• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meja ½ biro 3 buah 2.Kursi plastik tak bertangan 24 buah

Dalam dokumen Lhp Desa Nabelena (Halaman 21-36)

3. Kursi plastik bertangan 6 buah 4. Papan data 7 buah 5. Mesin ketik 3 unit

6. Warles 1 unit

7. Kursi plastik 15 buah

Kondisi ini tidak sesuai dengan :

1) Peraturan Menteri Dalam Negeri nomo 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah pasal 6 ayat (2) dan pasal 46 ayat (1):

(1) Pasal 6 ayat (2) menyatakan sekretaris daerah selaku pengelola berwewenang dan bertanggungjawab menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah.

(2) Pasal 46 ayat (1) menyatakan barang milik daerah berupa tanah harus disertifikasi atas nama pemerintah daerah.

2) Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tanggal 21 Maret 2007 Tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pengelolaan Barang Milik Daerah yang menyatakan tugas pengurus barang:

(1) Mencatat seluruh barang milik daerah yang berada di masing-masing SKPD yang berasal dari APBD maupun perolehan lain yang sah kedalam Kartu Inventaris Barang (KIB), Kartu Inventaris Ruangan (KIR),

Buku Inventaris (BI) dan Buku Induk Inventaris (BIl), sesuai kodefikasi dan penggolongan barang milik daerah;

(2) Melakukan pencatatan barang milik daerah yang dipelihara/diperbaiki kedalam kartu pemeliharaan;

(3) Menyiapkan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) serta Laporan Inventarisasi 5 (lima) tahunan yang berada di SKPD kepada pengelola; dan

(4) Menyiapkan usulan penghapusan barang milik daerah yang rusak atau tidak dipergunakan lagi.

Point V.3.c. hal 42 yang menyatakan tugas dan tanggungjawab penyimpan/pengurus barang:

(1) Menerima, menyimpan dan menyerahkan barang milik daerah ke unit pemakai;

(2) Mencatat secara tertib dan teratur penerimaan barang, pengeluaran barang dan keadaan persediaan barang ke dalam buku/kartu barang menurut jenisnya terdiri dari:

a) Buku barang inventaris; b) Buku barang pakai habis; c) Buku hasil pengadaan; d) Kartu barang;

e) Kartu persediaan barang.

(3) Menghimpun seluruh tanda bukti penerimaan barang dan pengeluaran/ penyerahan secara tertib dan teratur sehingga memudahkan mencarinya apabila diperlukan sewaktu-waktu terutama dalam hubungan dengan pengawasan barang;

(4) Membuat laporan mengenai barang yang diurusnya berdasarkan kartu persediaan barang apabila diminta dengan sepengetahuan atasan langsungnya;

(5) Membuat laporan, baik secara periodik maupun secara insidentil mengenai pengurusan barang yang menjadi tanggungjawabnya kepada pengelola melalui atasan langsungnya;

(6) Membuat perhitungan/pertanggung jawaban atas barang yang diurusnya; (7) Bertanggungjawab kepada pengelola melalui atasan langsung mengenai

barang-barang yang diurusnya dari kerugian, hilang, rusak atau dicuri dan sebab lainnya;

(8) Melakukan perhitungan barang (stock opname) sedikitnya setiap 6 (enam) bulan sekali, yang menyebutkan dengan jelas jenis jumlah dan keterangan

lain yang diperlukan, untuk selanjutnya dibuatkan berita acara perhitungan barang yang ditandatangani oleh penyimpan barang.

Penyebabnya :

1) Kepala Desa belum memahami ketentuan yang berlaku. 2) Pengawasan dari atasan langsung belum efektif.

Akibatnya :

1) Barang inventaris desa tidak didata secara baik.

2) Menyulitkan pemantauan dan pihak atasan apabila barang inventaris hilang atau rusak.

Tanggapan pejabat yang diperiksa :

Dasar hasil temuan tim Inspektorat Kabupaten Ngada terhadap administrasi barang inventaris menjadi perhatian kami untuk perbaiki pada masa yang akan datang sesuai saran.

