BAB 2 GAMBARAN UMUM KPP PRATAMA MEDAN KOTA
C. Mekanisme Tindak Lanjut Keputusan Penghapusan Piutang Pajak
1. Dalam rangka menindaklanjuti Keputusan Menteri Keuangan, tentang Penghapusan Piutang Pajak, Kantor Pelayanan Pajak:
a. Memperhatikan mekanisme tindak lanjut keputusan penghapusan piutang pajak.
b. Mengurangkan data piutang pajak paling lambat 1 (satu) bulan sejak penerimaan salinan keputusan menteri keuangan tentang penghapusan piutang pajak dan keputusan direktur jenderal pajak tentang rincian penghapusan piutang pajak.
2. Dalam rangka menindaklanjuti keputusan menteri keuangan tentang penghapusan piutang pajak, kantor wilayah DJP memperhatikan tata cara tindak lanjut keputusan penghapusan piutang pajak.
3. Dalam rangka menindaklanjuti keputusan Menteri keuangan tentang penghapusan piutang pajak, Direktorat Pemeriksaan dan penagihan memperhatikan tata cara tindak lanjut keputusan penghapusan piutang pajak.
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI DATA
A. Mekanisme Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya
Penghapusan Piutang Pajak
Bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2009, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan.
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);
2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 (LembaranNegara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987);
3. Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;
Dalam Pasal 1:
(1) Piutang pajak yang dapat dihapuskan adalah piutang pajak yang tercantum dalam:
Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT);
Surat Ketetapan Pajak (SKP);
Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT);
Surat Tagihan Pajak (STP);
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT); Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah.
(2) Piutang pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Wajib Pajak orang pribadi adalah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi karena:
a. Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan atau kekayaan;
b. Wajib Pajak/dan atau Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan;
c. Hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;
d. Dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan di bidang perpajakan; atau
e. Hak Negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan karena kondisi tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau
berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
(3) Piutang pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Wajib Pajak badan adalah piutang pajak yang tidak dapat ditagi lagi karena:
a. Wajib Pajak bubar, likuidasi, atau pailit dan Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan;
b. Hak untuk melakukan pajak sudah daluwarsa;
c. Dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan di bidang perpajakan; atau
d. Hak Negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan karena kondisi tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau
berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pada Pasal 2:
(1) Untuk memastikan keadaan Wajib Pajak atau piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, wajib dilakukan penelitian setempat atau penelitian administrasi oleh Kantor Pelayanan Pajak.
(2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Jurusita Pajak
dan hasilnya dituangkan dalam laporan hasil penelitian.
(3) Laporan hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus menguraikan keadaan Wajib Pajak dan piutang pajak yang bersangkutan sebagai dasar untuk menentukan besarnya piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi dan diusulkan untuk dihapuskan.
Pada Pasal 3:
(1) Berdasarkan laporan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyusun daftar usulan penghapusan piutang pajak.
(2) Daftar usulan penghapusan piutang pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasannya.
(3) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan daftar usulan penghapusan piutang pajak yang telah dilakukan penelitian kepada Direktur Jenderal Pajak.
(4) Direktur Jenderal Pajak mengusulkan penghapusan piutang pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Keuangan.
Pada pasal 4:
(1) Berdasarkan usulan penghapusan piutang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4), Menteri Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak.
(2) Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak untuk menghapuskan piutang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d serta Pasal 1 ayat (3) huruf a, huruf b dan huruf c, dibuat sesuai dengan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pada Pasal 5:
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Direktur Jenderal Pajak melakukan:
a. penetapan mengenai rincian atas besarnya penghapusan piutang pajak; dan
b. hapus tagih dan hapus buku atas piutang pajak tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yang berlaku.
Pada Pasal 6:
Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan atas penugasan dari Menteri Keuangan melakukan reviu atas usulan penghapusan piutang pajak yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Pada Pasal 7:
Ketentuan mengenai tata cara pengusulan dan tindak lanjut penghapusan piutang pajak serta penetapan bentuk lampiran Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak, diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak.
