BAB IV YURISDIKSI INDONESIA ATAS PELANGGARAN
C. Mekanisme Penegakan Hukum Terhadap Warga Negara
Setiap warga negara asing yang datang ke Indonesia dan telah memperoleh izin untuk tinggal dengan batas waktu tertentu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Namun tetap saja ada pendatang yang menyalahgunakan izinnya atau melanggar batas waktu izin tinggal yang telah diberikan oleh pihak imigrasi atau disebut juga overstay.
Adapula hal-hal yang dilakukan oleh pihak berwenang dalam melaksanakan penegakan hukum terhadap warga negara asing yang melakukan pelanggaran overstay. Pengaturan untuk menghindari terjadinya perbuatan melampaui batas waktu izin tinggal oleh orang asing yang berada di Indonesia kebijakan hukumnya dapat diarahkan sebagai berikut:
1. Perbuatan melampaui batas waktu izin tinggal berada dalam domain pelanggaran hukum administratif, sehingga proses penegakan hukumnya berada di luar sistem peradilan pidana, dengan bentuk keputusan pejabat imigrasi.
2. Kriteria dan pertimbangan pengenaan jenis-jenis tindakan keimigrasian diatur secara ketat demi menjaga terwujudnya prinsip keadilan, kepastian hukum dan persamaan di muka hukum. Namun demikian sebagai bentuk keputusan administratif, tetap ada diskresi pejabat imigrasi untuk menilai secara langsung duduk perkara dan alasan-alasan lain yang melatarbelakangi terjadinya pelanggaran melampaui batas waktu izin tinggal kasus per kasus.
3. Mekanisme keberatan atas keputusan administratif disusun sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku dalam hukum administrasi negara (tata usaha negara).
4. Perluasan jenis tindakan keimigrasian dengan mencantumkan pengenaan denda (biaya beban) pada perumusan.saksi atas perbuatan pelanggaran melampaui batas waktu izin tinggal. Denda yang selama ini merupakan bentuk pidana ditarik menjadi salah satu bentuk tindakan keimigrasian.
Denda tersebut setelah setuju dibayarkan menjadi Pemerintahan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang harus disetorkan ke Rekening kas Negara.
5. Upaya preventif terhadap pelanggaran melampaui batas waktu dilakukan oleh sistem informasi keimigrasian yang dilakukan pada saat pengajuan permohonan visa dan izin tinggal, serta sistem peringatan ketika orang asing tersebut berada di Indonesia74
Selain kebijakan hukum diatas adapula.Tindakan Keimigrasian atau Tindakan Administratif di luar Sistem Peradilan Pidana, dan aspek penegakan hukum secara pro yustitia (proses peradilan) yang termasuk di dalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System). Keseluruhan peraturan perundang-undangan keimigrasian pada dasarnya termasuk dalam keluarga Hukum Administrasi, oleh karenanya Penalisasi dalam UndangUndang Keimigrasian dapat dibenarkan (Administrative Penal Law), secara umum biasanya sanksi penal dalam Hukum Administratif adalah ringan, namun dalam kenyataannya sanksi pidana dalam Undang-Undang Keimigrasian
74 Muhammad Indra, “Perspektif Penegakan Hukum dalam Sistem Hukum Keimigrasian Indonesia”, Disertasi, Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 23 Mei 2008),hal 124.
karena memuat ancaman sanksi pidana penjara dan sebagian besar digolongkan sebagai tindak pidana kejahatan yang dianggap berat. Beberapa pertimbangan yang menyebabkan sanksi pidana dalam Undang- Undang Keimigrasian yang termasuk dalam Hukum Administratif di mana ancaman pidananya tergolong berat, tidak ringan sebagaimana lainnya, yaitu:
1. Keimigrasian berkaitan erat dengan penegakan kedaulatan negara, ketentuan-ketentuan keimigrasian merupakan bagian dari instrumen penegakan Kedaulatan Negara.
2. Keimigrasian berkaitan erat dengan Sistem Keamanan Negara, aspek keimigrasian terkait langsung dengan kegiatan intelijen, dukungan terhadap penegakan hukum secara umum misalnya pemeriksaan terhadap pelaku kejahatan dan sebagainya.
