BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.7 Media yang digunakan ketika terjadi gigi avulsi sebelum dibawa
ke Dokter Gigi
Pengetahuan responden terhadap media yang digunakan ketika terjadi gigi avulsi sebelum dibawa ke dokter gigi adalah sebanyak 58,18% responden menjawab akan menggunakan selembar tisu, sebanyak 4,85% responden menjawab akan menggunakan kantung seragam dari anak yang bersangkutan, sebanyak 21,82% responden menjawab akan menggunakan gelas berisi alkohol, sebanyak 4,85% responden menjawab menggunakan gelas yang berisi larutan susu dan sebanyak 10,3% responden tidak tahu media yang digunakan ketika terjadi gigi avulsi pada anak.
Tabel 9. Pengetahuan guru SD terhadap media yang digunakan saat terjadi gigi avulsi pada anak
Media yang digunakan n %
Selembar tisu
Kantung seragam anak Gelas berisi alkohol Gelas berisi larutan susu Tidak tahu 96 8 36 8 17 58,18 4,85 21,82 4,85 10,3
BAB 5
PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 165 guru sebanyak 47,88% pernah menemukan kasus gigi avulsi. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan penelitian Toure dkk pada 501 guru di Iran yaitu 44,5%. Hal ini mungkin disebabkan karena guru-guru kurang memahami arti dari gigi avulsi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi gigi yang paling sering avulsi yaitu gigi seri sebanyak 52,12%, gigi geraham sebanyak 29,09% dan gigi taring sebanyak 18,79%. Selain itu, menurut guru-guru SD di Kecamatan Medan Selayang prevalensi gigi avulsi sering terjadi pada anak kelas 1 SD sebanyak 37,58%, diikuti kelas 2 SD sebanyak 26,06%, kelas 3 SD sebanyak 23,03%, kelas 4 SD sebanyak 6,67%, kelas 6 SD sebanyak 4,85% dan kelas 5 SD sebanyak 1,82%.
Hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan dari 165 guru SD didapatkan 32,73% guru menjawab benar mengenai bentuk gigi avulsi dimana bentuk gigi avulsi adalah berupa mahkota dan akar gigi. Hal ini mungkin disebabkan guru jarang menjumpai kasus gigi avulsi di lingkungan sekolah.
Penelitian ini juga menunjukkan sebanyak 23,64% guru yang menjawab benar mengenai penyebab gigi avulsi dimana penyebab gigi avulsi adalah karena adanya benturan yang keras pada gigi anak saat terjatuh. Hal ini mungkin disebabkan guru jarang menjumpai kasus gigi avulsi di lingkungan sekolah.
Pada penelitian ini, 16,97% guru mengembalikan gigi avulsi ke gusi. Hasil ini lebih rendah dibandingkan penelitian Young dkk pada 594 guru di Hongkong yaitu 23,2%. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh guru - guru SD mengenai gigi avulsi.2
Penelitian ini menunjukkan 26,06% guru akan memasukkan gigi ke dalam mulut anak (antara pipi dan gusi atau dibawah lidah) ketika terjadi gigi avulsi. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Louis H. Berman yang menyatakan bahwa gigi dapat disimpan di bawah lidah (jika keadaan memungkinkan).4
Hasil penelitian ini menunjukkan 21,21% guru akan mencari gigi yang terlepas dan menghentikan perdarahan ketika terjadi gigi avulsi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Louis H. Berman yang menyatakan bahwa gigi avulsi tersebut harus ditemukan.4 Selain itu, hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Supreetha dkk, pada 600 guru di India yaitu 41%.23 Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan guru-guru terhadap penatalaksanaan gigi avulsi dan belum ada penyuluhan yang diberikan oleh instansi kesehatan yang ada di Kecamatan Medan Selayang.
Pada penelitian ini didapat 4,85% guru akan menyimpan gigi pada gelas yang berisi larutan susu. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Toure dkk, pada 501 guru di Iran yaitu 21,95%.12 Selain itu, hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Supreetha dkk, pada 600 guru di India yaitu 9,3%.23 Hal ini mungkin disebabkan pilihan jawaban pada kuesioner berbeda dan kurangnya pengetahuan guru-guru SD terhadap penatalaksanaan gigi avulsi pada anak.
