BAB II TINJAUAN TEORI
9. Mekanisme Persalian Sungsang
Kepala adalah bagian janin yang terbesar dan kurang elastis.
Padapresentasi kepala, apabila kepala dapat dilahirkan, maka bagian janinlainnya relatif mudah dilahirkan. Tidak demikian halnya pada presentasi bokong. Hal ini menjadi persalinan pervaginal pada presentasi bokong yang lebih beresiko. Pemahaman tentang mekanisme persalinannya akan membantu dalam memberikan upaya pertolongan persalinan yang berhasil.
Pada persalinan letak sungsang, bokong akan memasuki panggul (engagement dan descent) dengan diameter bitrokanter dalam posisi oblik. Pinggul janin bagian depan (anterior) mengalami penurunan lebih cepat dibanding pinggul belakangnya (posterior). Dengan demikian, pinggul depan akan mencapai pintu tengah panggul terlebih dahulu.
Kombinasi antara tahanan dinding panggul dan kekuatan yang yang mendorong kebawah akan menghasilakn putaran paksi dalam yang membawa sakrum ke arah transversal (pukul 3 atau 9), sehingga posisi diameter bitrokanter dipintu bawah panggul menjadi anteroposterior.
Penurunan bokong berlangsung terus setelah terjadinya putaran paksi dalam. Perineum akan meregang, vulva membuka, dan pinggul depan akan lahir terlebih dahulu. Pada saat itu, tubuh janin mengalami putaran paksi dalam dan penurunan, sehingga mendorong pinggul bawah menekan perineum. Dengan demikian, lahirlah bokong dengan posisi diameter bitrokanter anteroposterior, diikuti putaran paksi luar. Putaran paksi luar akan membuat posisi diameter bitrokanter dari anteroposterior menjadi transversal. Kelahiran bagian tubuh lain dengan bantuan (manual aid).14
Menurut Varney (2008) ada beberapa persiapan untuk kelahiran bokong:
a. Pemeriksaan abdomen yang hati-hati atau jika perlu USG untuk menentukan jenis presentasi bokong dan menyingkirkan kecurigaan terjadinya hiperekstensi kepala, hidrosefalus, atau bokong-kaki, atau bokong-lutut.
b. Dilatasi serviks lengkap.
c. Kosongkan kandung kemih ibu.
d. Persiapan episiotomi jika memang diperlukan.
e. Kaji efektifitas upaya mengejan pada ibu.
f. Persiapan untuk upaya resusitasi bayi baru lahir.
g. Posisikan pasien dalam posisi litotomi dengan penyangga kaki untuk memberikan ruang yang adekuat di bawah panggul ibu yang dibutuhkan untuk persalinan.
h. Dokter tempat berkonsultasi seharusnya telah diberi tahu dan sebaiknya juga hadir atau segera datang jika dibutuhkan.
i. Lakukan pemasangan infus intravena.16,17 10. Penatalaksanaan Persalinan Bokong Murni
Persalinan spontan (spontaneous breech) yaitu janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara bracht. Setelah semua persiapan dilakukan, maka persalinan dapat dimulai. Berikut prosedur melahirkan bokong, kaki, dan kepala secara spontan (bracht): 9
a. Biarkan persalinan berlangsung dengan sendirinya (tanpa intervensi apapun) hingga bokong tampak di vulva.
b. Pastikan bahwa pembukaan sudah lengkap sebelum memperkenankan ibu mengejan.
c. Perhatikan hingga bokong membuka vulva.
d. Lakukan episiotomi bila perlu (pada perineum yang cukup elastis dengan introitus yang sudah lebar, episiotomi mungkin tidak diperlukan). Gunakan anastesi lokal sebelumnya.
e. Biarkan bokong lahir, bila tali pusat sudah tampak dikendorkan.
Perhatikan hingga tampak tulang belikat (scapula) janin mulai tampak di vulva. Awas : jangan melakukan tarikan atau tindakan apa pun pada tahap ini.
f. Dengan lembut peganglah bokong dengan kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panggul, sedang jari-jari yang lain memegang belakang pinggul janin.
g. Tanpa melakukan tarikan, angkatlah kaki, bokong, dan badan janin dengan kedua tangan penolong disesuaikan dengan sumbu panggul ibu sehingga berturut-turut lahir perut, dada, bahu dan lengan, dagu, mulut dan seluruh kepala.
