• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme E-Tilang dengan Tabel Denda Tilang di Polres Banyumas

HASIL DAN PEMBAHASAN

KPDTN PDDK

7. Kanit Laka Lantasadalah petugas urusan kecelakaan yang dipimpin

4.3 Mekanisme E-Tilang di Polres Banyumas

4.3.2 Mekanisme E-Tilang dengan Tabel Denda Tilang di Polres Banyumas

Pelaksanaan E-Tilang di Polres Banyumas mempunyai mekanisme atau SOP yang berbeda dengan yang diterapkan oleh Korlantas Polri. Hal ini disebabkan oleh penggunaan tabel denda tilang. Dengan diterapkannya tabel denda tilang, maka E-Tilang di satlantas Polres Banyumas ini tidak menerapkan sistem titip denda maksimal seperti dalam SOP oleh Korlantas Polri. Tabel denda tilang tersebut merupakan suatu kesepakatan dan kerjasama antara pihak kejaksaan negeri, pihak pengadilan negeri dan pihak kepolisiandalam menentukan jumlah nominal denda tilang yang dibuat dalam bentuk tabel.Penulis melakukan wawancara terhadap Kasatlantas Polres Banyumas AKP Finan Sukma Radipta, SH, SIK pada tanggal 26 Februari 2019, yang menyatakan bahwa:

Di Jawa Tengah ini dulu muncul tabel denda tilang, yang disesuaikan dengan UMR (upah minimum regional) di wilayah tersebut. Dengan adanya tabel ini pengadilan membuat tabel tersebut sesuai dengan UMR serta kearifan lokal wilayah tersebut. Banjarnegara dengan Purbalingga dengan Cilacap itu beda dan juga tidak memakai tabel denda tilang tersebut, itu adalah kewenangan dari masing2 daerah. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kasatlantas tersebut, penentuan besaran atau nominal denda tilang berdasarkan UMR (upah minimum regional) setiap daerah. Setiap wilayah mempunyai besaran atau nominal denda tilang yang berbeda-beda. Hal tersebut karena pada setiap wilayahmempunyai UMR yang berbeda-beda.

257

Gambar 4.10 Tabel Denda Tilang

Sumber: Urtilang Satlantas Polres Banyumas

Satlantas Polres Banyumas menerapkan E-Tilang dengan tabel denda tilang dengan maksud dan tujuan untuk memberi kemudahan kepada masyarakat. Kemudahan yang dimaksudkan yaitu pelanggar lalu-lintas hanya perlu melakukan satu kali pembayaran denda tilang. Sehingga, masyarakat tidak perlu kembali lagi ke bank BRI untuk mengambil sisa denda tilang. Jika E-Tilang diterapkan tanpa tabel denda tilang, maka pelanggar harus melakukan pengambilan sisa denda tilang dengan menggunakan surat keterangan dari kejaksaan. Surat tersebut dikeluarkan denganmenunggu keputusan dari kejaksaan terlebih dahulu. Berbeda halnya dengan penerapan program E-Tilang dengan tabel denda tilang, pelanggar tidak perlu melalui proses yang rumit tersebut dengan pengambilansisa denda ataupun melaksanakan sidang di pengadilan.

258

Gambar 4.11

Surat Keterangan dari Kejaksaan

Sumber : Staf Bagian Tilang Kejaksaan Negeri Banyumas

Pada mekanisme E-Tilang yang diperkenalkan oleh korlantas Polri, bahwa pelanggar ditetapkan untuk membayar titipan denda maksimal sebanyak Rp. 500.000,00. Disebut sebagai titipan denda maksimal karena belum diketahuinya berapa denda yang akan diputuskan oleh hakim. Putusan mengenai besaran denda yang akan dijatuhkan pada sidang di pengadilan negeri merupakan hak prerogatif dari hakim. Dengan syarat bahwa putusan sidang tidak boleh melampaui batas denda maksimal yang sudah ditentukan. Langkah selanjutnya adalah pelanggar harus menunggu putusan sidang di pengadilan. Setelah diputuskan oleh hakim, maka jaksa akan mengeksekusi denda tilang dan mengeluarkan surat keterangan kejaksaan.Pelanggar dapat mengambil surat

259

keterangan kejaksaan yang digunakan untuk mengambil sisa denda tilang di bank BRI. Dengan menunjukkan identitas diri yang aktif, surat tilang, bukti pembayaran dari bank BRI dan surat keterangan kejaksaan tersebut barulah pelanggar bisa mengambil sisa denda tilang di bank BRI.