Hasil penelitian ini ditemukan 46,06% guru akan membersihkan gigi avulsi di bawah air mengalir. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lars Andersson dkk yang menyatakan bahwa jika gigi dalam keadaan kotor, gigi dapat dicuci di bawah air dingin yang mengalir.18
Hasil penelitian ini ditemukan sebanyak 23,64% guru akan mencuci gigi avulsi selama 10 detik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lars Andersson dkk yang menyatakan bahwa gigi avulsi dicuci maksimal selama 10 detik di bawah air dingin yang mengalir.18
Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 13,94% guru membawa anak ke dokter gigi terdekat jika terjadi gigi avulsi. Hasil ini lebih rendah dibandingkan penelitian Toure dkk, pada 501 guru di Iran yaitu 32,6%.10 Hal ini mungkin disebabkan belum ada penyuluhan tentang penatalaksanaan gigi avulsi yang diberikan oleh instansi kesehatan yang berada di Kecamatan Medan Selayang.
Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 58,79% guru akan mencuci gigi avulsi tersebut. Hasil ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan penelitian Toure dkk, pada 501 guru di Iran yaitu 50,9%.10 Hal ini mungkin disebabkan karena adanya kebiasaan dari setiap orang yang akan mencuci benda kotor.
Dalam penelitian ini didapat sebanyak 60,61% guru menggunakan air bersih sebagai larutan untuk mencuci gigi avulsi. Hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Toure dkk, pada 501 guru di Iran yaitu 40,8%.10 Hal ini mungkin disebabkan pilihan jawaban dalam kuesioner yang digunakan berbeda. Pada penelitian Toure dkk, pilihan jawabannya yaitu air bersih, antiseptik, air garam, alkohol, formalin, susu dan bikarbonat, sedangkan pada penelitian ini, pilihan jawabannya yaitu air bersih, antiseptik, larutan susu dan tidak tahu.
Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 93% guru termasuk ke dalam tingkat pengetahuan dengan kategori buruk dan penatalaksanaan dengan kategori kurang baik. Sebanyak 7% guru termasuk ke dalam tingkat pengetahuan dengan kategori buruk dengan penatalaksanaan yang berkategori baik. Selain itu, sebanyak 89,2% guru termasuk kedalam tingkat pengetahuan sedang dengan penatalaksanaan yang berkategori kurang baik dan sebanyak 10,8% guru termasuk ke dalam tingkat pengetahuan sedang dengan penatalaksanaan yang berkategori baik. Kemudian, sebanyak 64,3% guru termasuk ke dalam tingkat pengetahuan berkategori baik dengan penatalaksaan yang berkategori kurang baik dan sebanyak 35,7% guru termasuk ke dalam tingkat pengetahuan berkategori baik dengan penatalaksanaan berkategori baik (p=0,006). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan guru SD terhadap penatalaksanaan gigi avulsi.
Pada penelitian ini terdapat 13,94% guru yang mengembalikan gigi avulsi ke gusi dalam waktu 1 jam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lars Andersson dkk yang menyatakan bahwa kondisi sel tergantung kepada media penyimpanan yang digunakan, terutama waktu pengeringan yang berbahaya bagi keselamatan sel. Setelah waktu pengeringan selama 1 jam atau lebih, semua sel ligament periodontal tidak dapat hidup.18
Berdasarkan pernyataan Louis H. Berman dkk, penyebab gigi avulsi yang paling sering terjadi adalah ketika anak sedang berolahraga, bermain dan kecelakaan mobil. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 24,85% guru menjawab penyebab gigi avulsi dikarenakan memakan makanan yang manis, sebanyak 23,64% responden menjawab dikarenakan jatuh ketika anak sedang berolahraga, sebanyak 26,67% responden menjawab dikarenakan memakan makanan yang keras dan 24,85% responden tidak mengetahui penyebab terjadinya gigi avulsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan guru terhadap penyebab gigi avulsi adalah buruk.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Tingkat pengetahuan guru-guru SD di Kecamatan Medan Selayang terhadap penatalaksanaan gigi avulsi pada anak adalah sebesar 93% berpengetahuan buruk dengan penatalaksanaan salah dan 7% berpengetahuan buruk dengan penatalaksanaan benar, sebesar 89,2% berpengetahuan sedang dengan penatalaksanaan salah dan 10,8% berpengetahuan sedang dengan penatalaksanaan benar serta sebesar 64,3% berpengetahuan baik dengan penatalaksanaan salah dan sebesar 35,7% berpengetahuan baik dengan penatalaksanaan benar.
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut guru-guru SD di Kecamatan Medan Selayang penyebab gigi avulsi yang paling banyak yaitu makan makanan yang keras sebesar 26,67%, diikuti makan makanan yang manis dan tidak tahu sebesar 24,85% dan jatuh ketika anak sedang berolahraga sebesar 23,64%.