Pada Pasal 8:
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 565/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan; dan
2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 539/KMK.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 565/KMK.04/2000 tentang Tata Cara
Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan, Dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Kemudian Pada Pasal 9:
Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Dalam Bab ini penulis tidak dapat menyajikan data Penghapusan Piutang Pajak yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota sesuai dengan judul yang tertera. Karena dari pihak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota tidak bisa memberikan data yang diinginkan dikarenakan alasan “Rahasia Jabatan”. Dari penjelasan diatas, penulis dapat menganalisa masalah penghapusan piutang pajak yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota bahwa kurangnya
kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Sehingga piutang-piutang pajak yang sudah daluwarsa yang tidak dapat ditagih lagi karena belum dibayar oleh pihak Wajib Pajak maka akan diadakannya penghapusan piutang pajak. Penyebab lain
penghapusan piutang pajak disebabkan karena Wajib Pajak bangkrut sehingga tidak mampu membayar pajaknya lagi. Berdasarkan tujuan laporan tugas akhir yang pertama untuk mengetahui Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak yaitu:
Piutang pajak yang dapat dihapuskan dalam:
a. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT);
b. Surat Ketetapan Pajak (SKP);
c. Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT);
d. Surat Tagihan Pajak (STP);
e. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
f. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
g. Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah
pajak yang masih harus dibayar bertambah.
B. Kendala-kendala Dalam Pelaksanaan Piutang Pajak Di KPP
Pratama Medan Kota
1. Kendala-kendala yang di hadapi oleh KPP Pratama Medan Kota
Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh KPP Pratama Medan Kota antara lain :
a. Masalah tenaga kerja di KPP Pratama Medan Kota khususnya pada seksi Penagihan yang menangani pekerjaan, maupun subseksi lainnya masih dirasakan kurang. Hal ini berpengaruh sekali dalam pencatatan Kohir yang sebenarnya membutuhkan tenaga yang begitu banyak.
b. Prosedur Penghapusan Piutang Pajak tersebut di atas terlalu memakan waktu yang sangat lama dan terlalu panjang yang dilihat dari jangka waktu penyelesaian
Penghapusan Piutang Pajak itu sendiri.
c. Kurangnya tenaga administrasi dalam hal penerbitan Surat Tagihan.
d. Banyaknya Wajib Pajak yang sudah tidak ditemukan lagi (pindah alamat)
sehingga sulit untuk melakukan penelusuran lebih lanjut dan data Wajib Pajak yang tidak up to date
e. Pembatasan akses ke perbankan
f. Wajib Pajak Badan maupun Orang Pribadi yang tidak mau memberikan surat keterangan atas suatu harta yang dijadikan objek sita
g. Wajib Pajak Badan maupun Orang Pribadi bangkrut sehingga tidak bisa membayar utang pajaknya.
C. Upaya - Upaya Yang Dilakukan Oleh KPP Pratama Medan Kota Untuk Mengatasi Kendala Penghapusan Piutang Pajak
1. Mengenakan sanksi bagi wajib pajak yang tidak mau membayar pajaknya Pengenaan sanksi perpajakan diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Adapun sanksi yang dikenakan bagi Wajib Pajak yang tidak mau membayar pajaknya terbagi dua antara lain :
a. Sanksi Administrasi yang terdiri dari :
1. Sanksi administrasi berupa denda adalah jenis sanksi yang paling banyak
ditemukan dalam UU perpajakan. Terkait besarannya denda dapat ditetapkan sebesar
jumlah tertentu, persentase dari jumlah tertentu, atau suatu angka perkalian dari jumlah tertentu.
2. Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang menyebabkan utang pajakmenjadi lebih besar. Jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu dari suatu jumlah, mulai dari saat bunga itu menjadi hak/kewajiban sampai dengan saat diterima dibayarkan.
3. sanksi administrasi berupa kenaikan adalah sanksi yang paling ditakuti oleh Wajib Pajak karena apabila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak yang harus dibayar bisa menjadi berlipat ganda. Sanksi berupa kenaikan pada dasarnya dihitung dengan angka persentase tertentu jumlah pajak yang tidak kurang dibayar.
b. Sanksi Pidana
Kita sering mendengar sanksi pidana dalam peradilan umum. Dalam perpajakan juga dikenai adanya sanksi pidana. UU KUP menyatakan bahwa pada dasarnya pengenaan sanksi pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak.
2. Menghimbau masyarakat akan kesadaran untuk melaporkan sendiri pajak terutang kepada Dirjen Pajak dengan melakukan sosialisasi atau penyuluhan ataupun dengan mengirimkan surat himbauan kepada Wajib Pajak untuk membayar pajak
terhutangnya kepada Dirjen Pajak.
3. Kantor Pelayanan Pajak harus melakukan up to date data Wajib Pajak, up to dateyang dimaksud agar dapat memperbarui data Wajib Pajak terdaftar.