Disarankan kepada Kepala Desa Nabelena agar :

1) Segera menunjuk dengan Keputusan Kepala Desa Nabelena salah satu aparat desa yang untuk ditugaskan sebagai bendaharawan barang.

2) Perintahkan secara tertulis kepada bendaharawan barang yang ditujuk untuk mengerjakan buku barang inventaris.

3) Perintahkan bendaharawan barang untuk membuat laporan semester dan tahunan tentang keberadaan barang inventaris.

4) Perintahkan bendaharawan barang untuk membuat Kartu Inventaris Ruangan (KIR) dan Kartu Inventaris Barang (KIB).

5) Memerintahkan secara tertulis kepada bendaharawan barang untuk memberikan kode barang inventaris sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Pengelolaan Keuangan

1. Pengelolaan Keuangan BDB TA. 2007, ADD dan Dana Kesra TA.

2007 s/d 2009 pada Kantor Desa Nabelena tidak tertib

Hal ini ditandai dengan :

1) Keuangan BDB TA. 2007 sebesar Rp.12.500.000,- diterima dan dikelola langsung oleh Kepala Desa Nabelena a.n. Adrianus Nale.

2) Terdapat ketekoran kas uang BDB TA. 2007 yang disalahgunakan oleh mantan Kepala Desa a.n. Adrianus Nale sebesar Rp.3.110.000,- dan sudah disetor seketika tanggal 22–12-2009 sebesar Rp. 500.000,- sisa sebesar Rp.

2.610.000,-3) Terdapat penyalahgunaan keuangan ADD dan Dana Kesra TA. 2008 sebesar Rp11.587.500 oleh Sekretaris Desa/ Pemegang Kas a.n. Primus Djodo dengan rincian:

a) Dana ADD TA. 2008 sebesar Rp.9.587.500,-b) Dana Kesra TA. 2008 sebesar

Rp.2.000.000,-4) Alokasi Dana Desa (ADD) Nabelena TA. 2009 keadaan s/d Desember 2009 tidak diterima oleh Desa Nabelena.

5) Terdapat pengeluaran fiktif yang dilakukan oleh pemegang kas a.n. Primus Djodo sebesar Rp.1.296.250,- dengan penjelasan :

a) Tanggal 10-09-2008 bayar biaya pengetikan APBDes dan Dokumen Desa lainnya sebanyak 160 lembar @ Rp 5.000,- = Rp 800.000,- kenyataannya hanya pengetikan APBDes sebanyak 16 lembar @ Rp 5.000, = Rp 80.000,-selisih/fiktif sebesar = Rp

720.000,-b) Tanggal 16 – 10 – 2008 ;

(a) Biaya foto copy 2.000 ex @ Rp.250,- = Rp 500.000,-Kenyataannya hanya 495 ex @ Rp.250,- = Rp

123.750,-Selisih/ fiktif = 1.505 ex @ Rp.250,- = Rp

376.250,-(b) Biaya jilid APBDes 60 buah @ Rp.5.000 = Rp 300.000,-Kenyataannya hanya 20 buah @ Rp.5.000,- = Rp

100.000,-Selisih/ fiktif = 40 bh x Rp.5.000,- = Rp

200.000,-Jumlah pengeluaran fiktif 1 + 2 = Rp

1.296.250,-6) Terdapat belanja barang senilai Rp14.017.500 yang tidak dipungut PPN dan PPh oleh pemegang kas a.n. Primus Djodo sebesar Rp 1.465.466 dengan rincian:

a) Tanggal 14-09-2008, beli Mesin Keti 1 buah sebesar Rp.2.500.000,-» PPN = 10/110 x Rp.2.500.000,- = Rp.227.273,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

34.091,-J u m l a h

=Rp.261.364,-b) Tanggal 15-09-2008, beli tape Wairlless 1 bh sebesar Rp.2.000.000,-» PPN = 10% sebesar = Rp.181.818,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

27.273,-J u m l a h =Rp.

