• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Mengajukan Permohonan Perhutanan

Dalam dokumen ADVOKASI LINGKUNGAN SUMBER DAYA ALAM (Halaman 112-122)

HPHD diajukan kepada Menteri atau gubernur. Permohonan IUPHKm diajukan kepada Menteri atau gubernur Permohonan IUPHHK-HTR diajukan kepada Menteri atau gubernur Permohonan kemitraan kehutanan diajukan kepada Menteri HPHD berlaku untuk jangka waktu 35 tahun, dilakukan evaluasi setiap 5 tahun dan tidak dapat diwariskan. IUPHKm berlaku untuk jangka waktu 35 tahun, dilakukan evaluasi setiap 5 tahun dan tidak dapat diwariskan. IUPHHK-HTR berlaku untuk jangka waktu 35 tahun, dilakukan evaluasi setiap 5 tahun dan tidak dapat diwariskan.

Mekanisme Mengajukan

Permohonan Perhutanan

Sosial

Permohonan HPHD, IUPHKm, dan IUPHHK-HTR

Prosedur pengajuan Hak Pengusahaan Hutan Desa (HPHD), Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan

(IUPHKm), dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) secara umum sama. Yang membedakan adalah masalah siapa yang dapat menjadi pemohon serta syarat administratif apa saja yang harus dipenuhi.

Permohonan dapat diajukan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) maupun gubernur. Permohonan yang diajukan kepada Menteri, akan ditindaklanjuti oleh Direktur Jenderal, dalam hal ini Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL).3

Sebelum mengajukan

permohonan perhutanan sosial, perlu diperhatikan terlebih dahulu subjek pemohon dan syarat administratif yang disajikan dalam tabel berikut ini.

3 Sesuai dengan fungsi Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, dapat dilihat pada http:// pskl.menlhk.go.id/profil.html.

112

Tabel 7.2

Perbedaan Subjek Pemohon dan Syarat Administratif dalam Pengajuan HPHD, IUPHKm, dan IUPHHK-HTR

HPHD IUPHKm IUPHHK-HTR

Pemohon Permohonan diajukan oleh satu atau beberapa lembaga desa dan diketahui oleh satu atau beberapa kepala desa yang bersangkutan. Lembaga desa dapat membentuk: • Koperasi desa;

atau

• Badan usaha milik desa setempat. • Ketua kelompok masyarakat; • Ketua gabungan kelompok tani hutan; atau • Ketua koperasi. • Perorangan yang merupakan petani hutan; • Kelompok tani hutan; • Gabungan kelompok tani hutan; • Koperasi tani hutan; • Perseorangan yang memperoleh pendidikan kehutanan atau bidang ilmu lainnya yang pernah sebagai pendamping atau penyuluh yang pernah bekerja di bidang kehutanan dengan membentuk kelompok atau koperasi bersama masyarakat setempat. Syarat Adminis-tratif Peraturan desa tentang pembentukan lembaga desa atau peraturan adat atau peraturan masyarakat adat tentang pembentukan lembaga adat yang diketahui oleh kepala desa/lurah; Keputusan kepala desa tentang struktur organisasi lembaga desa, Daftar nama masyarakat setempat calon anggota kelompok HKm yang diketahui oleh kepala desa/ lurah;

Gambaran umum wilayah, antara lain keadaan fisik wilayah, sosial ekonomi, dan potensi kawasan; Peta usulan lokasi minimal skala Daftar nama masyarakat setempat calon anggota kelompok HTR yang diketahui oleh kepala desa/ lurah atau akta pendirian koperasi, daftar nama anggota, kartu tanda penduduk, atau keterangan domisili untuk koperasi; Gambaran umum wilayah, antara lain keadaan fisik wilayah, sosial

HPHD IUPHKm IUPHHK-HTR koperasi desa atau

badan usaha milik desa;

Gambaran umum wilayah, antara lain keadaan fisik wilayah, sosial ekonomi, dan potensi kawasan; Peta usulan lokasi minimal skala 1:50.000 berupa dokumen tertulis dan salinan elektronik dalam bentuk shape file.