11. Tanda dan Gejala persalinan
a. Timbul rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karen robekan kecil pada serviks.
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Pemecahan membran yang normal terjadi pada kala I persalinan. Hal ini terjadi pada 12% wanita, dan lebih dari 80% wanita akan memulai persalinan secara spontan dalam 24 jam.
d. Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada. Berikut ini adalah perbedaan penipisan dan dilatasi serviks antara nulipara dan multipara.
a) Nulipara
Biasanya sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dan pembukaan sampai 1 cm; dan dengan dimulainya persalinan, biasanya ibu nulipara mengalami penipisan serviks 50-100%, kemudian terjadi pembukaan.
b) Multipara
Pada multipara sering kali serviks tidak menipis pada awal persalinan, tetapi hanya membuka 1-2 cm. Biasanya pada
multipara serviks akan membuka, kemudian diteruskan dengan penipisan.
Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).18
12. Tahapan Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka dari 0 sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II disebut juga dengan kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan kekuatan mengedan, janin di dorong keluar sampai lahir. Dalam kala III atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan.
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian. Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan post partum.
a. Asuhan persalinan kala I
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseranpergeseran, ketika serviks mendatar dan membuka.
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks, hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm).
1. Perubahan fisiologis kala I a) Uterus
Saat mulai persalinan, jaringan dari miometrium berkontraksi dan berelaksasi seperti otot pada umumnya.
Pada saat retraksi, ia tidak akan kembali ke ukuran semula tetapi berubah ke ukuran yang lebih pendek secara progresif. Dengan perubahan bentuk otot uterus pada proses kontraksi, relaksasi, dan retraksi, maka kavum uterus lama kelamaan menjadi semakin mengecil.
Proses ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan janin turun ke pelviks. Kontraksi uterus mulai dari fundus dan terus melebar sampai ke bawah abdomen
dengan dominasi tarikan ke arah fundus. Kontraksi uterus berakhir dengan masa yang terpanjang dan sangat kuat pada fundus.
b) Serviks
Sebelum proses persalinan, serviks mempersiapkan kelahiran dengan berubah menjadi lembut. Saat persalinan mendekat, serviks mulai menipis dan membuka.
Berhubungan dengan kemajuan pemendekan dan penipisan serviks. Seiring bertambah efektifnya kontraksi, serviks akan mengalami perubahan bentuk menjadi lebih tipis.
Hal ini disebabkan oleh kontraksi uterus yang bersifat fundal dominan sehingga seolah-olah serviks tertarik ke atas dan lama kelamaan menjadi tipis. Setelah servik dalam kondisi menipis penuh, maka tahap berikutnya adalah pembukaan. Serviks membuka disebabkan daya tarikan otot uterus ke atas secara terus-menerus saat uterus berkontraksi.
Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
a) Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.
b) Fase aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6 jam dan dibagi dalam 3 subfase.
(1) Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 3-4 cm.
(2) Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
(3) Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau lengkap.
Fase diatas dijumpai pada primigravida. Pada multigravida tahapannya sama namun waktunya lebih cepat untuk setiap fasenya. Pada primigravida berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira-kira-kira-kira 7 jam.
Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium uteri eksternum membuka. Namun pada multigravida, ostium uteri internum dan ekstrenum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam waktu yang sama.
c) Ketuban
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir atau sudah lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan sudah lengkap.
Bila ketuban telah pecah sebelum pembukaan 5 cm, disebut Ketuban Pecah Dini (KPD).13
2. Perubahan psikologis pada kala 1) Kala I fase laten
Pada awal persalinan, kadang pasien belum cukup yakin bahwa ia akan benar-benar melahirkan meskipun tanda persalinan sudah cukup jelas. Pada tahap ini penting bagi orang terdekat dan bidan untuk menyakinkan dan memberikan support mental terhdap kemajuan perkembangan persalinan. Seiring dengan kemajuan proses persalinan dan intensitas rasa sakit akibat his yang meningkat, pasien akan mulai merasakan putus asa dan lelah. Pasien akan senang setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan berharap bahwa hasil pemeriksaan mengindikasikan bahwa proses persalinan akan segera berakhir. 13
2) Kala I fase aktif
Memasuki kala I fase aktif, sebagian besar pasien akan mengalami penurunan stamina dan sudah tidak mampu lagi untuk turun dari tempat tidur, terutama pada primigravida.
