• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme HAM di Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Dalam dokumen BAB 3: MENGENAL HAK ASASI MANUSIA (Halaman 49-55)

Sidang Umum PBB

Pada 10 Desember 1948 yang diselenggarakan di Istana

D. INSTRUMEN HUKUM DAN MEKANISME PENEGAKAN HAM Secara internasional, untuk mengatur pelaksanaan HAM, PBB

4. Mekanisme HAM di Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

OKI merupakan organisasi kerjasama internasional non-militer antara negara-negara berpenduduk Muslim. Organisasi ini didirikan pada tanggal 25 September 1969 berdasarkan Deklarasi Rabat (Maroko) atas prakarsai oleh Raja Hussein II (Maroko) dan Raja Faisal (Arab Saudi). Sekretaris Jenderal OKI berkedudukan di Jeddah (Arab Saudi). Berdirinya OKI karena beberapa alasan berikut ini: (1) Pembakaran Masjid Al-Aqsha di Kota Al-Quds Jerussalem oleh Israel pada 21 Agustus 1969; (2)

Didudukinya wilayah negara-negara Arab oleh Israel akibat perang Arab-Israel tahun 1967; (3) Pendudukan Jerusalem oleh Israel.

Pada tahun 2000-an negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) meningkatkan perhatian mereka pada masalah HAM, dan mengubah piagamnya dan membentuk badan HAM OKI: Komisi HAM Independen Permanen Hak Asasi Manusia (Independent Permanent Human Rights Commission, disingkat IPHRC). Komisi ini dibentuk pada Pertemuan Menteri Luar Negeri OKI ke-38 di Astana, Kazakhtan, 28-30 Juni 2011. Dalam pertemuan tersebut dipilih 18 orang Komisioner HAM OKI dari perwakilan negara-negara anggota, termasuk seorang anggota komisioner dari Indonesia. Komisioner OKI menjabat selama 3 tahun dan bertugas untuk menguatkan perlindungan HAM, sebagaimana ditekankan Piagam dan Program Aksi Sepuluh Tahun OKI.

Pembentukan IPHRC memiliki beberapa tujuan. Pertama, memajukan dan melayani umat Islam dalam perlindungan HAM, mempromosikan penghormatan terhadap kebudayaan dan nilai-nilai luhur Islam serta mendorong dialog antara peradaban, sesuai dengan prinsip dan tujuan Piagam OKI. Kedua, mendukung upaya negara-negara anggota untuk memajukan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Ketiga, bekerjasama dengan negara-negara anggota untuk penguatan HAM, serta memonitoring kepatuhan komunitas Muslim terhadap HAM termasuk perlindungan terhadap kelompok minoritas. Keempat, mendorong negara anggota agar mendukung kebijakan yang menyokong pemberdayaan hak-hak perempuan, hak-hak anak, dan juga perlindungan bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus di bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya terutama dalam menghilangkan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan.

IPHRC juga memiliki mandat khusus sebagaimana dinyatakan dalam Statuta-nya. Pertama, menjalankan fungsi konsultatif dengan Dewan Menteri Luar Negeri (KTM) OKI dan

Pada tahun 2000-an negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

meningkatkan perhatian mereka pada

masalah HAM, dan mengubah piagamnya dan membentuk badan HAM OKI: Komisi HAM Independen Permanen Hak Asasi Manusia

(Independent Permanent Human Rights Commission, disingkat IPHRC).

Badan HAM OKI

menyampaikan rekomendasi kepadanya. Kedua, mendukung posisi OKI di kancah dan dinamika HAM di tingkat internasional dan mengkonsolidasikan kerjasama HAM di antara negara-negara anggota. Ketiga, mendukung kerjasama teknikal di bidang HAM dan peningkatan kesadaran terhadap HAM di negara-negara anggota OKI. Keempat, IPHRC juga diberikan mandat untuk memajukan dan mendorong organisasi masyarakat sipil yang terakreditasi agar bersikap aktif dalam perlindungan HAM sesuai dengan Piagam OKI dan prosedur kerja. Kelima, melakukan studi atau penelitian dalam isu-isu HAM yang menjadi prioritas, termasuk isu-isu yang ditunjuk oleh Dewan Menteri Luar Negeri. Keenam, bekerjasama dengan negara anggota, atas permintaan dari negara bersangkutan, untuk mengelaborasi instrumen HAM. Komisi juga menyampaikan rekomendasi untuk memperbaiki Deklarasi HAM OKI dan konvensi serta mendorong ratifikasi konvensi sesuai dengan kerangka OKI, nilai-nilai Islam dan standar HAM internasional.

