2. Blok Penyusun Jaringan
2.1 Media Konektivitas
Agar dua atau lebih sistem dapat berkomunikasi, harus ada media yang menghubungkan mereka. Media ini dapat berupa media fisik, seperti kabel, atau nirkabel, seperti telepon seluler.
Dalam konteks ini, mediakonektivitas mengacu secara spesifik pada koneksi tetap (baik dengan kabel maupun nirkabel) diantara dua titik, berbeda dengan koneksi virtual yang dapat dibangun antara dua sistem melalui media lainnya seperti Internet.
Selama ini, media fisik yang umum digunakan adalah kabel dari bahan tembaga. Namun dalam dekade terakhir kabel serat optik makin banyak digunakan, khususnya untuk hubungan jarak jauh. Semua koneksi lewat laut (misalnya hubungan antara AS dengan Afrika, Asia, Eropa, dan Pasifik) (lihat Gambar 6 untuk sistem kabel Asia Tenggara-Timur Tengah-Eropa Barat atau SEA-ME-WE) menggunakan kabel serat optik. Kabel serat optik mampu membawa informasi dengan kapasitas (atau bandwidth) lebih besar dibandingkan kabel tembaga. Kabel ini juga tahan terhadap interferensi elektromagnetik karena mengunakan cahaya untuk meng-encode dan mengirimkan informasi, bukan sinyal elektrik seperti di kabel tembaga.
Gambar 6. Kabel Telekomunikasi Bawah Laut SEA-ME-WE 4.
Titik-titik daratan: 1. Marseille, Perancis; 2. Annaba, Algeria; 3. Bizerte, Tunisia; 4. Palermo, Italia; 5. Alexandria, Mesir; 6. Cairo, Mesir (lewat darat); 7. Suez, Mesir (lewat darat/kembali); 8. Jeddah, Saudi Arabia; 9. Fujairah, Uni Emirat Arab; 10. Karachi, Pakistan; 11. Mumbai, India; 12. Colombo, Sri Lanka; 13. Chennai, India; 14. Cox's Bazar, Bangladesh; 15. Satun, Thailand; 16. Melaka/Malacca, Malaysia; 17. Tuas, Singapore (Sumber: J.P. Lon, http://en.wikipedia.org/wiki/Image:SEA-ME-WE-4-Route.png.)
Penggunaan kabel serat optik juga digunakan di tingkat nasional, metropolitan, dan bahkan di gedung. Banyak ekonomi yang menggunakan jaringan serat optik sebagai bagian dari strategi infrastruktur nasional mereka mengingat kelebihannya dalam hal
bandwidth dan kekebalan terhadap interferensi, serta potensinya untuk infrastruktur
backboneyang ‗future-proofing‘.
Future-proofing mengacu pada penentuan pilihan yang pintar dan cerdas dalam menyeleksi barang dan jasa. Pilihan-pilihan tersebut dibuat dengan melihat kebutuhan ekspansi dan skalabilitas di masa depan sehingga pengeluaran dapat ditekan dengan tidak perlu membayar produk dan jasa dua kali, atau dengan memastikan kemungkinan untuk meng-upgrade sebagian dari sistem dan bukan mengganti sistem seluruhnya.
Kabel tembaga dapat dengan mudah disadap karena menggunakan sinyal elektrik untuk mengirimkan dan menerima informasi. Hal ini lebih sulit dilakukan terhadap kabel optik yang menggunakan cahaya untuk mengirimkan dan menerima informasi. Penyadapan terhadap kabel optik akan mengakibatkan hilangnya tingkatan sinyal, dimana ini dapat dideteksi. Dengan demikian, kabel optik menyediakan sebuah sistem yang lebih aman.