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut guru-guru SD di Kecamatan Medan Selayang media yang paling banyak digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara gigi avulsi adalah selembar tisu yaitu sebesar 58,18%, diikuti gelas berisi alkohol sebesar 21,82%, tidak tahu menggunakan media apapun sebesar 10,3%, kantung seragam anak sebesar 4,85% dan gelas berisi larutan susu sebesar 4,85%.
6.2Saran
1. Diharapkan dengan adanya data ini, kesehatan gigi dan mulut dapat ditingkatkan melalui program penyuluhan yang dapat dilakukan secara berkala setiap tahunnya
2. Diharapkan data hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya
3. Diharapkan dengan adanya data ini, instansi kesehatan yang berada di Kecamatan Medan Selayang dapat melakukan pelatihan ke guru-guru SD mengenai penatalaksanaan gigi avulsi pada anak
4. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya agar meningkatkan daya kontrol ketika membagikan kuesioner
DAFTAR PUSTAKA
1. Arrizza AM, Ramadhan AF. Coconut water (Cocos nucifera) as storage media for avulsed tooth. J Dent Indo 2010; 3 (17): 74-79.
2. Young C, Wong KY, Cheung LK. Emergency management of dental trauma: Knowledge of Hong Kong primary and secondary school teachers.Hong Kong Med J 2012; 5 (18): 362-70.
3. Harty FJ, Ogston R. Kamus kedokteran gigi. Alih Bahasa. Sumawinata N. Jakarta: EGC, 1995: 32.
4. Berman LH, Blanco L, Cohen S. eds. A clinical guide to dental traumatology.Philadelphia: Elsevier., 2007: 400-401.
5. Walton RE, Torabinejad M. Prinsip dan praktik ilmu endodonsia. Alih Bahasa. Sumawinata N. Jakarta: EGC, 2008: 517-518.
6. Christiono S, Perwitasari D. Penatalaksanaan trauma dental pada gigi sulung.
http://fkg.unissula.ac.id/index.php?option=com_content&view=article &id=28:penatalaksanaan-trauma-dental-pada-gigi-sulung&catid=2:berita- uta ma-fkg (6 Oktober 2014).
7. Kaur M, Gupta K, Goyal R, Chaudhary N. Knowledge and attitude of school teachers towards tooth avulsion in Rural and Urban areas. Int J Sci Study 2014; 4 (1): 17-20.
8. Bonjar AHS. Embedding avulsed permanent tooth in patient's connective tissues insures better possible prognosis in replantation; A hypothesis. J Internasional 2012; 6 (2): 112-113.
9. Ramroop V, Wright D, Naidu R. Dental health knowledge and attitudes of primary school teachers toward developing dental health education. West Indian Med J 2011; 60 (5): 576.
10. Toure B, Benoist FL, Faye B, Kane AW, Kaadioui S. Primary school teachers’ knowledge regarding emergency management of avulsed permanent incisors. J of Dent 2011; 3 (8): 117-122.
11. Suparyanto. Konsep pengetahuan. http://dr-suparyanto. blogspot.com/2012/02/konsep-pengetahuan.html (4 Oktober 2014). 12. Aldursanie R. Taksonomi Anderson. http://ridwan202.wordpress.com/
2014/03/19/taksonomu-anderson/ (4 Oktober 2014).
13. Katminingsih Y. Mengenal revisi taksonomi Bloom oleh Anderson dan Krathwohl. http://yunikatminingsih.blogspot.com/2012/10/2-mengenal- revisi-taksonomi-bloom-oleh.html (Oktober 4.2014).
14. Nugroho IA. Taksonomi kognitif. http://webcache.google usercontent.com/search?q=cache:_jOEmTvQorMJ:staff.uny.ac.id/sites/de fault/files/pendidikan/Ikhlasul%2520Ardi%2520Nugroho,%2520M.Pd./T AKSONOMI%2520KOGNITIF (4 Oktober 2014).
15. Dowd F. Mosby’s review for the NBDE part II. Missouri: Mosby Elsevier., 2007: 1-30, 145-204.
16. Dewi TS. Gigi avulsi. http://www.academia.edu/6246829/Gigi_Avulsi (6 Oktober 2014).
17. White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology: Principles and interpretation. 6 th ed., Missouri: Mosby Elsevier., 2009: 541-61.