E. KESIMPULAN

Dari uraian yang panjang lebar dalam bab ini mengenai hak asasi manusia dan berbagai variannya, dapat ditarik kesimpulan bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak dilahirkan, berlaku seumur hidup, dan tidak dapat digugat oleh siapapun. HAM bersifat kodrati sebagai pemberian Tuhan Yang Maha Pencipta. Karenanya tidak dapat dicabut oleh siapapun. Tetapi HAM yang dimaksud tidak selalu berarti bahwa orang dapat berbuat semaunya karena hak-haknya itu. Justru demi ditegakkannya HAM maka hak-hak dasar seseorang dapat dibatasi oleh negara manakala dalam menikmati haknya ia melanggar hak orang lain. Dalam hal ini, seseorang tidak bebas sebebas-bebasnya dalam menikmati haknya. Karena kebebasan dalam menikmati haknya tersebut dibatasi oleh hak orang lain. Maka menjadi kewajiban bagi seorang individu warga negara untuk menghormati hak individu lainnya. Demikian pula dengan negara (pemerintah), selain berkewajiban menghormati dan melindungi hak warganya, negara juga berkewajiban memenuhi dan menegakkan hak asasi setiap warganya.

Dalam sejarahnya yang panjang sejak abad ke-12 hingga pertengahan abad ke-20, perjuangan akan hak asasi manusia memang diawali dari kenyataan pahit akibat kesewenang-wenangan negara (khususnya pihak kerajaan) terhadap rakyatnya dalam proses menjalankan pemerintahan. Puncaknya, negara-bangsa di dunia bersepakat untuk mengakhiri penindasan dan kenyataan pahit tersebut, khususnya selama perang dunia berkecamuk. Kesepahaman ini mewujud dalam pernyataan bersama PBB mengenai HAM, yakni Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang dideklarasikan pada 10 Desember 1948. Walaupun DUHAM menjadi kesepakatan universal, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari masih sering kita temukan kasus-kasus pelanggaran yang bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, yang pelakunya bisa individu maupun negara itu sendiri.

Terkadang kasus pelanggaran yang dilakukan oleh individu terhadap individu lainnya dalam sebuah negara seringkali masih salah dimengerti. Walaupun termasuk dalam ranah pelanggaran pidana. Pemahaman ini menjadi penting agar kita tidak salah dalam memahami perbedaan kasus pidana dan kasus pelanggaran HAM yang dapat dibawa ke ranah hukum. Tidak setiap pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang terhadap hak orang lain dapat diadili dalam mekanisme Pengadilan HAM. Pelanggaran jenis ini merupakan pelanggaran pidana dan mekanisme penegakannya adalah melalui peradilan pidana. Karena, sebagaimana dimaksud oleh UU No. 26 Tahun 2006 tentang Pengadilan HAM, kasus-kasus pelanggaran HAM yang dapat diadili di negara ini hanyalah: genosida dan kejahatan terhadap kemanusian.

Dalam hal pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, ada dua bentuk tindakan pelanggaran, yakni negara, melalui aparatur pemerintahannya terlibat secara langsung dan sengaja melakukan pelanggaran. Pelanggaran jenis ini dinamakan pelanggaran by commission. Sementara bila dalam suatu kasus pelanggaran HAM tertentu, negara, melalui aparatur pemerintahannya tidak hadir untuk mencegah agar tidak terjadinya pelanggaran HAM ketika terjadinya kasus, disebut sebagai pelanggaran by ommission,

dimana negara abai atau membiarkan terjadinya kasus pelanggaran HAM.