209.091,-c) Tanggal 17-09-2008, beli 3 (tiga) bh lemari sebesar Rp.4.000.000,-» PPN = 10% sebesar = Rp.363.636,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

418.181,-d) Tanggal 16-12-2008, beli 1 buah lemari arsip sebesar Rp. 1.500.000,-» PPN = 10% sebesar = Rp.136.364,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

20.455,-J u m l a h =Rp.

156.819,-e) Tanggal 16-12-2008, beli 1 unit Genset sebesar Rp.2.000.000,-» PPN = 10% sebesar = Rp.181.818,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

27.273,-J u m l a h =Rp.

209.091,-f) Tanggal 16-12-2008, beli peralatan dapur sebesar Rp.2.017.500,-» PPN = 10% sebesar = Rp 183.409,-» PPh pasal 22 (1,5%) = Rp.

27.511,-J u m l a h =Rp

210.920,-Jumlah PPN dan PPh point a) s/d f) sebesar

Rp.1.465.466,-» PPN sebesar = Rp 1.274.318,-» PPh sebesar = Rp

191.148,-Total ketekoran kas, pengeluaran fiktif dan PPN + PPh yang menjadi tanggung jawab pemegang kas a.n. Primus Djodo sebesar Rp 14.349.216, yaitu :

o Ketekoran kas ADD sebesar = Rp 9.587.500,-o Pengeluaran fiktif ADD sebesar = Rp

1.296.250,-o Ketekoran kas Dana Kesra sebesar = Rp

2.000.000,-o PPN dan PPh sebesar = Rp

1.465.466,-7) Terdapat ketekoran kas Dana ATK TA. 2009 yang disalahgunakan oleh pemegang kas ATK a.n. Lukas Lena sebesar Rp. 360.000,- dengan rincian :

» Jumlah penerimaan TA.2009 sebesar Rp.1.200.000,-» Jumlah pengeluaran TA.2009 sebesar Rp. 428.000,-» Saldo buku Rp

772.000,-» Saldo Kas Rp 412.000,-Perbedaan negatif sebesar Rp

360.000,-Ketekoran tersebut telah disetor tanggal 17-12-2009 ke kas desa oleh pemegang kas sebesar Rp

360.000,-Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :

1) Petunjuk Teknis Operasional Alokasi Dana Desa (ADD) dan Bantuan Dana Pembangunan Kelurahan (BDPK) bulan Januari 2008 tanpa tanggal dan nomor, dari Kepala BPMD Kabupaten Ngada Bab I point 1,2 dan 6 menyatakan :

Pemerintah Kabupaten terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang diarahkan untuk memperkuat, meningkatkan dan mengembangkan potensi dan sumber daya perdesaan.

b. Point 2 : Bantuan dana dialokasikan sebesar – besarnya untuk kepentingan (belanja) publik.

c. Point 6 : Pengelolaan bantuan dana dilaksanakan dengan prinsip hemat, terarah dan terkendali.

2) Peraturan Daerah Kabupaten Ngada Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pokok – pokok Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 83 ayat (1) dan pasal 169 ayat (2) menyatakan :

a. Pasal 83 Ayat (1) : Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD, harus didukung dengan bukti yang sah dan lengkap.

b. Pasal 169 Ayat (2) : Bendahara, Pegawai Negeri bukan bendahara atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hokum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah, wajib mengganti kerugian tersebut.

3) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan APBN pasal 14 ayat (2) menyatakan: Setiap Instansi Pemerintah, BUMN/ BUMD, bendahara dan badan – badan lainnya yang melakukan pembayaran atas beban APBN/ APBD ditetapkan sebagai wajib pungut PPNdan PPh dan pajak lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Penyebabnya :

1) Adanya unsur kesengajaan dari kepala desa dan para bendahara.

2) Lemahnya pengawasan dan pembinaan dari Instansi terkait tingkat atas. Akibatnya :

1) Daerah dan Desa Nabelena dirugikan.