1:50.000 berupa dokumen tertulis dan salinan elektronik dalam bentuk shape file.

ekonomi, dan potensi kawasan; Peta usulan lokasi minimal skala 1:50.000 berupa dokumen tertulis dan salinan elektronik dalam bentuk shape file.

Setelah memperhatikan perbedaan di atas, berikut dijelaskan prosedur selanjutnya untuk mengajukan hak. Untuk permohonan perhutanan sosial yang diajukan kepada Menteri, berikut tata cara dan prosesnya:

1. Permohonan dapat difasilitasi oleh Kelompok Kerja

Percepatan Perhutanan Sosial (Pokja PPS). Permohonan yang diajukan kepada Menteri dengan tembusan kepada: • Gubernur

• Bupati/walikota • Kepala Unit Pelaksana

Teknis • Kepala KPH

2. Direktur Jenderal melakukan

verifikasi kelengkapan

syarat administrasi dalam

waktu 2 (dua) hari kerja. Apabila kelengkapan syarat administrasi tidak terpenuhi, Direktur Jenderal mengembalikan permohonan kepada pemohon untuk dilengkapi paling lambat 7 (tujuh) hari sejak permohonan dikembalikan. Setelah syarat administrasi terpenuhi, permohonan diajukan kembali kepada Direktur Jenderal dengan tembusan Menteri. 3. Direktur Jenderal menyatakan

persyaratan administrasi lengkap dan paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari kerja memerintahkan kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk

melakukan verifikasi teknis.

4. Kepala UPT dalam waktu 1 (satu) hari kerja sejak diterimanya perintah dari Direktur Jenderal membentuk

114

Tim Verifikasi, yang akan

melaksanakan tugas dalam jangka waktu 7 (tujuh hari) kerja sejak dibentuknya. 5. Tim Verifikasi melaporkan

hasil verifikasi kepada

Kepala UPT yang selanjutnya

menyampaikan hasil verifikasi

kepada Direktur Jenderal. 6. Apabila hasil verifikasi telah

memenuhi persyaratan paling lambat 5 (lima) hari kerja

sejak hasil verifikasi diterima,

Direktur Jenderal atas nama Menteri menerbitkan keputusan tentang pemberian HPHD/IUPHKm/IUPHHK-HTR. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, permohonan perhutanan sosial dapat diajukan kepada gubernur. Berikut dirinci tata cara dan proses permohonan perhutanan sosial kepada gubernur.

1. Permohonan diajukan kepada Gubernur dengan tembusan (dapat disampaikan secara

online) kepada: • Menteri • Bupati/walikota • Kepala UPT • Kepala KPH 2. Terhadap permohonan di atas, kepala dinas melakukan

verifikasi kelengkapan syarat

administrasi dalam waktu 2 (dua) hari kerja. Apabila syarat administrasi tidak terpenuhi, dalam 2 (dua) hari kerja

kepala dinas mengembalikan permohonan kepada

pemohon. Pemohon wajib melengkapi paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan dikembalikan. Setelah syarat administrasi terpenuhi, permohonan diajukan kembali kepada kepala dinas dengan tembusan kepada gubernur. 3. Kepala dinas menyatakan

persyaratan administrasi lengkap dan melakukan

verifikasi teknis paling lambat

7 (tujuh) hari kerja.

4. Apabila hasil verifikasi telah

memenuhi persyaratan, kepala dinas menyiapkan konsep keputusan gubernur tentang pemberian HPHD/IUPHKm/ IUPHHK-HTR paling lambat 3

(tiga) hari kerja sejak verifikasi

diterima.

5. Gubernur menerbitkan pemberian HPHD/IUPHKm/ IUPHHK-HTR paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak konsep keputusan diterima.

6. Jika dalam jangka waktu tersebut gubernur tidak menerbitkan pemberian HPHD/ IUPHKm/IUPHHK-HTR, Direktur Jenderal atas nama Menteri dalam waktu 3 (tiga) hari kerja meminta keterangan kepada gubernur. Jika

gubernur tidak memberikan keterangan dalam 5 (lima hari kerja), Direktur Jenderal dalam

2 (dua) hari kerja meminta kepada kepala dinas hasil

verifikasi teknis. Kepala dinas

dalam waktu 3 (tiga) hari kerja

menyerahkan hasil verifikasi

kepada Direktur Jenderal.

