PERANAN MAHKAMAH PIDANA INTERNASIONAL DALAM MENGADILI KEJAHATAN PERANG
B. Mekanisme Persidangan Dalam Mahkamah Pidana Internasional
100 Ibid. hal. 297-298.
101 Ibid. hal. 298.
Pertama-tama dalam pelaksanaannya, Mahkamah Pidana Internasional menganut beberapa asas-asas yang pada awalnya harus diikuti oleh seluruh pihak yang bersangkutan, asas-asas tersebut mencakup:102
1. Asas Nullum Crimen Sine Lege
Pasal 22 Statuta Roma menjelaskan bahwa tidak seorangpun dapat bertanggungjawab secara pidana berdasarkan Statuta Roma kecuali tindakan tersebut waktu dilakukan merupakan suatu tindak pidana yang berada dalam yurisdiksi mahkamah. Selanjutnya prinsip nullum crimen ini diperjelas oleh pasal 23 Statuta Roma bahwa seseorang yang telah didakwa Mahkamah Pidana Internasional hanya dapat dijatuhi pidana sesuai dengan Statuta.
2. Asas Ne Bis In Idem
Prinsip ini terdapat dalam Pasal 20 Statuta Roma bahwa seseorang tidak dapat dituntut lagi di mahkamah atas tindak pidana yang sama yang telah diputuskan atau dibebaskan oleh Mahkamah Pidana Internasional. Seseorang yang tidak dapat diadili lagi oleh Mahkamah lain untuk suatu tindak pidana sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 dimana tindak pidana itu telah diputuskan dengan putusan pidana atau dibebaskan oleh Mahkamah.
3. Asas Praduga Tak Bersalah
Sesuai Pasal 66 Statuta Roma, setiap orang dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah di depan Mahkamah Pidana Internasional sesuai hukum yang berlaku. Jaksa Penuntut bertanggungjawab untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Komite Hak-hak Asasi Manusia dari PBB dalam komentarnya atas
102 Ibid. hal. 300-301
Pasal 14 dari International Covenant on Civil and Political Rights menegaskan bahwa praduga tak bersalah memberikan kewajiban pada semua alat negara untuk menahan diri agar jangan mendahului hasil suatu peradilan. Semua orang harus dianggap tidak bersalah sampai terdapatnya bukti bahwa mereka memang bersalah.
Sesuai Pasal 3 Statuta, Mahkamah Pidana Internasional berkedudukan di Den Haag, (Belanda), tetapi dapat mengadakan sidangnya di tempat lain bila dianggap perlu. Sebagaimana diketahui; negeri Belanda adalah juga markas dari Mahkamah Internasional dan Mahkamah Pidana Internasional untuk negara ex Yugoslavia. Mahkamah Pidana Internasional adalah suatu organisasi internasional yang independen dan secara formal berbeda dari PBB. Namun, dalam pembentukannya PBB memainkan peranan yang sangat penting. Dewan Keamanan PBB mempunyai hak untuk mengajukan kasus-kasus ke Mahkmah Pidana Internasional. Hubungan yang tepa tantara kedua organisasi akan ditentukan kemudian melalui suatu persetujuan.103
Kemudian, dalam Mahkamah Pidana Internsaional terdapatlah sebuah struktur dan fungsinya dalam menjalankan mekanisme persidangan itu sendiri, sesuai Pasal 34 Statuta Roma, Mahkamah Pidana Internasional terdiri dari organ-organ sebagai berikut:
a. Pimpinan (Precidency).
b. Yudisial (Divisi Banding; Divisi Peradilan dan Divisi Pra-Peradilan).
c. Penuntut Umum (The Office of the Prosecutor).
103 Ibid. hal. 292
d. Kepaniteraan.104
Keempat organ ini membentuk mekanisme yang sistematis dalam proses peradilan dalam Mahkamah Pidana Internasional. Anggota tiap organ yang terpilih pun memiliki kapabilitas yang matang sesuai dengan posisi yang ditempati baik itu jajaran presidensial, hakim, jaksa maupun staf ahli dan administratif di dalamnya.
Precidency bertanggung jawab atas seluruh aktivitas birokratif, yudikatif maupun administratif secara keseluruhan dalam dinamika Mankamah Pidana Internasional. tiga area utama yang dapat dijangkau meliputi fungsi yudisial atau legalitas, administrattif internal dan hubungan eksternal.
Divisi yudisial atau kehakiman (Judicial Division) yang terdiri dari delapan hakim utama yang terbagi dalam tiga subdivisi kehakiman yakni the Pre-Trial Division, the Pre-Trial Division dan the Appeals Division. Di sinilah fungsi kehakiman yang utama dilaksanakan secara alamiah dengan kapabilitas tiap-tiap hakim yang memenuhi standar internasional. Tiga subdivisi yang ada dalam Divisi Kehakiman merupakan organ yang berproses dalam sidang pengadilan.
(Office of the Prosecutor) yang bertanggung jawab atas pusat informasi kejahatan, bukti dan saksi yang masuk dalam yurisdiksi mankamah, serta mengelolanya untuk dijadikan bahan investigasi, penyidikan dan proses persidangan oleh hakim pengadilan.
