• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL TERHADAP KONFLIK LAUT

DALAM MODEL PENYELESAIAN SENGKETA TERHADAP SENGKETA LAUT CINA SELATAN

C. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Laut Cina Selatan

Sengketa Laut Cina Selatan meliputi dua aspek, yaitu; klaim jurisdiksi yang tumpang tindih dan sengketa teritorial atas kelompok pulau-pulau yang berada di tengah laut. Sengketa ini merupakan sengketa yang paling kompleks di wilayah Asia Timur ataupun dunia, dan merupakan sumber konflik berbahaya yang dapat menimbulkan konflik internasional yang serius. 172

Sejak tahun 1974 telah dilakukan pula upaya penyelesaian sengketa secara damai melalui jalur diplomatik yakni dengan melakukan negosiasi antara negara-negara yang bersengketa mengenai Laut Cina Selatan, namun tidak pernah menemukan kesepakatan antar negara-negara tersebut. Bahkan pada tahun 1995, 1996, 1998, 2000 dan 2001 telah menimbulkan kontak senjata antara negara-negara yang bersengketa dengan Tiongkok dan dalam kontak senjata ini memakan korban jiwa.173

Pada tanggal 4 November 2002, pertemuan ASEAN ke-8 dilaksanakan di Phnomphenh, Kamboja . Pada pertemuan ini ASEAN merumuskan suatu Code of Conduct dengan pihak Tiongkok mengenai sengketa Laut Cina Selatan yang mana

171

Ibid.

172

diakses pada tanggal 5 April 2015

173

dilihat sebagai suatu langkah penting kontribusi ASEAN dalm mewujudkan perdamaian dan stabilitas di wilayahnya. Sebelumnya ASEAN sudah pernah melakukan upaya yang sama pada tahun 1999 di pertemuan ke-6 ASEAN, namun perumusan Code of Conduct ini mengalami permasalahan pada negosiasi yang rumit dan hambatan pada strategi politik. Dan Code of Conduct yang dilaksanakan pada tahun 2002 juga mengalami kegagalan.174

Pendekatan melalui penyelesaian bilateral juga tidak dapat ditempuh dikarenakan Tiongkok tidak mau bekerjasama dalam mencari penyelesaian dari sengketa Laut Cina Selatan yang mana Tiongkok tidak bisa mendapatkan wilayah strategis. 175

Pada bulan Desember 2014, akhirnya negara Filipina mengambil suatu langkah perdana untuk menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan ini melalui jalur penyelesaian sengketa secara damai dengan jalur juridis yakni membawa sengketa ini ke PCA. Keputusan yang diambil oleh Filipina ini terinspirasi dari penyelesaian sengketa Teluk Benggala antara Bangladesh-India yang diputuskan oleh PCA pada tanggal 7 Juli 2014. Tiongkok sempat menolak untuk menyetujui kebijakan yang diambil oleh Filipina untuk membawa kasus ini ke hadapan PCA. Namun, kemudian Tiongkok menyetujuinya dan dalam memorialnya Tiongkok menyatakan bahwa PCA tidak mempunyai hak atas jurisdiksi Laut Cina Selatan dan dalam waktu dekat Tiongkok berencana untuk melakukan negosiasi dengan Filipina untuk menyelesaikan sengketa dengan menyatakan status wilayah yang

175 Ibid.

mereka perbutkan seharusnya sesuai dengan Pasal 122 dan 123 UNCLOS 1982 mengenai laut tertutup dan atau laut semi tertutup. Yang mana ini merupakan upaya paksa Tiongkok untuk menawarkan wilayah laut semi tertutup kepada Filipina.Hal ini dilakukan karena Tiongkok menyadari putusan PCA nantinya tidak akan memberikan keuntungan pada negaranya dalam upaya menguasai Laut Cina Selatan. Dan dengan akan dilakukannya proses negosiasi antara Tiongkok dan Filipina maka untuk sementara waktu pembahasan dan pemeriksaan oleh PCA ditangguhkan.176