3. Keimigrasian berkaitan dengan aspek pencapaian kesejahteraan masyarakat, melalui pelayanan keimigrasian terhadap para wisatawan, investor asing dan lain-lain kegiatan yang mempunyai dampak langsung ataupun tidak langsung dalam rangka Pembangunan Nasional.
4. Keimigrasian berkaitan dengan hubungan internasional baik dalam bentuk pelayanan maupun penegakan hukum ataupun dalam bentuk kerjasama secara bilateral maupun internasional.
5. Keimigrasian berkaitan langsung dengan upaya-upaya memerangi kejahatan yang bersifat terorganisir dengan scope international, sesuai dengan konvensikonvensi PBB, termasuk dalam hal penanganan refugee dan asylum seekers.
6. Keimigrasian berkaitan dengan tuntutan universal, mengenai hak-hak sipil dan hak-hak asasi manusia yang sudah berlaku secara universal.75
Berdasarkan hal-hal di atas pertimbangan mengenai sanksi pidana dalam Undang-Undang Keimigrasian yang digolongkan ke dalam rumpun hukum administratif menjadi sesuatu yang khusus dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan lainnya yang sejenis dalam hukum administratif. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian diatur mengenai kewajiban, yaitu setiap orang asing yang berada di wilayah Indonesia wajib:
1. Memberikan keterangan yang diperlukan mengenai identitas diri dan atau keluarganya.
2. Perubahan status sipil dan kewarganegaraannya serta perubahan alamatnya. Yang dimaksud status sipil dalam kalimat ini adalah perubahan yang menyangkut perkawinan, perceraian, kematian, kelahiran anak, pindah pekerjaan dan berhenti dari pekerjaan. Pengawasan orang asing dilaksanakan dalam bentuk dan cara:
a. Pengumpulan dan pengolahan data orang asing yang masuk atau keluar wilayah Indonesia.
b. Pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia.
c. Pemantauan, pengumpulan dan pengolahan bahan keterangan dan informasi mengenai kegiatan orang asing. Yang dimaksud dengan pemantauan dalam kalimat ini adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan
75 M. Imam Santoso, Prospek UndangUndang Keimigrasian Indonesia dalam Kaitannya dengan Konvensi PBB Menentang Kejahatan Transnasional Terorganisasi dan Protokolnya, Disertasi, Progam Doktor, Program Pascasarjana, (Universitas Padjadjaran, Bandung, 2006), hal, 223.
untuk mengetahui secara dini peristiwa-peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran keimigrasian.
d. Penyusunan daftar nama-nama orang asing yang tidak dikehendaki masuk atau keluar wilayah Indonesia.
e. Kegiatan lainnya.
Pengawasan orang asing pada dasarnya mencakup pengawasan yang bersifat administratif yaitu termasuk di dalam hal pengumpulan dan pengolahan data keluar masuk orang asing di wilayah Indonesia. Kemudian, pengawasan yang bersifat operasional, pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan secara terkoordinasi.
Ada dua hal yang menjadi sasaran pengawasan terhadap orang asing di Indonesia, yaitu pengawasan terhadap keberadaannya (secara immigratoir) dan pengawasan terhadap kegiatan orang asing selama berada di Indonesia.
Aspek pengawasan kegiatan orang asing memerlukan suatu kegiatan terkoordinir antar instansi dalam hal pelaksanaan pengawasannya. Menteri Kehakiman selaku koordinator Tingkat Pusat (Nasional) bersama badan atau instansi pemerintah lainnya yang terkait sebagai pelaksana pengawasan orang asing secara terkoordinasi yang disebut Koordinasi Pengawasan Orang Asing (SIPORA). Pada dasarnya pengawasan orang asing menjadi tanggung jawab Menteri Kehakiman dalam hal ini Pejabat Imigrasi selaku operator pelaksana.
