Yusro Edy Nugroho
KAJIAN PUSTAKA A. Media Sosial
A. Media Sosial Sebagai Sarana Ekspresi Diri
Bagi sebagian besar orang, media sosial merupakan tempat untuk aktualisasi diri. Mereka menjunjukkan bakat dan keunikan di media sosial sehingga dapat dilihat oleh banyak orang. Tidak heran kenapa saat ini banyak artis berlomba-lomba untuk terkenal di media sosial mereka. Pada generasi masa kini, update status dilakukan untuk mengekspresikan diri baik berisi curahan hati tentang keadaan diri
sendiri maupun orang lain. Tidak jarang status yang dituliskan tidak memiliki makna apapun.
Postingan baik pada facebook, twitter ataupun blog, dapat dikatakan sebagai cara baru “berbicara” dan berekspresi serta eksis pada zaman yang serba online. Pengertian posting atau yang sekarang lebih dikenal dengan update status dalam bahasa Indonesia berarti menempatkan atau mengeposkan. Digunakan sesuai bahasa aslinya yaitu Bahasa Inggris, posting. Update status adalah suatu kegiatan untuk menuliskan dan menerbitkan suatu tulisan ke dalam blog, twitter, atau facebook. Dengan melakukan posting, maka pemilik postingan dapat menyebarkan informasi yang diinginkan dalam bentuk berupa artikel, gambar, photo, video atau file.
Teknologi informasi dan komunikasi berbasis Internet menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan psikologis manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Hasil survey yang dilakukan oleh
Asia Digital Marketing Association pada tahun 2012 (dalam Agung,
2012) menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Internet dengan persentase 89% memanfaatkan Internet untuk mengakses social
network.Sejak tahun 2006, pengguna Internet dapat memanfaatkan
program jejaring sosial Facebook.Facebook merupakan salah satu jejaring sosial yang memungkinkan para penggunanya untuk berinteraksi dengan orang lain di seluruh dunia (Kapang, 2009).
Facebook memiliki berbagai macam fitur yang dapat dimanfaatkan
penggunanya untuk berkomunikasi dengan pengguna lain.
Dalam penggunaan Facebook, aspek afektif mengacu pada tanggapan perasaan individu dalam bentuk penilaian positif atau negatif terhadap penggunaan Facebook yang diukur melalui emosi, perasaan tertentu, suasana hati, dan evaluasi terhadap penggunaan fitur Facebook. Aspek kognitif mengacu pada proses mental dan struktur pengetahuan yang dilibatkan dalam tanggapan seseorang terhadap penggunaan Facebook yang dapat diukur dengan melihat bagaimana individu menginterpretasikan, memberi makna, dan memahami penggunaan fitur Facebook berdasarkan pengalaman pribadinya.
Facebook menjadi media sosial paling banyak digunakan
masyarakat untuk update status mengenai apa yang mereka rasakan. Pengguna media sosial tidak segan-segan untuk membagikan apa yang sedang mereka lakukan di kehidupan sehari-hari. Tidak jarang pengguna media sosial yang sudah terlalu bergantung pada media sosial memposting semua hal yang berkaitan dengan kehidupannya. Hal tersebut membuat pengguna media sosial menjadi tidak memiliki privacy apapun dan mengakibatkan semua orang mengetahui kehidupannya.
Isi dari status update seseorang di media sosial seperti Facebook dan sejenisnya menunjukkan banyak aspek dari kepribadian yang mungkin sebelumnya tidak terpikir. Sejumlah psikolog dari Brunei University di London melakukan survei para pengguna Facebook guna menganalisa sifat-sifat kepribadian dan motivasi di belakang setiap status update yang dilakukan. Dilansir majalah Inc., sebanyak 555 pengguna Facebook turut serta dalam survei online yang mengukur aspek-aspek kepribadian seperti sifat berekspresi, emosi negatif, keterbukaan, kemampuan bersimpati, ketekunan selain juga penilaian harga diri dan narsisisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki harga diri yang rendah memposting status bersama pasangannya secara lebih rutin.Sementara itu, orang narsis memposting lebih banyak tentang dirinya sendiri, sesuai perkiraan.Mereka diketahui rajin memposting tentang keberhasilannya yang terbaru untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitarnya meski itu bersifat online.Apa yang ditunjukkan mereka yang narsis dengan status terbarunya biasanya mendapatkan komentar dan lebih disukai oleh teman-teman onlinenya, sehingga memicu lebih banyak lagi status update dengan postingan serupa. Yang gemar melakukan update mengenai aktivitas olahraga atau kebiasaan makannya juga mengindikasikan rasa cinta diri yang meningkat, karena dianggap mencoba menarik perhatian orang kepada usaha yang dilakukan. Meskipun sepintas nampak sepele, namun penting untuk disadari motivasi di belakang kebiasaan tersebut, serta bagaimana reaksi publik terhadapnya.
Media sosial memiliki peran dalam membangun dan membentuk pola perilaku manusia. Media sosial didesain untuk memperluas interaksi sosia manusia menggunakan internet sehingga dapat meningkatkan pengalaman seseorang dalam berkomunikasi. Media sosial juga memberikan wadah bagi para penyedia barang dan jasa untuk lebih dekat dengan konsumen. Dengan media sosial, para pemasar dapat mengetahui kebiasan dari para konsumen dan melakukan suatu interaksi secara personal.
Dampak yang ditimbulkan bila seseorang terlalu sering mengeposkan sesuatu yang menarik perhatian pembaca secara terus-menerus membuat seseorang cenderung menjadi kecanduan media social. Seseorang akan menjadi anti sosial di kehidupan nyata karena terlalu fokus memposting sesuatu di media sosial. Melakukan update status di media sosial juga membuat seseorang kehilangan privasinya ketika terlalu sering menceritakan kehidupan pribadi dan kegiatan sehari-hari.
Dampak negatif lain yang ditimbulkan dari media social adalah penipuan. Banyak terjadi penipuan yang dilakukan oleh beberapa oknum melalui media sosial. Sebagian besar pengguna media sosial yang menjadi korban adalah anak-anak dan orang tua. Penipuan yang terjadi bermacam-macam. Mulai dari penipuan jual beli online, penculikan, perampokan, sampai pembunuhan.
Berikut di antara dampak lain yang muncul dari penyalahgunaan media sosial:
1. Spam, adanya sosial media membuat mudah para spammer yang bertebaran di dunia maya untuk membombardir netizen dengan konten spam. Distributor spam tersebut bisa berupa akun yang dikelola oleh orang secara langsung ataupun oleh bot. Sebagai contoh platform Instagram yang 8% akunnya adalah bot seperti dikutip infografis tentang media sosial ini.
2. Cyberbullying. Dengan mayoritas pengguna generasi muda dan anak-anak, media sosial menjadi sangat rentan untuk menjadi ajang “ikut-ikutan”. Sayangnya, tidak sedikit aksi
demam tersebut berujung pada aksi untuk mendiskreditkan seseorang. Hal ini tentu bisa berakibat fatal bagi korban atau target bully yang bisa jadi sasaran dan konsumsi jutaan orang di dunia maya.
3. Berita palsu. Sebagian besar berita palsu tersebar lewat sosial media. Hal ini dikarenakan saking mudahnya seseorang untuk menyebar informasi tanpa disertai filter yang memadai. Tingkat kesadaran dalam mengolah informasi juga menjadi faktor penting bagaimana dengan mudahnya seseorang membagikan info yang belum tervalidasi atau bahkan provokatif.
B. Sastra Piwulang sebagai Sumber Konten Updete Status