18. Andersson L, Andreasen JO, Day P, Heithersay G, Trope M et al.Avulsion of permanent teeth. DentTraumatology 2012; 28: 88-96. 19. Juniper RP, Parkins BJ. Kedaruratan dalam praktik kedokteran gigi. Alih
bahasa. Hutauruk C. Jakarta: Hipokrates, 1996.
20. Pedersen GW. Buku ajar bedah mulut. Alih Bahasa. Purwanto, Basoeseno. Jakarta: EGC, 1996: 230.
21. Stefanac SJ, Nesbit SP. Treatment planning in dentistry. 2 nd ed., Missouri: Mosby Elsevier., 2007: 113-35.
22. Grossman LI, Oliet S, Rio CED. Ilmu endodontik dalam praktek. Alih Bahasa. Abyono R. Jakarta: EGC, 1995: 363.
23. Shamarao S, Jain J, Haridas R et al. Knowledge and attitude regarding management of tooth avulsion injuries among school teachers in rural India. J of Int Soc of Preventive and Community Dent 2014; 4 (Suppl): 44-48.
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Artauli Octaviana Manik Tempat/ Tanggal Lahir : Prabumulih/ 26 Oktober 1993 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Katolik
Alamat : Jalan Stella Raya Perumahan Villa Setiabudi Makmur I Medan-Sumatera Utara
Orangtua :
Ayah : Ir. Jaditua Manik
Ibu : Lestarina Saragih
Riwayat Pendidikan :
1. 1998-1999 : TK Baptis Palembang 2. 1999-2005 : SD Baptis Palembang
3. 2005-2008 : SMP Kristen Kalam Kudus Pekanbaru 4. 2008-2011 : SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Pontianak 5. 2011-2015 : S1-Fakultas Kedokteran Gigi USU
LAMPIRAN 2. JADWAL KEGIATAN
No. Kegiatan
Bulan
Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April 1. Pembuatan Proposal dan Seminar X X X X X X X X X X X X X X X X X 2. Perbaikan Proposal X 3. Pelaksanaan Penelitian X X X X X X X X X X X X 4. Pengolahan Data X X 5. Pembuatan Laporan Penelitian X X 6. Seminar Hasil X 7. Perbaikan Seminar Hasil X 8. Sidang Akhir X
LAMPIRAN 3. RENCANA ANGGARAN PENELITIAN
Banyak @ Jumlah
PROPOSAL
1. Biaya Pencarian Sumber Tinjauan Pustaka
1 set Rp 150.000,00 Rp 150.000,00
2. Fotokopi Pencarian Sumber Tinjauan Pustaka
8 set Rp 1.000,00 Rp 8.000,00
3. Print Proposal 1 set Rp 25.000,00 Rp 25.000,00 4. Fotokopi Proposal 7 set Rp 6.000,00 Rp 42.000,00 5. Jilid Proposal 8 set Rp 3.000,00 Rp 24.000,00 ANALISIS DATA DAN PENYUSUNAN LAPORAN
1. Print Laporan Hasil Penelitian
1 set Rp 30.000,00 Rp 30.000,00
2. Fotokopi Laporan Hasil Penelitian
8 set Rp 6.500,00 Rp 52.000,00
3. Jilid Laporan Hasil Penelitian
8 set Rp 5.000,00 Rp 40.000,00
4. Print Lembaran Kuisioner 170 set Rp 1.000,00 Rp 170.000,00 BIAYA LAIN-LAIN
1 Souvenir 165 buah Rp 2.000,00 Rp 330.000,00 2 Pemakaian LCD 3 kali Rp 50.000,00 Rp 150.000,00 3 Konsumsi sidang akhir 17 kotak - Rp 500.000,00
LAMPIRAN 4
KUESIONER UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
DEPARTEMEN BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL
Nama : No :
Jenis kelamin : Umur : Asal sekolah :
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN GURU-GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN MEDAN SELAYANG
TERHADAP PENATALAKSANAAN GIGI AVULSI PETUNJUK PENGISIAN :
1. Pengisian kuesioner dilakukan oleh guru-guru sekolah dasar yang masih aktif mengajar pada tahun 2014
2. Pertanyaan dapat dijawab dengan melingkarkan salah satu jawaban yang dianggap Bapak/Ibu benar
3. Setiap pertanyaan diisi dengan satu jawaban
4. Tidak diperkenankan untuk menggunakan alat bantu seperti internet dan buku yang berkaitan dengan gigi avulsi
5. Jika kurang mengerti dengan pertanyaannya, Bapak/Ibu dapat bertanya kepada peneliti
LINGKARI JAWABAN PADA PILIHAN JAWABAN YANG TERSEDIA Gigi avulsi = gigi yang lepas dari gusi
