6. Reformasi Media di Indonesia: Sebuah Lintasan Perubahan
6.6 Media Online: Awal Baru atau ‘Tanah Terjanji’?
Tampaknya media dan medium baru selalu memiliki kaitan erat dengan peristiwa politik yang terjadi sepanjang sejarah. Begitu juga dengan Internet di Indonesia. Popularitas Internet meningkat karena kegunaannya dalam memobilisasi informasi untuk menentang rejim Soeharto selama masa reformasi. Dalam konteks itu, masa awal Internet lebih banyak terkait dengan persepsi bahwa medium tersebut merupakan sarana penting dalam perjuangan kebebasan politik (Hill dan Sen, 2000: 194).
38 Lihat http://www.aTVli.com/index.php/cmain/profilanggota.
Perkembangan Internet di Indonesia merupakan hasil dari banyak peristiwa dan gagasan yang tidak terencana dan tidak terduga. Pembentukannya ditandai dengan sebuah pola, yakni para individu pelaku membentuk infrastruktur yang kemudian dilegalisasi oleh pemerintah.
Namun, lebih dari itu, Internet memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dan menarik pasar Indonesia, meski ada fenomena gelembung dot-com di AS. Media online pertama kali didirikan oleh Republika pada 1995 yang memperkenalkan portal berita online pertama di Indonesia39 (lihat Tabel 6.2 untuk tonggak perkembangan media online). Industri media lain dengan segera mengikuti upaya ini, dan media online dengan cepat menjamur dalam sektor media di Indonesia, mendorong perlunya kebijakan untuk mengatur ranah baru ini.
Tahun Peristiwa Penting
1995 Republika mengembangkan layanan publikasi Internet pertamanya.
1995 Tempo mendirikan tempointeraktif.com.
1998 Kompas menciptakan kompas online di bawah perusahaan Kompas Cyber Media.
1998 detikCom–portal berita pertama tanpa versi cetak–didirikan.
1999-2000 Media online menjadi lebih populer. Portal berita, hiburan, dan bisnis yang berbasis web mulai menjamur.
2003 Penurunan bisnis portal online dan dotcom. Sejumlah portal media online terpaksa ditutup atau mengalami kesulitan bertahan.
2006 MNC Group mengeluarkan okezone.com, sebuah portal berita, hiburan, gaya hidup, dan olahraga.
2008 ah portal berita online diluncurkan oleh PT Visi Media Asia–perusahaan induk dari ANTV dan TVOne.
Hanya dalam dua tahun, vivanews.com telah menjadi portal berita paling populer kedusetelah detik.com.
Tabel 6.1 Peristiwa Penting dalam Perkembangan Media Online di Indonesia: 1995-2008 Sumber: Para penulis
Pada tahun berikutnya, portal media online menjamur dengan bantuan perkembangan Internet dan meningkatnya pendapatan periklanan media online. Diperkirakan, pendapatan periklanan media online akan meningkat 11%-12% tahun depan.
Secara legal formal, perundangan siber nasional pertama ditandai dengan pengesahan UU Informasi dan Transaksi Internet (ITE) No. 11/2008. UU ITE adalah kebijakan pertama yang fokus untuk mengatur ranah siber, yaitu Internet dan penggunaannya. Perundangan tersebut mengalami proses cukup panjang, karena drafnya pertama kali diajukan pada 2003 oleh Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi. Tim penyusun RUU ITE terdiri dari para eksekutif dari Kementerian Negara komunikasi dan Informasi, Departemen Perhubungan serta (kemudian) Departemen Perdagangan dan Perindustrian. RUU tersebut dirancang untuk melindungi transaksi dan aktivitas finansial yang menggunakan Internet sebagai medium.
Melalui perundangan tersebut, pemerintah bertujuan memberantas kejahatan siber dan skema digital lain yang terjadi di Internet.
UU tersebut dikritik tajam karena definisinya yang terlalu luas, dengan istilah yang samar dan ambigu, terutama dalam peraturan tentang pencemaran nama baik. Korban telah berjatuhan dan saat ini UU ITE sedang dalam revisi. Keputusan atas uji materi undang-undang terkait Pasal 31 (4) tentang penangkapan oleh institusi penegak hukum juga sedang ditunggu. Selain UU ITE, salah satu pendorong paling signifikan dari merebaknya Internet di Indonesia kemungkinan adalah penggunaan infrastruktur. Hal ini mengacu pada diijinkannya penggunaan gelombang transmisi seperti frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz, menjamurnya ISP, dan penyebaran warung Internet.