2) Tujuan ADD belum mencapai sasaran sesuai yang diharapkan. Tanggapan Pejabat yang diperiksa:

1) Ketekoran kas yang disalahgunakan oleh:

a) Adrianus Nale / mantan kepala desa Nabelena sebesar Rp2.610.000.

b) Primus Djodo sebesar Rp14.394.216 akan kami perintahkan kepada yang bersangkutan untuk menyetor ke kas desa sesuai surat pernyataan.

2) Dana ADD TA. 2009 tidak dicairkan karena SPJ ADD TA. 2008 tidak dibuat oleh mantan kepala desa dan pemegang kas.

Dan akan kami perintah untuk membuat dan menyampaikan SPJ dimaksud kepada Bupati Ngada.

Disarankan kepada Pj. Kepala desa Nabelena agar:

1) Perintahkan secara tertulis kepada mantan kepala desa a.n. Adrianus Nale dan pemegang kas a.n. Primus Djodo untuk segera menyetor keuangan BDB tahun 2007 dan ADD tahun 2008 yang disalahgunakan ke kas desa dan ke kas negara sesuai surat penyataan dan bukti setoran disampaikan kepada Inspektorat sebagai bukti tindak lanjut.

2) Perintahkan secara tertulis kepada mantan kepala desa a.n. Adrianus Nale untuk segera menyetor keuangan BDB tahun anggaran 2007 sebesar Rp2.610.000 ke kas desa paling lambat tanggal 20-5-2010 sesuai surat pernyataan yang bersangkutan tanggal 22-12-2009.

3) Perintahkan secara tertulis kepada pemegang kas/ sekretaris desa a.n. Primus Djodo untuk segera menyetor keuangan ADD tahun anggaran 2008 sebesar Rp12.883.750 ke kas desa paling lambat tanggal 31-12-2009 sesuai surat pernyataan yang bersangkutan tanggal 23-12-2009.

4) Kepada camat Bajawa Utara agar membuat surat teguran keras kepada mantan kepala desa dan sekretaris desa untuk segera mengembalikan keuangan yang disalahgunakan ke kas desa dan ke kas negara.

2. Pengelolaan keuangan APBDes Desa Nabelena sejak tahun anggaran 2007 s/d 2009 belum tertib.

Hal ini ditandai dengan :

1) Terdapat ketekoran kas pada bendahara APBDes TA. 2009 an. Viktor Nono sebesar Rp2.354.000,00 dengan perincian :

- Jumlah penerimaan sejak tanggal 13-6-2009 s/d

14.12.2009 sebesar Rp43.711.000,00 - Jumlah pengeluaran sejak tanggal 13-6-2009

s/d

14.12.2009 sebesar Rp37.487.000,00

- Saldo buku kas sebesar

Rp 6.224.000,00

- Saldo kas sebesar

Rp 3.870.000,00

- Perbedaan kas sebesar

Ketekoran kas tersebut senilai Rp2.354.000,00 telah disetor seketika sesuai bukti/ kuitansi tanggal 17 - 12 – 2009.

2) Terdapat pengeluaran fiktif sebesar Rp355.000,00 merupakan pengeluaran yang telah dibukukan tetapi tidak didukung bukti pengeluaran yakni untuk :

- Tanggal 13-7-2009 bayar transport ke Dinsos

sebesar Rp 50.000,00

- Tanggal 13-7-2009 bayar transport, fotocopy dan konsumsi Rp 55.000,00

- Tanggal 15-8-2009 bayar pelatih penari

sebesar Rp100.000,00

- Tanggal 10-10-2009 bayar harga solar untuk belah kosen

Bantal seng kantor desa sebesar Rp150.000,00 Jumlah Rp355.000,00 Menjadi tanggungjawab bendahara a.n. Viktor Nono.