1. Apakah Bapak/Ibu pernah menemukan kasus gigi avulsi?
a. Pernah b. Tidak pernah
2. Apakah Bapak/Ibu tahu bagaimana bentuk gigi avulsi tersebut?
a. Hanya berupa mahkota gigi saja b. Gigi yang utuh, ada mahkota dan akar c. Hanya berupa akar gigi saja
d. Tidak tahu
5. Apa penyebab gigi avulsi secara umum? a. Makan makanan yang manis
b. Jatuh ketika anak sedang berolahraga c. Makan makanan yang keras
d. Tidak tahu
4. Jika terjadi gigi avulsi, apakah Bapak/Ibu mengembalikan gigi ke gusinya?
a. ya b. Tidak
5. Apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada gigi jika terjadi gigi avulsi pada anak?
a. Dibiarkan saja
c. Dimasukkan kedalam wadah berisi alkohol d. Dimasukkan ke dalam mulut anak (antara pipi dan gusi)
e. Tidak tahu
6. Apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada anak jika terjadi gigi avulsi?
a. Mencari gigi yang terlepas dan menghentikan perdarahan
b. Menghentikan perdarahan di tempat kejadian c. Membawa anak ke UKS
d. Tidak tahu
7. Jika gigi tidak dikembalikan ke gusinya, media apakah yang akan Bapak/Ibu gunakan untuk menyimpan gigi tersebut?
a. Selembar tisu
b. Kantung seragam anak c. Gelas berisi alkohol d. Gelas berisi larutan susu e. Tidak tahu
8. Jika gigi jatuh di tempat yang kotor, apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada gigi tersebut?
a. Membersihkan gigi dengan menggunakan tangan b. Membersihkan dan membungkus gigi dengan tisu
c. Membersihkan gigi di bawah air yang mengalir d. Tidak melakukan apa-apa
9. Berapa lama waktu yang digunakan untuk mencuci gigi tersebut? a. 5 detik b. 10 detik c. 15 detik d. 30 detik e. 60 detik
10. Menurut Bapak/Ibu, kemanakah anak pertama kali dibawa ketika terjadi gigi avulsi?
a. UKS b. Puskesmas
c. Rumah Sakit Umum
d. Menghubungi orangtua dari anak yang bersangkutan
e. Praktek dokter gigi terdekat
11. Apakah Bapak/Ibu akan mencuci gigi avulsi tersebut?
a. Ya b. Tidak
12. Larutan apa yang akan Bapak/Ibu gunakan untuk mencuci gigi tersebut?
A. Air bersih b. Antiseptik c. Larutan susu d. Tidak tahu
13. Menurut Bapak/Ibu, berapa lama waktu yang tepat untuk mengembalikan gigi avulsi ke gusinya?
a. 30 menit b. 1 jam c. 5 jam d. 12 jam e. Tidak tahu
14. Gigi apa yang sering terkena jika terjadi gigi avulsi? a. Gigi Seri
b. Gigi Taring c. Gigi Geraham
15. Anak-anak kelas berapa yang paling sering mengalami gigi avulsi?
a. Kelas 1 SD b. Kelas 2 SD c. Kelas 3 SD d. Kelas 4 SD e. Kelas 5 SD f. Kelas 6 SD
LAMPIRAN 5. Gambaran tingkat pengetahuan gigi avulsi pada guru-guru SD Pengetahuan guru SD terhadap gigi avulsi n %
Bentuk gigi avulsi yang ditemukan Hanya berupa mahkota gigi saja Gigi yang utuh, ada mahkota dan akar
Hanya berupa akar gigi saja Tidak tahu 29 54 18 64 17,57% 32,73% 10,91% 38,79% Penyebab gigi avulsi
Makan makanan yang manis
Jatuh ketika anak sedang berolahraga Makan makanan yang keras
Tidak tahu 41 39 44 41 24,85% 23,64% 26,67% 24,85%
Gambaran Penatalaksanaan gigi avulsi pada anak
Penatalaksanaan gigi avulsi n %
Jika terjadi gigi avulsi, apakah Bapak/Ibu mengembalikan gigi ke gusinya? Ya Tidak 28 137 16,97% 83,03% Apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada gigi jika terjadi gigi avulsi pada anak?