104 Statuta Roma, Op. Cit. Pasal 34, hal. 22
Registry atau kepaniteraan yang bertugas atas aktivitas non-yudisal dan mamangku tanggung jawab di bidang administratif pengarsipan bagi kinerja mankamah secara keseluruhan.105
Sama halnya dengan kejahatan-kejahatan yang tertera dalam Pasal 5 Statuta Roma, penyelesaian suatu kasus dalam Mahkamah Pidana Internasional harus melihat tata cara sebagai berikut dalam prosedurnya yakni:
1. Mahkamah Pidana Internasional tidak akan mendakwa siapapun yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun saat kejahatan tersebut diperbuat.
2. Sebelum Penuntut Umum dapat menginvestigasi, ia harus melakukan pemeriksaan pendahuluan terlebih dahulu yang mempertimbangkan hal-hal seperti bukti yang cukup, yurisdiksi, tingkat keseriusan, komplementaritas, dan kepentingan keadilan.
3. Saat menginvestigasi, pihak Penuntut Umum harus mengumpulkan dan memberitahukan baik bukti yang memberatkan ataupun meringkankan si terdakwa.
4. Pihak Terdakwa dianggap tak bersalah sampai terbukti bersalah.
Beban pembuktian terdapat dalam pihak Penuntut Umum.
5. Saat berada dalam tingkat pengadilan (Pra-Peradilan, Peradilan, dan Banding), terdakwa mempunyai hak untuk mendapatkan informasi melalui Bahasa yang ia sepenuhnya mengerti, maka dari itu peradilan
105 Lihat,
https://www.icc-cpi.int/about/how-the-court-works/Pages/default.aspx#organization (Di akses tanggal 26 Januari, pukul 19.00. WIB).
Mahkamah Pidana Internasional dilakukan dengan banyak Bahasa, dengan tim penerjemah yang bekerja.
6. Hakim Pra-Peradilanlah yang mengeluarkan surat perintah penahanan dan memastikan bahwa terdapat bukti yang cukup sebelum sebuah kasus dapat dilanjutkan ke bilik Peradilan.
7. Sebelum sebuah kasus dilanjutkan ke bilik Peradilan (masih dalam masa Pra-Peradilan), terdakwa masih masih berstatus dicurigai. Saat sebuah kasus telah dilanjutkan ke bilik Peradilan, maka saat itu juga dakwaan telah dikonfirmasi, si terdakwa kemudian berubah status menjadi tersangka.
8. Hakim bilik Peradilan akan mendengarkan bukti-bukti dari Penuntut Umum, Pihak Tersangka, dan para Advokat korban, kemudian memberikan vonis, dan apabila seseorang dinyatakan bersalah, hukuman dan keputusan reparasi ditentukan saat itu juga.
9. Hakim Bilik Banding juga memberikan keputusan berdasarkan banding baik dari pihak Penuntut Umum maupun Pihak Tersangka.
10. Apabila sebuah kasus dianggap selesai tanpa keputusan bersalah, kasus tersebut dapat dibuka kembali apabila Penuntut umum menyediakan bukti-bukti baru.106
Sampai saat ini masih terdapat 20 (dua puluh) kasus yang telah dan sedang diadili oleh Mahkamah Pidana Internasional mengenai kejahatan perang yakni mulai dari kasus:
106 Ibid.
1. The Prosecutor v. Al Mahdi, terhadap penyerangan yang dilakukan Al Qaeda terhadap bangunan keagamaan di kota Timbuktu, negara Mali, Al Mahdi telah dinyatakan bersalah dan dihukum selama 9 (sembilan) tahun penjara terkait kejahatan perang dalam Pasal 8 angka 2 (e) (iv) Statuta Roma mengenai “Penyerangan terhadap gedung-gedung yang digunakan untuk keperluan keagamaan, pendidikan, kesenian, keilmuan atau sosial, monumen bersejarah, rumah sakit dan tempat-tempat di mana orang-irang yang sakit dikumpulkan, dengan syarat bahwa hal-hal tersebut bukan sasaran militer.”107
2. The Prosecutor v. Germain Katanga, terhadap penyerangan yang dilakukan di negara Republik Demokratik Kongo di desa Bogoro, telah dinyatakan bersalah dan dikenakan hukuman selama 12 (dua belas) tahun penjara terkait kejahatan perang dalam Pasal 8 angka 2 (a) (i) tentang pembunuhan, Pasal 8 angka 2 (b) (i) tentang penyerangan terhadap kelompok penduduk sipil, Pasal 8 angka 2 (b) (ii) tentang penyerangan terhadap objek-objek sipil, Pasal 8 angka 2 (b) (xvi) tentang penjarahan.108 3. The Prosecutor v. Thomas Lubanga, terhadap pendaftaran anak-anak di
bawah umur 15 tahun ke dalam pasukan militer dan mengikutsertakan mereka kedalam sengketa bersenjata. Lubanga telah dinyatakan bersalah
107 International Criminal Court Trial Chamber VIII, The Prosecutor V. Ahmad Al Faqi Al Mahdi, Case No. ICC-01/12-01/15, 2016, hal. 49.
108 International Criminal Court Trial Chamber II, The Prosecutor V. Germain Katanga, Case No. ICC-01/04-01/07, 2014, para. 170, hal. 67.
dan dihukum selama 14 (empat belas) tahun penjara berdasarkan Pasal 8 angka 2 (e) (viii) Statuta Roma.109
109 International Criminal Court Trial Chamber II, The Prosecutor V. Germain Katanga, Case No. ICC-01/04-01/07, 2014, para. 1358, hal. 591.