4. Melakukan penambahan petugas pelaksana administrasi dikarenakan banyaknya jumlah Wajib Pajak terdaftar yang memiliki piutang tidak sebanding dengan jumlah petugas administrasi.
5. Melakukan antisipasi dengan melakukan penagihan secara konsisten terutama untuk Wajib Pajak yang memiliki tunggakan.
6. Melakukan penyelidikan dan penyisiran terhadap harta Wajib Pajak melalui pejabat wilayah setempat dimana harta tersebut berada.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Pada bab sebelumnya telah diuraikan mengenai Mekanisme Penghapusan Piutang Pajak Dan Kendalanya di Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota. Dari data-data yang ada pada bab terdahulu dapat disimpulkan bahwa :
1. Kepala KPP setiap bulan wajib melakukan inventarisasi terhadap piutang-piutang pajak yang diperkirakan tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi, penghapusan piutang pajak dapat dilakukan dari:
Wajib Pajak yang meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan, dan tidak mempunyai ahli waris, wajib pajak yang tidak mempunyai harta kekayaan lagi, dibuktikan dengan surat keterangan dari pejabat yang berwenang, wajib pajak yang hak penagihannya telah daluwarsa berdasarkan pasal 22 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Wajib Pajak yang tidak dapat ditagih lagi karena sebab lain, seperti Wajib Pajak yang tidak dapat ditemukan lagi. Piutang pajak dapat juga dihapuskan yang tertera dalam: Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP), Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT), Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih
harus dibayar bertambah, atau Piutang Pajak yang menurut data administrasi Kantor Pelayanan Pajak yang tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi, disebabkan karena:
Wajib Pajak meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan dan tidak mempunyai ahli waris atau ahli waris tidak dapat ditemukan, Wajib Pajak tidak mempunyai harta kekayaan lagi. Hak untuk melakukan penagihan daluwarsa, sebab lain sesuai hasil penelitian.
2. Adapun upaya-upaya yang dilakukan pemerintah yaitu:
a. Mengenakan denda bagi wajib pajak yang tidak mau membayar pajaknya.
b. Menghimbau masyarakat akan kesadaran untuk melaporkan sendiri pajak terutang kepada Dirjen Pajak.
c. Kantor Pelayanan Pajak harus melakukan up to date data Wajib Pajak.
d. Melakukan penambahan petugas pelaksana administrasi.
e. Melakukan antisipasi dengan melakukan penagihan secara konsisten terutama untuk Wajib Pajak yang memiliki tunggakan.
f. Melakukan penyelidikan dan penyisiran terhadap harta Wajib Pajak melalui pejabat wilayah setempat dimana harta tersebut berada
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
1. Semakin meningkatkan efektifitas dalam melakukan inventarisasi terhadap piutang-piutang pajak yang diperkirakan tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi
2. Dalam hal tata cara penghapusan piutang pajak hendaknya dilaksanakan dalam waktu yang singkat, dan dengan cara yang efisien agar tidak terjadi piutang pajak yang daluwarsa yang sangat merugikan.
3. Ada baiknya jika prosedur penghapusan piutang pajak dilaksanakan tidak terlalu panjang dan memakan waktu yang cukup lama.
4. Hendaknya kanwil KPP Medan Kota membuat suatu sosialisasi umum kepada para wajib pajak dengan memberikan pembelajaran mengenai mekanisme penghapusan piutang pajak, agar Wajib Pajak/Badan dapat memahami tentang mekanisme penghapusan piutang pajak tersebut.
DAFTAR PUSTAKA Sumber dari Internet :
DJP, 2012, Peraturan DJP Tentang Penggolongan Piutang Pajak.www.ortax.org.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2015.
Undang – undang dan Peraturan :
Undang – UndangNomor 28 Tahun 2007Tentang Ketentuan Umum DanTataCara Perpajakan (UU KUP)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012 Tentang Tata Cara PenghapusanPiutang Pajak Dan Penetapan Besarnya Penghapusan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.01/2012 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak
Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER – 02/PJ/2012 Tentang Penggolongan Kualitas Piutang Pajak Dan Cara Penyisihan Piutang Pajak
Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-13/PJ/2013 Tentang Tata Cara Pengusulan Dan TindakLanjut Penghapusan Piutang Pajak
BUKU: Waluyo.2010. Perpajakan Indonesia.Jakarta ; Salemba Empat