39 Banyak yang menganggap detik.com sebagai pioni rberita online di Indonesia, tetapi sebenarnya Republika adalah portal berita pertama. Detik.com resmi beroperasi pada 9 Juli 1998, tiga tahun setelah Republika.
Berkenaan dengan konvergensi, pemerintah juga menyusun draf RUU Konvergensi. RUU tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi penggunaan Internet, tetapi belum jelas sejauh apa dampaknya. Dengan Web 2.0 yang tersedia (Kaplan dan haenlin, 2010; O'Reilly, 2007), Internet telah berubah menjadi sarana media berbasis partisipasi. Jurnalisme warga merupakan salah satu aspek yang menandai tren baru dalam memproduksi informasi yang user-generated (dihasilkan pengguna). Meski begitu, menghindari nasib ‘creative destruction’
oleh industri tampaknya hampir tidak mungkin. Di sini kami mengacu pada kasus akuisisi Huffington Post. Situs yang awalnya dirancang sebagai portal berita berbasis warga tersebut dijual seharga $315 juta kepada AOL pada 2011. Kesepakatan itu dianggap sebagai sesutau yang kritis karena Huffington Post secara umum dipandang sebagai contoh terkuat dari portal berita berbasis jurnalisme warga yang kredibel40. Akuisisi situs itu membuat para pembaca bertanya-tanya apakah akan ada portal serupa di masa depan, meskipun pemiliknya berjanji untuk mengoperasikan situsnya dengan lebih baik bagi para pembaca dan pengiklan.
Dalam kasus yang berbeda, Kaskus, komunitas dan forum online terbesar di Indonesia, pada 2011 dibeli oleh Djarum, konglomerat industri tembakau. Sementara itu, detik.com juga dibeli pada 2011 oleh Paragroup, pemilik Transcorp. Untuk kasus Kaskus, pembelian ini membuat kita bertanya-tanya: bagaimana dengan para pengguna yang telah membangun sebagian besar reputasi yang sekarang dinikmati Kaskus? Detik.com juga dipertanyakan subjektivitas kebijakan redaksinya karena portal online tersebut dituduh melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan di bawah Paragroup, terutama saat mereka memberitakan peristiwa pemogokan karyawan Carrefour beberapa minggu setelah diakuisisi41. Dengan contoh-contoh di atas, bagaimanakah bentuk situs berbasis konten yang user-generated di masa depan? Seberapa cepat media baru di Indonesia akan dikooptasi?
Berkaitan dengan pengaturan konten dalam web, ranah online di Indonesia juga telah mengalami perjalanan yang menarik. Sebagai upaya ‘membersihkan’ web dari konten yang tidak layak secara moral, Kemenkominfo berhasil memblokir 300 situs yang diduga memuat konten yang radikal dan gagasan tentang terorisme pada Agustus 201142. Lebih lanjut, Menkominfo Tifatul Sembiring menunjukkan kepada publik draf Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Konten Multimedia, yang menunjukkan bahwa pemerintah ingin mengontrol penggunaan media sosial dan Internet. Inisiatif tersebut langsung ditolak oleh publik dan pengguna Internet di Indonesia. Dalam meregulasi pers dan caranya menggunakan media sosial, Dewan Pers mengeluarkan sebuah draf Rancangan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
Meski ada intervensi semacam ini, Google dan sejumlah perusahaan multinasional lain (termasuk Yahoo! dan Multiply) berkeinginan berinvestasi di pasar Indonesia—dan beberapa perusahaan telah melakukannya. Pertumbuhan Internet juga terjadi berkat adanya perusahaan-perusahaan multinasional, investasi asing, dan munculnya pasar ‘ekonomi kreatif’. Sampai saat ini, tidak ada indikasi bahwa bisnis media online akan menurun. Sebaliknya, tren terbaru dalam beberapa tahun terakhir ini baru merupakan awal.
40 http://www.guardian.co.uk/world/richard-adams-blog/2011/feb/07/huffington-post-sale-aol-ariana, diakses pada 17/11/2011.
41 Wawancara dengan D. B. Utoyo (16/10/2011).
42 http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/26/ls5147-kominfo-blokir-300-situs-kekerasan, diakses pada 18/11/2022.