Berdasarkan hasil verifikasi

ini, Direktur Jenderal atas nama Menteri dalam waktu 5 (lima) hari kerja menerbitkan

keputusan tentang pemberian HPHD/IUPHKm/IUPHHK-HTR. 7. Khusus untuk IUPHKm, dalam

hal pemberian IUPHKm berada dalam hutan produksi, keputusan pemberian

IUPHKm sekaligus merupakan pemberian izin usaha

pemanfaatan hasil hutan kayu.

Gambar 7.1 Tata Cara Permohonan HPHD

Gambar 7.2 Tata Cara Permohonan IUPHHK-HTR

116

118

Permohonan Pelaksanaan Kemitraan Kehutanan

Permohonan pelaksanaan kemitraan kehutanan berbeda dengan perhutanan sosial jenis lainnya. Seperti sudah disebutkan dalam Tabel 1 di atas, kemitraan kehutanan merupakan kerja sama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang izin usaha pemanfaatan hutan/jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan, atau pemegang izin usaha industri primer hasil hutan. Tata cara pelaksanaan kemitraan kehutanan adalah sebagai berikut.

1. Pengelola atau pemegang izin memohon kepada Menteri untuk melakukan kemitraan dengan masyarakat setempat dengan tembusan kepada Direktur Jenderal dan gubernur.

2. Dilakukan pemeriksaan kelengkapan persyaratan masyarakat setempat yang akan bermitra dengan pengelola hutan atau pemegang izin oleh instansi calon mitra.

3. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, pengelola hutan atau pemegang izin bersama masyarakat calon mitra menyusun naskah

kesepakatan kerja sama yang dapat dibantu oleh Pokja PPS

dengan melibatkan lembaga desa dan pihak lain yang dipilih dan disepakati oleh masyarakat setempat. 4. Naskah kesepakatan kerja

sama ditandatangani oleh pengelola hutan/pemegang izin dengan pihak yang bermitra diketahui oleh kepala desa atau camat atau lembaga adat setempat.

5. Naskah kesepakatan kerja sama dilaporkan oleh pengelola hutan/pemegang izin kepada Direktur Jenderal dengan tembusan:

• Direktur Jenderal yang membidangi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem atau Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

• Gubernur atau bupati/ walikota

• Kepala dinas provinsi • Kepala UPT atau kepala UPT

terkait

Permohonan Hutan Adat

Pengajuan hutan adat mengacu kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.

P32/Menlhk-120

Setjen/2015 tentang Hutan Hak. Prosedur mengajukan hutan hak adalah sebagai berikut.

1. Masyarakat hukum adat, perseorangan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dalam kelompok atau badan hukum (dapat berbentuk koperasi yang dibentuk masyarakat setempat) mengajukan permohonan penetapan kawasan hutan hak kepada Menteri.

2. Menteri melakukan verifikasi

dan validasi dengan mengacu kepada pedoman yang disusun dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal dengan melibatkan para pemangku kepentingan.

3. Berdasarkan hasil verifikasi

dan validasi, Direktur Jenderal

atas nama Menteri dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja menetapkan hutan hak sesuai dengan fungsinya. Areal hutan hak yang telah ditetapkan dicantumkan dalam peta kawasan hutan.

Syarat permohonan penetapan hutan adat meliputi:

• Terdapat masyarakat hukum adat atau hak ulayat yang telah diakui oleh pemerintah daerah melalui produk hukum daerah.

• Terdapat wilayah adat yang sebagian atau seluruhnya berupa hutan.

• Surat pernyataan dari

masyarakat hukum adat untuk menetapkan wilayah adatnya sebagai hutan

8

Memperkuat Hak atas

Dalam dokumen ADVOKASI LINGKUNGAN SUMBER DAYA ALAM (Halaman 112-122)