Pada fase ini pasien sangat tidak suka jika diajak bicara atau diberi nasehat mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Ia lebih fokus untuk berjuang mengendalikan rasa sakit dan keinginan untuk meneran. Jika tidak dapat mengendalikan rasa sakit dengan pengaturan nafas dengan benar, maka ia akan mulai menangis atau bahkan berteriak-teriak dan mungkin akan meluapkan kemarahan kepada suami atau orang terdekatnya. Perhatian terhadap orang-orang disekitarnya akan sangat sedikit berpengaruh, sehingga jika ada keluarga atau teman yang datang untuk memberikan dukungan mental, sama sekali tidak akan bermanfaat dan mungkin justru akan sangat menganggunya. 13
3) Kala I akhir
Menjelang kala II pasien sudah dapat mengatasi kembali rasa sakit akibat his dan keperacayaan dirinya mulai tumbuh. Pada fase ini ia akan kembali bersemangat untuk menghadapi persalinannya. Ia akan fokus dengan instruksi yang diberikan oleh bidan. Pada fase ini ia sangat membutuhkan dukungan mental untuk tahap persalinannya berikutnya dan apresiasi terhadap keberhasilannya dalam melewati tahap-tahap sebelumnya. 13
3. Partograf
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama persalinan. tujuan utama penggunaan partograf adalah untuk mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dan mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal atau tidak. Jika digunakan secara tepat dan konsisten, partograf
akan membantu penolong persalinan untuk mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, asuhan yang diberikan selama persalianan dan kelahiran, serta menggunakan informasi yang tercatat, sehingga secara dini mengidentifikasi adanya penyulit persalinan dan membuat keputusan yang sesuai dan tepat waktu.
Pencatatan pada partograf dimulai saat kalanI fase aktif ketika pembukaan serviks 4 cm.14
b. Asuhan persalinan kala II
Kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan lebih cepat yaitu setiap 2 menit sekali dengan durasi >40 detik, dan intensitas semakin lama semakin kuat. Karena biasanya pada tahap ini kepala janin sudah masuk dalam ruang panggul, maka pada his dirasakan adanya tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara refleks menimbulkan rasa ingin meneran. Pasien merasakan adanya tekanan pada rektum dan merasa seperti ingin BAB. 13
a. Perubahan fisiologis
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua dikenal juga sebagai kala pengeluaran. Tanda dan gejala bahwa kala dua persalinan sudah dekat adalah :
1) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
2) Perineum menonjol
3) Ibu kemungkinan merasa ingin buang air besar karena meningkatnya tekanan pada rektum atau vaginanya
4) Vulva vagina, dan spingter anus membuka
5) Jumlah pengeluaran lendir dan darah serta air ketuban meningkat.19
b. Asuhan Sayang Ibu
1) Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang aman, berdasarkan temuan, dan turut meningkatkan angka kelangsungan hidup ibu.
2) Asuhan sayang ibu membantu pasien merasa nyaman dan aman selama proses persalinan yaitu dengan menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan, serta melibatkan pasien dan keluarga sebagai pembuat keputusan, secara emosional sifatnya mendukung. Asuhan sayang ibu melindungi hak-hak pasien untuk mendapatkan privasi dan menggunakan sentuhan hanya seperlunya.
3) Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah, maka intervensi dan pengobatan yang tidak perlu untuk proses alamiah ini harus dihindari.
4) Asuhan sayang ibu berpusat pada pasien dan bukan pada petugas kesehatan. Selalu melihat dahulu pada cara pengobatan yang sederhana dan non intervensi sebelum berpaling ke teknologi. Studi yang telah dilakukan di beberapa pusat kesehatan utama dan di pusat sarana persalinan telah menunjukkan bahwa intervensi bergantung pada falsafah pengasuhan dan bukan pada risiko medisnya.
Intervensi yang meningkat tidak akan memperbaiki hasil, bahkan bisa memperburuk keadaan.
5) Asuhan sayang ibu menjamin bahwa pasien dan keluarganya diberitahu tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang ia diharapkan. Sama seperti pada kala I, selama kala II bidan harus menjelaskan apa yang akan dilakukan serta alasannya sebelum melakukan tindakan, dan menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukannya.20
c. Posisi meneran
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau tidak mau harus berlangsung.