Di tingkatan metropolitan, banyak kota memiliki cincin atau lingkaran serat optik (biasanya dipasang oleh operator telekomunikasi) yang melayani kebutuhan bisnis dan konsumen. Satu atau lebih kabel fisik bisa jadi menghubungkan titik-titik strategis di dalam kota, dan penyedia layanan dapat membentuk sirkuit virtual (yaitu hubungan antar titik dalam jaringan komunikasi yang tidak harus terhubung secara fisik tetapi mengandalkan kecerdasan dalam jaringan untuk menghubungkan titik-titik tanpa sekat) antara setiap dua atau lebih titik dalam jaringan.
Di tingkatan gedung, serat optik sering digunakan untuk menghubungkan lantai dalam bangunan, atau menghubungkan bangunan (misalnya di lingkungan kampus).
Saat ini, serat optik juga digunakan untuk memberikan sambungan berkecepatan sangat tinggi, tahan-interferensi, antar file server, dan bahkan ke home user/desktop.
FOKUS
Fibre to the Home
(FTTH) dan Fibre to the Desktop (FTTD)
Dalam Fibre to the Home (FTTH), yang tersedia di beberapa negara, layanan disajikan oleh penyedia layanan ke gedung pengguna melalui kabel serat optik. Biasanya, serat optik digunakan oleh penyedia layanan untuk menghubungkan jaringan dan sistem mereka, dan hubungan ke gedung pengguna (sering disebut sebagai ‗mil terakhir‘) menggunakan kabel tembaga atau mungkin nirkabel. Dengan FTTH, serat optik
digunakan untuk mengirimkan sinyal langsung ke gedung pengguna. Ini memungkinkan pipa data yang lebih besar, termasuk juga pembundelan layanan (seperti Internet, suara dan televisi) melalui kabel berkecepatan tinggi. FTTH tersedia di beberapa pasar Asia, seperti Jepang, Republik Korea dan Taiwan.
Fibre to the Desktop (FTTD) adalah variasi lain dimana kabel serat optik digunakan untuk memberikan konektivitas hingga ke komputer pengguna. Hal ini umum di
lingkungan perusahaan (meskipun belum secara luas diterapkan karena pertimbangan biaya) dimana FTTD menjamin konektivitas berkecepatan tinggi, atau dalam lingkungan dimana terdapat banyak interferensi elektrikal (contohnya pabrik). Beberapa file server
perusahaan yang ada di pusat data saling terhubung menggunakan kabel optik, bukannya kabel tembaga, untuk kinerja yang lebih baik.
Wireless sebagai media konektivitas sering digunakan untuk hubungan titik-ke-titik dimana jika memasang kabel akan menjadi mahal (karena lahan, struktur yang ada, faktor lingkungan, dan lain-lain), atau untuk mobilitas (seperti jaringan telepon seluler), atau untuk aplikasi titik-ke-banyak-titik untuk area yang tersebar. Karena media
wireless biasanya menggunakan spektrum radio berizin, otoritas manajemen spektrum nasional mengalokasikan sebuah spektrum radio (atau kanal) dan ini biasanya tergantung kebutuhan teknis dan biaya spektrum. Pengecualiannya adalah jaringan Wi- Fi atau Wireless LAN yang menggunakan spektrum terbuka dan teralokasikan secara internasional yaitu di sekitar 900MHz, 2,4GHz atau 5GHz, meskipun bisa jadi masih dibutuhkan semacam biaya lisensi sinyal radio, tergantung pada kebijakan lokal.
Yang perlu dicatat di sini adalah semua orang dapat mengirimkan di kanal atau frekuensi yang digunakan oleh Wi-Fi dan tidak ada alokasi untuk penggunaan khusus. Perlengkapan Wi-Fi itu murah dan populer untuk pembangunan jaringan komunitas di rumah atau kantor. Inilah mengapa kemacetan (congestion) bisa menjadi masalah. Apalagi, mengingat oven microwave juga menggunakan alokasi spektrum yang sama (seperti juga alat-alat lainnya, termasuk telepon cordless, alarm anti maling, gerbang elektrik, dan lain-lain), kehandalan bisa jadi masalah dan penggunaan Wi-Fi untuk aktivitas kritikal perlu dinilai secara seksama.