Mekanisme pelaksanaannya harus dilakukan dengan mengadakan koordinasi dengan badan atau instansi pemerintah yang bidang tugasnya menyangkut orang asing, badan atau instansi tersebut antara lain Departemen Luar Negeri,
Departemen Dalam Negeri, Departemen Pertahanan Keamanan, Departemen Tenaga Kerja, Kejaksaan Agung, Badan Intelijen Negara dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Koordinasi Pengawasan Orang Asing (SIPORA) dilakukan secara terpadu, dan SIPORA dibentuk di tingkat Pusat, di tingkat Propinsi dan di tingkat daerah. Penegakan Hukum merupakan penyelenggaraan hukum oleh petugas penegak hukum oleh orang-orang yang berkepentingan sesuai dengan kewenangan masing-masing menurut aturan hukum yang berlaku. Sedangkan implementasi penegakan hukum keimigrasian sesuai dengan aturan hukum yang ada adalah berupa tindakan yang bersifat administratif dan tindakan melalui proses peradilan (pro justitia). Sedangkan petugas penegak hukum keimigrasian ditentukan oleh UndangUndang adalah Pejabat Imigrasi yang dalam hal ini sekaligus sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil Keimigrasian (PPNS Imigrasi). Dalam prosesnya maka penegakan hukum keimigrasian dimulai dari titik tolak hal ikhwal keimigrasian yang meliputi pengawasan terhadap lalu lintas orang yang masuk dan keluar wilayah negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. Disebutkan dalam Pasal 18 Undang-Undang Keimigrasian Nomor 9 Tahun 1992 secara spesifik mengenai pengawasan orang asing ada tiga hal sebagai berikut:
1. Masuk dan keluarnya orang asing ke/dari wilayah Indonesia.
2. Keberadaan orang asing di wilayah Indonesia.
3. Kegiatan orang asing di wilayah Indonesia.
Instrumen penegakan hukum dalam hal pengawasan lalu lintas orang antar negara adalah: 76
1. Dilakukan penolakan untuk masuk terhadap orang yang terkena penangkalan khususnya orang asing dan dapat berlaku juga terhadap warga negara Indonesia (yang terkena penangkalan).
2. Dilakukan penolakan untuk berangkat keluar negeri terhadap orang-orang yang terkena pencegahan berlaku terhadap orang Indonesia maupun orang asing.
3. Dilakukan proses keimigrasian apabila pada saat pemeriksaan kedatangan maupun keberangkatan, diketemukan orang-orang yang diduga melakukan pelanggaran hukum keimigrasian, misal: visa palsu, izin keimigrasian yang tidak beriaku lagi, paspor palsu (termasuk pengertian pemalsuan baik sebagian ataupun seluruhnya dari suatu dokumen). Ketiga hal tersebut di atas adalah suatu proses awal dari upaya penegakan hukum keimigrasian pada saat dilakukan pemeriksaan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi. Dalam rangka pengawasan orang asing yang menyangkut aspek keberadaan dan pengawasan dan kegiatan orang asing, oleh masing-masing Kantor Imigrasi dilakukan kegiatan Pemantauan terhadap Orang Asing yang berada di wilayah kerjanya, baik pengawasan dari aspek keberadaan maupun dari aspek kegiatan.
76 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1994 tentang Pengawasan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Yurisdiksi Indonesia dalam mengatur wilayah negaranya menurut Hukum Internasional berdasarkan prinsip dasar kedaulatan. Kedaulatan negara Indonesia sebagai negara yang berdaulat menjalankan yurisdiksi negaranya berdasarkan yurisdiksi teritorial, yurisdiksi kuasi teritorial, yurisdiksi ekstra teritorial, dan yurisdiksi universal. Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933, bahwa salah satu unsur yang harus dipenuhi oleh suatu negara adalah adanya wilayah yang tetap (a permanent territory) yang merupakan unsur mutlak yang harus ada dan terdiri dari tanah (daratan), laut, udara.
2. Overstay atau melebihi batas waktu izin tinggal ini disebabkan oleh Warga Negara Asing yang melanggar batasan waktu yang telah diberikan pihak keimigrasian,dan apabila izin keimigrasiannya habis berlaku dan WNA tersebut masih berada dalam wilayah Indonesia melampaui 60 (enam puluh) hari dari batas waktu izin yang diberikan, maka orang asing tersebut akan dikenakan pidana pasal 24 Undang-Undang Keimigrasian No 6 Tahun 2011, dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000-, (dua puluh lima juta rupiah).
3. Dalam menangani permasalahan overstay yang dilakukan oleh warga negara asing terdapat kebijakan-kebijakan hukum yang dapat diterapkan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Selain kebijakan hukum
adapula.Tindakan Keimigrasian atau Tindakan Administratif di luar Sistem Peradilan Pidana, dan aspek penegakan hukum secara pro yustitia (proses peradilan) yang termasuk di dalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System).