3) Terdapat ketekoran kas pada bendahara APBDes TA. 2008 a.n. Primus Djodo sebesar Rp1.175.000,00 dengan rincian :

- Jumlah penerimaan Rp5.325.000,00 - Jumlah pengeluaran Rp4.150.000,00 - Saldo buku Rp1.750.000,00 - Saldo kas Rp -,-- Perbedaan sebesar Rp1.175.000,00

Ketekoran kas tersebut menjadi tanggung jawab bendahara APBDes a.n. Primus Djodo

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Ngada nomor 1 tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah :

1) Bagian keempat pasal 83 ayat (1) dan (3) :

a) Ayat (1) Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus didukung dengan bukti yang sah dan lengkap.

b) Ayat (3) Bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.

2) Bab XV pasal 169 ayat (2) menyatakan bendahara, pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah wajib mengganti kerugian tersebut.

Penyebabnya:

1) Kelalaian bendahara dan atasan langsung (106.3) 2) Faktor subyektif ( )

Akibatnya:

Menghambat pembangunan dan kegiatan di tingkat desa ( ). Tanggapan pejabat yang diperiksa:

Dasar hasil temuan team Inspektorat Kabupaten Ngada tentang pengeluaran fiktif oleh bendaharawan atas nama Viktor Nono dan ketekoran kas atas nama Primus Djodo akan kami lakukan penagihan untuk setor ke kas desa sesuai dengan pernyataan yang bersangkutan.

Disarankan kepada kepala desa Nabelena agar:

1) Perintahkan secara tertulis kepada bendahara APBDes desa Nabelena TA. 2009 a.n. Viktor Nono untuk segera menyetor ke kas desa sisa kas sebesar Rp355.000,00

2) Perintahkan secara tertulis kepada bendahara APBDes desa Nabelena TA. 2008 a.n. Primus Djodo untuk segera menyetor ke kas desa sisa kas sebesar Rp1.175.000,00

3. Pengelolaan Keuangan Bantuan Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan Dinas Kehutanan belum tertib.

Hal ini ditandai dengan :

1) Terdapat tunggakan pengembalian bibit halia sebesar 4.500 kg dan denda keterlambatan sebesar Rp.915.000,- ( Sembilan Ratus Lima Belas Ribu Rupiah ) ke Dinas Pertanian sesuai SPK NO: 027/Distan/844/11/2007 tanggal 6 Nopember 2007 dan Surat Pernyataan Kelompok Sosama (Bpk. Yohanes Wuda) tanggal 27 Nopember 2007 di Desa Nabalena.

2) Terdapat ketekoran kas sebesar Rp. 1.100.000,- (Satu Juta Seratus Ribu Rupiah) yang di pinjam pribadi oleh PPL a.n. Cirilus Lali pada kelompok Sosama, sesuai Surat

Pernyataan Ketua Kelompok Sosama tanggal 17 Desember 2009 di Watusewua, Desa Nabalena Kec. Bajawa Utara.

3) Terdapat pendropingan bibit padi, jagung ke kelompok-kelompok oleh Dinas Pertanian tanpa tinggalkan bukti sebagai arsip di kelompok.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :

1) Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2005 tanggal 09 Desember 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 61 ayat (1) yang menegaskan setiap pengeluaran harus di dukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang di peroleh oleh Pihak yang menagih.

2) Peraturan menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1996 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No.2 Tahun 1994 tanggal 8 Maret 1994 tentang Pelaksanaan APBD pasal 40 ayat (3) yang menegaskan bahwa “terhadap, orang atau badan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) yang karena kelalaiannya/kesalahannya menimbulkan kerugian bagi daerah dikenakan tuntutan ganti rugi atau tuntutan lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Penyebabnya :

 Kurangnya pengawasan / pembinaan dari Dinas Teknis

 Kurangnya pemahaman pengurus / kelompok dalam pengerjaan administrasi kelompok.

Akibatnya :

 Realisasi keuangan secara rinci tidak dapat diketahui secara tepat.