Penulis melakukan wawancara terhadap Baurtilang AIPTU Surosso pada tanggal 25 Februari 2019, yang menyatakan bahwa:

Di Polres Banyumas sudah ada tabel denda dan sudah berlaku sejak awal diterapkan E-Tilang sekitar pertengahan tahun 2017. Tapi untuk 2019 tidak diberlakukan lagi. Oleh MA (mahkamah agung) diberhentikan karena dianggap membatasi kewenangan hakim. Tidak dikembalikan lagi tabel denda itu karena kembali lagi ke pengadilan, karna itu haknya hakim dengan kewenangannya untuk memutuskan jumlah tilang karena kewenangan hakim merasa dibatasi.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat kita ketahui bahwa sejak tahun 2019 penerapan E-Tilang dengan tabel denda tilang sudah tidak lagi diterapkan di Polres Banyumas. Hal tersebut berkaitan dengan Mahkamah Agung yang tidak lagi menerapkan tabel denda tilang tersebut. Hakim menganggap bahwa tabel tersebut membatasi kewenangannya dalam memutuskan denda tilang. Pelanggar yang sudah terlanjur membayarkan denda sejumlah nominal dalam tabel tersebut, namun hakim memutuskan dengan nominal yang lebih tinggi pada saat persidangan di pengadilan. Hal tersebut menjadikan terjadinya kekurangan denda tilang yang kemudian ditanggung oleh satlantas Polres Banyumas. Oleh karena itu, satlantas Polres Banyumas mengalami kerugian dengan adanya kejadian tersebut. Sehingga, tidak lagi diterapkannya E-Tilang dengan tabel denda tilang oleh satlantas Polres Banyumas. Berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan wawancara terhadap Baurtilang AIPTU Surosso pada tanggal 25 Februari 2019, yang menyatakan bahwa:

Dengan tidak ada lagi tabel itusekarang jadi kembali ke tilang konvensional, tapi langsung bayar di kejaksaan dan tidak ikut sidang, hanya bayar denda dan mengambil surat-surat yang ditahan di kejaksaan.

.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dengan tidak diberlakukan lagi tabel denda tilang, maka proses tilang kembali lagi ke tilang konvensional. Bukan menerapkan E-Tilang tanpa tabel denda, namun kembali ke sistem tilang biasa seperti sebelumnya. Hal tersebut disebabkan proses E-Tilang tanpa tabel denda tilang yang rumit karna pelanggar harus bolak-balik untuk membayar denda dan mengambil sisa denda. Agar tetap memudahkan masyarakat walaupun kembali menggunakan tilang konvensional, maka satlantas Polres Banyumas menerapkan tilang biasa tanpa melalui proses sidang. Sehingga pelanggar hanya perlu menunggu keputusan denda dan membayar sejumlah nominal yang diputuskan. Setelah itu pelanggar dapat mengambil barang bukti yang disita di kejaksaan.

Pelaksanaan E-Tilang ini bersifat transparan karena masyarakat dapat melihat langsung melalui websitetilang onlinePolriserta tidak adanya transaksi uang antara pelanggar lalu lintas dengan petugas. Transaksi uang hanya dilakukan di Bank BRI saja. Sehingga masyarakat juga mengetahui bahwa denda tilang yang

260

dibayarkan jelas masuk ke kas negara dan bukan untuk petugas kepolisian. Dengan adanya sistem ini, diharapkan akan memperbaiki citra Polri yang sudah terlanjur buruk di masyarakat mengenai oknum anggota Polri yang melakukan pungutan liar pada saat melakukan penindakan pelanggaran dengan tilang. Karena terbukti bahwatidak adanya uang tersebut masuk kedalam kas negara melalui bank BRI.

Dokumen terkait