Dibiarkan saja
Dimasukkan ke dalam kantung plastik Dimasukkan ke dalam wadah berisi alkohol
Dimasukkan ke dalam mulut anak (antara pipi dan gusi) Tidak tahu 45 43 46 6 25 27,27% 26,06% 27,88% 3,64% 15,15% Apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada anak jika terjadi gigi avulsi?
Mencari gigi yang terlepas dan menghentikan perdarahan Menghentikan perdarahan di tempat kejadian
Membawa anak ke UKS Tidak tahu 35 51 66 13 21,21% 30,91% 40% 7,88% Jika gigi tidak dikembalikan ke gusinya, media apakah yang akan Bapak/Ibu gunakan untuk menyimpan gigi tersebut?
Selembar tisu
Kantung seragam anak Gelas berisi alkohol Gelas berisi larutan susu Tidak tahu 96 8 36 8 17 58,18% 4,85% 21,82% 4,85% 10,3% Jika gigi jatuh di tempat yang kotor, apa yang akan Bapak/Ibu lakukan pada gigi tersebut? Membersihkan gigi dengan menggunakan tangan
Membersihkan dan membungkus gigi dengan tisu Membersihkan gigi di bawah air yang mengalir Tidak melakukan apa-apa
8 48 76 21 4,85% 29,09% 46,06% 12,73%
Tidak tahu 12 7,27% Berapa lama waktu yang digunakan untuk mencuci gigi tersebut?
5 detik 10 detik 15 detik 30 detik 60 detik 41 39 35 30 19 25,45% 23,64% 21,21% 18,18% 11,52% Menurut Bapak/Ibu, kemanakah anak pertama kali dibawa ketika terjadi gigi avulsi? UKS
Puskesmas
Rumah Sakit Umum
Menghubungi orangtua dari anak yang bersangkutan Praktek dokter gigi terdekat
91 23 7 21 23 55,15% 13,94% 4,24% 12,73% 13,94% Apakah Bapak/Ibu akan mencuci gigi avulsi tersebut?
Ya Tidak 97 68 58,79% 41,21% Larutan apa yang akan Bapak/Ibu gunakan untuk mencuci gigi tersebut?
Air bersih Antiseptik Larutan susu Tidak tahu 100 46 5 14 60,61% 27,88% 3,03% 8,48% Menurut Bapak/Ibu, berapa lama waktu yang tepat untuk mengembalikan gigi avulsi ke gusinya? 30 menit 1 jam 4 jam 12 jam Tidak tahu 44 23 6 12 80 26,67% 13,94% 3,64% 7,27% 48,48%
LAMPIRAN 6. Tingkat pengetahuan * Penatalaksaan Crosstab Penatalaksaan Total kurangbaik (skor : 0-4) Baik (skor : >= 5) Tingkat pengetahuan buruk Count 80 6 86 Expected Count 76.6 9.4 86.0 % within Tingkat pengetahuan 93.0% 7.0% 100.0% % within Penatalaksaan 54.4% 33.3% 52.1% % of Total 48.5% 3.6% 52.1% sedang Count 58 7 65 Expected Count 57.9 7.1 65.0 % within Tingkat pengetahuan 89.2% 10.8% 100.0% % within Penatalaksaan 39.5% 38.9% 39.4% % of Total 35.2% 4.2% 39.4% baik Count 9 5 14 Expected Count 12.5 1.5 14.0 % within Tingkat pengetahuan 64.3% 35.7% 100.0% % within Penatalaksaan 6.1% 27.8% 8.5% % of Total 5.5% 3.0% 8.5% Total Count 147 18 165 Expected Count 147.0 18.0 165.0 % within Tingkat pengetahuan 89.1% 10.9% 100.0% % within Penatalaksaan 100.0% 100.0% 100.0% % of Total 89.1% 10.9% 100.0%
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 10.233a 2 .006
Likelihood Ratio 7.534 2 .023
Linear-by-Linear Association 7.006 1 .008
N of Valid Cases 165
a. 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.53. Directional Measures Value Asymp. Std. Errora Approx. Tb Approx. Sig. Ordinal by Ordinal Somers' d Symmetric .152 .071 1.990 .047 Tingkat pengetahuan Dependent .297 .137 1.990 .047 Penatalaksaan Dependent .102 .050 1.990 .047
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Symmetric Measures
Value Asymp. Std. Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Ordinal by Ordinal Gamma .458 .185 1.990 .047
N of Valid Cases 165
a. Not assuming the null hypothesis.