Untuk membantu ibu tetap tenang dan rileks sebagai bidan tidak oleh memaksakan pemilihan posisi ibu. Sebaliknya peran bidan adalah untuk mendukung ibu dalam pemilihan posisi apapun yang dipilihnya. Seperti berikut duduk atau setengah duduk, merangkak, berjongkok atau berdiri, berbaring miring kiri. 20 d. Amniotomi
Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput ketuban (amnion) dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan didalam rongga amnion. Tindakan ini hanya dilakukan pada saat pembukaan lengkap atau hampir lengkap agar penyelesaian proses persalinan berlangsung sebagaimana mestinya. Cairan amnion berfungsi sebagai pelindung bagi bayi dari tekanan kontraksi uterus. 13
Amniotomi sering dilakukan dengan maksud untuk menentukan kondisi cairan ketuban, bercampur dara, meconium atau jernih. Amniotomi juga dilakukan untuk mempersingkat persalinan.
e. Episiotomi
Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum. 13
Teknik episiotomi diantaranya adalah episiotomi medialis (dari ujung bawah itroitus vagina sampai batas atas otot-otot sfingter ani), episiotomi mediolateralis (dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah belakang dan samping), episiotomi lateralis (dilakukan ke arah lateral). Indikasi untuk
melakukan episiotomi dapat timbul dari pihak ibu maupun pihak janin.
1) Indikasi Janin
(a) Sewaktu melahirkan janin prematur. Tujuannya untuk mencegah terjadinya trauma yang berlebihan pada kepala janin.
(b) Sewaktu melahirkan janin letak sungsang.
(c) Melahirkan janin dengan cunam, ekstrasi vakum dan janin besar.
2) Indikasi Ibu
Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan sehingga ditakuti akan terjadi robekan perineum, bila pada primipara, persalinan sungsang, persalinan dengan cunam, ekstrasi vakum, dan anak besar. 13
c. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dan fundus uteri berada diatas pusat. Berapa saat kemudian, uterus berkontraksi kembali untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta akan lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar secara spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
a. Perubahan fisiologis pada kala III
Setelah bayi lahir, uterus masih mengadakan kontraksi yang mengakibatkan penciutan permukaan kavum uteri tempat implantasi plasenta. Oleh karena tempat implantasi plasenta menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan menekuk, menebal kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta kana turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.21
Tanda-tanda pelepasan plasenta :
1) Perubahan dinding dan bentuk fundus
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus turun hingga dibawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus menjadi bulat dan fundus berada diatas pusat.
2) Tali pusat memanjang
Tali pusat terlihat memanjang atau menjulur melalui vulva dan vagina.
3) Semburan darah tiba-tiba
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dan dibantu gaya gravitasi.
Semburan darah yang tiba-tiba menandakan bahwa darah yang terkumpul di antara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta, keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.21
b. Manajemen aktif kala III
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif seingga dapat memeperpendek waktu kala III persalianan dan mengurangi kehilangan darah diandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Manajemen aktif kala III terdiri dari :
1) Pemberian suntikan oksitosin
Langkah pertama sebelum melakukan penyuntikan oksitosin yaitu melakukan pengecekan janin kedua alasannya karena oksitosin menyebabkan uterus berkontraksi yang akan menurunkan pasokan oksigen kepada bayi. Selambat lambatnya dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir segera suntikkan oksitosin 10 unit secara IM (intramuscular). 21
2) Penegangan tali pusat terkendali
Pertama-tama yang dilakukan adalah memindahkan klem kedua yang telah dijepit sewaktu kala II persalinan pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva, alasannya dengan memegang tali pusat lebih dekat ke vulva akan mencegah avulsi. Setelah itu melakukan dorso kranial, melakukan penegangan tali pusat terkendali sambil melihat tanda-tanda pelepasan plasenta.
Jika sudah terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta tetap tegangkan tali pusat ke arah awah mengikuti jalan lahir dengan alasan dapat mencegah kehilangan darah yang tidak perlu. Jika pada saat plasenta terlihat di introitus vagina, teruskan melahirkan plasenta dengan kedua tangan.
Lakukan penarikan secara lembut dan perlahan-lahan untuk melahirkan selaput ketuban. 21
3) Masase uterus
Segera setelah kelahiran plasenta, lakukan pemijatan fundus uteri dengan meletakkan telapak tangan pada fundus uteri, kemudian menjelaskan kepada ibu tentang kemungkinan ibu akan merasakan ketidaknyaman.