Nah, bila dalam perjalanan kehidupan kita sebagai manusia ditemukan pelanggaran HAM dalam suatu kasus dan di lokasi tertentu, tentunya tidak elok bila kasus tersebut didiamkan begitu saja tanpa melibatkan diri secara aktif mengusutnya, atau paling minimal, memonitor kasus yang terjadi hingga proses penyelesaiannya. Karena tidak mungkin tidak terjadi pelanggaran HAM selama masih ada manusia dan kehidupan di dunia ini. Di Indonesia, telah ada sebuah lembaga yang dibentuk dan berfungsi untuk melaksanakan kajian, perlindungan, penelitian, penyuluhan, pemantauan, investigasi, dan mediasi kasus-kasus yang berkaitan dengan HAM. Lembaga tersebut adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang keberadaannya diakui dalam Pasal 75 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Dugaan kasus pelanggaran HAM dapat dilaporkan kepada Komnas HAM. Selain itu, Indonesia juga telah memiliki Komisi Nasional Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Lembaga-lembaga ini sangat diperlukan oleh Indonesia dan kita, sebagai warga negara, untuk memastikan HAM ditegakkan melalui instrumen hukum HAM internasional yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Keberadaan peraturan mengenai HAM di Indonesia tidak terlepas dari dinamika internasional yang dalam perjalanannya mengadopsi norma dan aturan hukum HAM secara internasional. Sejak DUHAM dideklarasikan pada 10 Desember 1948 hingga saat ini, Indonesia telah meratifikasi setidaknya tujuh instrumen utama HAM internasional dan mengadopsinya ke dalam sistem hukum nasional, di antaranya UU No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, UU No. 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam dan Tidak Manusiawi, UU No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan

Budaya, dan UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Selain itu, Indonesia juga telah memiliki beberapa aturan hukum lain tentang HAM, yaitu UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 26 Tahun 2006 tentang Pengadilan HAM.

Di ranah internasional penegakan HAM mencakup tiga bagian: Pertama, mekanisme berdasarkan Piagam PBB (charter-based mechanism), yaitu prosedur penegakan hak asasi manusia yang tidak dibentuk oleh konvensi-konvensi internasional HAM akan tetapi berdasarkan piagam PBB itu sendiri; Kedua, mekanisme berdasarkan perjanjian/traktat (treaty based mechanism), yaitu mekanisme yang dibentuk melalui perjanjian-perjanjian internasional tentang HAM di bawah sistem PBB; dan ketiga, mekanisme HAM regional yang berbasis pada wilayah atau identitas politik dan berlaku untuk kawasan tertentu seperti Eropa, Afrika, Kawasan Amerika dan ASEAN. Indonesia termasuk salah satu anggota ASEAN yang ikut mempelopori berdirinya mekanisme HAM ASEAN, yakni ASEAN Intergovernmental Commission of Human Rights (AICHR) atau Komisi HAM ASEAN yang dibentuk berdasarkan Deklarasi Cha Am Hua Hin pada 23 Oktober 2009 di Thailand dan berkantor pusat di Sekretariat ASEAN di Jakarta.

Semua ketentuan dan aturan hukum di atas baik internasional maupun yang telah diadopsi secara nasional tidak akan ada artinya bila penghormatan, perlindungan, pemenuhan dan penegakan hak asasi manusia tidak dilakukan dengan baik dan berkelanjutan oleh warga dan negara (pemerintah) itu sendiri. Terlebih lagi bila masih ditemukan warga negara Indonesia bertindak seenaknya melanggar hak warga negara lainnya atau bertindak yang membuat warga lainnya merasa tidak nyaman dalam menikmati haknya. Terlebih buruk lagi apabila dilakukan oleh negara (pemerintah) terhadap warganya, apalagi tanpa disertai prosedur hukum yang jelas. Keberadaan semua instrumen dan mekanisme HAM tersebut tidak lebih untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dihormati, dilindungi dan ditegakkan tanpa memandang perbedaan suku, ras, etnik, agama dan kepercayaan/keyakinan tertentu.

Dalam dokumen BAB 3: MENGENAL HAK ASASI MANUSIA (Halaman 49-55)

Dokumen terkait