BAB II LANDASAN TEORI
2. Mekanisme Asuransi Syariah
Gambar 1.1
Mekanisme Asuransi Syariah
Berikut ini penjelasan tentang mekanisme asuransi syariah yaitu sebagai berikut:
a. Setiap "peserta" (bukan tertanggung), memberikan "kontribusi" (bukan membayar premi) ke dalam kumpulan dana tabarru.
b. Sesama peserta melakukan akad tabarru dengan peserta lain untuk bersama-sama mengumpulkan dana tabarru.
c. Untuk melakukan pengelolaan dana tabarru, ditunjuk pengelola asuransi syariah.
d. Pengelola asuransi syariah melakukan analisa baik secara matematis, statistik, kondisi pasar, dan sebagainya. Guna menentukan tarif yang dianggap sesuai dengan faktor resiko.
e. Peseta melakukan akad wakalah (agency) kepada pengelola asuransi syariah sesuai dengan ujrah.
f. Guna memenuhi nilai minimum statistik, tidak mungkin apabila dana tabarru itu hanya diisi oleh peserta tabarru tadi, sehingga dana tabarru itu cukup besar dan bisa memberikan tarif yang adequate bagi masing-masing peserta sesuai dengan tingkat resikonya.
g. Apabila salah seorang peserta yang mengalami musibah karena takdir dari Allah SWT maka tugas dari pengelola asuransi syariah adalah mewakili seluruh peserta untuk memberikan santunan (manfaat). h. Prinsifnyamanpaat yang diterima oleh seseorang yang mengalami
peserta, selain itu bisa mendapatkan jaminan manfaat bila mana ia mengalami musibah ia sendiri juga bisa mendapatkan pahala atas niatnya mebantu sesama peserta yang mengalami musibah.5
3. Nilai Syariah Pada Asuransi Syariah
Nilai-nilai dalam pengelolaan asuransi syariah ini merupakan salah satu instrumen transaksi, yang secara sistem operasionalnya disesuaikan dengan syariah islam. Berikut ini nilai-nilai syariah dama asuransi syariah:
a. prinsif keadilan
prinsif pertama dalam pengimplementasian asuransi syariah adalah prinsif keadilan, artinya bahwa asuransi syariah harus benar-benar bersikap adil antar nasabah terkait dengan hak dan kewajiban masing-masing.
b. Prinsif tolong menolong
Semangat tolong menolong merupakan aspek yang sangat penting dalam operasional asuransi syariah. Karena pada hakekatnya konsep asuransi syariah didasarkan pada prinsif ini, dimana sesama peserta tabarru atau derma untuk kepentingan nasabah lainnya yang tertimpa musibah. Dengan konsep seperti ini, berarti sesama nasabah telah mengimplementasikan saling tolong menolong meskipun mereka tidak saling bertatap muka.
c. Prinsif kerjasama
Antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah terjalin kerjasama, tergantung dari akad apa yang digunakan. Apabila dari dana tersebut ada keuntungan maka akan dibagi berdasarkan nisbah yang disepakati, ketika kerjasama ini terjalin dengan baik nasabah menunaikan hak dan kewajibannya demikian juga perusahaan asuransi syariah menunaikan hak dan kewajibannya secara baik, maka akan terjalin pola hubungan kerjasama dengan baik.
d. Prinsif amanah
Amanah juga merupakan prinsif yang sangat penting. Karena pada hakekatnya kehidupan ini adalah adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Perusahaan dituntut untuk amanah dalam mengelola dana premi demikian juga nasabah, perlu amanah dalam aspek resiko yang menimpannya.6
4. Dasar Hukum Asuransi Syariah
Agar ketentuan asuransi syariah memiliki kekuatan hukum harus terdapat undang-undang mengenai peraturan asuransi syariah. Khusus di Indonesia pelaksanaan praktik Asuransi Syariah didasarkan pada beberapa landasan, yaitu : landasan syariah, landasan yuridis, dan landasan filosofis.
a. Landasan syariah
Di dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas ayat yang
menjelaskan tentang praktik asuransi seperti yang ada pada saat ini.
6
Hal ini terindikasi dengan tidak munculnya istilah asuransi atau at-ta‟min secara nyata dalam al-Qur’an. Walaupun begitu al-Qur’an
masih mengakomodir ayat-ayat yang mempunyai muatan nilai-nilai dasar yang ada dalam praktik asuransi, seperti nilai dasar tolong-menolong, kerja sama, atau semangat untuk melakukan proteksi terhadap peristiwa kerugian dimasa mendatang.
Salah satu ayat yang mempunyai muatan nilai-nilai yang ada dalam praktik asuransi adalah Surah Al-Maidah: 2 yaitu:
Artinya:“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.”7
Ayat tersebut memuat perintah (amr) untuk tolong-menolong antar sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial (tabarru‟). Dana sosial ini berbentuk rekening tabarru‟ pada perusahaan asuransi
7
Departemen Agama RI, Al-Qur'an Dan Terjemahannya, (Jakarta: CV Penerbit J-Art, 2005), hlm. 92
dan difungsikan untuk menolong salah satu anggota (nasabah) yang sedang mengalami musibah (peril).
b. Landasan yuridis
Landasan yuridis yang menjadi dasar dalam pelaksanaan dan pengembangan dunia perasuransian. Khusus di Indonesia, kehadiran asuransi syariah merupakan keikutsertaan umat Islam dalam mengembangkan perasuransian di Indonesia sebagaimana tercermin dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Sekalipun memang Undang-Undang tersebut tidak secara tersurat mengatur tentang prinsip operasional asuransi syariah.