Kemudian menggerakkan tangan secara memutar pada fundus uteri sehingga uterus berkontraksi selama 15 detik.
Periksa kelengkapan plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap. Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik. 21
d. Asuhan Kala IV
Dua jam setelah persalinan merupakan saat yang paling kritis bagi pasien dan bayinya. Tubuh pasien melakukan adaptasi yang luar biasa setelah kelahiran bayinya agar kondisi tubuh kembali stabil,
sedangkan bayi melakukan adapatsi terhadap perubahan lingkungan hidupnya diluar uterus.
a. Perubahan fisiologis kala IV 1) Tanda-tanda Vital
Dalam dua jam pertama setelah persalinan, tekanan darah, nadi, pernapasan akan berangsur kembali normal. Suhu pasien biasanya akan mengalami sedikit peningkatan, masih diawah 380 C, hal ini disebabkan oleh kurangnya cairan dan kelelahan. Jika intake cairan baik, maka suhu akan berangsur normal kembali setelah dua jam.
2) Sistem perkemihan
Selama 2-4 jam pasca persalinan kandung kemih masih dalam keadaan hipotonik akiat adanya alostaksis, sehingga sering dijumpai kandung kemih dalam keadaan penuh dan mengalami pembesaran. Kondisi ini dapat diringankan dengan selalu mengusahakan kandung kemih kosong selama persalinan untuk mencegah terjadinya trauma.
Setelah melahirkan, kandung kemih sebaiknya tetap kosong guna mencegah uterus berubah posisi dan mengalami atonia.
3) Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada hari ke 5 pasca melahirkan perineum sudah mendapatkan kembali bagian tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dibanding keadaan sebelum hamil. Penilaian robekan perineum terbagi menjadi 4 yaitu:
Tabel 1.1 Derajat Laserasi Perineum
Sumber: Saleha, 2009 22 b. Pemantauan kala IV
1) Tanda-tanda vital Tekanan darah dan nadi selama satu jam pertama dilakukan pemantauan setiap 15 menit dan pada satu jam kedua setiap 30 menit sekali. Untuk pengukuran suhu dan respirasi dilakukan pemantauan respirasi dan suhu setiap jam selama dua jam pertama pasca persalinan.
2) Kontraksi uterus Pemantauan kontraksi uterus dilakukan setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua. Pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan masase fundus uterus secara sirkular.
3) Lokia Lokia dapat dipantau bersamaan dengan masase uterus. Jika uterus berkontraksi dengan baik makan aliran lokia tidak akan terlihat banyak, namun jika saat uterus berkontraksi terlihat lokia yang keluar lebih banyak maka diperlukan suatu pengkajain lebih lanjut.
4) Kandung kemih Pada kala IV bidan memastikan bahwa kandung kemih selalu dalam keadaan kosong setiap 15 menit sekali dalam satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit sekali pada satu jam kedua. Ini sangat
penting untuk dilakukan untuk mencegah beberapa penyulit seperti atonia dan infeksi saluran kemih.
5) Perineum Setelah pengkajian derajat robekan, perineum kembali dikaji dengan melihat adanya edema, memar, dan pembentukan hematom yang dilakukan bersamaan saat mengkaji lokia. Pengkajian ini termasuk juga untuk mengetahui apakah terjadi hemoroid atau tidak.
B. Konsep Dasar Post Partum 1. Pengertian
Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. 2
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu.22 2. Perubahan Masa Nifas
1. Sistem reproduksi a. Uterus
Involusi uteri merupakan pengecilan yang normal dari suatu organ setelah organ tersebut memenuhi fungsinya, misalnya pengecilan uterus setelah melahirkan. Involusi uteri adalah mengecilnya kembali rahim setelah persalinan kembali ke bentuk asal, bentuk perubahan uterus pasca persalinan yaitu:
Tabel 1.2 Involusi Uterus
Involusi Tinggi Fundus Berat Fundus
Bayi lahir Sepusat 1000 gr
Plasenta lahir 2 jari bawah pusat 750 gr 7 hari (1 mgg) Pertengahan pusat – symphysis 500 gr 14 hari (2 mgg) Tak teraba diatas symphibis 350 gr
Sumber: Saleha,200922 b. Diastasis
Sumber: Saleha,200922 b. Diastasis