 Pengadministrasian di kelompok jauh dari harapan. Tanggapan pejabat yang diperiksa:

Dasar hasil temuan team Inspektorat Kabupaten Ngada tentang bantuan keuangan dari Dinas Pertanian terdapat tunggakan pengembalian bibit halia sebanyak 4,5 ton dan denda keterlambatan sebesar Rp915.000 dari kelompok Sosama ke Dinas Pertanian, akan kami lakukan penagihan kepada ketua kelompok.

Disarankan kepada kepala desa Nabelena:

1) Perintahkan secara tertulis kepada ketua kelompok Sosama untuk segera mengembalikan bibit halia sebesar 4.500 kg dan denda keterlambatan sebesar Rp.915.000,- ( Sembilan Ratus Lima Belas Ribu Rupiah ) ke Dinas Pertanian paling lambat tanggal ………. sesuai surat pernyataan tanggal ………….. dan foto

copy penyetorannya disampaikan kepada Inspektorat Kab. Ngada sebagai bukti tindak lanjut.

2) Perintahkan secara tertulis kepada ketua kelompok sosama untuk menagih keuangan kelompok yang di pinjam pribadi oleh PPL a.n. Cirilus Lali sebesar Rp. 1.100.000,-(Satu Juta Seratus Ribu Rupiah) dan bukti pengembaliannya disampaikan kepada Inspektorat Kab. Ngada sebagai bukti tindak lanjut.

3) Kepada kelompok tani yang menerima pendropingan bibit padi, jagung oleh Dinas Pertanian supaya meminta bukti pendropingan bibit di Dinas Pertanian untuk arsip di tingkat kelompok

4. Pengelolaan Keuangan dan Pendistribusian Raskin pada Kantor Desa Nabelena TA. 2008 s/d Bulan Desember TA. 2009 belum tertib

Hal ini ditandai dengan :

Dari hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan keuangan dan pendistribusian Raskin pada kantor Desa Nabelena TA. 2008 s/d Bulan Desember TA. 2009 ditemui kelemahan – kelemahan sebagai berikut :

1) Terdapat kenaikan harga penjualan beras Raskin kepada masyarakat dari Rp1.600/ kg menjadi Rp3.000 / kg.

2) Pembagian/ penjualan Raskin sejak TA. 2008 s/d keadaan Desember TA. 2009 tidak hanya kepada 65 Rumah Tangga Miskin Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) melainkan dibagikan secara merata kepada 230 KK yang ada pada 4 (empat) dusun di Desa Nabelena.

3) Terdapat ketekoran kas dari keuntungan hasil penjualan beras Raskin Putaran III TA. 2008 sebesar Rp2.284.000 yang belum dipertanggungjawabkan oleh mantan bendahara Raskin TA.2008 an.Magdalena Seku Bue, dengan rincian :

» Penerimaan = Rp. 5.520.000,-» Pengeluaran = Rp.

3.236.000,-» Saldo = Rp.

2.284.000,-Ketekoran tersebut sudah disetor kembali ke kas desa sesuai bukti tanggal 31 Desember 2009.

4) Setiap ada pembagian Raskin kepada RTS-PM pada daftar penyaluran hanya ditulis nama penerima, alamat dan paraf. Sedangkan jumlah beras dan jumlah pembayaran tidak dicantumkan.

 Keputusan Bupati Ngada Nomor 48/ KEP/ EKONOMI/ 2009 Tanggal 20 Maret 2009 Tentang Penetapan Jumlah Kepala Keluarga Rumah Tangga Miskin dan Alokasi Pagu Beras Miskin (RASKIN) di Kabupaten Ngada Tahun 2009 point III yang menyatakan jumlah rumah tangga miskin dan jumlah pagu Raskin ditetapkan masing–masing desa/ kelurahan dibagi habis dalam 1 (satu) Tahun Anggaran dengan penentuan nama-nama jumlah KK RTM yang berhak menerima Raskin, disesuaikan dengan jumlah data penetapan Jumlah Rumah Tangga Miskin Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) dari BPS.