176

Mark E.Rosen,JD,LLM.Op.Cit.Hal.39

Namun apabila proses negosiasi tersebut tidak berjalan lancar maka Filipina dapat kembali mengajukan penanganan sengketa ini ke PCA sesuai dengan Pasal 287 ayat (1) UNCLOS 1982 mengenai prosedur penyelesaian sengketa, ANNEX VII, Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB dan Pasal 33 Piagam PBB.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hukum internasional, penyelesaian sengketa secara damai diatur didalam Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB dan dijelaskan selanjutnya dalam Pasal 33 ayat (1) Piagam PBB mengenai cara penyelesaian sengketa secara damai. Dan penyelesaian hukum diatur di dalam Pasal 36 ayat (2) Piagam PBB. Di dalam pasal-pasal tersebut mengandung prinsip dimana masyarakat internasional untuk melakukan penyelesaian sengketa secara damai dalam mewujudkan perdamaian internasional dan keamanan serta keadilan. Mengenai penyelesaian sengketa laut internasional, diatur di dalam Pasal 287 ayat (1) UNCLOS 1982, tiap negara yang bersengketa diperbolehkan untuk memilih cara penyelesaian sengketa yang ditetapkan di dalam Pasal 287 ayat (1) UNCLOS 1982 ini dan tidak ada paksaan. Selain dari Pasal 287 ayat (1) mekanisme penyelesaian sengketa laut internasional lebih rinci diatur di dalam ANNEX V mengenai konsiliasi, ANNEX VI mengenai mahkamah laut internasional (ITLOS), ANNEX VII mengenai arbitrase, ANNEX VIII mengenai arbitrase khusus, dan ANNEX IX mengenai partisipasi oleh organisasi internasional. Penyelesaian

sengketa tidak boleh dibiarkan berlarut terlalu lama, untuk hal itu harus segera diputuskan oleh negara-negara yang bersengketa untuk memilih cara penyelesaiannya.

2. Penyelesaian sengketa dalam Resolution of Bangladesh-India Maritime Boundary pertama kali dilakukan melalui penyelesaian sengketa secara damai yakni jalur diplomatik (negosiasi). Namun, proses penyelesaian sengketa melalui proses negosiasi ini tidak berjalan lancar dan masalah Bangladesh-India mengenai delimitasi batas maritime di Teluk Benggala ini tidak dapat terselesaikan dalam kurun waktu tiga dekade lamanya. Kemudian pada tahun 2009, Bangladesh mengambil suatu kebijakan dengan memilih PCA (Permanent Court of Arbitration) sebagai pilihan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Hasil keputusan PCA dikeluarkan pada tanggal 7 Juli 2014 dimana keputusan ini diterima oleh kedua belah pihak yang bersengketa karena dirasa dapat memenuhi rasa adil dan kepentingan kedua belah pihak.

3. Penyelesaian sengketa Bangladesh-India Maritime Boundary melalui PCA (Permanent Court of Arbitration) merupakan suatu pilihan yang lebih efektif dalam menyelesaikan suatu sengketa internasional, khususnya dalam menyelesaikan sengketa laut karena waktu yang dibutuhkan lebih singkat. Hal ini dapat dilihat pada perbandingan sengketa Bangladesh-Myanmar dengan Bangladesh-India. Dan dari segi biaya dalam penyelesaiannya biaya penyelesaian sengketa ditanggung oleh pihak yang bersengketa dan ini diatur dalam Pasal 85 Konvensi Den Haag tahun 1907.

Putusan PCA bersifat final dan mengikat. Oleh karena itu penyelesaian sengketa Bangladesh-India Maritime Boundary melalui PCA dapat dijadikan role model dalam penyelesaian sengketa Laut Cina Selatan.

