• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.2.1. Penanganan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Tarakan (Implementasi Keputusan Menteri No 150 Tenaga Kerja Kota Tarakan (Implementasi Keputusan Menteri No 150

4.2.1.2. Mekanisme PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja)

Mekanisme PHK adalah suatu proses penyelesaian hubungan kerja melalui tahapan-tahapan atau prosedur yang sesuai dengan Undang-undang dan Keputusan Menteri tentang ketenagakerjaan.

Berikut wawancara penulis kepada PLH Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, penulis menanyakan apakah proses penyelesaian PHK yang terjadi sudah sesuai dengan mekanisme PHK yang ditetapkan oleh UU dan Kep.Men. Bapak Drs. H. Zaini menjawab :

“Proses penyelesaian PHK yang kami selesaikan selama ini sudah sesuai dengan mekanisme yang telah ada kami mengikuti sesuai dengan prosedur UU No. 13 Tahun 2003 dan UU No. 2 Tahun 2004. Jadi proses awal yaitu para pihak yang berselisih harus mengajukan permohonan ke Dinas, nanti sekretrariat akan memproses khasus yang akan di selesaikan, sehingga menunggu surat balasan dari mediator untuk memanggil masing-masing pihak untuk menyelesaikan khasus secara bipatrit, apabila dalam 7 hari kerja

tidak ditemukannya kesepakatan, maka khasus sepenuhnya diserahkan oleh mediator, sehingga para yang berselisih menyerahkan sepenuhnya khasus yang dialami kepada mediator.” (wawancara tanggal 26 Desember 2012) Dan berikut wawancara penulis kepada karyawan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dengan pertanyaan bagaimana proses mekanisme dalam penyelesaian PHK di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja kota Tarakan, bapak Aulianegara, SH menjawab :

“Proses mekanisme dalam penyelesaian khasus phk terlebih dahulu pihak yang berselisih mengajukan permohonan secara tertulis, lalu permohonan akan diajukan ke sekretariat, setelah itu permohonan akan diajukan ke Kepala Dinas. Setelah itu, kepala Dinas akan mendesposisi permohonan ke Kepala Bidang Tenaga Kerja dan dilanjutkan ke Kepala Seksi Hubungan Industrial dan syarat-syarat kerja atau mediator. Stelah itu, mediator menelaah permohonan yang masuk dan membut surat panggilan kepada pihak yang berselisih. Pihak yang berselisih terlebih dahulu diminta mengadakan perundingan Bipartit. Apabil perundingan Bipartit gagal, mediator berusaha menyelesaikan perselisihan selama masa 30 hari kerja. Apabila mediasi berhasil, dibuatkan perjanjian bersama dan jika tidak maka akan dibuatkan anjuran. Perjanjian bersama atau ajnuran ditandatangani oleh mediator. Seksi hubinsyaker atau mediator menyampaikan hasil mediasi ke pihak masing-masing.” (wawancara tanggal 26 Desember 2012)

Serta berikut wawancara penulis kepada salah satu masyarakat yang mengalami PHK bernama Bapak Andi. Penulis menanyakan apakah proses mekanisme pada saat bapak melaporkan khasus bapak di dinas ini cukup berbelit-belit, Bapak Andi menjawab :

“Mekanisme pelaporan khasus saya pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yang saya alami kemarin tidak terlalu sulit, saya hanya mengajukan permohonan ke sekretariat tentang permasalahan yang sedang saya alami, lalu selanjutnya pihak dinas yang akan menyelesaikan, sehingga saya

hanya menunggu panggilan dalam menyelesaikan khasus saya ini dengan cara kekeluargaan, tetapi pada saat perundingan tersebut tidak terdapatnya titik temu dengan pengusaha, sehingga khasus saya diserahkan penuh kepada mediator, dan sekarang saya hanya menunggu bagaimana akhir dari khasus yang saya alami ini.” (wawancara tanggal 28 Desember 2012) Hal yang sama pun diungkapkan oleh salah satu pelapor khasus PHK di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yang sedang mengurus khasus yang sedang dialami, penulis bertanya menurut bapak apakah proses mekanisme penyelesaian khasus bapak di Dinas ini cukup rumit, bapak Yusril menjawab :