B. Saran
1. Dengan begitu banyak pendatang yang datang ke Indonesia harusnya yurisdiksi indonesia tentang wilayah kedaulatan teritorial lebih diperketat dan dijelaskan terhadap luas sehingga dapat mengurangi pelanggaran yang terjadi disebabkan oleh dilanggarnya wilayah teritorial Indonesia yang meliputi daratan,lautan,dan udara yang telah ditetapkan sesuai yurisdiksi Indonesia
2. Pihak imigrasi harusnya lebih mendata dengan baik Warga Negara Asing yang melanggar dalam hal penyalahgunaan izin tinggal, melebihi batas waktu izin tinggal (overstay), dan tidak memiliki izin tinggal (illegal stay). Kurangnya pendataan dan pengawasan mengakibatkan masih banyak Warga Negara Asing yang telah habis izin tinggalnya namun bebas berkeliaran tanpa pengawasan sehingga dapat menjadi faktor dalam mengganggu keamanan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
3. Terhadap pelanggaran overstay yang terjadi di Indonesia seharusnya dilakukan tindakan keimigrasian sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan Warga Negara Asing tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Abdurrasjid, Priyatna. Kedaulatan Negara Di Ruang Udara. Jakarta: Pusat Penelitian Hukum Angkasa
Adolf, Huala. 2011. Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional. Bandung:
Keni Media
Anwar, Chairul. 1995. Zona Ekonomi Ekslusif Di Dalam Hukum Internasional.
Jakarta: Sinar Grafika
Anwar, Khaidir. 2011. Hukum Internasional II. Bandar Lampung: Universitas Lampung
Bhakti, Yudha. 2003. Hukum Internasional: Bunga Rampai. Bandung: Alumni Green, N.A. Maryan. 1978. International Law Peace
Hollick, Ann L. 1981. U.S Foreign Policy And The Law Of The Sea. Princeton:
New Jersey
Harris, D.J. 1979. Cases And Materials On Internationl Law. London: Sweet And Maxwell
Mauna, Boer. 2011. Hukum Internasional Pengertian Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Bandung: Alumni
Santoso, M.Iman. 2007. Perspektif Imigrasi. Jakarta: Reka Cipta
Sefriani. Hukum Internasional Suatu Pengantar Edisi Kedua. PT. Rajagrafindo Persada
Shaw. 1986. International Law. London: Butterworths
Sihombing, Sihar. 2003. Hukum Keimigrasian Dalam Hukum Indonesia.
Bandung: Nuansa
Starke, J.G. 1999. Pengantar Hukumm Internasional. Jakarta: Sinar Grafika Supramono, Gatot. 2007. Hukum Orang Asing Di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika
Peraturan Perundang-undang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1976 Tentang Pengesahan Konvensi Tokyo 1963, Konvensi The Hague 1970, Dan Konvensi Montreal 1971.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1994 tentang Pengawasan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian.
Jurnal dan artikel
Allam Izza Naufal. “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Tinggal Oleh Warga Negara Asing (Studi Kasus Di Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta)”. Jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2018. Hal 8
Dickinson. “Introductory Comment To The Harvard Research Draft Convention On Jurisdiction With Respect To Crime 1935”,29 A.J.I.L., Supp.44 (1935), Sebagaimana Dikutip Oleh D.J. Harris. Cases And Materials On International Law. Edisi Ke-3. 1983. Hal
Desi Setiawati,. Penegakan Hukum Terhadap Warga Negara Asing (Wna) Yang Melanggar Izin Tinggal Di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011”. Jurnal Hukum Unnes”. 2015. Hal. 2-3
Dian Khoreanita Pratiwi. “PELAKSANAAN PRINSIP YURISDIKSI
UNIVERSAL MENGENAI PEMBERANTASAN KEJAHATAN
PEROMPAKAN LAUT DI WILAYAH INDONESIA”. Jurnal Selat, Volume 5.
Nomor 1. 2017. Hal 39.