Keberadaan Asuransi syariah di Indonesia sebagai sebuah badan usaha di bidang perasuransian ini dilegalisir oleh Persetujuan Departemen Kehakiman Republik Indonesia Nomor: C2-18.286.MT.01.01 Tahun 1994 tertanggal 14 Desember 1994. Selain itu, keberadaan asuransi syariah pun telah mendapatkan izin operasi
dari Materi Keuangan Republik Indonesia Nomor
247/KMK.017/1995 tentang 5 Mei 1994. c. Landasan filosofis
Landasan filosofis atau bisa pula disebut landasan teologis.
Dalam landasan ini tersirat bahwa asuransi syari’ah merupakan salah
satu solusi bagi pihak-pihak yang hendak megatasi musibah atau bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Dalam teologi Islam, yang masyhur bahwa musibah dan bencana yang menimpa manusia itu merupakan qadha dan qadar Allah Swt. Namun demikian, bukan berarti bahwa keterlibatan dalam asuransi merupakan salah satu upaya untuk menolak qadha dan qadar Allah Swt, melainkan salah satu upaya untuk meminimalisir risiko finansial yang mungkin akan diderita. Hal ini berarti bahwa sekalipun Allah Swt telah menetapkan qadha dan qadar manusia, tetapi manusia masih memiliki kesempatan untuk merubah atau mengkondisikan qadha dan qadar tersebut.
5. Prinsip Asuransi Syariah
Prinsip utama dalam asuransi syariah adalah ta‟awanu „ala al birr wa al -taqwa (tolong-menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan al-ta‟min (rasa aman). Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung risiko. Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi takaful adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan.8
Para pakar ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah atau asuransi takaful ditegakkan atas tiga prinsip utama, yaitu: Sesama muslim
8
Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 146
saling bertanggung jawab. Kehidupan di antara sesama muslim terikat dalam suatu kaidah yang sama dalam menegakkan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, kesulitan seorang muslim dalam kehidupan menjadi tanggung jawab sesama muslim yang lain, Sesama muslim saling bekerja sama atau bantu membantu. Seorang muslim akan berlaku bijak dalam kehidupan, ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut mampu merasakan dan memikirkan apa yang dirasakan dan dipikirkan saudaranya. Keadaan ini akan menimbulkan sikap saling membutuhkan antar sesama muslim dalam menyelesaikan berbagai masalah, Sesama muslim saling melindungi penderitaan satu sama lain. Hubungan sesama muslim tersebut dapat diibaratkan suatu badan, yang apabila salah satu anggota badan terganggu atau kesakitan maka seluruh badan akan ikut merasakan. Maka saling tolong-menolong dan membantu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem kehidupan masyarakat muslim.9
9
Heri Sudarsosno, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Ekonisia, 2007), hlm. 115
6. Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
Gambar 2.1
Perbedaan Asuransi Konvensional Dan Asuransi Syariah
Dari segi konsep, asuransi syariahyaitukonsep tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, menjadikan semua peserta asuransi syariah dalam suatu keluarga besar untuk melindungi dan menanggung resiko keuangan yang terjadi diantara mereka. Konsep takaful yang menjadi dasar dari asuransi syariah ditegakkan diatas tiga prinsif dasar yaitu saling bertanggung jawab, saling bekerja sama serta saling membantu, dan saling melindungi. Sementara dalam asuransi konvensional, usaha asuransi merupakan usaha dibidang jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi, untuk memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat
pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbul kerugian karena suatu pristiwa yang yang tidak pasti.10
Perusahaan asuransi syariah diberi kepercayaan atau amanah oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan halal, dan memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai dengan akta perjanjian. Dan keuntungan perusahaan diperoleh dengan pembagian keuntungan dana peserta yang dikembangkan dengan prinsif mudharabah dimana peserta berkedudukan sebagai pemilik modal dan perusahaan sebagai pemegang amanah (mudharib)
Berbagai persaratan yang ditentukan oleh perusahaan asuransi adalah demi kepentingann semua pemegang polis. Asuransi adalah pengelola dana milik banyak orang.11
Dari segi tanggungan resiko, mekanisme pertanggungan resiko pada asuransi syariah adalah sharing of risk (saling menanggung resiko). Sedangkan asuransi konvensional, mekanisme pertanggungannya adalah
transfer of risk (memindahkan resiko), yakni resiko dari individu atau kelompok kepada perusahaan.
Dari segi pengelolaan dana, Asuransi syariah untuk produk-produk yang mengandung unsur tabungan, dana yang dibayarkan oleh peserta
10
Abdullah Amrin, Asuransi Syariah Keberadaan dan Kelebihannya di tengah Asuransi Konvensional, (Jakarta: PT Elwx Media Komputindo, 2006), hlm. 67
11
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General) Konsep dan Sistem Operasional, (Jakarta: Gema Insani Press, 2010), hlm. 177
dibagi dalam dua rekening yaitu rekening peserta dan rekening tabarru’,
kemudian total dana diinvestasikan, dan hasil investasinya khusus dana
tijarah (mudharabah) dibagi secara proposional antara peserta dengan perusahaan (pengelola).Sementara asuransi konvensional tidak ada pemisahan antara dana dan peserta dengan dana tabarru’, semua dana bercampur menjadi satu dan status dana tersebut adalah dana perusahaan.12
B. Strategi Pemasaran