 Pedoman Umum Pelaksanaan Program Beras untuk Keluarga Miskin (RASKIN) Tahun 2009 yang diterbitkan oleh Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Perum Bulog BAB II point 2 huruf a dan b, dan BAB IV huruf c point 1 s/d 6 yang menyatakan :

1). BAB II point 2 huruf (a) dan (b) :

(a) Penetapan RTS-PM di desa/ kelurahan menggunakan data BPS yang terdiri dari Rumah Tangga Sangat Miskin, Miskin dan Hampir Miskin. Data tersebut merupakan sasaran Program Penaggulangan Kemiskinan secara Nasional, termasuk Program Raskin. Oleh karena itu daftar RTS-PM di setiap desa/kelurahan dibuat berdasarkan nama – nama Rumah Tangga Sasaran hasil pendataan BPS tahun 2008 yang ditetapkan dalam DPM-1 dan ditandatangani oleh kepala desa/ lurah serta disahkan oleh Camat.

(b) Apabila terdapat nama – nama RTS dan BPS yang sudah tidak sesuai dengan data riil di desa/ kelurahan, maka dilakukan musyawarah desa/ kelurahan sebagai media verifikasi dengan tanpa mengubah jumlah pagu RTS-PM setiap desa/ kelurahan. Dalam musyawarah desa/ kelurahan melibatkan aparat desa/ kelurahan, tokoh masyarakat dan perwakilan dari RTS.

Kriteria RTS yang tidak sesuai meliputi :

- RTS pindah tempat ke luar desa/ kelurahan; - RTS yang sudah tidak layak sebagai penerima

manfaat (meningkat menjadi rumah tangga mampu)

Terhadap kedua kelompok RTS tersebut dapat digantikan dengan rumah tangga lain yang menurut musyawarah desa/ kelurahan dianggap layak menerima Raskin.

2). BAB IV huruf c point 1 s/d 6 menyatakan indikator kinerja Raskin adalah : (1) Tepat Sasaran Penerima Manfaat :

Raskin hanya diberikan kepada RTS-PM RASKIN hasil musyawarah desa/ kelurahan yang terdaftar dalam Daftar Penerima Manfaat (DPM-1) dan diberi identitas ( Kartu Raskin atau bentuk lain ).

(2) Tepat Jumlah:

Jumlah beras RASKIN yang merupakan hak RTS-PM adalah sebanyak 15 Kg/RTS/bulan selama 12 bulan.

(3) Tepat Harga:

Harga tebus RASKIN adalah sebesar Rp 1.600/kg netto di titik distribusi. (4) Tepat Waktu:

Waktu pelaksanaan distribusi beras kepada RTS-PM RASKIN sesuai dengan rencana distribusi.

(5) Tepat Administrasi:

Terpenuhinya persyaratan administrasi secara benar, lengkap dan tepat waktu.

(6) Tepat Kualitas:

Terpenuhinya persyaratan kualitas beras sesuai dengan standar kualitas beras BULOG.

Penyebabnya :

1) Kepala Desa Nabelena dan pengurus RASKIN tidak mematuhi ketentuan yang berlaku.

2) Adanya unsur kesengajaan dari Kepala Desa dan pengelola/ pengurus RASKIN

3) Pembinaan dan pengawasan tidak efektif. Akibatnya :

1) Keluarga miskin sasaran penerima Raskin dirugikan. 2) Tujuan Raskin tidak mencapai sasaran.

Tanggapan dari pejabat yang diperiksa :

Dasar hasil temuan team Inspektorat Kabupaten Ngada tentang kenaikan harga beras dan pembagian secara merata kepada masyarakat itu benar dilakukan melalui kesepakatan bersama BPD, LKMD, BLT dan tokoh masyarakat desa Nabelena.

Namun untuk perhatian ke depan kami tidak akan melakukan kekeliruan yang sama.