“Waktu saya pertama kali melaporkan khasus saya ke dinas ini di bagian PHI, saya hanya di suruh unuk membuat permohonan ke Dinas ini untuk membantu saya dalam menyelesaikan khasus yang sedang saya alami, setelah itu saya hanya menunggu panggilan dari dinas untuk menyelesaikan khasus saya dengan cara kekeluargaan dengan pengusaha. Terkadang saya hampir setiap hari datang ke sini untuk bertanya bagaimana akhir dari masalah yang sedang saya alami. Tetapi untuk keseluruhan dalam mekanismenya saya tidak merasa berbelit-belit, hanya saja pengusahalah yang berbelit-belit dan sangat lama dalam mengadilkan hak yang seharusnya saya peroleh” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Dari beberapa wawancara yang telah dikumpulkan, kesimpulan dari segala wawancara yang dilakukan penulis dengan Kepala Dinas, pegawai, dan buruh dapat diketahui bahwa mekanisme PHK yang dilakukan dari pihak Dinas sudah cukup baik dan tidak menyusahkan para pelapor, dapat kita lihat dengan wawancara penulis dengan bapak Andi dan bapak Yusril dimana pelapor hanya disuruh untuk membuat sebuah permohoman ke dinas, setelah itu dinas yang akan memproses segala sesuatu permasalahan yang dilaporkan oleh para pekerja, dan

pekerja hanya menunggu panggilan pada saat penyelesaian secara bipatrit/musyawarah antara pihak pengusaha dengan para pekerja/para buruh.

4.2.1.3. Perselisihan Tenaga Kerja

Perselisihan adalah perentangan antara Pengusaha dengan para buruh atau Serikat Pekerja(SP), berhubung dengan tidak adanya persesuaian paham mengenai hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan keadaan perburuhan lainnya. Perselisihan PHK termasuk kategori perselisihan hubungan industrial bersama perselisihan hak, perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja. Perselisihan PHK timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat antara pekerja dan pengusaha mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan salah satu pihak. Jenis perselisihan dalam dunia ketenaga kerjaan ada 4 (empat) :

Perselisihan Hak yaitu, perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerjasama yang timbul dalam hubungan kerja.

a. Perselisihan Kepentingan yaitu, perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, atau peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

b. Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yaitu, perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak.

c. Perselisihan antara Serikat Pekerja/Serikat Buruh yaitu, perselisihan antara serikat pekerja/serikat buruh dengan serikat pekerja/serikat buruh lain hanya dalam satu perusahaan, karena tidak adanya persesuaian paham mengenai keanggotaan, pelaksanaan hak, dan kewajiban keserikatpekerjaan.

Berikut wawancara penulis kepada PLH Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja. Penulis menanyakan apakah usaha yang di lakukan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dalam menyelesaian perselisihan dalam khasus PHK, bapak Drs. H. Zaini menjawab :

“Pertama-tama pihak Dinas akan menganjurkan untuk melakukan perundingan kepada pihak perusahaan dengan pihak buruh untuk melakukan perundingan secara bipatrit atau biasa dengan disebut kekeluargaan. Apabila tidak berhasil maka kami akan menganjurkan perundingan tripartit yaitu, penyelesaian yang dilakukan oleh pihak ke 3, yaitu dengan adanya mediator, apabila tidak berhasil, maka khasus akan dilaporkan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Tetapi, sampai saat ini, belum pernah kami menangani khasus hingga ke pengadilan. Selama 30 hari kerja kami akan menyelesaikan khasus sebaik mungkin dan berusaha membantu kedua belah pihak agar terjadinya kesepakatan bersama melalui mediator.” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Dari wawancara dengan Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja diatas dapat dilihat bahwa usaha penyelesaian perselisihan PHK yang dilakukan sudah cukup baik dan memuaskan, oleh karena itu penulis bertanya kepada pegawai Dinas Sosial

dan Tenaga Kerja dengan pertanyaan, bagaimana cara bapak menyelesaikan khasus perselisihan di dunia ketenagakerjaan, seperti perselisihan hak, kepentingan, PHK, dan perselisihan antara Serikat Pekerja/ Serikat Buruh, bapak H. Anto Bismoko S.Sos menjawab :

