• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Hukum dan HAM di Bidang Akuakultur

Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) adalah tanggung jawab Negara. Hal ini ditegaskan di dalam konstitusi Pasal 28i ayat (4) UUD RI 1945. Selanjutnya, pada ayat (5) dinyatakan untuk menegakkan dan melindungi HAM sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan HAM dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Kewajiban serupa juga ditegaskan di berbagai konvensi internasional tentang HAM, baik di tingkat internasional maupun regional.

Konvensi Ekonomi Sosial Budaya (KIHESB) pada Pasal 1 ayat (1) menekankan kewajiban negara pihak untuk mengambil langkah-langkah, baik secara individual maupun melalui bantuan dan kerja sama internasional, khususnya di bidang ekonomi dan teknis sepanjang tersedia sumber dayanya, dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh, termasuk dengan pengambilan langkah-langkah legislatif. Jaminan pelaksanaan hak terhadap tanah dan SDA oleh Negara harus dilakukan tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun.

Sejak era kolonial sampai Orde Baru, bahkan hingga era Presiden Habibie, persoalan kelautan selalu berada di bawah naungan kelembagaan selevel Direktorat Jenderal (Dirjen) pada Departemen Pertanian. Perikanan hanya menjadi “pelengkap”, belum menjadi salah satu fokus dan prioritas kebijakan Pemerintah. Sampai kemudian dibentuk Kementerian Kelautan

dan Perikanan pada era presiden Abdurrahman Wahid tahun 1999. Sejak KKP didirikan, arah kebijakannya menjadi lebih fokus dengan cakupan yang lebih luas. Dengan semangat sustainable development, Pemerintah di sektor kelautan dan perikanan fokus pada sejumlah isu penting. Pertama, harmonizing economy growth dengan kesejahteraan. Kedua, social equity, dengan mengupayakan kue pertumbuhan ekonomi didesain supaya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya oleh segelintir orang atau kelompok saja. Ketiga, menekankan dimensi lingkungan atau environmental sustainability dalam tata kelola sektor kelautan dan perikanan.

Namun demikian, jika pertumbuhan ekonomi dibiarkan tanpa arah kebijakan yang jelas dan terukur, maka tidak akan pernah bisa dibagi dengan rakyat kecil seperti petambak, penggarap, dan sebagainya. Sekalipun Pasal 33 UUD 1945 dengan jelas mengatakan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pasal ini sejalan dengan UU No. 5 Tahun 1960 khususnya Pasal 1 ayat (1), Pasal 2, dan Pasal 3, yang menegaskan seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air (bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kekayaan nasional, digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, kesejahteraan, dan kemerdekaan masyarakat.

Karena itu, agar ekonomi bertumbuh dan kesejahteraan dinikmati oleh rakyat secara berkelanjutan, perlu ada regulasi yang jelas dan dapat menjamin perlindungan dan penikmatan HAM dan kelestarian lingkungan hidup. Namun, sejauh ini legislasi negara menyangkut perikanan masih dirasa sangat kurang, tidak selaras dengan rencana pemerintah dalam menaikan produksi udang. Baik di subsektor perikanan tangkap ataupun budidaya, banyak aspek yang belum terakomodir dalam regulasi di tingkat nasional maupun lokal.

Terlebih dalam konteks perikanan budidaya, kualitas regulasinya masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan perikanan tangkap.

Regulasi yang berkaitan langsung dengan perikanan budidaya sedikitnya merujuk pada tiga undang-undang (UU), yaitu UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 tahun 2004 Tentang Perikanan, UU No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan UU No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Di samping itu, terdapat UU Lingkungan Hidup yang dapat dan harus dirujuk untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dalam bisnis akuakultur. UU Tata Ruang dan ada UU sektoral lainnya, seperti UU No. 41 Tahun 1999 sepanjang berkaitan dengan kawasan hutan.

UU No. 31 Tahun 2007 sendiri juga telah mengatur perlindungan terhadap wilayah pesisir, di antaranya terkait larangan-larangan merusak mangrove.

Sementara itu, perlindungan terhadap buruh akuakultur hanya merujuk kepada UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang bersifat umum. Tidak ada pengaturan khusus

menyangkut perlindungan buruh di sektor budidaya, baik di level UU maupun peraturan yang lebih teknis di level kementerian. Terkait perlindungan pembudidaya, disamping merujuk pada pada UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, juga sudah cukup tersedia di dalam UU No. 7 Tahun 2016. UU Ini memuat skema perlindungan Negara terhadap petambak, dengan memastikan adanya fasilitasi yang mendukung kepastian usaha para pelaku usaha tambak atau produsen udang, melalui skema pemberdayaan, pemberian asuransi, dan lain-lain.