Disarankan kepada Kepala Desa Nabelena agar :

1) Bersama pengelola/ pengurus Raskin sejak TA. 2009 dan seterusnya dalam melakukan pembagian beras Raskin harus sesuai RTS-PM RASKIN yang sudah ditetapkan menurut Daftar Penerima Manfaat ( DPM-1 dan DPM-2 ). 2) Perintahkan kepada pengurus Raskin agar pada setiap pembagian/ penjualan

Raskin sejak TA. 2010 dan seterusnya supaya tetap berpedoman pada Daftar Penerima Manfaat (DPM-1) yang dikeluarkan oleh Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat pada Setda Ngada.

3) Perintahkan kepada pengurus Raskin agar sejak TA. 2010 dan seterusnya bilamana ada pembagian Raskin kepada RTS-PM supaya pada daftar penyaluran ditulis nama penerima, alamat, jumlah beras yang dibeli, harga satuan, jumlah beras, jumlah harga dan paraf.

5. Pengelolaan Barang Invenstaris di Desa Nabelena sejak TA. 2007 s/d 2009 belum tertib.

Hal ini ditandai dengan :

Terdapat barang inventaris hasil pengadaan tahun anggaran 2008, yang bersumber dari dana ADD TA. 2008 belum diserahkan kepada pihak desa Nabelena oleh bendahara desa tahun 2008 yang juga merangkap sekretaris desa a.n. Primus Djodo. Barang-barang tersebut antara lain:

No Jenis barang Jumlah Keterangan

1 Mesin jahit 2 unit

2 Lemari 3 buah

3 Periuk uk. 10 kg 1 buah 1. 4 Dandang uk. 30 kg 1 buah

2. 5 Piring 1 lusin

3. 5 Gelas 1 lusin

4. 7 Irus 1 buah

5. 8 Senduk makan 1 lusin 6. 9 Mangkok besar 1 buah 7. 10 Senduk nasi 1 buah 8. 11 Ember kecil 2 buah 9. 12 Genset uk. 1500 watt 1 unit

Kondisi ini tidak sesuai dengan :

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah Bab V pasal 16 ayat (1), (2) dan (3) menyatakan:

- Ayat (1): Hasil pengadaan barang diterima oleh penyimpan barang.

- Ayat (2): Penyimpan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkewajiban melaksanakan tugas administrasi penerimaan barang milik daerah.

- Ayat (3): Penerimaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya disimpan dalam gudang atau tempat penyimpanan.

Penyebabnya :

(1) Kepala Desa belum memahami ketentuan yang berlaku. (2) Pengawasan dari atasan langsung belum efektif.

Akibatnya :

Pemanfaatan barang-barang inventaris tersebut belum efektif. Tanggapan pejabat yang diperiksa :

Dasar hasil temuan tim Inspektorat Kabupaten Ngada tentang pengelolaan barang-barang inventaris yang masih berada di bengkel dan di rumah sekretaris desa a.n. Primus Djodo akan kami lakukan pengambilan dalam waktu dekat.

Disarankan kepada Kepala Desa Nabelena agar :

1) Perintahkan secara tertulis kepada sekretaris desa TA. 2008 a.n. Primus Djodo untuk segera melengkapi dan menyerahkan barang inventaris berupa 15 buah kursi plastik kepada desa Nebelena, dan bukti berupa berita acara serah terima barangnya disampaikan kepada Inspektorat Kabupaten Ngada sebagai bukti tindak lanjut.

2) Perintahkan secara tertulis kepada sekretaris desa a.n. Primus Djodo untuk menyerahkan barang inventaris hasil pengadaan tahun anggaran 2008, yang bersumber dari dana ADD TA. 2008 berupa:

No Jenis barang Jumlah Keterangan

1 Mesin jahit 2 unit

2 Lemari 4 buah

3 Periuk uk. 10 kg 1 buah 4 Dandang uk. 30 kg 1 buah

5 Piring 1 lusin

6 Gelas 1 lusin

7 Irus 1 buah

8 Senduk makan 1 lusin

Dalam dokumen Lhp Desa Nabelena (Halaman 21-36)

Dokumen terkait