“Cara kami dalam menyelesaikan masalah perselisihan dalam ketenagakerjaan seperti perselisihan hak, kepentingan, PHK, dan perselisihan Serikat Pekerja/Serikat Buruh, kami akan memulai dengan musyawarah, dan apabila kami tidak berhasil menyelesaikan perselisihan tersebut, maka kami wajib mengeluarkan anjuran tertulis, dan apabila anjuran kami diterima oleh para pihak maka dibuat Persetujuan Bersama (PB) yang selanjutnya dicatatkan di Pengadilan Hubungan Industrial, namun apabila anjuran tersebut ditolak oleh salah satu pihak, maka pihak yang keberatanlah yang mencatatkan perselisihannya ke Pengadilan Hubungan Industrial.” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Hasil wawancara diatas menunjukan bahwa penyelesaian masalah perselishan tenaga kerja Dinas Sosial dan Tenaga Kerja lebih banyak memberikan penyelesaian secara bipatrit yaitu secara kekeluargaan, apabila tidak ditemukannya jalan keluar lalu akan dilakukannya anjuran secara tertulis dan diselesaikan melalui mediator. Dan berikut wawancara penulis dengan salah satu masyarakat yang sedang melakukan pengaduan khasus perselisihan yaitu tentang hak, kepentingan dan PHK. Penulis menanyakan apakah yang bapak harapkan dari penyelesaian khasus perselisihan yang sedang bapak alami, bapak Suryono menjawab :

“Tentu saja saya mengharapkan yang terbaik dan saya menyerahkan masalah ini kepada Dinas ini, karena pihak saya dengan perusahaan sudah melakukan penyelesaian secara bipartit, tetapi pihak kami tidak menemui titik temu yang dapat saya terima. Jadi, saya berharap khasus saya dapat

diselesaikan dengan betul-betul menghitung bagaimana jasa saya selama bekerja di perusahaan itu.” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Begitu pula wawancara penulis dengan ibu Puspa, dimana beliau baru terlihat keluar dari ruangan PHI, penulis menayakan khasus perselisihan apa yang sedang ibu alami, dan sudah sampai sejauh mana khasus ibu berlanjut, Ibu Puspa mengatakan :

“Sedang mengalami PHK, dimana sekarang saya sedang memperjuangkan hak yang seharusnya saya peroleh. Saya sudah mengajukan bukti bahwa saya sudah betahun-tahun bekerja di perusahaan x tetapi perusahaan x tidak mau sepenuhnya membayar upah yang seharusnya saya peroleh, saya merasa kesal dan sangat marah, tetapi saya masih harus bersabar karena sekarang khasus saya masih sedang diproses. Saya hanya berharap bahwa upah saya harus dibayarkan penuh sehingga saya tidak merasa dirugikan dalam pekerjaan saya selama ini” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Penulis melakukan wawancara dengan salah satu anggota Serikat Buruh yang sedang berada di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dalam pekerjaannya membantu para pekerja yang sedang mempertahankan hak yang seharusnya diperoleh, penulis menanyakan, apakah bapak sudah cukup puas dengan penyelesaian khasus perselisihan yang sudah berjalan pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, bapak Gunawan menjawab :

“Sejauh ini, saya tidak ada masalah dengan penyelesaian khasus yang diselesaikan oleh Dinas ini, tetapi saya hanya ingin memberikan masukan, dimana pada saat penyelesaian khasus pengusaha jangan terlalu mengencang dan terlalu terbawa emosi sehingga khasus perselisihan dapat terselesaikan dengan baik dan kepala dingin” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Bedasarkan hasil wawancara diatas menunjukan bahwa penyelesaian khasus perselisihan yang diberikan Disosnaker kepada para masyarakat sudah cukup baik dan melalui proses yang sangat panjang. Dapat kita lihat dari beberapa wawancara diatas bahwa para pekerja yang sedang mengalami khasus perselisihan tenaga kerja seperti di phk banyak mengalami kerugian dikarenakan pihak perusahaan yang tidak adil dalam pembagian upah pada saat pemecatan terjadi. Dan para pengusaha terkadang terlalu mementingkan keegoisan dan keuntungannya sendiri.