B. Saran

Melihat berbagai kondisi yang ada, maka penulis mengajukan beberapa saran,yakni :

a. Dalam menyelesaikan sengketa antar negara khususnya bagi negara dunia ke-3 dan mengenai sengketa laut internasional, dapat memilih Permanent Court of Arbitration. Melihat dari struktur pemilihan hakim, mahkamah arbitrase ini lebih netral dan dalam putusannya lebih dapat memberikan rasa adil , ini dilihat dari perbandingan putusan Bangladesh-India dengan Bangladesh-Myanmar yang diputuskan oleh ITLOS.

b. Sengketa Laut Cina Selatan sebaiknya dilakukan secara bilateral antara tiap-tiap negara yang bersengketa agar dapat memberikan batas delimitasi maritim yang lebih jelas dan tidak terjadi tumpang tindih pada batas wilayah masing-masing negara.

c. Sengketa Laut Cina Selatan diharapkan dapat diselesaikan melalui jalur arbitrase oleh Permanent Court of Arbitration. Mengingat sebagian besar negara yang terlibat sengketa tersebut adalah negara dunia ke-3 dalam sengketa ini melawan Tiongkok yang merupakan negara adidaya di wilayah Asia , maka Permanent Court of Arbitration lebih dapat memberikan rasa adil pada putusannya. Permanent Court of Arbitration

dapat menjadi “win-win solution” dalam penyelesaian sengketa Laut Cina Selatan dimana hal ini dapat menjadikan putusan Permanent Court of Arbitration atas sengketa Teluk Benggala antara Bangladesh –India menjadi “role model” untuk sengketa Laut Cina Selatan.

DAFTAR PUSTAKA A. Buku

Adolf, Huala. Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional. Jakarta. Rajawali Press. 1991.

Anwar, Chairul. Hukum Internasional: Horizon Baru Hukum Laut

Internasional Konvensi Hukum Laut 1982. Jakarta. Penerbit Djambatan. 1989. Collier, John & Vaughan Lowe. The Settlement of Disputes in International

Law. Oxford University Press. 1999.

Dimyati, Khudzaifah & Kelik Wriono. Metode Penelitian Hukum. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004.

Gardiner, Richard K..International Law. Person Education Limited. England. 2003.

Garner, Bryan A. Black’s Law Dictionary.

Goh, Evelyn. Meeting the China Challenge: The U.S. in Southeast Asian Regional Security Strategies. East-West Center Washington. 2005.

Hadiwijoyo, Suryo Sakti. Batas Wilayah Negara Indonesia

“Dimensi,Permasalahan, dan Strategi Penanganan”(Sebuah Tinjauan Empiris dan Yuridis). Yogyakarta. Gava Media. 2008.

Hadiwijoyo, Suryo Sakti. Perbatasan Negara dalam dimensi Hukum Internasional. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2011.

Koers, Albert W. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. 1994.

Malcolm N. Shaw. International Law. United States of America. Cambridge University Press. 2008.

Mauna, Boer. Hukum Internasional Pengertian,Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Globaledisi ke-2. Bandung. P.T.Alumni. 2005.

Mertokusumo, Soedikno. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta. Liberty. 1988.

Oberg, Marco Divac. The Legal Effect of Resolution of The UN Security Council and General Assembly in The Jurisprudence of The ICJ. 16 Eur.J.Int’l.L.2006.

Reus, Christian dan Smit, Politik Hukum Internasional. Bandung. Nusa Media. 2015.

Sefriani. Hukum Internasional Suatu Pengantar. Bandung. Rajawali Press. 2010.

Sodik, Dikdik Mohamad. Hukum Laut Internasional dan Pengaturannya di Indonesia. Bandung. Refika Aditama. 2011.

Soematri, Ronitidjo Hanitijo. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta. Ghalia Indonesia, 1990.

Starke, J.G.. Pengantar Hukum Internasional 1 Edisi ke-Sepuluh. Jakarta. Sinar Grafika. 2008.

Starke, J.G.. Pengantar Hukum Internasional 2 Edisi ke-Sepuluh. Jakarta. Sinar Grafika. 2007.

Suwardi, Sri Setianingsih. Penyelesaian Sengketa Internasional. Jakarta. Universitas Indonesia. 2006.

B. Peraturan-peraturan