galeri pameran karyanya. Dirinya menganggap bahwa Warak Ngendog selain sebagai identitas budaya dan cerminan kehidupan sosial masyarakat, tentunya juga sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan walaupun bentuk warak kini sudah berbeda-beda tetapi interpretasi masyarakat bahwa Warak Ngendog merupakan media dakwah dan mengandung nilai-nilai ajaran Islami masih tetap melekat hingga saat ini.

Arti Warak Ngendog jika dikaitkan dengan ajaran agama Islam ialah seseorang haruslah suci, bersih, dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah menjelang bulan suci. Wajah Warak Ngendog yang terlihat seram dengan mulut yang terbuka menjelaskan bahwa manusia seharusnya menahan hawa nafsu mereka selama bulan suci karena seharusnya untuk menyambut bulan suci Ramadan segala perbuatan buruk harus dihindarkan. Maka dari itu hingga saat ini Warak Ngendog masih relevan sebagai media dakwah bagi masyarakat muslim di Kota Semarang.

Salah satu bentuk nyata bahwa Warak Ngendog merupakan sebuah media dakwah yaitu masyarakat yang datang ke megengan masih membeli mainan

warak untuk anak-anaknya sebagai bentuk mengajak anak-anak mereka

menyambut bulan Ramadan dan belajar untuk berpuasa. Dahulu, warak dijual bersama dengan telur karena dulu telur adalah makanan yang dianggap mewah, tidak semua orang dapat memakan telur setiap waktu, tetapi sekarang warak tidak dijual lagi dengan telur. Menurut pedagang mainan warak, menjual mainan waraknya saja sekarang sudah sulit dan mulai merugi apalagi jika ditambahkan telur para pedagang merasa akan lebih rugi.

“Telur sekarang kan murah mbak, jadi kita ya jualnya mainannya aja. Ini aja kadang rugi mbak, bawa dari rumah 10 yang kejual kadang cuma 3 atau bahkan ndak kejual sama sekali. Dari tahun ketahun bener-bener nurun mbak peminat mainan warak, makanya saya jual mainan

masak-masakan ya karena peminatnya lebih banyak.” (pedagang mainan warak –

Megengan, 2 Mei 2019)

Harga mainan warak yang ditawarkan berkisar antara Rp 15.000 – Rp 30.000. Saat berkunjung ke megengan peneliti jarang melihat anak-anak yang membeli Warak Ngendog. Mereka lebih tertarik dengan kapal-kapalan atau hanya bermain dengan permainan yang ada di dalam karnaval. Peneliti mencoba bertanya kepada salah satu anak yang mengunjungi megengan mengapa mereka tidak membeli mainan warak. Mereka menjelaskan mainan warak bagi mereka sudah tidak ada artinya lagi, selain tidak bisa dimainkan bersama dengan teman juga karena bentuknya tidak menarik.

“Ndak mbak, buat apa beli mainan yang ndak bisa dimainin bareng-bareng sama teman. Kan lebih seru kapal-kapalan ini bisa main bareng sama teman adu balapan. Kalo warak ndak bisa dimainin, mosok cuma jadi pajangan kan ndak seru mbak. Paling kalau sama ibuk ke sini itu kadang dibelikan.” (Catatan lapangan, anak-anak pengunjung Megengan, 2 Mei 2019)

Teman-teman lainnya juga tidak membeli mainan warak dengan alasan yang sama. Mereka lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk bermain permainan atau membeli mainan lain yang dapat dimainkan bersama dibanding membeli mainan warak yang sekarang sudah tidak beroda sehingga tidak dapat dimainkan bersama. Setelah berkeliling sembari menikmati suasana megengan, peneliti akhirnya bertemu dengan salah satu pembeli mainan warak untuk anaknya. Ibu R menjelaskan tidak setiap tahun ia datang ke megengan bersama dengan keluarga karena sudah tidak lagi tinggal di Kota Semarang. Tahun ini Ibu R datang bersama dengan keluarganya karena kebetulan sedang berada di Kota Semarang dan saat melihat mainan warak, Ibu R mengatakan jika dirinya teringat masa lalu. Saat dirinya kecil, Ibu R selalu dibelikan mainan warak oleh orang tuanya untuk mengajak dirinya berpuasa. Alasan Ibu R membelikan anaknya mainan warak juga untuk mengajak anaknya berpuasa karena sebelum puasa sudah dibelikan mainan (sebagai iming-imingan). Ibu R juga memberi tahu anaknya mengenai pesan-pesan yang terkandung di dalam Warak Ngendog.

Upaya-upaya kecil dari beberapa orang seperti Ibu R tentunya dapat mempertahankan interpretasi Warak Ngendog sebagai sebuah media dakwah.

pemerintah memecahkan rekor dengan warak raksasa setinggi 6 meter lebih dan arak-arakan warak dari 16 kecamatan mulai dari yang kecil hingga yang besar. Kognisi masyarakat yang menafsirkan bentuk warak itu berkepala naga, maka dapat dilihat bahwa hampir seluruh warak dalam arak-arakan dugderan adalah warak dengan kepala naga. Bagi masyarakat Kota Semarang mereka lebih menerima kepala warak adalah kepala naga bertanduk dibanding dengan kepala kambing. Masyarakat yang berpendapat bahwa kepala warak adalah kepala kambing juga tidak dipermasalahkan karena memang tidak ada ketentuan baku dan tidak tahu bentuk aslinya seperti apa yang terpenting adalah dalam visual Warak Ngendog masih terdapat tiga unsur etnis yang disimbolkan serupa dengan hewan dan memiliki telur.

Hal tersebut sesuai dengan konsep umum kebudayaan yang dibuat oleh Geertz (1973) (dalam Saifuddin, 2006:307) yaitu kebudayaan mengacu kepada suatu pola makna yang terkandung dalam simbol yang ditransmisikan dan suatu sistem konsepsi yang diwariskan yang kemudian diekspresikan dalam bentuk-bentuk simbolik yang melalui bentuk-bentuk-bentuk-bentuk simbolik tersebut manusia mengomunikasikan, memelihara, dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai kehidupan dan menyikapi kehidupan.