4.2.1.4. Kompensasi

Bila seorang pekerja di-PHK ada 4 komponen yang dipakai sebagai kompensasi PHK yaitu :

a. Uang Pesangon yaitu pemberian berupa uang dari pengusaha kepada pekerja sebagai akibat adanya Pemutusan Hubungan Kerja.

b. Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK) adalah pemberian berupa uang dari pengusaha kepada pekerja/buruh sebagai penghargaan berdasarkan masa kerja akibat adanya PHK.

c. Uang Ganti Kerugian adalah Pemberian berupa uang dari pengusaha kepada pekerja/buruh sabagai ganti rugi istirahat tahunan, istirahat panjang, biaya perjalanan pulang ke tempat di mana pekerja diterima bekerja, fasilitas pengobatan dan fasilitas perumahan.

d. Uang Pisah adalah pemberian berupa uang dari pengusaha kepada pekerja/buruh atas pengunduran diri secara baik-baik dan mengikuti prosedur sesuai ketentuan yaitu diajukan secara tertulis 30 hari sebelum tanggal pengunduran diri yang besar nilainya berdasarkan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja.

Komponen-komponen sebagai kompensasi tersebut diberikan sesuai dengan alasan alasan PHK. Dalam UUKK No. 13 tahun 2003 sudah mengatur 12 jenis alasan pemutusan hubungan kerja yang termuat di dalam pasal 150 s/d 172. Berbagai alasan PHK tersebut mempunyai nilai kompensasi yang berbeda-beda. Berikut wawancara penulis dengan Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, penulis menanyakan apakah besaran kompensasi yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang dan Kep.Men sudah sesuai dengan keinginan kedua belah pihak, bapak Drs. Zaini, M menjawab :

“Sejauh ini, kami menyelesaikan kompensasi dalam khasus PHK sudah mengikuti UUKK, tetapi terkadang adanya perselisihan antara pekerja dengan perusahaan, sehingga besaran kompensasi terkadang kurang adil dalam pembayaran pesangon para buruh yang telah di PHK. Jadi didalam besaran kompensasi yang terjadi terkadang tidak sesuai dengan harapan dengan kenyataan yang ada” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Penulis masih bertanya kepada Bapak Drs. H. Zaini M. berapa besaran biaya yang dikeluarkan pihak pengusaha didalam pembayaran upah/pesangon didalam khasus PHK, Bapak Drs. H. Zaini M. mengatakan :

“Kami hanya bertugas sebagai penengah dan pembantu penyelesaian dari khasus antara pengusaha dan pekerja, tetapi didalam besarnya perhitungan uang yang dibayarkan itu kembali menjadi keputusan kedua belah pihak, apabila kedua belah pihak sudah mempunyai kesepakatan berapa biaya yang

harus dibayarkan berarti terselesaikannya lah khasus yang sedang dihadapi, tetapi dari salah satu ada yang menuntut dari kesepakatan yang telah dibuat kami hanya membantu mencari jalan tengah dari khasus yang sedang terjadi. Dan intinya kami tidak ikut campur dalam besarnya biaya yang akan dibayarkan pengusaha untuk para pekerja yang telah di phk.” (Wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Dari hasil wawancara penulis dengan PLH Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja hanya sebagai pembangu dan penengah dari khasus yang telah terjadi diantara pengusaha dengan pekerja dan dapat dilihat juga bahwa proses penyelesaian kompensasi di Dinas sudah mengikuti aturan UU Ketenagakerjaan, tetapi pihak dari perusahaan yang bersikap kurang adil kepada para buruh yang di PHK nya, sehingga para buruh banyak yang merasa dirugikan dari keputusan para pengusaha. Berikut wawancara penulis dengan bapak Anto selaku Kabid Hubungan Industrial, penulis menayakan, apa saja biaya kompensasi yang diterima oleh para buruh yang telah di PHK oleh para pengusaha, bapak H. Anto Bismoko S.Sos menjawab :