Dickinson. “Introductory Comment To The Harvard Research Draft Convention On Jurisdiction With Respect To Crime 1935”,29 A.J.I.L., Supp.44 (1935), Sebagaimana Dikutip Oleh D.J. Harris. Cases And Materials On International Law. Edisi Ke-3. 1983. Hal
Gigih Laksono. “Tugas Dan Fungsi Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta Dalam Melaksanakan Penindakan Keimigrasian Terhadap Izin Tinggal Warga Negara Asing Di Indonesia (Study Diy)”. Jurnal Universitas Gajah Mada. 2016. Ha 2-3 Gufran Nilhalim. Jurnal Universitas Andalas. Padang. 2013. Pelaksanaan Deportasi Dalam Penanganan Kasus Warga Negara Asing Yang Telah Melebihi Batas Waktu Izin Tinggal (Overstay) Menurut Hukum Internasional Dan Hukum Nasional (Studi Kasus Di Kota Medan)
Hakim Huber Dalam Island Of Palmas Case. 2. RIA A. Hal. 829,838 (1928) Indah Susanti. “Penegakkan Hukum Atas Penyalahgunaan Ijin Tinggal Orang Asing Diwilayah Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jurnal Universitas Gajah Mada.
2014. Hal 1
Muhammad Indra, “Perspektif Penegakan Hukum dalam Sistem Hukum Keimigrasian Indonesia”. Disertasi Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Bandung. 2008.
M. Imam Santoso. Prospek UndangUndang Keimigrasian Indonesia dalam Kaitannya dengan Konvensi PBB Menentang Kejahatan Transnasional
Terorganisasi dan Protokolnya Disertasi. Progam Doktor. Program Pascasarjana.
Universitas Padjadjaran. Bandung. 2006
R.R. Churchill And A.V. Lowe. The Law Of The Sea. Manchester University Press. 1983. Hal. 77. Tentang Yurisdiksi Legislative Ini. Lihat Infra.
Website
Https://Www.Kompasiana.Com/Sitimaemunah/5bc9e4c66ddcae2a0c5ad832/Ke kayaan-Alam Indonesia?Page=All, (dikunjungi pada tanggal 1 November 2019) Apa Yang Dimaksud Dengan Overstay? Ini Penjelasannya
2016,Https://Phinemo.Com/Apa-Yang-Dimaksud-Dengan-Overstay/, (dikunjungi pada tanggal 21 Oktober 2019)
Meladi. Jakarta, 2018, Https://Kumparan.Com/Kumparantravel/Ketahui-Seluk-Beluk-Overstay-Dan-Cara-Menghadapinya-27431110790559154. (21 Oktober 2019)
Fatimah, Nur. Https://Pelayananpublik.Id/2019/08/07/Yurisdiksi-Dalam-Hukum-Internasional-Cakupan-Dan-Jenis-Perluasannya/ (dikunjungi pada tanggal 28 November 2019)
Marpaung Leonard. YURISDIKSI NEGARA MENURUT HUKUM
INTERNASIONAL, Https://Diskumal.Tnial.Mil.Id/Fileartikel/Artikel-20180511-152350.Pdf (dikunjungi pada tanggal 28 November 2019)
Wikipedia. Zona Ekonomi Ekslusif.
Https://Id.M.Wikipedia.Org/Wiki/Zona_Ekonomi_Ekslusif, (dikunjungi pada tanggal Tanggal 22 Januari 2020)
____. Http://Lawlowlew.Blogspot.Com/2013/07/Hukum-Udara-Dan-Angkasa-Kejahatan. Html Diakses 21 Januari 2020, Pukul 15.34.
Dok. 123. https://text-id.123dok.com/document/6qm69737y-ilegal-stay-pembahasan-hasil-penelitian.html, (dikunjungi pada tanggal tanggal 13 maret 2020)
Santoso, Imam. Jakarta, 2018,
https://www.neliti.com/publications/275401/kedaulatan-dan-yurisdiksi-negara-dalam-sudut-pandang-keimigrasian. (dikunjungi pada tanggal 17 April 2020) Portal Informasi Indonesia, Izin Tinggal Bagi Orang Asing di Indonesia, 2019, https://indonesia.go.id/layanan/keimigrasian/sosial/izin-tinggal-bagi-orang-asing-di-indonesia . (dikunjungi pada tanggal Tanggal 17 April 2020)