Tetapi di lapangan, kebijakan ini tidak berjalan secara optimal.69

Secara kesuluruhan, setidaknya terdapat 28 regulasi atau pengaturan terkait perikanan budidaya, baik Undang-Undang, Peraturan Pemerintah hingga Peraturan Menteri, sebagaimana tersaji dalam Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Regulasi terkait Bisnis dan HAM berkaitan langsung dengan perikanan dan akuakultur

NO UU/PP/PERMEN TENTANG

1 UU No. 7 Tahun 2016 Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam

2 UU 1 Tahun 2014 Perubahan UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

3 UU 45 Tahun 2009 Perubahan atas Undang-Undang 31 tahun 2004 Tentang Perikanan

4 UU 11 Tahun 2020 Cipta Kerja*

5 PP 27 Tahun 2021 Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan 6 PP No. 28 Tahun 2017 Pembudidayaan Ikan

7 Permen KKP No. 19 TAHUN 2021 Tentang Penebaran Kembali dan Penangkapan Ikan Berbasis Budidaya

8 Permen KKP No. 6/PERMEN KP/2020 Penyelenggaraan Kesejahteraan Ikan pada Budidaya Ikan 9 Permen KKP No. PER.18/MEN/2016 Jaminan Perlindungan atas Risiko Kepada Nelayan,

Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam

10 Permen KKP No. PER.23/MEN/2016 Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

11 Permen KKP No. PER.35/MEN/2016 Cara Pembenihan Ikan yang Baik

12 Permen KKP No. 75/PERMEN-KP/2016 Pedoman Umum Pembesaran Udang Windu (Peneus Monodon) dan Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) 13 Permen KKP No. 15/PERMEN-KP/2014 Pedoman Umum Moniotoring, Evaluasi dan Pelaporan

Minapolitan

14 Permen KKP No. 24/PERMEN-KP/2014 Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik 15 Permen KKP No. PER.49/MEN/2014 Usaha Pembudidayaan Ikan

16 Permen KKP No. PER.04/MEN/2013 Perubahan atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per. 04-KP/2012 tentang Obat Ikan

17 Permen KKP No. PER.04/MEN/2012 Obat Ikan

18 Permen KKP No. 18/PERMEN-KP/2012 Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Kawasan Minapolitan

69 Hasil wawancara dengan informan

NO UU/PP/PERMEN TENTANG 19 Permen KKP No. 12/PERMEN-KP/2010 Minapolitan

20 Permen KKP No. PER.15/MEN/2011 Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang Masuk ke Dalam Wilayah Republik Indonesia

21 Permen KKP No. PER.16/MEN/2011 Analisis Risiko Importasi Ikan dan Perikanan 22 Permen KKP No. PER.02/MEN/2010 Pengadaan dan Peredaran Pakan Ikan 23 Permen KKP No. PER.05/MEN/2009 Skala Usaha di Bidang Pembudidaya Ikan

24 Permen KKP No. PER.29/MEN/2008 Persyaratan Pemasukan Media Pembawa Berupa Ikan Hidup 25 Permen KKP No. PER.02/MEN/2007 Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi dan

Kontaminan pada Pembudidaya Ikan

26 Permen KKP No. PER.14/MEN/2007 Keadaan Kritis yang Membahayakan atau dapat Membahayakan Sediaan Ikan, Species Ikan atau Lahan Pembudidayaan

27 Permen KKP No. PER.15/MEN/2005 Penangkapan Ikan dan/atau Pembudidayaan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan RI yang Bukan untuk Tujuan Komersial 28 Permen KKP No. 39/PERMEN-KP/2005 Pengendalian Residu Obat Ikan, Bahan Kimia dan Kontaminan

Pada Kegiatan Pembudidayaan Ikan Konsumsi

*mengikuti putusan MK No.91/PUU-XVIII/2020, UU Cipta Kerja ini harus diperbaiki dalam jangka waktu selama 2 tahun

Jika diperhatikan, kebijakan-kebijakan di atas umumnya berfokus pada teknis budidaya. Tidak banyak menyentuh akpek HAM, keadilan gender dan lingkungan. Beberapa aturan teknis tentang yang menyentuh lingkungan juga lebih pada teknis budidaya dan belum meletakan lingkungan sebagai sebuah landscape. Meskipun demikian, beberapa orang beranggapan keberadaan tiga UU (UU No. 7 Tahun 2016, UU 1 Tahun 2014 dan UU 45 Tahun 2009) dan peraturan turunannya dianggap cukup melindungi aktor atau pelaku usaha tambak udang, baik dari sisi teknis, ruang, maupun sosial ekonomi. Sebagai contoh, UU Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang menjamin usaha budidaya di wilayah atau kawasan tertentu yang ditetapkan sebagai zonasi (RZWP3K). Zonasi tersebut dimaksudkan untuk 3 hal, yaitu: memastikan tersedianya kawasan lindung pada setiap wilayah pembangunan nasional dan lokal (provinsi dan kabupaten/kota) (minimal 30 persen menurut UU Tata Ruang). Di situ ada proteksi terhadap sektor budidaya. Ada juga upaya melindungi tambak udang dari segi pencemaran melalui kewajiban menerapkan AMDAL sebelum membangun untuk memastikan dampak lingkungan oleh sektor tambak dapat dikelola dengan baik.70

Namun demikian, temuan di lapangan justru menunjukan berbagai persoalan dalam bisnis budidaya yang masih belum tertangani dengan baik. Masalah-masalah ini tidak lepas dari lemahnya regulasi dan implementasinya. Untuk menelisik lebih jauh, ragam kebijakan tersebut akan dianalisis dari 3 aspek, yaitu hak asasi manusia, lingkungan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.

70 Wawancara dengan informan