“Didalam penyelesaian kompensasi ada beberapa hal yang harus dibayar, sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 maka pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon (UP) dan atau uang penghargaan masa kerja (UPMK) dan uang penggantian hak (UPH) yang seharusnya diterima. UP, UPMK, dan UPH dihitung berdasarkan upah karyawan dan masa kerjanya.” (wawancara tanggal 28 Desember 2012)

Dari wawancara penulis dengan Kabid Hubungan Industrial Disosnaker, maka penulis bertanya dengan salah satu masyarakat yang sedang berada di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, penulis bertanya, apakah biaya kompensasi bapak yang telah dibayarkan oleh perusahaan sudah sesuai dengan Undang-Undang tentang

ketenagakerjaan dan sesuai dengan Kep.Men yang mengacu pada ketenagakerjaan, bapak Anandhika menjawab :

“Saya baru mempelajari tentang UU, Kep.Men dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pembayaran upah dan pesangon, dan dari khasus yang saya alami pengusaha belum membayarkan hak saya secara penuh. Saya sudah menjalani proses penyelesaian khasus PHK saya ini selama 2 minggu, jadi saya ingin mendapatkan kepastian, karena upah yang saya terima hanya pesangon dan uang pergantian hak, pergantian uang penghargaan masa kerja saya belum dibayar oleh perusahaan. Saya sudah bekerja pada perusahaan tersebut selama 13 tahun, tetapi mengapa perusahaan tetap bersikeras tidak mau membayar uang penghargaan masa kerja saya. Jadi, saya berharap Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dapat tetap membantu saya dalam mempertahankan hak yang harus saya dapatkan sesuai dengan hak yang memang harus saya dapatkan.” (wawancara tanggal 03 Januari 2013)

Dari wawancara diatas, penulis bertanya kembali kepada bapak Anandhika apakah bapak sudah cukup puas dengan biaya kompensasi yang bapak dapatkan sekarang. Bapak Anandhika menjawab :

“Dari upah yang saya terima, sejauh ini saya masih belum puas, karena hak saya belum terbayarkan seutuhnya. Sampai perusahaan membayarkan semua hak yang saya dapatkan, saya baru akan merasa puas dan saya harap dengan bantuan Dinas ini hak saya dapat cepat terbayarkan secara utuh. Sehingga saya tidak perlu menunggu lebih lama lagi.” (wawancara tanggal 03 Januari 2013)

Dan penulis bertemu dengan seorang buruh yang sedang mengurus biaya konpensasi di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, penulis bertanya, apakah permasalahan konpensasi yang bapak alami sekarang sudah sesuai dengan yang harus bapak dapatkan selama masa bapak bekerja, sampai akhirnya masa bapak bekerja telah berakhir, bapak Dullah menjawab :

“Hari ini khasus saya sudah selesai diselesaikan oleh Dinas dan juga telah dirundingkan oleh para pengusaha. Awalnya susah mencari kesepakatan untuk dapat membayar hak penuh saya dalam pembayaran kompensasi ini, tetapi setelah dirundingkan secara bipatrit, maka terjadinya kesepakatan yang telah disetuji oleh saya dan pengusha.” (wawancara tanggal 03 Januari 2013) Dari wawancara diatas, dapat kita simpulkan bahwa pihak perusahaanlah yang kurang adil dalam pembagian hak yang seharusnya diterima oleh para buruh. Seharusnya perusahaan harus membayarkan semua hak yang harus diterima oleh buruh, sehingga tidak adanya permasalahan yang seharusnya terjadi di dunia ketenagakerjaan. Dan juga pengusaha seharusnya lebih bersikap menghormati hak para buruh yang telah lama bekerja dan mengabdi pada perusahaannya, jadi pengusaha tidak boleh seenaknya tidak mau membayar upah yang sudah menjadi hak para pekerja/buruh.

Dokumen terkait